
🌴🌴🌴
"Kenapa kamu yang mengantarkan pesanan?" Raffa menyipitkan sebelah matanya tatkala pegawai Melani, memasuki ruangan tersebut.
"Jadi siapa lagi? Saya kan pegawai, nggak mungkin bos yang bekerja." jawab Ratih dengan beraninya
Raffa hanya diam saja, membenarkan perkataan wanita itu didalam hati.
"Yasudah, berapa?" Raffa merogoh dompetnya didalam saku celana sembari menatap bungkusan box yang masih bergelayut di jemari wanita ini
"Ini, Tuan." Ratih menyodorkan nota belanja dan menaruhnya diatas meja pria itu bersamaan dengan box cake tersebut
"Lain kali saya mau dia." tegas Raffa
"Tidak bisa, Tuan. Nona Melani sedang mode sibuk-sibuknya."
"Kenapa? sibuk apa?" Raffa menyodorkan beberapa lembar uang kepadanya
"Tugas kuliahnya, menyelesaikan skripsi." ujar gadis tersebut
Terdengar hembusan nafas yang keluar dengan kasar. "Yasudah, pergilah!" usirnya, perempuan itu mengangguk dan melenggang pergi dengan langkah cepat menuju pintu utama. berada diruangan itu seakan tengah berpijak di kandang harimau, sungguh menyeramkan melihat wajah dingin itu, sampai lelehan keringat mengucur deras ke permukaan kulit leher milik Ratih.
"Hah!" Ratih menyeka keringatnya. "Dia dingin sekali, beda banget kalau ketemu sama Kak Melani." gumamnya setelah berhasil keluar dari ruangan tersebut. Kemudian menunduk hormat sembari mengulum senyum kepada beberapa pegawai yang memerhatikannya.
Di ruangan Raffa, ia kembali merogoh ponselnya untuk menghubungi seseorang. Setelah selesai, ponsel yang harganya mahal itu ia taruh diatas meja. Raffa beralih pada kotak cake yang terlihat menggoda, meraihnya dan membukanya hingga aroma wangi menguar kuat memasuki celah lubang hidungnya.
**
Ting!
Bunyi notifikasi masuk mengalihkan perhatian Melani dalam sejenak. Perempuan itu mengambil ponsel keluaran lama miliknya yang berada diatas meja persegi ukuran medium sebagai tumpuan laptop dan tumpukan buku, diatas buku itu pula ponsel miliknya ditaruh.
__ADS_1
Melani membuka pesan masuk tersebut, lagi-lagi nomor asing yang kembali mengganggunya. Membaca pesan tersebut membuat mata Melani terbelalak, bagaimana bisa seseorang itu mengetahui kesibukan dirinya.
"Jangan terlalu kelelahan mengerjakan tugasnya, jika kamu sakit, aku tidak akan bisa menikmati cake dari pemberian tangan kamu."
Melani menggeleng-gelengkan kepala melihatnya. tidak ada cara lain, perempuan itu langsung memblokir nomor tersebut.
"Dasar orang nggak jelas! rasain itu!" dengusnya. Melani kembali fokus pada tugas akhirnya yang belum kelar.
Deruan suara motor seketika berhenti tepat di depan Toko-nya, Melani menoleh sekilas ternyata itu adalah Ratih yang baru saja selesai mengantarkan pesanan para pelanggannya. Perempuan itu melenggang masuk, langsung mendudukkan tubuhnya dihadapan sang Boss.
"Gila, Kak, rata-rata orang kantor tuh pada dingin-dingin wajahnya, seram." Ratih bergidik ngeri membayangkan orang-orang kaya berpangkat tinggi memiliki raut wajah yang hampir sama
"Tapi ada juga yang ramah, bapak-bapak sih." cerocosnya
"Mereka itu orang yang disegani, makanya memasang wajah dingin supaya kita-kita pada segan dan hormat pada mereka. Aslinya kita nggak tau, ada yang bawaannya seram, ada pula yang memiliki sisi ramah dalam dirinya."
"Berarti Assisten Raffa itu aslinya ramah ya, Kak? sama aku dingin banget, aku sampai berkeringat berada diruangannya."
"Cie ... awas jatuh cinta lho!" ledek Ratih sembari menyenggol lengan Melani yang tengah melamun mengkhayalkan hari kemarin
"Is, apaan sih! kagak mungkin!" Melani tampak tersipu malu, menyembunyikan wajahnya ke sisi lain. diam-diam Ratih memperhatikannya, membuat gadis itu tergelak sendiri karena merasa lucu akan ke-jaiman Bossnya itu
"Udah ah, aku ke belakang dulu, haus." Ratih melenggang pergi meninggalkannya
**
Raffa dan Sekretaris Jasmin melangkahkan kaki secara bersamaan menuju keluar gedung, melewati beberapa pegawai yang berlalu lalang dan ada pula yang masih berkutat dengan pekerjaannya. sejenak pandangan beberapa wanita mengarah kepada Assisten Raffa, dan situasi ini mulai dimanfaatkan oleh Sekretaris Jasmin dengan menunjukkan sisi sombongnya karena telah berhasil mendekati pria dingin disampingnya.
Sekretaris Jasmin membuka ikatan rambutnya, lalu mengibaskan rambut panjangnya hingga menyentuh sebagian wajah Raffa, tanpa ia sadari. Jasmin menatap mereka satu persatu dengan senyum mengejek, seolah tengah menyatakan bahwa dirinya menang dua kosong dari mereka semua.
"Cih, karena jabatannya aja makanya bisa dekat sama Assisten Raffa." cibir salah seorang Resepsionist
__ADS_1
"Ho'oh, betul tuh, tapi jarang-jarang hanya mereka berdua, beruntung sekali dia nggak ada Tuan Andrew." sahut temannya
"Aku akan lebih salut kalau dia berhasil membuat Assisten Raffa tersenyum, agak sekali saja."
"Sudah-sudah, ayo kita kerja! ngibah mulu." lerai temannya
Disisi lain, Raffa menatap kesal pada wanita disampingnya ini, bisa-bisanya sedang tebar pesona dengan menggeraikan rambutnya itu.
"Kucir rambutmu itu! berdandan formal!" titah Raffa
"Eh, hehehehe, maaf, Tuan. saya terlalu senang." ucapnya
Raffa memutar bolanya, kemudian masuk ke dalam mobil dengan diikuti oleh sang Sekretaris. hingga kendaraan roda empat itu melaju dengan kecepatan rata-rata membelah jalanan Ibukota.
Raffa dan Jasmin telah membenamkan tubuhnya di atas sofa, dihadapan keduanya telah hadir sang Investor dari Singapura.
"Selamat siang, Tuan, lama menunggu?" Raffa menyalimi tangan pria parubaya tersebut beserta Assistennya, diikuti pula oleh Sekretaris Jasmin.
"Siang juga, Assisten Raffa, kami baru saja datang."
"Ah syukurlah." Raffa bernafas lega, kemudian ia melirik sang Sekretaris untuk melakukan tugasnya.
"Maaf, Tuan, kita menghubungkan rapat ini dengan Tuan Andrew, ya ..."
"Baik, Silakan."
Tidak perlu menunggu lama, laptop yang telah diatur oleh Jasmin, berhasil menyambungkan panggilan ke laptop milik Andrew di seberang sana. hingga mereka saling menyapa dengan senyum ramah yang ditunjukkan.
Rapat pun dimulai, Raffa menjelaskan kekurangan dan kelebihan tentang perusahaan Yudha Group, begitu pula dengan sebaliknya. begitu banyak rangkaian perbincangan antara kedua belah pihak, hingga Tuan Andrew pun telah mengambil keputusan yang akan ia serahkan pada sang Assisten.
Setelah cukup lama, rapat pun selesai. mereka berempat mengakhiri acara dengan makan siang bersama. pelayan datang menghampiri dengan membawa buku catatan ditangannya. setelah mencatat pesanan pengunjung, ia pun pamit permisi dengan empat orang tersebut. hingga--arah mata Raffa tanpa sengaja melihat sesuatu yang membuatnya sedikit kaget.
__ADS_1
🌴🌴🌴