Karena Kamu

Karena Kamu
lamaran


__ADS_3

Laila tengah sibuk berkemas dikamarnya..


Tak banyak yang ia bawa hanya beberapa baju santai, jaket dan keperluan wanita lainnya yang gak begitu ribet untuk seorang Laila.


Tak lupa ia membawa gaun pemberian Salma..


Laila tersenyum memandangi gaun cantik di tangannya itu sebelum memasukkannya ke dalam koper..


Tiba-tiba Laila merindukan Salma..


"kenapa aku bisa lupa minta nomor hp tante Salma ya..?" Laila mengangkat bahunya kemudian melanjutkan kegiatan mengemasnya..


tok tok tok


"kakak....??"


Damar berdiri di depan pintu kamar Laila yang terbuka..


"kamu sudah selesai dek..??" tanya Damar saat ia memasuki kamar Laila..


"Sedikit lagi selesai.." jawab Laila tersenyum


Pandangan Damar tertuju pada gaun yang sudah tertata rapih di koper Laila..


"kamu beli baju ini di butik tempat kakak pesen baju ya..?" tanyanya dengan mengangkat sedikit ujung lipatannya..


"iya.. tapi aku gak beli kak..!"


"lho kok...? maksudnya gimana..?" Damar belum paham..


" ini tu pemberian tante Salma... ternyata dia cukup menyenangkan kak..!" katanya dengan tersenyum


"tante Salma siapa??" Damar memang baru mendengar nama itu..


"itu lho.. ibu2 yang pernah aku tolong di taman waktu itu..!" Laila mencoba mengingatkan Damar karena Laila pernah menceritakan kejadian saat itu..


Damar pun mengOh! saat ia mulai mengingat. Laila pun berlanjut menceritakan bagaimana gaun itu bisa jadi miliknya. Dan Damar jadi tau kalau Nadia juga mengenal Salma..


"waktu sama tante Salma.. aku jadi inget ibu kak.. sepertinya aku juga menyukai tante Salma..!" Laila menghentikan kegiatan packingnya dan sedikit melamun..


"heyy... kalau kamu kangen telfon aja jangan ngelamun..!" Laila nyengir tak menyadari kalau dirinya memang melamun..


"tapi aku gak punya nomernya kak... lupa hehe..!"


"ahh.. payah..!"


dan keduanya pun tertawa..


Rahadi ikut masuk ke kamar Laila..


Dia menanyakan kesiapan kedua anaknya dan semuanya sudah siap..


"jangan lupa sama cincinnya ya..!" Rahadi mengingatkan.. Damarpun mengangguk dan mereka turun bersama..


Semua sudah bersiap.. tapi Vanya belum jga sampai..


"kenapa anak itu lama sekali Laila..?" tanya Rahadi dengan sesekali melihat jam tangannya..


"tadi dia bilang udah deket qo yah..!" jawab Laila dengan memperhatikan arah gerbang...


Setelah beberapa menit terlihat Vanya masuk dan melambaikan tangan penuh semangat.. Vanya nampak terburu2 dengan menyeret kopernya yang cukup besar..


"ini anak mau pindahan kali ya..?" Laila tepok jidat..


Damar dan Rahadi satu mobil dengan pak arif sebagai supir..


Sedangkan Laila membawa mobil sendiri bersama Vanya tanpa supir dengan hantaran untuk Nadia di belakangnya..


Mereka sengaja berangkat pagi2 karena perjalanan cukup jauh.. sesekali Laila bergantian menyetir dengan Vanya..


Saat perjalanan tinggal beberapa kilometer lagi mereka berhenti di sebuah lestoran untuk beristirahat dan mengganti pakaian..


Rahadi tercengang saat melihat Laila keluar dari toilet yang sudah terlihat rapih dan lebih cantik dengan gaunnya...


"putriku sangat cantik.. ia harus mempunyai pendamping yang tepat..!" gumamnya..


* *


Pemandangan yang indah tersaji sepanjang perjalanan membuat Laila betah memandangnya..


Dan akhirnya dua mobil mewah itu terparkir di sebuah tanah lapang yang tak begitu luas..


Damar dan semuanya turun dari mobil..

__ADS_1


Nampak dua orang pria paruh baya dan beberapa gadis remaja datang menyambut mereka..


Laila merasa takjub dengan antusias warga disana..


"kok aku jadi gemeter ya!" kata Laila yang melihat orang segitu banyaknya disana..


Laila membawa hantaran di bantu beberapa gadis disana..


mereka memasuki gang beriringan..


Vanya dengan PDnya berdadah-dadah pada warga sekitar..


"aku berasa jadi selebritis La...!" Vanya terus saja memamerkan deretan gigi putihnya...


Laila hanya tersenyum dan menggeleng..


bisikan demi bisikan pun bertebaran membicarakan keluarga calon besan Farida ibunya Nadia. baik yang suka dan yang tak suka...


Setelah di depan rumah mereka disambut ibu Farida dan pak Adnan..


tak hentinya mereka mengagumi keluarga calon besan..


Acara yang dihadiri kerabat dekat dan tetangga sekitar membuat suasananya ramai..


"kakak baru tau acara lamaran seramai ini" bisik Damar pada Laila..


Laila tersenyum lucu melihat Damar yang nervous..


"mungkin disini sudah tradisinya kaya gini kak..!" Laila juga berbisik..


Prosesi lamaran berjalan lancar..


Disaksikan keluarga besar Nadia dengan pak Rt dan tetua setempat..


Kini Nadia resmi jadi calon istri Damar..


Walau acara sudah selesai, rumah Nadia masih ramai karena keluarga besarnya masih berkumpul..


Rahadi nampak mengobrol dengan Adnan..


Laila ikut nimbrung bersama ibu tante bibi dan keluarga Nadia lainnya termasuk Bagas adik Nadia yang tak hentinya menatap Laila.


sedangkan Vanya asyik sendiri dengan ponselnya..


Laila terlihat berbisik-bisik menjawab panggilannya itu..


Bagas yang sedari tadi memperhatikan pun mendekat..


"kak Laila..??" ia menepuk bahu Laila pelan..


Laila terkejut dan menoleh ke belakang..


"ehh.. Bagas.. ada apa..??" tanya Laila


"kita makan dulu.. yang lain udah nungguin.." katanya menujuk ke belakang..


"oh iya nanti aku nyusul.." jawabnya..


Bagas mengangguk dan meninggalkan Laila..


Sesekali ia kembali menoleh melihat Laila yang masih asik bertelfon.. dan sepertinya Bagas tak suka...


Ternyata yang menelfon Laila adalah Zacky.. ia memberi kabar kalau mereka sudah sampai di perkemahan..


"siapa Bagas..?" tanya Zacky yang mendengar percakapan Laila dan Bagas tadi..


"itu adik mbak Nadia..!"


"orangnya gimana??" Zacky kepo..


"mbak Nadia kan cantik.. dan adiknya sudah pasti sangat tampan..!" puji Laila sengaja membuat Zacky kesal..


Zacky berdecak.. "awas aja kalo kamu macem-macem!" ancamnya..


"dihh.. dia kan calon adikku juga..!" Laila tersenyum


"udah ah.. aku mau makan..!" lanjutnya.


"baiklah.. jangan lupa kirimin fotonya ya..?" pinta Zacky dan di balas oke! dari Laila..


* * *


Damar dan Nadia berada di bangku teras depan rumah Nadia.. mereka berbincang dengan saling berpegangan tangan..

__ADS_1


Tiba-tiba Laila nyerobot duduk di antara mereka berdua..


"ngapain sih dek..!" Damar terlihat kesal karena Laila sudah mengganggunya..


"hehe.. ayah udah pamitan tuh.. cepet deh sana pamitan juga.. tar kemaleman lho..!" usir Laila..


Damar berdecak.. dia enggan beranjak meninggalkan Nadia.. kalau ayahnya mengijinkan mungkin ia juga akan tinggal lebih lama disana bersama Laila..


Tapi apalah daya.. berbagai alasan pantangan antara dirinya dan nadia seperti tembok besar yang memberi jarak pada keduanya..


Tradisi memang tak boleh dihilangkan..


Acara pamitan pun cukup lama karena Rahadi memberikan banyak nasehat dan aturan untuk Laila dan Vanya yang akan menginap disana..


Jika di tulis mungkin menghabiskan satu bab..


"kalian jangan membuat repot disni.. kalian harus nurut apa kata pak adnan da bu farida ya..!" tambahnya lagi saat mereka berjalan melewati gang menuju ke mobil..


" iya ayah.. tadi ayah udah bilang gitu berulang kali.." jawab Laila dengan menggandeng lengan ayahnya dan tersenyum..


Laila dan Nadia bergandengan dan masih melambaikan tangan sampai mobil Damar sudah mulai jauh dan tak terlihat lagi...


Vanya yang berada dibelakang mereka pun jadi berjingkrak-jingkrak girang..


"kamu kenapa..?" tanya Nadia..


"akhirnya profesor pulang juga...yess yess...!" katanya yang mendapat tepukan di keningnya..


"dasar...!"


Laila berlalu meninggalkan Vanya yang kini manyun dibuatnya..


Laila menempati kamar yang tidak terlalu luas tapi tertata rapih.. tempat tidurnya bisa dibilang sempit.. tapi masih cukup untuk dua orang asalkan tidak saling menendang..


Nadia cukup berusaha keras membuat kamar itu terlihat serapih mungkin. Pasalnya itu adalah kamar Bagas..


Rencana awalnya Laila akan tidur bersama Nadia.. tapi setelah mendengar Vanya ikut.. kamar Bagas pun di sulap jadi kamar tamu..


"nanti kamu tidur dimana...??" tanya Laila pada bagas..


"kakak mau tau...??" Laila mengangguk dan Bagas menariknya..


"tadaaaa....!" tangan bagas membentang menujukkan sebuah tempat..


Laila dan Vanya melongo...


Bagas menunjukan sebuah kasur kecil dengan diberi pembatas gorden di sudut ruang tengah..


"kamu tidur disitu..?" tanya Laila menunjuk kasur kecil namun rapih dan bersih itu..


"iya lah.. mau gimana lagi.. dari pada tidur dikandang kambing.." jawabnya menunjuk arah belakang dengan dagunya..


Laila dan Vanya tertawa..


"Kasian.. gara-gara ada kita kamu jadi gak punya kamar..!" Bagas malah cengengesan..


"gapapa nak Laila.. dia kan anak laki2.. lagipula hanya sementara, nanti juga pindah lagi..!" kata Farida yang datang dengan membawa nampan berisi sepiring pisang goreng dan teh hangat..


Semuanya pun berkumpul di ruang tengah.. saling bercerita dan berbagi pengalaman.. Laila merasakan kehangatan bersama keluarga barunya yang kini semakin akrab..


"kalo aku ketemu ka Laila duluan.. pasti aku gak akan ngijinin ka Damar ngelamar ka Nadia..!" celetuk Bagas di sela tawa mereka..


"kenapa...?" semua heran..


"soalnya aku mau macarin kak Laila duluan.. hehe..!"


"dasar anak kurang ajar..!" tangan Farida melayang ke kepalanya.. semuanya pun tertawa..


"ya kan aku bilang juga ka-lau..!" dengan mengusap kepalanya yang mendapat penganiayaan..


"kalau Lailanya udah punya pacar gimana hayo..?" tanya Vanya dengan mulut penuh pisang goreng..


"ya aku rebut...!" jawabnya bersamaan merebut remot tv ditangan Vanya..


"ehh jangan di ganti...!"


"acaranya gak enak..!" balas Bagas


"sisiin...!"


"nggak..!!"


mereka berdua pun terus berebut membuat yang lainnya jadi tepok jidat..!

__ADS_1


__ADS_2