
🌴🌴🌴
Keesokan harinya, Melani dan Raffa kembali lagi ke Rumah Sakit untuk mengambil hasil pemeriksaan. tidak butuh waktu lama, ternyata hasilnya memang telah selesai dengan cepat, sesuai permintaan pria tersebut.
"Ini, tips untuk kalian." Raffa membagikan beberapa lembar uang untuk mereka yang telah bekerja dengan cepat
Mereka menyambutnya dengan gembira. "Wah, terima kasih, Tuan." lalu menunduk hormat
Raffa merangkul tangan Melani sembari menyodorkan amplop tersebut. Namun, wanita itu malah menggeleng, ia merasa takut bila hasilnya tidak seperti yang ia harapkan.
"Ambillah, dan buka!" desak Raffa
Melani masih menggeleng, keduanya terus melangkah menuju keluar dari tempat ini. "Nanti deh kalau ketemu pria itu." tolak Melani
"Yasudah, boleh aku melihatnya?" tanya Raffa meminta izin
"Kalau mau lihat, ya lihat aja ... kenapa minta izin segala." Melani tergelak, lelaki itu tersenyum lembut melihat wajahnya
"Baiklah, aku buka." Raffa mengeluarkan selembar kertas dari dalam amplop tersebut. membuka lipatannya dengan cepat, lalu mulai membaca secara detail isi dari tulisan tersebut.
"Gimana?" Melani jadi merasa ingin tahu
"Keinginan kamu terwujud, ternyata pria itu bukan Ayahmu." Raffa memasang wajah sendu
"Masa sih?" Melani menyipitkan matanya, menatap lekat raut wajah itu seolah sedang mencari kejujuran
"Tapi bo'ong! hahahahaha ....." Pria itu tergelak dengan sangat keras, hingga mengundang beberapa pasang mata sembari menatap aneh. Melani yang melihat canda garing itu, langsung menonjok perutnya dengan cukup kuat.
__ADS_1
"Is, nggak lucu! mari sini!" Tangannya menengadah setelah berhasil meninjunya. Raffa menggaduh, tak urung ia juga memberikan secarik kertas tersebut. Melani lebih memilih menyimpannya saja dari pada harus membaca keterangan yang tertera di dalamnya.
"Lah--nggak dibaca?" tanya Raffa, kembali menegapkan tubuhnya
"Nanti aja deh."
"Hmmm, dasar! sekarang--malam ini, aku mau menunjukkan sesuatu pada kamu." ujarnya dalam tatapan teduh nan hangat
"Apa itu?" Melani terkesiap
"Ada deh. tapi--tutup dulu mata kamu." Raffa mengeluarkan sesuatu dari dalam dashboard mobil, yaitu sebentang kain berwarna hitam untuk menutupi kedua mata indah gadis tersebut. Melani memutar bola matanya, mau menunjukkan sesuatu haruskah dirahasiakan terlebih dahulu? sungguh konyol, pikirnya. Namun tak gentar, ia juga menurutinya dan tidak membantah sekalipun.
"Hmm ... aku tau sekarang." pikir Melani
"Apa memangnya?"
"Permintaan aku kemarin, saat di Kantor."
"Preeeet!!"
Raffa hanya tersenyum kikuk di belakang tubuh wanita tersebut. Setelah selesai, Raffa bergegas menyalakan mesin mobilnya. Memundurkan kendaraan tersebut dengan pelan tanpa menabrak kendaraan lain disekitarnya.
Mobil melaju dengan cukup kencang membelah jalanan Ibukota yang padat kala malam itu. semilir angin diluar sana saling bersahutan menerpa kulit wajah beberapa pengendara. Indahnya malam yang dipenuhi lampu kendaraan begitu menenangkan, apalagi menatap langit yang dipenuhi bintang-bintang dan rembulan, memberi kesan wah pada panoramanya.
Cukup lama berkendara hingga membuat Melani merasa resah, akhirnya mobil perlahan memelan, lalu berhenti ditempat. akhirnya wanita tersebut bisa bernafas lega tatkala mendengar mesin mobil yang telah dimatikan.
"Ayo, turun!" Raffa menuntun gadisnya untuk turun dari mobil. Melani menyambut uluran tangan tersebut lalu menjuntaikan kakinya ke lantai basement.
__ADS_1
"Kita ada dimana?" tanya wanita tersebut
"Nanti kamu juga tahu, Sayang." Raffa enggan memberitahunya
Mereka terus melangkah melewati jalan lain, sebuah lorong yang langsung mengantarkan keduanya menuju benda persegi. Raffa menuntun Melani untuk masuk, hingga merasakan pergerakan benda itu bergerak ke atas.
"Kenapa kita di lift? kamu bawa aku ke Hotel, ya?" Melani mulai mengerang, melepaskan pagutan tangan pria ini
"Iya, tapi jangan aneh-aneh pikiranmu." Raffa kembali menggenggam tangan yang sempat dilepas
"Jadi kenapa kesini? selain tidur!"
"Bukannya kamu ingin sesuatu yang romantis?" Rafa tersenyum seringai, gadis itu menggigit bibirnya dengan cukup kuat.
"Kita pulang aja, atau aku lepas ini!"
"Eh, jangan! Ini udah mau sampai, kita tidak macam-macam kok." ucapnya, bisa gagal rencananya karena ikatan itu dilepas
Ting!
Dan saat itu pula pintu lift terbuka otomatis, Melani masih belum dapat melihat pencahayaan sekitar karena matanya yang masih ditutup oleh kain ini. Raffa terus menuntunnya, hingga terdengar suara pintu yang tengah dibuka.
"Awas kalau macam-macam!" ancam Melani
"Keluarlah!" titah Raffa pada seseorang, entah siapa itu. Melani masih menerka-nerka bersamaan dengan hatinya yang sedang berkecamuk.
"Are you ready? aku buka sekarang." tanya Raffa, wanita tersebut mengangguk dengan sangat cepat. Raffa mengulum senyum, kedua tangannya terulur ke belakang kepala gadisnya dan mulai membuka ikatan tersebut.
__ADS_1
Dalam pejaman mata, Melani dapat melihat sesuatu yang berwarna merah. perlahan ia membuka kedua matanya, benar saja, warna merah itu adalah sebuah cahaya yang berasal dari puluhan api menyala. Hingga penglihatannya kembali sempurna, Melani terpukau dengan pemandangan menakjubkan dihadapannya.
🌴🌴🌴