
🌴🌴🌴
Raffa meringis kesakitan saat pusing itu kembali menyerang. Tangannya terulur menyentuh kening, memijat-mijat disana untuk menghilangkan rasa pusing yang tengah ia hadapi. Raffa mengerjap-ngerjapkan matanya saat tanpa sengaja wajah pucatnya ia arahkan ke jendela.
"Eemh!" Raffa bangkit, mendudukkan tubuhnya sembari menatap suasana cerah diluar sana.
"Sudah pagi?" gumamnya, heran. kembali memijat keningnya
Raffa menoleh ke pintu kamarnya saat indra pendengarannya menangkap suara pintu yang dibuka dari luar. Sosok Mama datang mendekat dengan membawa sarapan diatas nampan.
"Mama?"
"Ya, Sayang. Mama sudah buat bubur untuk kamu."
"Aku nggak sakit, Ma." elak Raffa, biasanya Mama Risha bersikap seperti ini disaat dirinya tengah sakit
"Nggak sakit gimana! Lihat tuh, kepalamu saja masih pusing. Mama juga udah hubungi Tuan Andrew kalau kamu tidak bisa bekerja hari ini."
"Apa???" Raffa terhenyak
"Mama, pasti Tuan Andrew akan marah, dia masih cuti."
"Yang penting Mama sudah meminta izin." ucapnya dengan santai, lalu mengulurkan sendok kehadapan putranya
"Mama, aku bisa sendiri." Raffa merebut mangkok dari tangan sang Mama
__ADS_1
"Habiskan makanannya, minum air hangat dan juga teh jahe itu."
Raffa mengangguk mengiyakan
"Setelahnya istirahat."
Raffa kembali mengangguk, hingga secercah ingatannya kembali pulih tentang kejadian tadi malam. Ya, dirinya berada di Club sampai mabuk parah. dan sosok itu--berada disisinya.
"Mama, siapa yang bawa aku kemari?" Raffa mencegah Mama Risha yang hampir saja ingin menutup pintu kamar.
"Anak buahmu dan juga seorang wanita cantik." Mama mengulum senyum
"Jadi benar dia Melani? ataukah mungkin wanita lain?" gumam Raffa, masih bingung
"Jangan terlalu banyak berfikir! istirahatlah, pulihkan tubuhmu. kau terlalu banyak meminum alkohol tinggi, ck! kebiasaan mu tidak pernah berubah." decak Mama Risha, perempuan parubaya itu kembali menutup pintu
Kini perempuan itu benar-benar mempengaruhinya, yang seharusnya menjadi pelampiasan untuk melupakan sang mantan, kini ia malah terjerat dengan perasaannya sendiri. Mirisnya lagi, ia kembali merasakan sakit untuk kedua kalinya. Apakah ini karma untuknya? atau memang takdir yang ingin mempermainkannya? ataukah takdir tengah menguji perasaannya? entahlah, menurutnya, kisah percintaan yang ia alami sungguh rumit dan menyesakkan
Raffa buru-buru menghabiskan sarapan paginya, lalu meneguk air putih yang sengaja dihangatin, dan beralih meneguk teh jahe hangat buatan sang Mama.
Selesai dengan ritual sarapan yang telah berhasil membuat tubuhnya jauh lebih baik, Raffa melenggang pergi masuk ke kamar mandi.
**
"Kamu kerja, Raff?" Mama yang baru saja keluar dari ruang laundry, tertegun melihat penampilan putranya yang telah dibaluti pakaian formal, Raffa baru saja selesai mencuci alat makannya.
__ADS_1
"Ya, Ma. pekerjaanku sangat banyak di Kantor. Tuan Andrew pasti membutuhkanku." ucapnya, lebih baik pikirannya terkuras oleh banyak pekerjaan dari pada terkuras oleh kejadian tadi malam.
"Kamu yakin? beliau menyuruhmu untuk beristirahat lho."
"Yakin, Ma. aku akan lebih bosan bila di rumah terus." keluhnya
Mama Risha pun paham, anak lelaki mana ada yang betah berdiam diri di rumah. Ia pun mengangguk, menepuk pundak putra kesayangannya.
"Baiklah, jangan terlalu dipaksakan untuk bekerja." peringat Mama Risha, Raffa mengangguk kemudian menyalimi tangan kasar wanita tersebut.
Beberapa menit kemudian, mobil yang melesat sempurna diatas jalan raya Ibukota yang tidak terlalu ramai, telah tiba didepan gedung yang menjulang tinggi. Raffa turun dari mobil dengan menenteng tas kerja miliknya. menyerahkan kunci mobil kepada Security yang datang menghampiri
"Pagi, Assisten Raffa." sapa beberapa pegawai wanita yang berpapasan dengannya
Raffa mengulum senyum dibalik wajah datarnya, hingga membuat para wanita itu tercengang dan shock saat itu juga. bagaimana tidak, ini kali pertama pria dingin itu mengulum senyum yang lebar kepada mereka. Biasanya hanya senyum tipis yang terlihat samar. Menurut Raffa, senyuman itu hanya untuk menutupi rasa patah hatinya.
Raffa masuk ke dalam kotak persegi yang terlihat lengang, hanya ada dirinya dan juga bayangan tubuhnya dari pantulan dinding lift. Hening, hanya terdengar pergerakan benda ini menuju ke atas. Raffa menunduk menatap jam dipergelangan tangan, telah pukul sembilan pagi dan ia benar-benar datang kesiangan.
Raffa menghirup udara sebanyak-banyaknya, kemudian menghembuskannya secara perlahan. dan saat itu pula kakinya melangkah tatkala pintu lift telah terbuka secara otomatis. lagi lagi pemandangan disetiap pagi selalu ia alami, mendapat tatapan kagum atas dirinya. Raffa mengulum senyum kepada semua orang, dan reaksi yang sama saat di lantai dasar pun kembali terjadi. mereka sama-sama kaget bersorak ria.
"Astaga, mereka benar-benar mengagumiku. sepertinya harus ku tunjukkan saja wajah dinginku supaya dunia berhenti gempar. atau tidak, gedung ini akan runtuh." gumamnya, menunduk menatap lantai sembari memijat batang hidungnya.
(Anggap aja ini Mas Raffa lagi di Club, mukanya cedih amat. huhuhu)
__ADS_1
🌴🌴🌴
Ciee .... si Mas digemari , banyak penggemarnya 😂😂