JONES, Dipaksa Jatuh Cinta

JONES, Dipaksa Jatuh Cinta
Romansa Di Basement


__ADS_3

🌿🌿🌿


Selagi masih ada waktu untuk beristirahat dari dunia pekerjaan, sejenak Raffa memanfaatkan moment untuk bersama dengan sang pujaan hati. Menghabiskan sisa waktu bersamanya yang tersisa tiga puluh menit lagi. Beruntung saja, sebelum berangkat mengantarkan sang Boss, Raffa terlebih dahulu memesan segala makanan yang dipinta oleh kedua gadis tersebut melalui jalur delivery. Hingga ia tidak perlu membuang banyak waktu untuk kesana kemari.


Raffa menoleh kesamping menatap Melani, wanita itu tampak tegang dan tidak tenang. Raffa mengerti, bila wanita tersebut merasa deg-degan untuk mengetahui kenyataannya nanti. Raffa merengkuh tangan yang bertumpu diatas paha, menggenggamnya dengan erat seolah untuk memberikan rasa semangat.


"Tenanglah, besok kita lihat hasilnya." ucap Raffa, menenangkan gadisnya


Melani menoleh sembari mengulum senyum dan mengangguk. "Iya, aku hanya gugup saja karena akan melakukan hal semacam ini, tidak pernah terpikirkan olehku."


"Justru bagus, orang tua kamu sudah lengkap walaupun hidup terpisah. setidaknya kamu bisa mendapatkan kasih sayang dari Ayah mu."


"Aku tak butuh, Mas. Mama sudah memberiku banyak cinta, jadi aku tidak mengharapkan dari sosok yang bernama Ayah!"


"Hei! jangan bicara seperti itu, walau bagaimanapun beliau adalah orang tuamu, kamu tidak boleh durhaka padanya."


Melani terdiam mendengarnya, wajar saja dirinya begitu membenci sosok seorang Ayah yang telah tega menodai Ibunya. dan terlebih lagi, menghina sang Ibu dengan kata-kata yang tidak senonoh. Melani tersenyum getir setelah mencerna ucapan Raffa, bagaimana bisa ia harus memaafkan lekaki tua tersebut? sungguh tidak bisa dibayangkan, pikirnya.


Tanpa terasa mobil milik Raffa telah tiba di Rumah Sakit Dreka, yang baru berdiri beberapa bulan silam. Ia bergegas memasukkan mobil ke dalam basement, memarkirkannya di ruang yang masih kosong.


Kini keduanya melangkah secara beriringan, langkah bersejajar sembari menggenggam tangan satu sama lain. tak terpisahkan sedikit pun, keduanya saling mengeratkan pagutan tangan itu. Hingga tibalah keduanya di Ruang Laboratorium, seluruh anggota Medis menyambutnya dengan penuh kehangatan. tak urung, mereka yang sedang berkumpul sembari mengobrol, sontak saja langsung bercerai-berai.


"Siang, Tuan, ada yang bisa kami bantu?" tanya salah satu mereka

__ADS_1


"Saya ingin melakukan tes DNA." Raffa menyodorkan dua bungkus rambut yang tersimpan didalam plastik bening.


"Usahakan besok siang telah selesai." peringat Raffa dengan tatapan dingin nan datar, seperti biasanya


"Baik, Tuan. tapi--isi form persetujuan dulu ya." ucapnya dengan sopan


"Baik, Nona." Melani mengangguk setuju


Setelah segala sesuatu prosedur untuk melakukan tes DNA telah selesai dengan baik, Raffa dan Melani beranjak pergi meninggalkan Rumah Sakit tersebut. keduanya tidak bisa berlama-lama untuk bersama, sebab waktu terus mengejar tanpa henti. Raffa menatap jam di pergelangan tangannya, telah menunjukkan pukul satu dan ia harus kembali ke Kantor.


"Maaf, ya ... karena aku, kamu bakal telat jemput Tuan Andrew." Melani merasa tidak enak hati karena telah merepotkannya


"Aku langsung ke Kantor kok, beliau bakal bawa mobil sendiri." ucap Raffa


"Sssstt!" Raffa menempelkan jari telunjuknya di bibir wanita itu. "Siapa yang ngajak kamu pergi sekarang?" tanya Raffa, ia menyandarkan tubuh Melani pada mobilnya. tubuh mereka sangat dekat, dan ini sungguh membuat jantung Melani berdetak dengan sangat kuat.


"Ka-kamu." jawab Melani, sembari menatap lekat bola mata berwarna cokelat terang itu, ada bayangannya didalam sana


"Maka dari itu, ini bukan salah kamu. Kamu tidak berhak untuk merasa tidak enak hati. karena sepenuhnya aku yang mengajak kamu." lirih Raffa, nada suaranya begitu lembut


"Hmmm ..." bagaikan tengah dihipnotis, Melani hanya mengangguk mengiyakan. tatapannya masih saja memerhatikan ciptaan Tuhan yang sempurna ini


"Kamu mengagumi ku? Apa aku ini terlalu tampan?" Raffa menyugar poni rambutnya ke belakang sembari tersenyum cengengesan, tak luput ia juga mengerlingkan sebelah matanya kepada Melani, hingga gadis itu tersadar dari lamunannya.

__ADS_1


"Apaan sih!" Melani tersipu malu, pipinya merona merah bak kepiting rebus. Ia benar-benar salah tingkah karena terlalu memandangnya lebih dalam. apakah pria ini semakin meninggi? besar kepala? entahlah, dirinya tidak menyanggah bila wajah itu benar-benar sangat tampan. entah titisan siapa lelaki itu.


"Katakan iya! kalau tidak, aku akan menciummu disini." Raffa kembali mendekap tubuh itu, mengukungnya, bahkan lebih rapat.


"Ih, lepas ah! kamu itu bukan siapa-siapa ku, jadi tidak berhak melakukan itu." Melani berusaha mendorong tubuh itu dengan sekuat tenaganya. Namun, pria ini sangat licik, bahkan dia menahan kedua tangan Melani


"Kita akan menikah, Sayang. tunggu saja lamaranku." bisik Raffa


"Ohya? emangnya kamu yakin kalau aku bakal menerima kamu?"


"Tentu saja. Aku tau, kamu mencintaiku. Mata kamu itu tidak pernah berbohong, bahkan perlakuan kamu sudah membuktikan hal itu."


"Sok tau!" Melani menunduk menahan rasa malunya


"Hei, tatap aku!" Raffa menaikkan dagu gadis tersebut dengan jarinya, hingga pandangan itu kembali bertemu dan dua pasang netra saling terkunci, membiarkan keduanya tenggelam dalam gejolak cinta.


"Aku sudah menatap kamu, sekarang lep---


Kalimat yang diutarakan Melani seketika terhenti tatkala mulut itu langsung dibekap tanpa permisi oleh bibir itu. Raffa menyesap bibir bawah Melani yang begitu lembut, ********** dengan pelan sembari menghayati penyatuan ini. Melani terpaku, hingga bibir itu turut membalas ******* tersebut.


🌿🌿🌿


Maaf lambat update malam ini, karna harus ngurusin kang plagiat di yutub 😩 ditambah lagi hp ku berat dan lelet 😭 buka NT aja sungguh memakan waktu

__ADS_1


__ADS_2