JONES, Dipaksa Jatuh Cinta

JONES, Dipaksa Jatuh Cinta
Apa Penilaian Mereka?


__ADS_3

🌴🌴🌴


Melani mendudukkan tubuhnya diatas sofa yang terletak di ruangan Assisten Raffa. mengedarkan pandangan menatap lekat pada setiap sisi design dan furniture yang terdapat pada ruangan tersebut.


Ketukan pintu pun terdengar nyaring di telinganya, Melani beranjak bangkit berdiri dan melangkah menuju pintu.


"Nona, saya bawakan coklat hangat dan cemilan." ucap petugas Pantri


"Oh, silakan masuk, Bu." Melani memberi ruang untuk petugas tersebut


Kini Melani tengah menikmati bakwan dengan dicocol oleh saus, hidup terasa indah bila menikmati hidangan ini hanya seorang diri tanpa ada yang mengganggu. lagi pula, buatan petugas Pantri benar-benar lezat sekali, beragam gorengan yang dicintai penduduk negeri tersaji banyak diatas satu piring, hanya untuknya saja.


Di ruang rapat, Tuan Andrew baru saja selesai mengakhiri kegiatan meeting antar pemegang saham. Ia menyuruh sang Assisten untuk menghubungi pihak pantri, memberitahukan perintah atasannya kepada salah satu dari mereka.


Tak berselang lama, pintu pun diketuk dari luar. Assisten Raffa bangkit berdiri untuk membukakan pintu tersebut.


"Susun diatas meja, ya." titah Assisten Raffa, mereka mengangguk dan menjalankan perintahnya


"Nah, ini dia, cake buatan sahabat istri saya. mari dicoba!" seru Tuan Andrew


Belasan pemegang saham itu pun mulai menikmati cake yang memang terlihat menggoda. sekali gigitan saja sudah membuat lidah bergoyang didalamnya. pengecap rasa pun tak bisa berbohong, seutas senyum seolah sedang berbicara bahwa cake yang berada digenggaman tangan masing-masing benar terbukti enak dan lezat, teksturnya pun lembut dan padat.


"Enak sekali, Tuan Andrew. apa beliau pengusaha juga?" tanya salah satu dari mereka


"Hanya pengusaha kecil, dan baru beberapa hari beliau menjalankannya." ujar Tuan Andrew


"Hmmm, tidak ada bedanya sama yang di Resto dan Kafe, malah ini lebih enak dengan tampilannya yang sederhana." puji yang lainnya


Tuan Andrew dan Assisten Raffa saling bersitatap dan mengulum senyum.


Melani memang tidak ada duanya. batin Raffa


"Jadi ya ... sekalian saja, bila kalian berkenan, datang saja kemari." Andrew menyodorkan selembar brosur yang menampikkan nama toko dan beragam cake terpajang didalam etalase. tak lupa sosok Melani yang berdiri sembari memamerkan cake diatas nampan.


Kemudian Andrew melirik Assistennya, seolah dirinya tahu harus melakukan apa, Assisten Raffa langsung membagikan brosur ke setiap orang.


"Baiklah, terima kasih, Tuan Andrew."


"Wow, harga yang ekonomis." seru yang lainnya

__ADS_1


"Ternyata dia masih muda sekali, Tuan, cantik pula." sahut yang lainnya


Sontak saja, Raffa yang mendengar pujian itu menatapnya dengan tajam. seolah dirinya tidak senang bila sang penghibur hati tengah dipuji kecantikannya.


Dasar! sudah beranak empat pun masih memuji perempuan lain. batin Raffa


**


Waktu terus bergulir, telah hampir satu jam Melani menunggu. namun, yang tengah ia nanti pun belum juga kembali. Melani bangkit berdiri, lebih baik ia ke kantin untuk bersilaturahmi dengan kepala kantin dan rekan yang sempat ia tinggalkan.


"Assalamualaikum, Bu, kak Mai." sapa gadis itu


"Eh, Melani! Waailaikumsalam, Nak." Kepala kantin memeluknya, disusul pula oleh mantan rekan kerjanya dulu


"Bagaimana kabar kamu?"


"Kerja dimana sekarang?"


Pertanyaan berurutan yang dilontar, membuat Melani harus menjawabnya.


"Alhamdulillah, baik, Bu. sekarang aku buka usaha sendiri." jawabnya


Melani mengangguk seraya menunjukkan deretan giginya yang rapi. "Iya, Kak. Alhamdulillah walaupun masih usaha kecil-kecilan." seru Melani


"Ah, nggak nyangka sih, akhirnya terwujud juga keinginan kamu."


"Nah, sini-sini, makan dulu! Ibu buat menu baru, cobain deh." sela Ibu kepala kantin, membawa semangkuk makanan kepada Melani. ia menaruhnya diatas meja yang terdekat


"Wow, menggiurkan sekali mah ini." seru Melani


"Iya, makanya cobain. Ibu belum dagangin, mungkin kamu orang pertama yang mencobanya."


"Is, bukanlah, Bu! orang ketiga. kan yang pertama dan kedua, kita." ralat temannya yang bernama Mai itu


"Iya gitulah pokoknya."


Melani tak mempedulikan perdebatan itu, ia tengah menghayati cita rasa yang berbeda dan benar-benar lezat hingga mampu menggoyang lidah siapa saja yang menyantapnya.


"Yummy pokoknya!" Melani mengacungkan dua jempol kepada dua orang itu. "Pokoknya harus dijual sekarang!" sambungnya

__ADS_1


"Ya, rencana kami juga gitu."


Melani mengangguk paham, hingga hanya beberapa menit mereka mengobrol, gadis itu pun pamit tatkala waktu menunjukkan hampir pukul setengah dua belas. artinya, sebentar lagi adalah jam istirahat dan penjaga kantin harus kembali bergulat dengan Dapur.


Kini Melani telah tiba di ruangan Raffa, sontak saja ia terkejut melihat lelaki itu tengah menikmati cake miliknya diatas sofa.


"Hai." sapanya


Melani melenggang masuk tanpa permisi, seolah ruangan itu adalah miliknya sejak beberapa waktu terakhir.


"Hai juga. maaf, kalau aku menetap disini." ucapnya


"Tidak masalah, Tuan Andrew akan berbicara padamu."


Melani mengangguk paham, dan tatapannya melirik cake yang tengah dilahap oleh Assisten ini.


"Apa kalian mempromosikan daganganku ke orang-orang penting itu?" tanyanya


"Hmmm, tidak. mereka hanya mencoba dan menilai." jawabnya


Melani mengernyit, "Menilai? apa penilaian dari mereka?" tanya Melani sembari mencondongkan tubuhnya ke hadapan Raffa, ia menanti jawaban.


Deg!


Entah kenapa sesuatu didalam sana berdetak kencang, tubuh Raffa menegang tatkala mencium wangi khas tubuh wanita ini.


"Menjauhlah, kau membuatku sesak!" gerutunya


Melani mencebik, pria ini lama sekali hanya untuk menjawab enak atau tidaknya. Melani pun kembali menegapkan tubuhnya.


"Jadi apa kata mereka?" ulangnya


"Buatanmu tidak enak dan teksturnya kasar, coklatnya sedikit pahit dan kurang manis." jelas Raffa


Tapi habis juga dimakan sama congormu itu! batin Melani sembari menatap kesal


🌴🌴🌴


😂😂😂😂

__ADS_1


__ADS_2