
🌴🌴🌴
Raffa mendudukkan tubuhnya dengan kasar di kursi kebesaran miliknya, mendengus kesal saat bayang-bayang mereka kembali menguasai pikirannya. Raffa memikirkan ucapan yang dilontarkan oleh sang Sekretaris, bahwa dirinya tengah dirundung cemburu dan sedang jatuh cinta pada Melani.
"Apa benar aku jatuh cinta dengannya?"
"Melani itu hanya hiburan ku untuk melupakan tentang Audy. melihatnya marah, tertawa, itu saja sudah membuatku gemas sampai tidak terpikirkan lagi tentang Audy."
"Dan Audy--selama aku pacaran dengannya, aku merasa biasa saja kalau dia dekat dengan pria lain, tapi masih dalam batas wajar."
"Aaakkh!!" Raffa menjambak rambutnya, kemudian mengusap wajahnya dengan kasar. "Bagaimana pun caranya, Melani harus menjadi milikku!" sambungnya
Raffa kemudian merogoh ponsel untuk menghubungi pujaan hatinya, namun lagi-lagi takdir tidak berpihak dengannya. Sebab pesan yang ia kirim sudah tidak masuk, dan poto gadis itu tidak terpasang lagi diprofilnya.
"Apa dia memblokir ku?" gumamnya, gigi yang bergemeletuk kuat didalamnya
Tok tok tok
Ketukan pintu mengalihkan perhatian Raffa, pria itu langsung menyahut hingga seseorang tersebut mendorong pintu dan melangkah masuk menuju dirinya. Raffa hanya diam saja melihatnya, perempuan itu memang suka sekali memperhatikan dirinya.
"Minumlah, biar pikiran kamu tenang." Sekretaris Jasmin menaruh segelas cappucino dan juga beberapa cemilan kue tradisional diatas piring.
"Terima kasih."
"Apa sudah mulai sadar kalau dirimu itu sedang jatuh cinta?" tanyanya
"Sepertinya."
"Kamu harus gerak cepat dari pria itu, jangan lupa tiap malam apelin dia, terutama dekatin orang tuanya." saran Sekretaris Jasmin
__ADS_1
"Hmm, begitukah?"
"Ck! apa kamu nggak pernah pacaran?" tanya Jasmin
"Pernah. hanya saja waktuku ku habiskan untuk bekerja, sedangkan untuk berdua saja sangat jarang." ujar Raffa, pria ini mulai membuka diri kepada Jasmin, menurutnya saat ini ia sedang membutuhkan teman curhat dan butuh konsultasi kepada gadis dihadapannya.
Sekretaris Jasmin pun mengangguk paham, kemudian tersenyum padanya.
"Lagi pun kau lucu, Jas ... bukannya kau suka denganku? kenapa mendukungku untuk mengejar Melani?" Raffa tergelak, menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi
"Aku hanya suka, mengagumi kamu, itu saja. dan--sedang berlomba-lomba untuk mendekatimu dari anak lainnya."
"Cih! kayak anak remaja saja! Ingat umur!"
"Udah syukur disini banyak yang mengidolakanmu. Udahlah, aku cabut, masih banyak pekerjaan. pasti Tuan Andrew sedang mengawasi kita." Jasmin mendongak menatap sudut plafon yang terpasang cctv di setiap sudut gedung ini.
Raffa mengangguk dan mengibaskan tangannya seolah menyuruh wanita itu keluar.
**
Melani baru saja selesai menjalani salah satu perintah agama yang wajib untuk dilaksanakan. Ia melipat mukena dan juga sajadah lalu menaruhnya pada tempatnya. Melani menatap jam di dinding, seketika itu ia bisa bernafas dengan lega karena melaksanakan sholat diwaktu yang sudah hampir selesai.
Melani kembali ke Dapur, setelah mencium aroma wangi dari hasil masakan sang Mama untuk makan malam keduanya. Baru dua langkah keluar dari kamar, tiba-tiba saja ketukan pintu terdengar olehnya. Melani menoleh ke ruang tamu, siapakah kira-kira yang bertamu? tanpa banyak berpikir, Melani bergegas ke ruang tamu untuk membukakan pintu.
Ceklek
Melani terpaku dan tertegun melihat seseorang yang sengaja ia jauhi kini telah berdiri tepat dihadapannya. Mata mereka saling bertemu, terkunci untuk beberapa saat. Semburat senyuman lebar menghiasi wajah lelaki itu, melambaikan tangan ke atas dan ke bawah untuk menyadarkan wanita dihadapannya.
"Hei, bangunlah! Aku tau, aku orang yang paling tampan. Banyak wanita yang mengidokanku, jadi jangan segitu kali menatapku, Nona manis." oceh Raffa yang datang ke kediaman sederhana ini
__ADS_1
Seketika itu Melani tersadar, menatap kesal pada pria ini.
"Ada apa kau kemari, wahai pengagum rahasiaku?" ledeknya
Raffa terdiam, mencerna ucapan wanita ini barusan. "Maksudmu? Pengagum rahasia?"
"Kau adalah pengagum rahasia ku, bukan?"
Ck! tau darimana dia, batin Raffa
"Hahahahah! bodoh!" Raffa menyentil kening Melani, "Mana mungkin, justru para wanita yang mengagumiku." elaknya
Melani menatap tajam padanya, menyilangkan tangan didada dengan menunjukkan sisi angkuhnya. "Kau yang lebih bodoh, tanpa sadar membuka jati diri. Ada apa kemari? Aku masih kesal denganmu!" Melani melengos ke sisi lain sembari mencebikkan bibirnya. Seketika ia teringat akan kejadian di mobil.
"Hei, sudahlah, aku akan mempertanggung jawabkan perbuatanku yang sudah mencuri ciuman mu dua kali."
"Tanggung jawab apa?" tanyanya dengan nada jutek
"Aku akan menikahimu." bisik Raffa, pria itu melenggang masuk ke dalam rumah sang pujaan hati
Melihat tidak sopannya dia, Melani langsung menyergah Raffa dengan membentangkan kedua tangannya ke samping.
"Tidak boleh masuk! Kami tidak terima tamu! pulanglah!" usir Melani
"Tidak mau! aku ingin bertemu dengan calon mertuaku." ucapnya, menaikkan salah satu alisnya sembari menatap wajah cantik itu
"Calon mertuamu bukan disini, jadi pergilah!"
"Kau terus menghalangiku, jangan marah kalau aku menciummmu untuk ketiga kalinya."
__ADS_1
🌴🌴🌴