Karena Kamu

Karena Kamu
benarkah?


__ADS_3

Ternyata ayahnya datang tidak sendiri..


Dia datang bersama seorang pria yang mungkin seumuran dengannya..


Berpengawakan tinggi tegap tentunya berpenampilan rapi ala-ala bos gitu lah..


Di belakangnya berdiri seorang perempuan berpakaian formal, kalau di lihat dari fisiknya terlihat seperti seumuran Damar dan dia membawa beberapa map. Sekertarisnya mungkin..


"nak... ini kenalin sahabat ayah, namanya om Tama..."


Rahadi mengenalkan sahabatnya pada kedua anaknya..


Merekapun tersenyum dan menyalaminya bergantian..


"waah.. kamu hebat Rahadi.. punya anak yang tampan juga cantik.." dengan mengarahkan pada keduanya


"ahh.. anak mu juga pasti tampan seperti dirimu.." mereka tertawa dan saling menepuk bahu..


Basa basi pun mulai bertebaran sampai saat Rahadi berucap yang membuat Laila tercengang..


"Laila.. anak Om Tama ini sangat sopan dia pintar dan berprestasi.. namanya Putra. Nanti kamu kenalan dengannya ya..!" pinta Rahadi


"heuh???"


Laila melirik Damar, begitu juga dengan Damar...


"iya Laila.. mungkin kalian akan cocok.. tapi anak Om sedikit keras kepala.. mungkin nak Laila bisa melunakkannya..." harap Tama dengan sedikit menepuk bahunya..


Obrolan di bandara terus saja membicarakan sosok Putra yang entah seperti apa wujudnya..


Dari kata-katanya seolah tu orang sempurna banget..


Laila tak mampu berkata-kata.. hanya bilang


Oh!


mengangguk..


dan iya..


" apa maksudnya ini..?" gumamnya


Damar hanya jadi penonton yang enggan memberi komentar..


* * *


Suasana di dalam mobil hening, terasa sangat kaku seperti bukan sebuah keluarga..


Hingga pertanyaan Damar mencairkan suasana..


"Ayah.. kita makan siang dimana?" tanpa mengalihkan pandangan


"Dirumah saja.. Ayah sudah merindukan rumah.." tolaknya..


Mobil pun melesat ke tujuan utama.. rumah..


* * *


Klakson mobil Damar mengejutkan pak amin dan pak arif yang sedang asyik ngobrol ditemani kopi dan cemilan di meja pos penjaga..


Pak amin segera membuka gerbang dan diikuti pak arif di belakangnya.


Begitu mobil berhenti pak arif cepat2 membukakan pintu mobil untuk tuan besarnya..


(Laila sama Damar mah turun sendiri aja ya)


Di depan pintu bi ani dan bi tati menyambut tuan besar dengan mengembangkan senyuman..


"selamat datang kembali tuan.." sambut bi ani


"terima kasih..


selama saya tidak ada, apa semuanya baik2 saja bi??"


"Oh tentu tuan... ndak ada apa2.. semua aman tuan.." masih dengan senyuman..

__ADS_1


Rahadi manggut kemudian masuk ke rumahnya..


Laila menghadang Damar saat dirinya hendak menarik koper untuk di bawa masuk,.


"STOP..!!" Laila membentangkan tangannya di depan Damar..


"apa si dek..? awas ah.. mau masuk..!!" Damar mencoba menerobos..


"ehh.. nanti dulu..!"


Laila kembali menarik Damar


"apaa...??"


nadanya lesu...


"kakak ngerti gak sih maksud ayah di bandara ngomongin si PUTRA itu tadi..?" sedikit menekan


Damar pura2 berfikir...


"kalo yang kakak cium sih.. bau-baunya seperti.... PER-JO-DO-HAN..!" katanya yang kembali melangkah masuk..


tapi Laila menariknya lagi..


"kakak mau kalo aku di jodohin?" dengan tangan di pinggang tanda kesal..


"kenapa nggak? kalo kamu udah ada yang jagain kan kakak bisa bebas..!" jawabnya dengan sedikit tertawa dan berhasil menghindar...


Laila menghentakkan kakinya..


gemes banget denger jawaban kaya gitu!! gerutunya..


tapi kemudian mengikuti Damar masuk..


* * *


Tak ada percakapan saat makan siang berlangsung. Tak seperti biasanya saat Laila dan Damar hanya makan berdua..


Ada saja kelakuan mereka yang membuat bi ani ikut tertawa. Tapi sekarang sangat berbeda...


"bagaimana persiapan ujian mu Laila..?" tanya Rahadi membuka obrolan..


"oh.. bagus kalau begitu.. ayah percaya kamu tak akan mengecewakan ayah..." pujinya.


Laila tersenyum..


"ya kalo hasilnya jelek, bisa di gantung gue!!" dumelnya dalam hati..


"Ayah mau mandi dulu.. nanti tunggu ayah di teras belakan.." katanya dengan menepuk bahu Damar. Dia mengiyakan dan ayahnya beranjak bangun menuju kamarnya.


Laila sedikit berlari menghampiri Damar yang masih duduk di kursi meja makan..


"nah loo... mau di introgasi sama ayah tuh..!" ledek Laila..


"paling nanyain kelakuan kamu! biar kakak kasih tau sekalian.." jawabnya mengancam


"ihh ya jangan ka.. yang ada tar aku di suruh nikah besok lusa..!" katanya yang kemudian melipat tangannya di dada sambil manyun..


"biarin aja.. kamu nikah.. kakak BEBAAAASS..!"


"kakaaaak...!!!"


Damar dengan cepat beranjak bangun dengan menjulurkan lidahnya ke arah Laila yang sudah pasang kudakuda siap serang..


"NYEBELIIIINNN....!"


teriaknya dalam hati.. wajahnya pun merah padam menahan emosi..


* * *


Rahadi dan Damar duduk berhadapn di teras belakang dengan papan catur di tengahnya..


Tentu saja ada kopi dan cemilan disana ikut nimbrung..


Sesekali mereka ngobrol, entah itu tentang pekerjaan Damar ataupun pekerjaan Ayahnya..

__ADS_1


Sesaat mereka terdiam mengamati pion di tengah meja yang mulai menyulitkan langkah hingga membuat mereka lebih berfikir mengatur strategi..


"bagaimana hubungan kamu dengan Nadia..?"


Damar mendongak mengalihkan pandangan dari papan catur ke wajah ayahnya..


Tak pernah terlintas sedikitpun jika ayah akan menanyakan tentang ini...


Damar masih terdiam tapi kemudian menjawab..


"aku tidak tau.. sikapku yang tak pernah memberi kepastian mungkin membuatnya lelah.." katanya yang kembali menunduk..


"apa kamu tak pernah menghubunginya lagi?"


"masih.. tapi hanya sekali2 menanyakan kabar.. terakhir kali dia memberi pesan kalau orang tuanya tidak menginginkan sesuatu yang tak pasti dan tak mungkin menungguku lebih lama.." ceritanya tanpa menatap sang ayah.. kini matanya mulai berkaca..


Rahadi menyandarkan punggungnya di sandarn kursi. Dia mengerti jika putranya


sangat mencintai gadis itu...


"kalau begitu.. cepat hubungi dia.. katakan kita akan datang kerumahnya.."


Damar kembali mendongak..


"maksud ayah??"


"ayah akan melamar Nadia untukmu..." airmata Daman luruh tanpa ia sadari. Dia mencoba memastikan yang ia dengar adalah nyata dari ayahnya..


"tapi yah.. ayah bilang aku_____"


Rahadi memotong kata2 Damar..


"ayah tau selama ini ayah terlalu egois dengan membebani tanggung jawab atas Laila sepenuhnya padamu, bahkan kamu harus mengesampingkan masalah peribadi..."


"kamu jangan khawatir.. Laila sudah seharusnya jadi tanggung jawab ayah sepenuhnya.. tapi juga masih membutuhkan mu..." tambahnya yang kini berdiri samping Damar dengan menepuk bahunya..


Damar berdiri dan memeluk ayahnya bahagia...


Benar-benar diluar dugaan.. tak seperti ayahnya yang ia kenal..


Angkuh.. keras kepala dan pastinya egois...


Laila menghampiri mereka yang masih berpelukan..


Dengan ragu2 ia mengatakan maksudnya...


"emm.. ayah...!"


mereka pun melepaskan pelukan.. dan Rahadi menoleh arah suara..


"a..aku.. harus menemui Vanya sebentar. sepertinya dia ada masalah..!"


Rahadi terdiam dan menatap putrinya. Jantung Laila berdegup kencang..


Wahh.. muka ayah udah kaya gitu.. alamat gak boleh ini mah..! batinnya..


"pergilah.. minta antar pak arif ya..!"


WHAATTTT....????


segampang itu minta ijin sama ayah..???


Pasti ada yang gak beres nih...


Damar yang masih mengelap pipinya pun berfikiran yang sama...


Ada apa dengan ayah???


Apakah benar dia ayahku...????


🤔🤔🤔


*tunggu kelanjutan ceritanya...


ada apa ya???

__ADS_1


jangan lupa kasih like ya biar semangat..!!


makasiiih*..


__ADS_2