
🌴🌴🌴
Hingga acara inti pun dimulai oleh keluarga Raffa, yang biasanya sang Ayah yang mengutarakan niatnya untuk melamar sang pujaan hati putranya, kini ia alihkan kepada sang istri yang jago menggunakan bahasa isyarat. Papa dan Raffa hanya diam saja, entah apa yang mereka katakan. Raffa lebih memilih menatap lekat wanita cantik diseberang sana, sembari tersenyum memandang pujaan hatinya. Melani begitu risih, ia tersipu malu karena Raffa terus memandangnya tanpa henti.
"Anakku ini sudah kebelet banget ingin menikahi putrimu, mereka sudah saling mencintai, lihat saja pandangannya ... mereka saling menatap dan tersenyum. Makanya kami kesini untuk melamar gadis cantik itu." ujar Mama Risha sembari cekikikan melihat kedua insan itu
"Tidak perlu ditanyakan, aku setuju mereka menikah, asalkan putramu berjanji untuk selalu mencintai putriku, menyayanginya dan melindungi putriku. Kamu tau? Melani sempat tidak menyukai pria karena ia begitu membenci pria. dan karena Raffa, anak gadis ku ini mulai membuka hatinya untuk mencintai."
"Kenapa tidak menyukai pria?" tanya Mama Risha dengan heran
"Ada sedikit rasa trauma. jadi kapan nih waktunya?" Mama Sarah mencoba untuk mengalihkan pembicaraan
Mama Risha berunding kepada sang suami, kapan hari baiknya untuk sepasang insan itu. Papa Rafi hanya menyerahkan semuanya kepada dua wanita ini.
"Tiga bulan lagi saja, gimana?" tanya Mama Sarah meminta pendapat calon besannya, yang ternyata adalah sahabatnya di Panti Asuhan.
"Bagaimana dengan mereka?" Mama Sarah menatap Melani dan Raffa yang masih asyik saling berpandangan.
"Jangan pedulikan mereka, sudah sibuk dengan dunianya." Mama Risha terkekeh pelan
"Aku ngikut aja, tiga bulan juga lebih baik."
"Tiga bulan lagi aja, Mas." ucap Mama Risha kepada suaminya
"Papa setuju, tiga bulan lagi!" Papa Rafi meninggikan volume suaranya, seolah sengaja untuk melakukan itu supaya dua anak muda ini tersadar dari dunia tatap-tatapannya. dan benar saja, keduanya terlonjak kaget mendengar hal itu.
__ADS_1
"Apa?? tiga bulan lagi??" sahut Raffa, terbelalak
"Ya, kamu sih nggak ikut nimbrung." ledek Mama Risha
"Gimana mau nimbrung, aku nggak ngerti apa yang dibicarakan." Raffa memutar bola matanya
"Jadi, Tan, tiga bulan lagi kami menikah?" sela Melani
"Jangan panggil Tante, Mama saja, oke? iya benar tiga bulan lagi."
"Oke, tidak masalah, Tan, eh--Mama." Melani mengangguk setuju
Sedamgkan Raffa, pria itu mencebikkan bibirnya, bagaimana bisa tiga bulan lagi? Itu sangat lama baginya.
"Terlalu cepat tau! aku mesti ngurus toko yang baru." ucap Melani. Raffa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. sebenarnya ia sudah tidak tahan lagi, tapi mau bagaimana lagi? sang kekasih bersikeras menuruti kesepakatan orang tuanya.
Kini mereka semua menikmati makan malam bersama di kediaman tersebut. duduk lesehan di depan televisi sembari menonton. ingin di ruang makan, namun hanya tersedia tiga bangku. lebih baik menikmati makan malam di ruang keluarga saja.
"Pantasan kamu ingin masak banyak, ternyata oh ternyata ...." ucap Mama Sarah kepada putrinya
"Hmmm .... pantasan juga Raffa melarangku untuk masak menu malam, ternyata mereka udah janjian untuk hal ini." seru Mama Risha, hingga membuat Melani terkekeh.
Sedangkan kedua lelaki itu hanya diam menyimak, menyimak gerakan tangan yang entah apa artinya.
**
__ADS_1
"Malam ini aku ingin selalu bersamamu, bagaimana kalau kita ke pasar malam?" ajak Raffa, menggenggam tangan Melani, sedangkan tangan kanannya memegang setir mobil.
"Boleh, yang penting selalu bersamamu." Melani menyandarkan kepalanya di bahu sang kekasih, hanya sebentar.
"Peluk lagi tanganku dan jangan lepaskan." pintanya, Raffa hanya merasa nyaman dengan posisi seperti itu
"Enggak mau! nanti kamu sulit menyetir atau tanganmu terasa kebas." tolak Melani
"Tidak, percayalah." ucapnya dengan santai
"Baiklah, hanya sebentar." Melani kembali menyandarkan kepalanya sesuai permintaan lelaki tersebut
Raffa mengulum senyum, ini sangat menyenangkan dan juga terasa nyaman. berada di dekat Melani memang sangat berbeda dari para-para mantan yang pernah menghinggapi hatinya. perempuan ini tidak terlalu banyak menuntut, yang terpenting apa yang dilakukan itu sangat menyenangkan dan begitu menghibur. Tidak seperti Audy, yang selalu mengajaknya pergi ke Mall, shopping dengan menghabiskan uang hasil keringat yang Raffa cari. dan terlebih lagi, perempuan itu selalu merajuk jika pria ini hanya memberikannya sedikit uang. wajar saja, Raffa bekerja sebagai ojek online saat itu, bermodalkan tampang untuk memikat penumpang. bahkan banyak dari mereka yang menginginkan Raffa untuk mengantarkan sampai ke tujuan. lebih gilanya lagi, Audy selalu mengajaknya untuk melakukan hal yang belum pantas, yaitu berc*nta disaat usia keduanya masih belia.
Namun kini berbeda lagi, ia pria dewasa yang sudah sangat menginginkan penyaluran itu, walau hanya bisa menelan ludah saat menyaksikan keromantisan yang dilakukan Tuan Andrew dan istrinya, semakin membuat jiwa kejantanannya meronta-ronta. sekarang, ia sadar telah mencintai Melani, ingin memiliki seutuhnya dalam jangka waktu yang cepat.
"Apa nggak bisa sebulan lagi, Yang?" tiba tiba Raffa kembali mengungkit hal itu
"Terlalu cepat, baru juga jadian. kita butuh pendekatan, tau!"
"Sudah dari dulu kita berdekatan karena ulah mereka, apa masih kurang? emang kamu mau aku terkam sekarang?" Raffa menatap bagian bawah milik Melani dan beralih pada dadanya yang montok, seketika itu ia menelan salivanya dengan kasar.
"Jangan nakal! atau ku tonjok mukamu!" ancam Melani
🌴🌴🌴
__ADS_1