
⛰
Bagas dan Zora tersadar dan segera melepaskan pagutan tangan mereka kemudian terkekeh bersama membuat keduanya sama-sama salah tingkah..
"kamu tau itu bukit apa?" tanya Zora pada pemuda yang mengikutinya berjalan dipematang sawah..
"mana ku tau..! bukit cantik mungkin..!" candanya dengan asal menebak..
Zora tertawa..
"itu namanya bukit cinta..!" jawabnya tanpa menoleh..
Bagas menghentikan langkahnya,
"itu kamu tau..? kenapa gak bilang dari awal..? kita kan gak usah muter-muter..!"
Zora pun berhenti melangkah dan berbalik menatap pemuda yang kini jaraknya sedikit jauh..
"aku memang sering melihat bukit itu dari jalan raya, tapi berada di atas sana, ya baru kali ini..!" jawabnya kemudian melanjutkan langkahnya.
Bagas pun melakukan hal yang sama..
"konon katanya,, setiap pasangan yang datang kesana dengan hati tulus, maka mereka akan berjodoh,..!" jelas Zora dengan tersenyum dan menoleh sekilas..
Bagas terkekeh..
"siapa yang bikin mitos kaya gitu..?"
Zora kembali menoleh untuk menanggapinya dengan kembali senyuman tanpa menjawab apapun..
"yahh.. paling juga biar narik wisatawan, mitos kaya gitu mah jangan terlalu di percaya..!" ucap Bagas lagi, lalu ia berjalan cepat melewati gadis didepannya dengan melangkah lebar saat melewati sungai kecil yang lebarnya hanya kurang dari satu meter
Entah kenapa, Zora merasakan ada rasa kecewa saat mendengar pendapat pria yang kini didepannya tentang mitos itu..
Mungkin ia terlalu berlebihan menanggapinya..
"tadi itu, kita berputar-putar dan sampai dibukit itu dari arah belakang, sedangkan jalan utama ke bukit yang biasa dilalui pengunjung itu dari sana..!" jelas Zora mengalihkan pembicaraan dengan menunjuk k arah yang ia maksud..
"kenapa kita gak lewat jalan utama aja, kok malah kesini sih..? repot tau.." ucap Bagas dengan berusaha menyeimbangkan tubuhnya agar tak jatuh kelumpur sawah..
Zora berdecak..
"kamu ini gimana sih, kalo kesana ya kejauhan lah..!"
Cara memotong jalan agar lebih cepat ke jalan raya adalah melewati sawah dan sungai..
Dan kini mereka beristirahat sejenak dengan duduk di bebatuan tepi sungai.
Terik matahari yang mulai meninggi memicu rasa haus dan lapar yang mulai mengendurkan semangat mereka..
"ayo, sedikit lagi..!"
ujar Bagas mengulurkan tangannya menuntun Zora untuk melewati licinnya bebatuan didasar sungai yang dangkal itu.
Tangan kiri mereka sama-sama menenteng sepatu, sedangkan tangan yang lainnya saling mengait menjaga satu sama lain..
"ahh.. akhirnya..!!"
gumam Bagas merasa lega saat mereka telah sampai dibahu jalan..
Mereka mengenakan sepatu masing-masing, sembari menunggu kendaraan yang mungkin saja bisa mereka tumpangi.
Ya.. karena tak ada uang untuk menaiki kendaraan umum agar sampai ke pasar tempat dimana Bagas meninggalkan sepeda motornya.
Karena jika harus berjalan kali lagi, sepertinya mereka tak mungkin sanggup..
Dan di mobil bak pengangkut sayuran lah kini mereka berada.
Tak ada pilihan lain dari pada harus berjalan kaki, 'lagi'
*
"makasih kang..!" ucap Zora pada sang supir setelah menurunkan mereka dipinggir pasar..
sedangkan Bagas sibuk mengibas-ngibaskan tangannya didepan muka untuk menghalau bau tak sedap disekitar sana..
"tega banget ya, masa diturunin deket sampah sih..?" gerutunya yang membuat Zora menggeleng..
"bersyukur aja, masih untung ada yang mau nolong,.!" omelnya yang membuat pemuda itu menciut lalu melangkah pergi..
Zora menghela nafas..
dasar..
gerutunya dalam hati
Saat melewati tumpukan sampah, matanya tak sengaja menemukan sesuatu yang ia rasa kenali.
ia mendekat dan meraihnya..
Zora terbelalak sambil terus membolak balikan benda itu, ternyata dugaannya memang benar..
Tas miliknya dibuang begitu saja..
Zora mencoba mencari-cari benda lain yang mungkin saja bernasib sama seperti tas miliknya dan...
"heyy kamu..!!" teriaknya memanggil pemuda yang sudah berjalan cukup jauh darinya..
ia pun menoleh dan mendapati gadis itu tengah tersenyum dengan mengacungkan sebuah benda..
Bagas mengerutkan keningnya dan gadis itu segera berlari untuk menyusulnya..
"apa ini dompet kamu..?" tanyanya dengan menyodorkan benda kotak melipat yang terbuat dari kulit..
Bagas terkejut, meraihnya cepat dan membuka benda itu untuk memastikan..
ia menghela nafas lega, ternyata benda penting miliknya masih lengkap.
Hanya saja uang tunainya tak bersisa..
"gapapa lah.. yang penting SIM sama ATM nya masih ada..!" gumam pemuda itu.
Mungkin pencopet itu hanya membutuhkan uangnya saja.
lalu ia mendongak menatap gadis didepannya yang nampak tertunduk lesu dengan tas kecil ditangannya...
"kamu sendiri gimana..?" tanya Bagas hati-hati
Gadis itu membuka tasnya dan mengacungkan sebuah botol farfum kecil dari dalam sana..
Uang dan ponselnya benar-benar raib, bahkan tak menyisakan sepeserpun untuk sekedar ongkos pulang..
"udah jangan sedih, kita cari ATM, nanti aku traktir makan deh..!" ucap Bagas menenangkannya..
Tapi Zora menggeleng,,
"gak usah, kalo boleh (ucapnya berjeda)
aku pinjam uang kamu aja buat ongkos pulang..!" tolaknya dengan wajah sendu
Bagas terdiam sejenak,,
"oh.. begitu ya?"
Bagas nampak kecewa dengan penolakan gadis itu..
Tapi kemudian..
kruyuukkk..
Bagas terkekeh..
__ADS_1
Zora medongak lalu tersenyum canggung dengan menahan sumber suara dengan tangannya. ia merutuki perutnya yang tak bisa diajak kompromi..
"ayo kita cari makan, nanti aku antar kamu pulang..!" ucap pemuda itu masih terkekeh dan melangkah mendahului gadis yang nampak malu-malu, namun sejujurnya ia sangat senang..
*
Dan dibawah tenda biru kini mereka berada. Duduk berhadapan di warung mie ayam pinggir jalan yang mereka pilih..
"makasih ya..!"
Bagas yang semula sibuk mencari sinyal diponselnyapun meluruskan pandangannya pada gadis didepannya..
"harusnya aku yang bilang makasih,, untung dompetnya ketemu..!"
Mereka tertawa kecil, ternyata sementara mereka mencari jalan pulang, pencopet itu malah kembali ke pasar dan membuang sisa hasil kejahatannya di tempat sampah..
"aku boleh nanya gak?" tanya Bagas dengan melipat tangannya diatas meja, dan Zora pun mengangguk..
"kenapa kamu pergi saat aku bawa kamu kerumah sakit waktu itu..?"
Zora nampak gugup, angannya seakan kembali pada saat mereka bersama ditengah gelapnya malam ditemani derasnya hujan..
Saat itu ia merasakan sesuatu yang aneh saat berada didekat pemuda itu..
"emm.. aku... aku takut dokter..!" jawabnya terbata menutupi kegugupannya tentang pemuda yang mulai merasuki relung hatinya namun tak sepenuhnya ia berbohong..
Bagas tertawa..
Kemudian ia menghentikan tawanya saat pesanan mereka datang..
"kenapa kau takut..??"
"entahlah.. mungkin karena dokter tak menyukaiku..!"
Bagas menaikkan kedua alisnya
Zora terkekeh..
"dulu aku pernah menggigit tangan dokter..!!" ucapnya dengan kembali terkekeh dan Bagas tertawa..
"kau tau.. aku mencarimu sampai kembali ke parkiran. saat itu aku takut kamu mengira aku akan lepas dari tanggung jawab..! karena sebenarnya aku ingin sekali mengganti sepeda kamu.." tuturnya sambil mengaduk mi ayamnya pelan..
Zora yang melakukan hal yang sama pun mendongak..
"jangan difikirkan,, aku hanya terkilir. gak ada yang serius kok..! lagipula, sepedaku memang sudah saatnya pensiun.." balasnya tersenyum kemudian mulai menyuapkan mienya kedalam mulut..
Bagas mengangguk mengerti, tersenyum sekilas kemudian melanjutkan makannya..
"terus kamu ngapain disini..? ini kan bukan hari libur.." tanya Bagas dengan mulut penuh mie,, mengingat gadis dihadapannya itu terlihat masih seumuran anak SMA..
"sebenarnya, aku kesini untuk mengunjungi makam orang tuaku, dan aku gak sekolah..!"
"oh ya..??"
Sesaat hening dengan kegiatan makan mereka masing-masing..
Disela acara makannya, entah kenapa.. dengan nyamannya Zora menceritakan hidupnya dari awal hingga nasibnya yang kini mulai berubah sejak bertemu keluarga barunya. Mata Zora mulai berbinar, ia memuji dan mengagumi keluarga mereka..
dan pemuda itu adalah seorang pendengar yang baik..
"jadi kamu akan sekolah tahun depan..?"
"hmm.. ( zora mengangguk)
gapapa telat setahun, walaupun aku gak begitu cerdas,, setidaknya aku mau berusaha..!"
Bagas tersenyum,, gadis ini punya semangat yang bagus.. batinnya..
"kamu kesini sendirian?"
Zora mengangguk sambil menyesap es teh manisnya yang nyaris kandas..
"pacar kamu..??"
Tatapan mereka pun bertemu..
Zora menatap mata yang ia kagumi milik pemuda yang kini sangat dekat dengannya, ia menelan ludah dan jantungnya berdegup semakin kencang..
Dan entah sejak kapan gadis itu terlihat sangat mempesona dengan wajahnya yang memerah...
Apa karena tersedak atau karena malu? fikir Bagas..
"oh.. maaf..!"
ucapnya saat gadis itu dengan cepat memalingkan pandangannya kemana saja asal jangan menatap mata itu..
"gapapa..!" jawabnya kembali menatap pemuda didepannya yang nampak kikuk..
tiba2 saja Bagas merasakan hawa panas yang membuat ia harus membuka jaketnya dan menampakkan kaos berwarna kuning dengan gambar sepasang mata dan senyum khas dengan dua gigi besarnya, yang tak lain adalah karakter kartun yang berbentuk spon cuci..
kok ada ya orang dewasa masih suka tokoh kartun itu?
gumam Zora dalam hati dengan menutup mulutnya menahan tawa
"kenapa? lucu ya??" tanya Bagas dengan sedikit menyubit kaosnya dengan bangga dan Zora mengangguk masih menahan tawanya..
Bagaspun ikut tersenyum
"kamu kesini gak dianterin sama pacar?"
"aku belum boleh pacaran, katanya aku masih dibawah umur..!" ucap Zora dengan raut sedih yang dibuat-buat
"siapa yang bilang begitu?"
"kata kakak angkat aku,.!!"
Bagas terkekeh, tapi suasana jadi kaku saat Zora menanyakan balik tentang pacar kepadanya..
"aku sudah berulang kali mencoba menjalin hubungan dengan seorang gadis demi menepikan perasaanku pada seorang wanita. bahkan aku menerima cinta dari seseorang yang sama sekali tak mendapat perasaan apapun dariku.. aku fikir mungkin seiring berjalannya waktu, aku bisa membalas cintanya..
tapi ternyata sangat sulit bagiku.. aku belum bisa membagi hati dengan gadis lain..!" jawab Bagas dengan memainkan gelas minumannya..
"kalau kamu menyukai seseorang, kenapa tak mengejarnya??"
Bagas menaikkan sebelah bibirnya, tersenyum kecut kemudian kembali menghela nafas..
ia jelas menampakkan senyuman yang bercampur kekecewaan..
"sampai kapanpun itu tidak mungkin..!" jawabnya dengan membuang pandangannya
"loh.. kenapa?"
Bagas kembali menatap gadis didepannya
"karena dia kakak iparku..!"
apa?? memangnya ada cinta seperti itu?? masa menyukai istri kakaknya??
Bagas menyentikkan sedotan dikening Zora yang kemudian mengerjap karena kaget..
"jangan berfikiran yang tidak-tidak..!"
katanya yang membuat Zora nyengir kuda,, pemuda itu seolah tau jalan fikirannya.
"dia itu adik dari kakak iparku,, lagipula sekarang dia sudah menikah..!"
Zora mengerutkan keningnya dan menatapnya dengan sendu..
kenapa kisah cintamu semenyedihkan itu..
"jangan mengasihaniku..!!" ucap Bagas dengan tersenyum lucu melihat ekspresi gadis berambut lurus itu..
__ADS_1
Ternyata ia bisa menebaknya lagi..
"aku tidak apa-apa,, malahan aku seneng dia menikan dengan orang yang dia cintai..
tapi untuk menghilangkan perasaanku, itu butuh waktu..!" ujarnya serius..
"apa kau tau..??"
tanyanya lagi yang membuat Zora semakin antusias..
"apa..??"
"aku ini sangat pandai menutupi perasaan..!" jawabnya kemudian tertawa kecil..
Zora benar-benar tak bisa menutupi rasa ibanya tentang kisah cinta pemuda itu..
hidup serumah dengan orang yang dicintai namun milik orang lain, membayangkannya saja ia tak berani..
Apalagi dia yang harus menjalaninya setiap hari..
kata batin Zora
Mereka pun beranjak dari tempat itu untuk mengambil motor Bagas yang berada diparkiran pasar..
"yuk.. kita pulang..!" ajaknya yang sudah menaiki motor dan siap memakai helm..
Namun gadis yang bersamanya itu terdiam mematung ditempatnya..
"kamu kenapa..?" tanya Bagas yang menurunkan lagi helmnya...
"emmm.. helm buat akunya mana..?"
Bagas menepuk keningnya kemudian terkekeh..
"kita cari helm buat kamu..!"
ucapnya kemudian turun dan kembali menarik tangan gadis yang bersamanya hingga didepan sebuah toko khusus pelindung kepala itu..
Mereka berkeliling dan ada sedikit perdebatan antara cocok, tidak cocok, suka dan tidak suka namun dengan canda tawa..
Ternyata tertawa bersama tak harus saling mengenal..
Terbukti dengan kebersaan mereka yang begitu menyenangkan..
Mungkin bagi yang melihat, mereka seperti sepasang kekasih..
"masa yang ini sih..?" protes Zora saat Bagas menjatuhkan pilihan pada helm berwarna merah muda bergambar butterfly yang bertabur gliter..
"udah yang ini aja, cocok buat kamu nih.. jadi keliatan tambah manis..!" tuturnya yang membuat Zora semakin tersipu..
Perjalanan yang cukup jauh, namun terasa menyenangkan..
Bagas menarik tangan gadis yang ia bonceng untuk mempererat pegangannya..
Tak ada jarak diantara mereka..
Dan Zora merasa malu jika harus mengakui kalau saat itu dia merasa sangat senang..
"jadi kamu tinggal disana..?" tanya Bagas saat gadis itu telah turun dari motornya..
"iya.. hanya kost'an kecil..!" jawabnya dengan membuka helm dan sedikit merapikan rambutnya..
Hening sesaat..
dan ada kecanggungan diantara mereka..
"makasih ya!"
"heum??" Bagas mengangkat kedua alisnya
"makasih helmnya dan udah nganterin aku pulang..!" ucap Zora lagi kaku dan Bagas tersenyum canggung juga..
"iya sama-sama..!" jawabnya masih tersenyum dengan meremas tengkuknya sendiri.. dan ia merasakan ada yang kurang..
"kalo gitu aku pulang ya.. dah.!" ucap Zora mulai berjalan mundur dengan melambaikan tangan dengan salah satu tangannya memeluk helm pemberian pemuda itu..
Rasanya berat sekali kakinya melangkah..
Dan....
"tunggu..!' seru Bagas memuat Zora menurunkan tangannya dan kembali mendekat pada pemuda itu..
"kenapa? kamu mau ambil helmnya?" duga Zora dengan memeluk kuat benda itu..
Bagas terkekeh..
"tidak... apa kamu tidak merasa sesuatu yang aneh??"
Zora merapatkan bibirnya
apa dia ingin menyatakan perasaannya padaku..?
gumamnya percaya diri namun kemudian menggeleng..
"sejak kita bersama... apa kamu tau namaku..??"
Zora membulatkan matanya dan baru menyadari hal itu.. merekapun tertawa lagi..
"aku Bagas..!" ia mengulurkan tangannya yang disambut hangat oleh sanga gadis..
"aku Zora..!" jawabnya yang membuat mereka tersipu bersama..
Bagas menuliskan nomor ponselnya di tangan Zora menggunakan pulpen yang ia pinjam dari seorang bapak yang sedang mengisi tekateki silang didepan sebuah toko..
"kalo udah punya hp baru, ingat hubungi aku ya..!" pesannya meski ia sangat malu mengatakannya..
Mungkin dia memang berharap..
Zora mengangguk..
"kalo kamu mau cari aku.. rumahku disana ya..!" balas Zora sambil tertawa kecil..
dan Bagas semakin salah tingkah..
"oke.. moga aja aku gak lupa..!" jawabnya sedikit bercanda.. dan tawa pun mengulang lagi dan lagi..
Bagas pun berpamitan dan mereka berjabat tangan sekali lagi..
"jangan lupakan aku..!" pesan Zora bernada sendu.. ia seolah tak merelakan pemuda itu untuk pergi..
"hmm.. aku janji akan cari kamu..!"
"janji..?" ucap Zora menunjukkan kelingkingnya..
"janji..!!"
Mereka mengikat sebuah janji yang entah bisa ditepati atau tidak..
Apakah mereka benar-benar akan kembali bertemu..??
Kenapa membayangkan hal itu terasa sangat berat?? kata batinnya..
"dahh Zoraa...!" ucap Bagas menyudahi kebersamaan mereka, kemudian berlalu meninggalkan gadis yang masih mematung menatap kepergiannya..
"dahh Bagas..!!" gumamnya lirih setelah bayangan Bagas menghilang dibalik tikungan..
Hatinya bergemuruh menyerukan sebuah nama..
Mungkin pemuda itu sudah berhasil menorehkan namanya dihati sang gadis..
apakah ini yang namanya jatuh cinta??
__ADS_1
gumam gadis itu kemudian berjalan riang kembali kerumahnya..