
🍀
"Aku sudah tak bisa menunggu lebih lama lagi, kita nikahkan saja mereka sekarang!"
"APA?" Seru mereka serempak.
"Ada apa ini?" Damar dan Nadia yang baru saja datang dibuat heran dengan ekspresi mereka yang nampak kebingunan.
Melihat situasi seperti itu, Salma berinisiatif membawa Laila dan Zacky keluar dari ruang rawat inap Rahadi.
"Apa gak terlalu cepat Yah?" tanya Damar setelah Arya menceritakan jika sahabatnya itu ingin menikahkan Laila dan Zacky saat itu juga.
"Setelah kamu menikah, ayah juga ingin melihat Laila menikah dengan orang yang ia cintai, nak!"
"Tapi gak harus sekarang kan Yah? Kita bisa merencanakannya lebih dulu kan?"
Rahadi terdiam, ia menengadahkan wajahnya menatap langit-langit seakan mencari kekuatan untuknya berbicara.
"Ayah takut tidak bisa menunggu selama itu!"
"Ayaah! Jangan bilang begitu!" timpal Nadia dengan mengusap bahu mertuanya.
"Kamu ini bicara apa Hadi? Ucapanmu itu seperti orang yang tidak akan bertemu dengan besok saja!" sambung Arya yang sebenarnya sudah tak nyaman mendengar ucapan sahabatnya itu.
"Justru karena itu aku takut menyesal karena tidak bisa menjadi wali untuk putriku sendiri!"
"Yah, kenapa pesimis gitu sih? Aku yakin ayah bisa dan ayah kuat. Ayah harus berjuang demi Laila dan anak aku Yah!" ucap Damar lagi dengan mengusap perut besar istrinya. Ia tau kalau Rahadi sangat menantikan kelahiran cucu pertamanya.
Seketika airmata Rahadi luruh, ia tak pernah serapuh ini sebelumnya.
Mengingat penyakit yang semakin hari semakin menggerogotinya, membuat ia merasa takut yang sangat berlebihan.
"Hadi, mungkin Putraku tak masalah jika harus menikah sekarang, tapi kita juga harus memikirkan perasaan Laila!" ucap Aryatama.
"Benar kata om Tama Yah, biasanya seorang gadis itu menginginkan pernikahan seperti yang ia impikan. Jika harus menikah dengan cara seperti ini apa tidak membuat Laila kecewa?" sambung Nadia memberikan pertimbangan.
"Tapi, ayah hanya ingin menikahkan Laila sebelum terlambat. Mungkin waktu ayah sudah tidak akan lama lagi."
"Ayah, percayalah tidak akan ada kata terlambat. Ayah harus yakin akan baik-baik saja. Untuk menikahkan mereka, kita butuh waktu untuk mengurusnya ke KUA dulu, aku gak mau Laila menikah secara agama saja, tapi sah diakui negara juga. Bagaimana kalau tunangan dulu?" Damar kembali memberi pertimbangan. Ia ingin memberi yang terbaik untuk adik satu-satunya itu.
Tak ada komentar apapun dari mulut sang Ayah.
Mungkin benar, terlalu egois jika Laila harus menikah mendadak seperti keinginannya, ia pun harus pasrah. Apapun keputusan Laila, ia tak mau membuat putrinya kecewa.
* *
Diluar ruangan nampak hening dengan tak adanya percakapan diantara Laila, Zacky dan Mama Salma.
Laila tenggelam dalam fikirannya sendiri dengan menundukkan kepalanya.
Salma yang duduk diantara mereka berduapun mulai angkat bicara.
"Sayang, apa yang sedang kamu fikirkan, hm?"
Laila mendongak menatap Salma dan tersenyum kaku.
"Aku gak tau tante, bingung!" ucapnya kembali menundukan kepalanya.
"Jangan bingung sayang, semua keputusan ada ditangan kamu. Gak akan ada yang bisa merubah keputusan yang kamu buat, jadi jangan takut ya!"
Laila menoleh dan memeluk Salma seperti ia memeluk ibunya sendiri. Airmatanya luruh begitu saja.
"Aku takut terjadi apa-apa sama ayah, tante! Ayah ngomong gitu seolah-olah ia mau pergi ninggalin aku" ucapnya dengan menyeka airmata setelah melepaskan pelukannya.
"Ayah kamu gak akan kenapa-napa sayang. Kita berdoa saja ya. Jangan nangis lagi ah, tar cantiknya luntur lho!" hiburnya dengan menyolek hidung Laila yang memerah.
Laila pun tersenyum disela isakannya.
Perlahan Zacky menggeser duduknya setelah Salma beranjak pergi untuk bergabung dengan suami dan calon besannya.
"Masih sakit?" tanya Zacky yang sedari tadi memperhatikan Laila memegangi tangannya yang sempat berdarah karena ia mencabut paksa jarum infusnya.
Laila mengangguk pelan. Zacky meraih tangannya untuk ia genggam dengan mengusap punggung tangan Laila menggunakan ibujarinya.
Laila memandangi Zacky yang nampak sibuk dengan tangannya.
Banyak sekali yang ingin ia bicarakan, tapi entah kenapa bibirnya terasa berat untuk berucap.
Menyadari itu, Zacky pun menoleh.
"Kenapa sih?" tanyanya dengan menyelipkan anak rambut Laila kebelakang telinganya.
Laila nampak gugup, namun akhirnya ia memulai kalimatnya.
"Zacky, apa pendapat kamu tentang ayah?"
"Maksudnya?"
"Ya, tentang keinginan ayah."
Zacky tersenyum kemudian merangkul bahu Laila.
"Sayang, kalau kamu tanya tentang pernikahan, aku seneng banget karena ayah kamu sudah merestui hubungan kita. Dan aku gak ada masalah jika kita harus nikah sekarang juga. Tapi___"
__ADS_1
"Tapi apa?"
"Tapi masalahnya itu ada di kamu!" jawabnya dengan menyubit gemas pipi Laila.
"Aku gak mau kamu menyetujui pernikahan ini karena terpaksa. Gimanapun juga, aku akan nungguin sampai kamu benar-benar siap!" lanjutnya kemudian mengecup kening Laila dengan penuh kasih sayang.
"Kamu gak marah?"
"Kenapa harus marah? kalaupun kamu menolak, bukan berarti kamu gak mau nikah sama aku kan? Aku tau, ini gak mudah buat kamu. Asalkan kamu tetep nikah sama aku, apa boleh buat, aku hanya harus lebih bersabar lagi" ucapnya kemudian mengecup sekilas pipi pujaan hatinya.
Lailapun tersenyum dan merebahkan kepalanya dibahu Zacky, karena disana ia selalu mendapatkan kenyamanannya.
"Laila!"
Salma menejutkan mereka membuat Laila menegakkan duduk dan menoleh kepadanya.
"ayah kamu ingin bicara, sini masuk!" ajaknya yang berdiri di ambang pintu.
Laila menoleh kearah Zacky sekilas dan ia bangkit setelah Zacky memberinya anggukan.
Laila tak bisa menahan rasa sesak saat kembali melihat ayahnya yang nampak semakin lemah. Sebisa mungkin ia membendung airmatanya.
Laila meraih jemari sang ayah dan membawanya untuk ia cium.
Rahadi tersenyum dan mengusap kepala putrinya dengan tangannya yang lain.
"Ayah harus sembuh!" ucapnya lirih masih menggenggam tangan sang ayah setelah hanya mereka berdua yang ada didalam ruangan itu.
Rahadi tersenyum.
"Laila, semalam ayah bermimpi bertemu seseorang!"
"Bertemu siapa Yah?" tanyanya antusias dengan menyeka airmata yang menetes tanpa ia sadari.
"Ayah bertemu ibumu!" airmata Laila semakin berderai.
"Dia tetap cantik, persis seperti saat pertamakali ayah bertemu dengannya dulu!" ucap Rahadi dengan melambungkan angannya menatap langit-langit.
"Ibumu datang dengan memakai baju pengantin yang ayah berikan, dia tersenyum dan melangkah lambat diantara hamparan bunga iris biru kesukaannya. Ayah ingin sekali memeluk ibumu, tapi rasanya kaki ayah sangat berat dan sulit untuk bergerak. Ayah sangat merindukannya Laila, apalagi saat ibumu melambaikan tangan memanggil ayah. Hati ayah terasa sakit karena tak bisa menyentuh bahkan untuk lebih mendekat pun ayah tak mampu!"
Laila semakin terisak mendengar cerita ayahnya, air mata yang sudah luruh sedari tadi.
"Ayah merindukan ibu?"
"Tentu saja sayang, ayah sangat rindu. Dan pastinya ibumu juga merindukan ayah." jawabnya dengan mata berbinar.
"Apa ibu merindukan aku Yah?" tanyanya lagi dengan mencoba tersenyum disela isakannya.
"Wah, Ayah terlalu terpesona pada ibumu, jadi ayah lupa tak bertanya!"
Laila menghapus lelehan airmata yang membasahai pipinya dan Rahadi ikut membantunya.
"Ayah!"
"hm?"
"Apa baju pengantin ibu masih ada?"
"Tentu masih ada, Ayah merawatnya dengan sangat baik!"
"Aku ingin meringankan kerinduan ayah. Bolehkah aku memakainya Yah?"
Rahadi tertegun sejenak mencerna ucapan putrinya.
"Maksud kamu?"
"Aku__ aku ingin memakai baju pengantin ibu. Aku mau menikah sekarang!"
Rahadi nampak terperangah.
"Nak, kalau kamu belum siap, jangan memaksakan diri. Ayah tidak akan memaksamu." ucapnya menggenggam jemari Laila. Ia tak mau Laila merasa terpaksa karena keinginannya.
"Nggak Ayah, aku sudah mengambil keputusan. Aku mencintai Zacky dan dia juga mencintai aku. Kalau ayah sudah merestui, mau tunggu apa lagi?"
"Tapi kamu_______"
"Yah, aku melakukan ini bukan tanpa syarat!"
Rahadi mengerutkan keningnya.
"Syarat apa maksud kamu?"
"Ayah harus berjanji padaku, setelah aku menikah ayah harus berjuang untuk sembuh. Dan jika nanti ibu menemui ayah lagi, katakan pada ibu, ayah tak akan buru-buru menyusulnya, katakan juga ayah ingin melihat anak aku dan kak Damar tumbuh bersama. Ayah harus mengatakan itu, harus!" tangisnya kembali pecah.
Rahadi pun turut serta menitikkan air matanya dengan memeluk putri tercinta yang tengah menagis tersedu-sedu dalam dekapannya.
Lisannya mengucapkan janji, namun tak sejalan dengan kata hatinya.
*A*yah hanya berharap, tak bisa berjanji..
gumamnya dalam hati..
* *
__ADS_1
Suasana rumah sakit mendadak jadi pusat perhatian semua orang yang berada disana.
Bukan hanya mereka para pembesuk yang dibuat terperangah tapi juga para perawat dan staf rumah sakit itu juga merasa heran.
Mereka melihat banyak orang berpakaian formal tengah menata area sekitar kamar rawat inap Rahadi dengan dekorasi berbagai bunga. Bahkan area itu disterilkan dengan dijaga beberapa orang.
Mereka yang akan melewati area itu dialihkan kejalur lain dengan memutar arah.
Tapi tentu saja itu atas persetujuan pemilik rumah sakit yang ternyata adalah rekan bisnis Aryatama..
* *
"Laila, kenapa kamar kamu dijaga orang?" tanya Vanya saat mendatangi kamar rawat Laila dan nampak bingung.
Laila tersenyum dan belum sempat menjawab ia sudah kedatangan satu orang lagi.
"Kak!!"
Semua menoleh.
"Ini koper yang kakak minta!"
Damar mengabil alih koper itu dan berterimakasih pada orang yang tak lain adalah Bagas, adik iparnya.
"Disini mau ada apa sih kak, aku sampai muter lho kak agak jauhan buat nyampe kamar ini!" adunya merasa kesal karena beberapa orang melarangnya melintas diarea itu.
"Iya Gas sama, gue juga!!" timpal Vanya membenarkan.
Laila dan Damar saling tatap. Tujuan ia memanggil mereka kesana memang untuk memberitahu tentang ini.
"Terus dua orang didepan itu siapa? Masa aku gak dibolehin masuk?" adunya lagi membuat Vanya mengangguk karena mendapat perlakuan yang sama.
"Gas, Nya, (mereka menyimak dengan serius) hari ini aku akan menikah!"
"APA??" ucap mereka kompak.
"Bagaimana mungkin?"
Laila mendelik.
"Em_maksud aku, kamu lagi gak bercanda kan?"
"Kakak gak serius kan?" sambung Bagas.
Laila menggeleng dengan tersenyum, dan mereka semakin tercengang saat Damar membuka koper yang Bagas bawa itu ternyata berisi baju pengantin.
"Kok lo juga kaget sih? kan lo yang bawa!" omel Vanya yang melihat Bagas sama terkejutnya seperti dirinya.
"Ya mana ku tau, kak Damar cuma nyuruh aku ngambil itu dari lemari ayah!" jawabnya menunjuk koper berwarna biru itu.
"Sudahlah, berhenti berdebat. Nanti aku jelaskan, sekarang kamu bantu aku siap-siap. Ayo!"
Nadia masuk dengan seorang MUA dibelakangnya..
"Kamu jangan terlalu capek sayang!" ucap Damar menggiring istrinya untuk duduk.
"Aku cuma jemput dia didepan, biar gak nyasar." jawabnya dengan wajah menengadah saat suaminya sibuk mengusap keringat diwajahnya.
Tanpa berlama-lama, MUA pun langsung melaksanakan tugasnya.
"Apa kamu yakin dek?"
Laila menatap kakaknya jengah.
"Udah berapa kali kakak bertanya seperti itu, hm?"
"Kakak gak mau kamu terpaksa menikah dengan cara seperti ini!"
Damar duduk ditepi ranjang samping Laila.
"Kak, aku udah siap begini masih ditanya yakin nggak. Jangan menggoyahkan keputusan aku ya kak!" ucapnya yang sudah siap dengan persiapan sederhananya.
"Kakak gak bermaksud begitu dek, kakak takut kamu belum siap!"
Kekhawatiran Damar membuat Laila tersenyum.
"Aku yakin dan sangat sangat yakin dengan keputusan yang aku buat,kak!"
Damar menghela nafas lalu mengecup kening adiknya. Hatinya terasa perih tak bisa memberikan pernikahan istimewa seperti yang ia rencanakan sebelumnya untuk adik satu-satunya itu.
Ketukan dipintu membuat mereka menoleh. Ternyata Bayu yang datang.
"Pak Damar, penghulunya sudah datang!" ucapnya mempersilahkan mereka untuk berjalan lebih dulu.
Jantung Laila berdebar, inikah yang dirasakan setiap wanita ketika hendak menikah?
Sungguh perasaan ini sangat asing baginya, bahkan Laila tak bisa menyembunyikan rasa gugupnya.
Ia pun mulai sibuk mengatur nafasnya untuk menetralkan degupan jantungnya yang tak beraturan. Dan ternyata Damar memperhatikannya.
Ia tersenyum dan mengulurkan tangannya pada Laila.
"Kamu siap?"
__ADS_1
Laila menghela nafasnya sekali lagi.
"Aku siap!"