
🌴🌴🌴
Sinar matahari menerobos masuk melalui pantulan jendela, menyoroti wajah si pemilik raga yang masih bergelung didalam selimut miliknya. sepasang netra yang terpejam seketika mengkerut tatkala sorotan sinar mentari menembak tepat sasaran. sehingga sang pemilik raga pun merasa terganggu. ia berdecak dan kembali tidur dengan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
Hingga--sekelebat bayangan pekerjaan pun mulai merasuki pikirannya. Raffa beranjak bangun dan menatap jam digital yang melekat di dinding kamarnya. sontak saja matanya terbelalak saat itu juga.
"Pukul tujuh????"
Tok tok tok
Ketukan pintu pun mengalihkan perhatiannya.
"Raffa, kau sedang apa? cepat turun dan sarapan!" teriak sang Mama diluar sana
"Ya, Ma!" sahutnya
"Sial! kenapa jam waker tidak membangunkanku? kalau begini mana sempat untuk mandi. jemput boss saja menempuh dua puluh menit, aaaakkh!"
Tanpa banyak berpikir lagi, Raffa bergegas bersiap-siap. dalam waktu yang singkat pun ia telah selesai dengan penampilan rapinya. tampan? tentu saja dirinya masih sangat tampan. pria itu bergegas turun menuju ruang makan, menghampiri kedua orang yang sangat ia cintai.
"Pagi, Ma, Pa." sapanya
"Lama sekali!" decak Mama
Raffa hanya mengulum senyum kecut nan terpaksa, bergegas meneguk susu vanila yang disediakan untuknya dengan cepat namun tetap hati-hati agar tidak tertumpah menodai kemeja putihnya. sedangkan tangan kirinya memegang tas kerja dan juga jas hitam miliknya. Raffa pun mengitari meja, mengecup pipi sang Mama dan menyalimi punggung tangan Papanya. membuat mereka menatap heran pada anak semata wayangnya ini.
"Aku berangkat." pamitnya
"Nggak sarapan, Raff?" teriak Mama
"Di kantor aja, Ma!" sahut Raffa yang perlahan mulai menjauh dari pandangan kedua orang tuanya.
"Astaga, apa dia telat bangun? ketiaknya sedikit bau tadi." celetuk Mama
"Kirain cuma Papa aja yang merasakan bau itu."
__ADS_1
Mama dan Papa pun menepuk jidatnya secara serempak. kemudian mereka kembali menikmati sarapan pagi dengan nasi dan lauk pauk tentunya.
**
"Kenapa kau lama sekali!"
"Lama? tepat setengah delapan ini, Tuan." dengus Raffa sembari menatap jam dipergelangan tangannya
"Tentu saja kau telat! biasanya setelah saya selesai sarapan, kau sudah stand by disini. malahan sekarang saya yang menunggu kamu!" decak Tuan Andrew
"Ck! anda kecepatan bangun dan sarapan, biasanya setengah delapan lewat anda masih makan." gerutu Raffa, enak saja dirinya disalahkan.sedangkan dirinya telah berusaha untuk datang tepat waktu.
"Sudahlah, Yang, lagian Mas Raffa datang tepat waktu kok." lerai Chika, perempuan itu selalu ada untuk melerai perdebatan antara dua pria tampan ini.
"Ck! kamu selalu membelanya. aku berangkat ya?" pamit Andrew, mengecup kening sang istri dengan waktu yang cukup lama. setelahnya tatapan Andrew melirik ke arah Asistennya yang berdiri mematung, ia tersenyum seringai seolah ada sesuatu yang ingin ia lakukan.
"Cium bibirku." bisik Andrew
"Hah?" Chika melotot
Cup!
Chika melakukannya tepat dihadapan Raffa, sesuai permintaan suaminya. Andrew membalas ciuman itu hingga semakin dalam. membuat keduanya terbawa suasana dan saling menikmati satu sama lain.
Raffa berdecak frustasi, pasangan tidak tahu tempat ini seenak jidatnya saja memamerkan kemesraan intim dihadapan orang lain, sungguh memalukan. Raffa menggelengkan kepala sembari melangkah keluar meninggalkan pasangan itu.
"Hah! pasangan tidak tau malu." desahnya.
Lama ia menunggu, sesekali melirik ke arah pintu utama. Raffa semakin dibuat kesal saja, ia pun bangkit berdiri dan memanggil Tuannya itu.
"Tu-an." Raffa tertegun melihat Tuan Andrew sedang mendaki gunung. ia menggeleng-gelengkan kepala, bahkan sepasang suami istri itu kembali melanjutkan kegiatan sebelumnya.
Raffa tersenyum seringai, akal licik mulai terngiang dipikirannya. ia bergegas melangkah ke mobil, masuk ke dalam kendaraan roda empat itu dan mulai melaksanakan ide muslihatnya.
Tiiiiiiiiit .... Tiiiiiiiiiiiiiiiitt ....
__ADS_1
"Emmh ... berisik!" erang Andrew
"Sayang, itu--Mas Raffa--aakh!"
Tiiiiiiiiiiittt .....
"Sudah ah!" Chika langsung mendorong tubuh suaminya yang semakin bergerilia diatas tubuhnya
"Sayang." Andrew memasang wajah memelas
"Ayo berangkat! apa kamu lupa kalau ada Mas Raffa? aku merasa malu dengannya, pasti dia melihat ulah kita!" omel Chika sembari menarik lengan suaminya
"Assisten itu mengganggu saja!" gumamnya berdecak kesal.
Raffa yang melihat Tuannya telah keluar dari sangkar emas itu, bergegas keluar dari mobil untuk membukakan pintu padanya. kedua pria tampan itu saling bersitatap dalam jangka waktu cukup lama, Andrew menatapnya dengan tajam, sedangkan Raffa menatap licik sembari tersenyum seringai. setelah Tuan Andrew menjatuhkan bokongnya di kursi jok belakang, Raffa bergegas menutup pintu dengan cukup kuat.
"Apa kau tidak bisa menutup pintu dengan pelan!" erang Tuan Andrew, sesaat sang Assisten telah masuk ke dalam mobilnya
"Saya takut anda tercebur ke aspal kalau saja pintunya ditutup pelan, Tuan. apalagi anda hobi sekali menyandar pada pintu." celetuk Raffa sembari terkekeh
Sungguh membuat Andrew menatapnya dengan kesal. pria itu pun tak sungkan-sungkan menjitak kepala Assistennya dengan kuat.
"Nggak sepelan itu juga kali konsepnya!" geram Tuan Andrew
"Iya, tapi nggak perlu juga menjitak kepala saya, Tuan. bagaimana kalau saya amnesia karna ulah anda? tak ada yang menemanimu mengurus perusahaan. hadeeeuh!"
"Berani sekali kamu menjawab!" Andrew kembali mencondongkan tubuhnya untuk menjitak kepala Assistennya. namun Raffa berhasil mengelak hingga menghindari tangan nakal bosnya itu
"Astaga! kenapa kau bau sekali!" akhirnya aroma badan yang menguar dari tubuh Raffa pun dapat tercium oleh Tuan Andrew. ia menjauhinya, menghempaskan tubuh dengan kasar di bangku yang ia tempati
Sedangkan Raffa, pria itu mengendus aroma tubuhnya lalu terkekeh pelan
Disisi lain, Chika mengernyit heran kenapa mobil itu tak kunjung pergi. dan sepasang netra miliknya melotot tatkala mobil itu sedikit bergoyang
"Apa yang terjadi? kenapa mobilnya bergoyang?"
__ADS_1
🌴🌴🌴