
🌴🌴🌴
Dikeheningan malam, dengan ditemani bintang-bintang dan rembulan diluar sana, semilir angin malam yang menggoyangkan dedaunan, hingga sejuk angin yang mencoba untuk masuk melalui celah jendela, seorang anak Adam tengah duduk berselonjor diatas sofa sembari memegang salah satu pipinya dan juga menggeser layar ponsel yang menampikkan sosok gadis galak nan barbar didalamnya.
Melani, perempuan cantik yang mampu memikat hatinya tanpa sadar, telah berhasil memenuhi layar ponselnya setelah banyak perdebatan yang terjadi saat didalam mobil tadi. Raffa beralih pada video, memutarnya hingga ia cekikikan saat melihat wajah Melani yang langsung memerah menahan amarah. dan disaat itu pula Raffa menyudahi rekamannya.
"Ternyata dia lucu juga kalau lagi diam, tapi berubah jadi singa kalau sedang marah."
"Oh ya ampun, aku benar-benar sudah gila." Raffa menggeleng-gelengkan kepala sembari menepuk jidatnya. Pria itu bangkit berdiri, ingin sekali bergabung dengan orang tuanya yang saat ini pasti tengah menonton di ruang keluarga. Namun sebelum kesana, Raffa terlebih dahulu untuk membuat susu vanilla kesukaannya. Sudah menjadi kebiasaan sebelum tidur untuk meminum susu.
"Tumben kemari?" ledek Mama Risha
"Emang nggak boleh ya, Ma? asal jangan nanya kapan nikah ajalah. entar aku kabur lagi." gerutu Raffa, mendudukkan tubuhnya di karpet berbulu, menyandarkan punggungnya pada sofa, ditengah-tengah kedua orang tuanya
"Hehehehe, apa salahnya coba."
Raffa memutar bola matanya, kemudian meneguk susu vanila miliknya sembari menonton film action barat di layar kaca tersebut.
"Jangan kelamaan menyendiri, Raff, lupakan Audy dan cari yang lebih baik lagi." nasihat Papa Rafi
"Iya, Pa." Raffa mengangguk paham
Raffa memang jarang sekali berkumpul dengan keluarganya untuk menikmati kebersamaan, ia merasa jengah bila disetiap berkumpul selalu ditanya 'kapan memberikan kami menantu dan juga cucu'. Hal itu benar-benar mengganggu pikirannya, belum lagi sang mantan masih bergelayut didalam pikirannya. Hingga tidak ada cara lain, Club adalah tempat pelarian dari segala beban pikirannya selama ini.
Namun kini tidak lagi, sang mantan telah tiada dihati dan pikirannya. Malam ini ia kembali menata kebersamaan dengan orang tuanya. dan tidak terlalu mempermasalahkan perihal pertanyaan yang memuakkan itu.
__ADS_1
"Bagaimana usaha Papa?" tanya Raffa, berbasa-basi dengan sang Ayah.
"Alhamdulillah, tetap stabil dan berjalan lancar." jawab pria tersebut
Papa Rafi membuka usaha bahan bangunan yang termasuk peringkat maju di Ibukota. semuanya berkat sang putra yang memberikannya modal untuk membuka usaha sendiri dari pada tetap bekerja dibawah naungan orang lain. Mereka begitu beruntung dan bangga bisa menyekolahkan Raffa hingga ke perguruan tinggi, dan hasil suksesnya telah mereka rasakan semenjak delapan tahun terakhir ini. Ya, sang putra semata wayang dapat bekerja menjadi Assisten Presdir sejak Tuan Yudha masih sanggup mengelola perusahaan miliknya hingga kini diturunkan oleh sang cucu, yaitu Tuan Andrew.
**
Hari ini adalah hari yang baru untuk memulai kegiatan dalam bekerja. sebelum ke kantor, Raffa terlebih dahulu mengunjungi Toko Kue milik Melani. Pria itu turun dari mobil dengan gagahnya, menyugar rambut klimisnya ke belakang seakan tengah menebar pesona ketampanannya. Jas hitam sedikit ia rapikan, kemudian melangkahkan kaki menghampiri toko tersebut.
"Permisi." panggil pria tersebut
Melani dan Ratih yang masih bekerja dapat mendengar panggilan tersebut. Melani menghentikan kegiatannya, ia bergegas ke depan namun langkahnya seketika terhenti. Melani kembali berbalik ke Dapur, mengurungkan niatnya untuk melayani pria tersebut.
"Siap, Kak." Perempuan itu menurut dan meninggalkan pekerjaannya
"Mau beli apa, Mas? rajin amat datang kemari." sindir Ratih, berani sekali perempuan itu
"Mana Melani?" tanya pria itu
"Belum datang." jawab Ratih dengan entengnya
"Hmmm ...." Raffa bergumam. "Yaudah kalau gitu." Raffa mengangguk paham dan melenggang pergi meninggalkan Toko tersebut
Ratih terpelongo melihat kepergiannya. "Lah--nggak beli toh? cuma nanyain Kak Melani doang? dasar modus!" gumam gadis tersebut
__ADS_1
Ratih kembali ke belakang dengan mulut yang berkomat-kamit tidak jelas.
"Kenapa?" Melani memperhatikan raut wajahnya
"Tuh orang cuma nanyain Kakak doang."
"What? jadi nggak beli apapun gitu?" Melani terbelalak
"Kagak. nanya doang, terus langsung pergi." ucapnya dengan polos
"Pria gila!" gumam Melani
Di dalam mobil, Raffa kembali melanjutkan perjalanan menuju Perusahaan Yudha Group. untuk dua minggu ini ia tidak akan menjemput Tuan Andrew, mengingat pria itu akan cuti selama dua minggu. Beliau tidak ingin kehilangan moment-moment bersama bayi kecilnya, ingin terus menyaksikan perkembangan dari hari ke hari, walaupun sudah ada sang Mami yang turut membantu dalam mengasuh.
Beberapa menit kemudian, Raffa telah tiba di Kantor. pesona ketampanan orang nomor dua ini memang tidak ada tandingannya, sosoknya selalu menjadi idola bagi kalangan pegawai wanita. contohnya kini, beberapa pasang mata menatapnya dengan penuh cinta, seolah ingin berhambur memeluk sang pemilik raga yang tampan itu.
"Pagi, Tuan tampan." sapa beberapa gadis
"Pagi juga." sahut Raffa, masih dengan wajah datarnya. kemudian pria itu menyerahkan kunci mobil pada Security, seperti biasanya.
Saat hendak menaiki beberapa anak tangga, tiba-tiba langkahnya terhenti tatkala mendengar suara seseorang yang memanggil namanya.
Raffa berbalik, memutar sedikit tubuhnya.
🌴🌴🌴
__ADS_1