
πΏπΏπΏ
Melani takjub melihat kejutan didepan matanya, berada di Resort area belakang ditengah lautan dengan air biru kehijauan dibawahnya. beberapa balon huruf berwarna merah muda bertuliskan 'Happy Graduation' yang ditancap pada pembatas. Ia kagum, menatap mereka semua yang telah menyiapkan ini untuknya, yaitu keluarga sang Ayah, memberi surprise yang tak pernah ia pikirkan.
"Happy Graduation, Sista." ucap Jenny, menyodorkan buket cemilan snack untuk gadis ini.
"Wow, snack! thank you my sista." Melani memeluknya, mengecup pipi kakak kandungnya
"Habiskan ini, biar gendut." ledek Jenny, Melani berdecak kesal, bagaimana mungkin menjelang pernikahan ia harus menggemukkan badan? kali ini tidak, berat badannya harus stabil tatkala dirinya sudah melakukan fitting baju pernikahan.
"Jangan sampai gemuk! Aku nggak mau makan ini." Melani melipat kedua tangannya didada
"Kita makan berdua aja." usul Jenny dengan senyum cengirnya
"Is! Kakak ... ini sungguh menggoda." gerutunya, membuat semua orang yang menatap interaksi itu seketika tertawa karena merasa gemas
"Iseng banget!" sela Alex pada Jenny. "Ini untuk kamu." Alex menyodorkan buket bunga yang diselipi lembaran uang berwarna merah.
"Wah .... kalau ini mah shopping terus." Melani menerimanya dengan penuh suka cita, ia memeluk kedua kakak kandung dengan rasa bahagia yang tak pernah ia bayangkan.
"Mami bingung mau kasih apa, cake buatan Mami ajalah ya ..." Perempuan parubaya tersebut menyodorkan cake tart cokelat hasil karyanya sendiri untuk wanita yang telah ia anggap anak sendiri
__ADS_1
"Oh, terima kasih Mami." Melani memeluknya, lalu kembali menguraikan pelukan tersebut.
Melani menatap Ayahnya yang sedari tadi hanya tersenyum, ia mendekati Melani dan memberikan sebuah benda segi empat berukuran besar, dibungkus oleh kertas kado. Melani menyambutnya, semua orang berteriak untuk mendesak Melani membuka kado tersebut.
Melani mengangguk, ia dibantu oleh sang kekasih untuk membuka balutan kertas itu. Sontak saja dirinya terhanyut, tercengang dan sangat takjub melihat hasil karya berupa sebuah lukisan Melani dan Mama Sarah.
"Ayah ..." Melani terharu, matanya berkaca-kaca menatap hasil karya itu. Ia berhambur memeluk orang yang sempat ia benci ini.
"Terima kasih, Ayah, itu sangat cantik dan sempurna." lirihnya
"Itu bukan apa-apa, Nak, maaf dari kamu dan Mama Sarah adalah kesempurnaan dihidup Ayah." serunya, mengecup pucuk kepala sang putri.
Yang tadinya suasana begitu riuh, sorak kebahagiaan, kini telah berubah menjadi suasana haru atas interaksi Ayah dan anak tersebut. Mama Sarah sampai menitikan air matanya, karena tidak menyangka bila hidup putrinya akan seindah ini. Banyak orang yang mencintainya, memberikan kesempurnaan, pemandangan seperti inilah yang ia impikan untuk sang putri.
Mereka semua mengangguk, trio emak-emak yaitu Mama Sarah, Mami Jannete dan Mama Risha, bergegas membuat barbeque dengan bahan yang telah dipersiapkan. Hanya saja daging belum dibaluri oleh bumbu-bumbunya.
Sedangkan para anak muda yaitu Melani, Raffa, Alex dan Jenny, menikmati cake tart diatas meja sembari mengobrol.
"Nah, ada makanan, maka ada minuman juga!" seru Raffa, menaruh beberapa minuman kaleng diatas meja
"Huuuu!! mantap!" seru Jenny, bertepuk tangan
__ADS_1
"Ini juga, Mama Raffa buat puding buah saat di rumah." Papa Rafi ikut nimbrung bersama Ayah Axel, mendudukkan tubuh diantara para anak muda tersebut.
Ah, sungguh indah akan keharmonisan keluarga ini, semuanya bersatu tanpa adanya rasa iri didalam hati. padahal mereka baru saja saling mengenal, tapi sudah tampak akur dan sangat dekat. Mungkin saja karena ada ikatan batin yang kuat, membuat keluarga tersebut terlihat sangat kompak.
Disatu sisi, Mami Jannete tidak menaruh rasa benci sedikit pun dengan Mama Sarah. sebagai sesama wanita, ia sangat mengetahui bagaimana rasanya diperlakukan buruk seperti itu. Apalagi wanita disebelahnya ini sangat tegar, bahkan tidak berniat mencari suaminya untuk meminta pertanggung jawaban. Mami Jannete salut, kebanyakan wanita pasti akan mencari lelaki tersebut demi anak yang dikandung. nyatanya, wanita itu memang pernah berpikir untuk mencari Ayah Axel, tapi bila dipikir--untuk apa ia melakukan itu dengan lelaki brengsek ini? Mama Sarah pun lebih memilih membesarkannya seorang diri.
Beberapa menit kemudian, barbeque telah selesai diolah, aroma wanginya menguar mengikuti arah angin ditengah lautan tersebut. Hingga para anak-anak bersorak gembira, khususnya Jenny yang selalu heboh dan lebih barbar dibandingkan adiknya.
Kini mereka semua menikmati barbeque daging, sosis, dan juga--seblak buatan Mama Sarah. dua makanan sekaligus akan mereka santap pada siang itu dengan penuh suka cita dan kehangatan.
**
Raffa, Melani, Alex dan Jenny, menaiki Jet Ski untuk mengelilingi pulau disekelilingnya. terdapat banyak pulau disana, yang menyuguhkan pemandangan indah dan beranekaragam bentuk disekitarnya. air laut berwarna biru kehijauan, menampikkan trrumbu karang didalam sana, jelas sekali bila pulau ini memiliki air laut yang bening. benar saja, Pulau Seribu ini memang sangat dilindungi dan dijaga kebersihannya.
"Pegangan yang erat!" teriak Raffa
"Iya, ini udah erat banget malah." sahut Melani
"Lebih kencang lagi, Sayang!"
Melani berdecak kesal, padahal ini sudah sangat rapat, erat dan kencang. "Mau yang gimana lagi?? sudah itu aku ceburkan kamu ke laut!"erang Melani
__ADS_1
Raffa cekikikan didepan sana, ia begitu menikmati sentuhan dada Melani yang melekat di punggungnya.
πΏπΏπΏ