
🌴🌴🌴
"Sampah?" Raffa terpelongo melihat potongan kertas didalam kotak tersebut
"Buang dulu sampahnya, di tong." titah Melani sembari menunjuk tong sampah disamping meja riasnya
"Ck! ada ada saja kamu ini, ngasih kado kok gini amat." cerocosnya menatap heran pada Melani, tak ayal ia juga menurut. menginjak sesuatu dibagian bawah tong hingga tutupnya terbuka sendiri. Melani hanya tersenyum kikuk kepadanya, sang suami mulai membuang sampah tersebut.
Raffa tertegun melihat sebuah alat penguji kehamilan, atau yang disebut dengan testpack dan juga foto hasil USG. Raffa mengambil kedua benda tersebut, membuang kotak kedalam tong.
Pertama yang ia lihat adalah hasil USG, memperhatikan gambar itu dengan lekat, lalu beralih menatap Melani dan hasil testpack yang memiliki garis dua
"Kamu hamil?" tanya Raffa, wajahnya masih terlihat datar, namun jantungnya tengah berdegup kencang melihat dua benda ini
"Iya, kamu nggak senang?" ternyata Melani terlalu memperhatikan lekat ekspresi itu
Pletak!
"Bodoh! tentu saja aku senang!" Raffa tergelak girang, langsung mengangkat tubuh sang istri hingga memutarkan tubuhnya
"Aaaakh, Mas Raffa! turunin!" pekik Melani dengan diselingi gelak tawa
Raffa menjatuhkan tubuh mereka diranjang, namun tetap hati-hati demi sang jabang buah hati yang baru tumbuh disana.
"Hah!" nafasnya ngos-ngosan mengangkat tubuh berat itu bahkan memutarkannya, Raffa mengecup perut sang istri, mengatakan sesuatu pada jabang janin didalam sana
"Jadi--udah berapa minggu, Sayang? dan bagaimana keadaannya?" tanya Raffa kepada istrinya
"Udah dua minggu, perkiraan pulang dari Bali kayaknya mulai isi." terka Melani, menatap wajah suami yang berada diatasnya
"Sepertinya hari ini kita ke Rumah Sakit, aku ingin melihatnya langsung."
"Masih sebesar biji, Sayang."
__ADS_1
"Tidak masalah, aku ingin melihatnya langsung." tegas Raffa, Melani terpaksa menurutinya
"Mau mandi bersama?" Raffa tersenyum menyeringai
"Tidak! kata Dokter masih rentan." tolaknya, mendorong tubuh itu dengan sekuat tenaga
"Benarkah?" Raffa terkesiap, diangguki oleh sang istri
"Aku tetap nggak percaya sebelum mengetahuinya dari Dokter. ayo mandi ..." ulangnya lagi
"Tapi nggak pakai gituan!" tuding Melani
"Siap bos!" Raffa langsung merengkuh tubuh itu, sesekali ia curi kesempatan untuk mengecup perutnya.
Beberapa menit kemudian, mandi bersama yang diselingi adu anaconda tanpa melakukan cocok tanam, pun telah selesai. kini sepasang suami istri itu pun bersiap-siap untuk sarapan pagi. Raffa yang begitu bahagia akan kabar baik ini tak henti-hentinya mengusap perut datar sang istri dan sesekali mengajaknya mengobrol.
Melani menghentikan langkahnya sejenak setiba diambang sekat ruang makan, sesuatu menguar masuk kedalam indra penciuamannya, mengaduk-aduk perut wanita itu hingga merasakan sedikit perih dan menjalar ke dada.
"Ada apa?" Raffa menatapnya aneh
Uwek!!
Melani langsung berlari ke kamar mandi yang berada di ruang makan itu, memuntahkan segala isi perutnya yang dirasa sangat menyiksa. Raffa panik, mengelus-elus punggung istrinya dengan tatapan khawatir.
"Udah baikkan?"
Melani mengangguk dengan wajah lemasnya.
"Aku mual sama aroma makanannya. Bibi masak apa?" tanya Melani
"Kesukaan kamu, nila saos."
"Eemmh ... aku nggak mau makan, pengen yang manis seperti cake." ujarnya
__ADS_1
"Tapi makan nasi dulu ya ... ganti menu deh." tawar Raffa, Melani tetap menggeleng.
"Enggak. aku mau kue, kamu makan aja dulu." Melani melenggang pergi keluar sembari menutup hidungnya rapat-rapat. hingga wanita itu bisa bernafas dengan lega setelah tidak lagi mencium aroma makanan itu.
Sedangkan Raffa, wanita itu terus memaksanya untuk sarapan seorang diri. Sedangkan dirinya menunggu di ruang keluarga sembari menyantap sisa cake yang ia pinta pada Bibi, sekaligus menyuruhnya untuk membuatkan beragam cake.
**
Kini keduanya tiba di Rumah Sakit Dreka, untuk kedua kalinya Melani membaringkan tubuh di brankar itu sembari menutup hidungnya. aroma Rumah Sakit lagi-lagi membuatnya kembali mual, entah kenapa ini terjadi sekarang, padahal kemarin ia masih dalam keadaan sehat walaupun sedikit lelah karena merindukan sang suami.
Dokter menggerakkan alat pendeteksi diatas perut Melani setelah mengolesi gel. alat itu menghubungkan keadaan dalam rahim kepada monitor dihadapan sang pasien.
"Masih seukuran kacang yang disimpan dalam kantung rahim, kondisi kandungan juga sangat sehat, Tuan." ujar Dokter
"Ada berapa kantung, Dok?"
"Ada satu, Tuan."
Raffa pun mengangguk paham, Dokter pun membersihkan gel tersebut setelah melakukan USG.
"Walaupun kandungan sehat, tetap harus dijaga ya, Nyonya ... makan makanan yang bergizi, hindari penyebab mual dan konsumsi susu hamil juga baik." ucap Dokter sembari mendudukkan tubuhnya di kursi kebesaran.
"Dan Nyonya sangat bersyukur tidak ada gejala mual." sambungnya, sebab dua hari yang lalu, Melani melapor tidak memiliki gejala.
"Ada, Dok. baru tadi pagi, karena mencium aroma masakan yang tidak mengenakkan penciuman saya. dan--saya ingin makan yang manis-manis." sela Melani
"Tidak apa, itu hal yang normal. terkadang ibu hamil mengalami gejala diwaktu yang berbeda-beda. penyebab mual harap dihindari, dan makanan manis yang mengandung banyak gula harus tetap dikontrol. sebisa mungkin menstimulasi diri untuk mengonsumsi makanan bergizi agar ibu dan janin tetap mendapatkan asupan gizi terbaik." jelasnya, sepasang suami istri itu mengangguk paham
"Obat pereda mual yang saya berikan kemarin, jangan lupa dikonsumsi ya, Nyonya ..." peringatnya, Melani mengangguk
"Ah iya, satu lagi, Dok ... usia dua minggu ini, boleh melakukan hu--bungan, nggak?" tanya Raffa
Sontak saja Melani melotot menatap suaminya, bisa-bisanya menanyakan hal itu. tak ayal ia pun langsung mencubit perut sang suami.
__ADS_1
"Aw!!"
🌴🌴🌴