JONES, Dipaksa Jatuh Cinta

JONES, Dipaksa Jatuh Cinta
Pertempuran Sengit Di Singgasana


__ADS_3

🌴🌴🌴


Hari berganti hari, setelah mengetahui anak pertama sahabatnya sudah lebih baik dan semakin sehat, membuat Melani dan yang lainnya merasa lega. kini semua orang telah kembali dalam keadaan ceria, Melani menggendong bayi lelaki yang diberi nama Veer ini didalam dekapannya.


"Tampan sekali kamu," puji Melani pada bayi mungil yang sedang terlelap. setelah cukup lama menggendongnya, Melani kembali menaruh bayi Veer kedalam ranjang box. kemudian ia beralih pada baby Giel, bayi perempuan anak kedua dari pasangan suami istri itu.


"Gantian dong, aku mau gendong!" pinta Melani pada Assisten Raffa


"Nggak mau!" tolaknya, membuat Melani mencebikkan bibirnya


Disisi lain, sepasang suami istri yang sedang menyaksikan interaksi mereka, keduanya saling bersitatap dengan tatapan aneh. seolah empat mata itu sedang membicarakan sesuatu yang mencurigakan. apalagi senyuman menyeringai menghiasi bibir mereka berdua, dan saat itu pula sepasang suami istri itu semakin memundurkan tubuhnya dengan pelan namun pasti.


"Kebetulan si kembar lagi anteng, ayo ambil kuncinya!" titah Chika pada suaminya. Andrew menurut, dengan sigap ia langsung mengunci pintu kamar dari luar tanpa menimbulkan kebisingan.


Sepasang jomblo itu pun masih saja asyik berdebat memperebutkan bayi yang berusia beberapa hari itu, Melani merasa jengkel, Raffa benar-benar menyebalkan. ia pun menoleh ke sisi lain untuk mengadu pada sahabatnya.


"Chik, lihatlah ***--is--


"Aish, kemana mereka!" Melani terlonjak kaget, ia bangkit berdiri dari duduknya dan melangkah cepat menuju pintu.


Ia semakin berdecak kesal tatkala pintu tersebut dikunci dari luar. "Aaakh! apa-apaan kalian!" dengusnya, sebal. ingin sekali Melani menendang pintu itu dan membuat kebisingan, namun mengingat dua malaikat yang terlelap nyenyak membuatnya mengurungkan niat.


"Ada apa?" Raffa menghampirinya dengan tangan kosong, tentunya baby Giel telah ditaruh ke dalam box ranjang.


"Mereka usil lagi, ngunciin kita dari dalam." adu Melani dengan wajah yang ditekuk

__ADS_1


Bagus dong, berarti aku bisa dekat-dekat sama kamu. aaah .... entah kenapa rasanya senang. batin Raffa


"Hah! pasutri brengsek emang!" Raffa mengacungkan kakinya, seolah ingin menendang pintu tersebut. namun Melani langsung melerainya tatkala ia menunjuk dua baby tengah terlelap.


Keduanya saling berdesah frustasi, Melani melenggang pergi meninggalkan Raffa dan menghampiri dua ranjang bayi.


"Mas Raffa!" panggilnya dengan suara yang pelan. didalam kesenyapan, Raffa dapat mendengar panggilan itu dan langsung mendatanginya.


"Ada apa?"


"Bagaimana kalau kita buat mereka menangis? pasti orang tuanya langsung datang." Melani dengan sejuta idenya


Sontak saja Raffa menggelengkan kepala. "Tidak! apa kamu tega? menjadikan mereka alat untuk kita?"


Seketika saja wajah Melani berubah menjadi sendu. "Tentu saja tidak." ia menggeleng


Melani menatap teduh pria itu, kemudian beralih pada tv. memang benar, lebih baik ia bersantai sembari menonton layar kaca yang berukuran besar itu. lagi pula--Raffa tidak mungkin macam-macam padanya, bukan? sejauh ini lelaki itu tidak pernah berbuat yang kurang ajar padanya disaat mereka tengah terjebak dalam jeratan kejahilan sepasang suami istri itu.


Melani turut menaikkan tubuhnya diatas ranjang, duduk berselonjor disamping Raffa yang begitu serius menonton film barat


"Kenapa nonton film barat?" tanya Melani, ia merasa malas dengan film percintaan


"Suka aja. adegan yang ditunggu mampu menaikkan imun" ujarnya


"Imun kepalamu! banyak adegan anunya, tau!" gerutu Melani

__ADS_1


"Iya, enggak apa-apa. malahan itu yang ditunggu." ucapnya dengan santai sembari mengerlingkan sebelah matanya pada Melani


"Is, mesum!" Melani menimpuk wajah pria ini dengan bantal hingga beberapa kali.


"Uh, udah ah, jahat amat kamu." Raffa berhasil menahan bantal tersebut agar tidak lagi menimpuk wajah tampannya


Melani mendengus sebal melihatnya, kemudian ia menengadahkan tangan kanannya untuk meminta remote tersebut. "Mari sini remotenya!"


Raffa menggeleng, menyembunyikan remote dibelakang tubuhnya. "Tidak mau!"


"Ganti ih! mending film kartun!" Melani berusaha menarik lengan pria dihadapannya. sayang sekali, tangan berotot itu bahkan tidak berguncang sedikit pun. Raffa tersenyum seringai melihatnya, aksi inilah yang ia inginkan, melihat gadis tersebut dalam keadaan kesal.


"Coba saja sendiri." ledeknya


Melani mencoba untuk mengambil dari sisi belakang tubuh Raffa, namun lagi-lagi gagal tatkala pria itu semakin merapatkan tubuhnya pada kepala kasur itu. Melani tersenyum seringai, ia menggelitiki pinggul Raffa agar lelaki itu merasa kegelian.


"Oh, Melani!" Raffa mulai terkena bius gelitik yang membuatnya merasa tidak tahan


"Hahahahaha! badan aja yang besar, digelitikin malah nggak tahan." ejeknya, semakin menambah kadar gelitiknya


"Oh, ****! stop it, Melani." Raffa bergeliat, ia benar-benar tidak tahan. dan secara reflek, lelaki itu merengkuh kedua tangan Melani dan membaringkan tubuh itu diatas ranjang. kini dirinya berada diatas wanita itu, Melani yang berada dibawah kungkungannya mulai merasa deg-degan. jantungnya berdegup sangat kencang saat sepasang netra lelaki ini menatapnya dengan lekat.


"Sekali lagi berani gelitikin aku, aku tak segan-segan mencium bibirmu." ancamnya


"Makanya, kemarikan remote nya!" Melani mulai berontak ingin dilepaskan, namun lelaki ini semakin merapatkan tubuh mereka hingga hanya sejengkal jarak itu.

__ADS_1


"Ja-jangan macam-macam!"


🌴🌴🌴


__ADS_2