
π΄π΄π΄
"Ambillah ini, untuk memenuhi kehidupan kamu dan Mama, dan--ambil ruko ini, Ayah sudah membelikannya untuk kamu." Pria parubaya tersebut menyodorkan black card unlimited, yang biasanya ia berikan juga pada anak-anaknya, dan juga sebuah bukti kepemilikan ruko yang baru saja dibeli Ayah untuk putrinya.
Melani menatap dua benda itu, kemudian tatapannya beralih pada koper yang digenggam pria tersebut.
"Mau kemana?" pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulutnya, Tuan Axel tersenyum tipis, ternyata putrinya juga bersimpati atas dirinya
"Ke Malaysia, rumah keluarga kamu ada disana. ada sepupu, kakek dan tante juga uncle." jawabnya
"Hm." Melani mengangguk dengan satu anggukan
"Kamu tidak tanya kenapa saya pergi kesana?" tanya pria itu. Melani menggeleng, wanita itu tidak banyak bicara dan terkesan cuek.
"Saya diusir, mereka shock dan tidak ingin melihat saya untuk sementara." ujarnya dengan wajah yang sendu.
Beberapa hari ia pendam sendiri, begitu bingung untuk mengutarakannya. Apalagi melihat Alex yang tidak mempedulikannya membuat hatinya terasa diiris-iris. hingga pria muda tersebut lagi-lagi memperingatinya, dan Tuan Axel memberanikan diri untuk mengungkapkannya malam tadi. Perkiraannya benar, perang dunia kembali terjadi. Sang istri marah besar, bahkan menangis histeris. tidak terkecuali, Jenny. dan pagi tadi, pria malang bin brengsek ini diusir oleh Nyonya Jannete. begitu sulit untuk memaafkan dan menerima kenyataan ini. Keluarga itu butuh waktu dan ketenangan tanpa melihat wajahnya.
"Maaf." Melani menundukkan kepalanya, dirinya juga merasa bersalah atas kejadian itu. andaikan tidak ada dirinya di Dunia ini, dan andaikan pula Mama Sarah dapat menyerangnya, pasti ini semua tidak akan terjadi.
"Ck! kamu tidak salah apapun, Melani. ini salah saya sepenuhnya. jadi--ambillah ini." Ia menyodorkan lagi dua benda berharga tersebut
"Tidak perlu, saya tidak butuh itu." tolak Melani
"Mau ambil ini, atau saya tunjukkan wajah saya ke Ibumu?" ancamnya
"Apa-apaan! jangan sakiti Ibu saya!" erang Melani, meninggikan suaranya
"Maka dari itu, ambil ini dan gunakanlah! Ini semua hak kamu," Pria itu terus memaksa
Melani menghembuskan nafasnya dengan kasar. "Baiklah."
Tuan Axel tersenyum puas, ia melirik jam tangan yang sudah menunjukkan pukul sepuluh, dirinya akan berangkat satu jam lagi menuju Negeri Jiran, tempat asal pria tersebut.
__ADS_1
"Kalau begitu Ayah permisi, ini nomor ponsel Ayah, hubungilah jika saja kamu merindukanku." ucapnya dengan percaya diri
Melani hanya diam saja sembari menyambut kartu nama tersebut.
"Tidak ingin memeluk Ayah?"
"Maaf." hanya kata itu yang terucap dengan cepat, seolah dirinya benar-benar belum memaafkan pria tersebut. Kebencian atas nama Ayah, sudah begitu menjalar ke dalam sanubarinya sejak dahulu.
"Ayah akan menunggu. Sekarang Ayah permisi, dan--hati-hatilah menyeberang."
Melani mengangguk. Pria tersebut bangkit berdiri, lalu mengacak-acak rambut putrinya. setelahnya ia melenggang pergi meninggalkan Kafe tersebut sembari menyeret koper. Malang sekali, bahkan keluarganya tidak ingin mengantarkan pria tersebut. dan anak buah keluarga itu beserta para pekerja lainnya, dilarang keras untuk mengantarkannya ke Bandara, hingga mengharuskannya untuk naik taksi.
**
Hari sudah semakin terik, jam istirahat telah tiba dan banyak kendaraan yang berlalu lalang didepan sana. Melani menatap jalan raya sembari melamun, memikirkan sang Ayah dan juga keluarga pria tersebut.
"Walaupun mereka bukan keluargaku, tapi aku turut sedih ... keluarga itu baik sekali padaku, tidak pantas untuk disakiti seperti ini." gumam Melani
Tanpa sadar, ada seseorang yang memerhatikannya sedari tadi. orang itu melenggang masuk tanpa permisi dan mengagetkan Melani yang masih belum tersadar akan seseorang tersebut.
"Mas?" Melani berdehem, langsung berhambur memeluk kekasihnya
"Apa yang kamu pikirkan, hm?" Pria itu mengelus rambut panjang sang kekasih, tak lupa mengecup pucuk kepalanya
"Ayah diusir, dan aku merasa bersalah." ucapnya
"Diusir? jadi dimana Ayahmu sekarang?" Raffa terkesiap, menguraikan pelukannya
"Pergi ke Malaysia, mungkin sekarang sudah sampai."
"Aku merasa bersalah sama keluarga itu, andaikan Mas Alex tidak membawaku ke rumahnya malam itu, pasti aku tidak akan bertemu dengannya. aaah .... aku menyesal." Melani tertunduk lesu
"Hentikan bicara seperti itu! sesuatu yang tersembunyi, pasti akan ketahuan juga. Ini sudah jalannya, takdir yang harus kalian lewati. Allah sudah memberimu kesempurnaan, tidak mungkin menyembunyikan sosok Ayah selama-lamanya. sekarang kebahagiaan kamu sudah lengkap, punya Mama, Ayah dan juga aku."
__ADS_1
"Apa aku harus bahagia?" tanya Melani, menatap bola mata itu
"Tentu saja, dan--hilangkanlah rasa bencimu terhadap Ayah."
"Hhh ... itu sulit, kamu belum merasakannya." Melani bangkit berdiri karena ada pembeli yang berkunjung
"Dimana Ratih?" Raffa menatap ke belakang namun terlihat sangat sepi, hanya ada mereka berdua.
"Jemput Mama, Mama selalu menemani kami saat pagi. Ia akan pulang untuk memasak dan akan kembali lagi. tapi nanti jam tiga bakal pulang lagi, Mama harus istirahat." ujar Melani, sembari mengulum senyum ramah pada pembeli yang telah selesai ia layani
"Sebaiknya kamu tambah karyawan, aku akan membuka lowongan untuk kamu."
"Ya, rencanaku begitu juga. apalagi--Ayah memberikanku ruko baru, sepertinya luas." Melani menunjukkan bukti kepemilikan kepada Raffa
"Bagus juga, jadi usaha kamu cepat berkembang. Aku akan menyuntikkan dana kepadamu."
"Eh, tidak perlu! uang hasil usaha, ada kok." Melani menggeleng cepat
"Tidak ada penolakan, Sayang." tegas Raffa, Melani memutar bola matanya terhadap pria ini.
"Gemeeees!!" Raffa menyubit kedua pipi Melani, membuat gadis itu menggaduh kesakitan.
"Nanti malam keluargaku akan berkunjung ke rumah kamu." Raffa mengulum senyum yang manis kepadanya
Melani mengernyit heran. "Hah?? ngapain??"
"Melamar kamu." ucapnya, mengerlingkan sebelah mata pada kekasihnya. lalu mengecup punggung tangan wanita itu dengan lembut, tatapannya tidak pernah beralih dari wajah cantik perempuan ini.
"Secepat itu???" Melani terbelalak kaget
"Ya, tentu saja. dan sabtu besok sepertinya kita akan ke Malaysia untuk meminta restu pada Ayahmu."
"What!!"
__ADS_1
πΏπΏπΏ