
🌴🌴🌴
Hari ini adalah hari yang bersejarah untuk Melani, akan menjemput gelar S1 tataboga di Gedung Kampus, tempat ia menggali ilmu. tiga tahun ia sekolah disana, memberikannya banyak pembelajaran ilmu yang sangat matang, hingga ia berhasil menguasai semua bidangnya. ditambah pula adanya teman teman seperjuangan yang sangat baik dan kompak satu sama lainnya. kini rasanya sangat sulit untuk berpisah dengan mereka. namun mau bagaimana lagi, kehidupan dimasa depan telah menunggu kesuksesan kita.
Sekarang gadis itu sedang bersiap-siap dengan didandani oleh MUA yang direkomendasikan oleh Raffa, calon suaminya. menatap pantulan cermin yang menyuguhkan cantiknya wajah itu. Melani sempat terpana, seumur-umur ia belum pernah didandani seperti ini.
Deru mobil terdengar melewati kediamannya, berhenti saat itu juga, dan mengalihkan perhatian Melani olehnya.
"Pasti Mas Raffa" gumam Melani yang masih betah duduk didepan cermin, rambutnya masih ditata oleh Mua tersebut. dan benar saja, pria tampan itu menyelonong masuk ke dalam kamar Melani.
"Sayang, udah datang?" tanya gadis itu
"Seperti yang kamu lihat. ternyata kamu cantik juga." pujinya, berjongkok demi melihat lebih jelas wajah cantik tersebut.
"Bisa aja gombalnya." gadis itu tersipu malu
Kini mereka semua, Melani, Raffa, dan orang tua mereka, telah berada di Aula kampus, tempat diselenggarakannya wisuda untuk menggelar sarjana yang telah diimpi-impikan oleh semua orang. tak terkecuali Chika, juga berada ditempat ini. Melani dan Chika sedang memerhatikan pembawa acara yang terus mengoceh menyampaikan kata sambutan kepada seluruh tamu dan calon sarjana.
Serangkaian acara telah dilaksanakan, kini giliran penyidangan yang telah dinanti sejak tadi. sudah puluhan wisudawan yang dipanggil dan maju ke panggung, Melani merasa deg-degan sendiri menanti namanya.
Melani Felisha anak dari Axel Zulkarnain, kelahiran Bandung, 29 Mei tahun xxxx, fakultas tataboga
Deg!
Itu namanya, dan berarti dirinya dipanggil untuk ke depan. sungguh gugup dirinya, Melani mengambil oksigen sebanyak-banyaknya di udara untuk menetralisirkan perasaannya. ia bangkit berdiri, berjalan dengan anggunnya diatas red karpet yang membawanya ke panggung tersebut.
__ADS_1
**
"Selamat wisudanya, Sayang." ucap Mama Risha, calon mertuanya, memeluknya dengan begitu hangat.diikuti pula oleh Papa Rafi yang mengucapkan kata selamat untuknya.
"Congrats untukmu, Sayang, ini--ku persembahkan hanya kepadamu." Raffa berjongkok, menyerahkan buket bunga kepadanya
Disisi lain banyak yang memperhatikan mereka ditengah lapangan itu, termasuk Chika dan suaminya dari jarak jauh. mereka mendelik, menggeleng-gelengkan kepala.
"Cih! tidak ada apa-apa, tapi seromantis itu." ucap Chika kepada suaminya
"Mereka sengaja menyembunyikannya dari kita, asal kamu tau, Raffa sudah melamarnya. lihat saja, orang tua Raffa juga hadir." ucap Andrew sembari menggendong bayinya
"Mending sekarang kita pisahkan mereka, panggil Raffa dan jadikan dia fotografer!" usul Chika dengan ide liciknya, padahal sudah ada Robert yang setia memotret keluarga itu.
Dan kembali sisi, Melani dengan malu-malu menyambut sebuket bunga tersebut sembari menyapu sekitar. Ia tersenyum kecut kepada semua orang yang masih betah memperhatikannya.
"Raffa!" panggilan itu lagi lagi mengganggunya, siapa lagi kalau bukan Andrew yang memerintahkan dia menjadi fotografer dadakan.
Akhirnya Raffa diberi tugas untuk memotret keluarga itu walaupun ada rasa sedikit kesal. tidak mau kalah, ia juga ingin dipotret bersama sang kekasih, calon mertua dan keluarganya. hingga--suara seseorang mengalihkan perhatian mereka, tatkala suara bariton memanggil nama kekasihnya dengan cukup nyaring.
"Melani, Chika!"
Yang dipanggil menoleh ke asal suara, senyum disudut bibirnya mengembang, melangkahkan kaki ingin menyambut orang tersebut.
Bugh!
__ADS_1
Mereka bertiga berpelukan dengan erat antara Melani, Chika dan Fandi. melihat hal itu sungguh membuat Raffa meradang.
"Apa-apaan ini!" itu suara Andrew, yang begitu posesif terhadap istrinya. pria itu menarik Chika dari pelukan Fandi. begitu pula dengan Melani yang ditarik oleh Raffa.
"Dilarang keras memeluk pria mana pun!" peringat lelaki tersebut
"Namanya juga orang kangen sama kak Fandi." balas Melani, Raffa menghembus nafas dengan kasar, merasa malas.
**
"Kamu kenapa sedih?" kini hanya ada Raffa dan Melani yang telah berpindah didalam mobil, melakukan perjalanan ke tempat yang dituju
"Ayah dan saudaraku tidak datang." ucapnya dengan sendu, Raffa tersenyum penuh arti.
"Mungkin mereka sedang sibuk, aku akan mengajakmu ke sesuatu tempat." hibur Raffa, Melani mengangguk sembari tersenyum
Melani telah memaafkan Ayahnya semenjak mendapat ceramah dari Mama Sarah. begitu pula dengan keluarga Ayah Axel, memaafkannya setelah pria itu bertekuk lutut dibawah kaki istrinya. melihat kacaunya pria tersebut, membuat Mami Jannete dan anak-anak merasa tidak tega. mereka menerima lelaki itu untuk kembali ke dalam istana mereka. dan hal itu sungguh membuat Melani merasa lega, karena dengan memaafkan, membuat semuanya yang berantakan telah kembali tersusun semua. walau bagaimanapun, waktu tidak bisa diulang untuk tidak melakukan kesalahan.
Kendaraan yang membawa Raffa dan orang tua mereka,, telah tiba disebuah resort Kepulauan Seribu yang menyuguhkan lautan indah dengan air biru nan bening. dan juga disuguhkan banyak pulau dengan bentuk aneka lautan yang mampu memanjakan mata. mereka menaiki kapal yang membawanya ke tempat surganya dunia tersebut
"Kita kesini?" Melani menatap tidak percaya, melihat lautan disekitarnya
"Ya. ayo kita masuk." Raffa mengajak mereka semua untuk masuk kedalam Resort, menuntun Melani ke sisi lain ruangan.
"Surprise!! Congratulation!" teriakan beberapa orang mengejutkan Melani, hingga membuatnya terpana
__ADS_1
🌴🌴🌴