Karena Kamu

Karena Kamu
Perpisahan


__ADS_3

🏥


Dentingan suara benda tajam disamping meja operasi terdengar mendominasi. Luka dikepala Bagas mengharuskannya menjalani proses operasi yang cukup lama.


Supir Fikri tewas ditempat, sedangkan Fikri sendiri tengah koma di ruang ICU karena Luka parah yang hampir sama seperti Bagas.


Di tempat lain, Laila masih setia menutup mata sejak kecelakaan itu berlangsung. Bukan karena luka parah, dalam kejadian ini justru Laila lah yang terlihat baik-baik saja. Hanya ada beberapa luka goresan kecil dan memar ditubuhnya.


Tapi entah kenapa wanita cantik itu belum terbangun. Meski bukan luka berat, kemungkinan karena benturan keras dikepalanya yang mengakibatkan Laila cukup lama tak sadarkan diri.


isak tangis Nadia mengalun didepan ruang operasi. Kenapa adik-adiknya bisa bernasib semalang ini..


Genggaman dan pelukan Damar selalu menguatkannya..


Sedangkan sang Ayah, kembali tumbang kala mendengar kedua anaknya mengalami kecelakaan.


Sungguh kenyataan yang berat..


Zacky menyerahkan semua masalah ini pada sang papa dan asisten untuk mengurusnya. ia hanya fokus menemani sang istri yang belum sadarkan diri.


Hingga saat lewat tengah malam berikutnya, Laila mulai terbangun dari tidur panjangnya..


ia mengerjap dan melihat sang suami tertidur meringkuk memeluknya..


Laila mengatur kesadarannya, mengingat-ingat kejadian terakhir yang menimpa dirinya dan sang adik ipar.


Tanpa terasa Laila menitikkan airmata, tubuhnya bergetar saat ia teringat sang adik yang terkapar disisi jalan..


Pergerakan kecil Laila dirasakan Zacky yang kemudian langsung terbangun..


"sayang,, kau sudah bangun...??"


Laila mengangguk sambil menyeka airmatanya..


"terimakasih Tuhan, kau mengembalikan istriku..!" ucap Zacky seraya memeluk sang istri dengan berjuta rasa syukurnya..


Zacky mendudukkan tubuhnya dibangku samping ranjang Laila.


Berjuta kerinduan diutarakannya kala sang istri berada dalam pelukan namun tak ada balasan. Penantian yang terasa sangat panjang bagi seorang Zacky.


Laila mengusap pipi suaminya lembut, dan Zacky mengecup tangan halus istrinya berulang kali karena bahagia.


"bagaimana dengan Bagas..? apa dia baik2 saja?" tanya Laila lirih sesaat setelah dirinya meminta minum karena kehausan..


Zacky menunduk, dengan wajahnya yang sendu Laila bisa menebak, kalimat yang akan keluar dari mulut sang suami bukanlah kabar baik..


"Bagas selamat sayang, tapi dia masih koma. sebaiknya kita doakan saja...!"


Seketika tangis Laila pecah, ia meraung histeris..


Pasalnya ia melihat kejadian itu dengan mata kepalanya sendiri. Tak henti-hentinya Laila menyalahkan dirinya atas kejadian itu. Terlebih lagi saat mendengar kondisi ayahnya yang kembali memburuk..


Hatinya terasa semakin hacur..


Sang suami selalu setia menemani dan memberinya kekuatan disaat kesedihan menyelimuti hidupnya..


Zacky tak akan pernah membiarkan orang terkasihnya semakin larut dalam kesedihan..


Didepan ruangan khusus kini Laila berada. Melihat sosok pemuda tampan yang terkulai tak berdaya dengan berbagai alat medis ditubuhnya. Kepalanya tertutup balutan perban yang tebal. Laila hanya bisa menatap dan berdoa dari balik jendela kaca yang menghubungkan ruangan khusus tempat adiknya terbaring..


"maafkan aku Bagas..!!" ucapnya lirih bersama deraian airmata yang tak kunjung surut..


"berhentilah menyalahkan diri sendiri, Bagas tak akan suka mendengarnya..!"


Zacky memeluk dan mengusap punggung belakang istrinya lembut untuk memberinya ketenangan.

__ADS_1


* * *


"nyonya, pasien Fikri sadar. dia memanggil nama anda..!" ujar seorang suster memberinya kabar.


Dengan dibantu kursiroda, Zacky mengantar Laila menuju ruangan Fikri yang letaknya jauh dari ruang rawat Laila agar istrinya tak kelelahan berjalan.


Diruangan Fikri, Zacky memberi ruang untuk mereka berdua dengan memilih menunggunya diluar.


Laila yang kini duduk terdiam disamping ranjang Fikri tempat ia dirawat menatapnya dengan tatapan tak terbaca..


Suster sempat mengatakan kalau pria ini memeluk untuk melindungi Laila saat sebuah truk menghantam mobilnya, sehingga luka yang ia alami tidak begitu parah.


Sedangkan Fikri sendiri terbentur begitu keras hingga kepalanya terluka parah..


Kain kasa yang membungkus sebagian besar kepalanya menjadi bukti kuatnya hantaman yang ia terima..


"ma..ma.af kan a..ku Lai..la..!" ucapnya terbata dan lirih nyaris tak terdengar


Laila hanya diam, dia ingin sekali marah karena sudah membuat Bagas hampir kehilangan nyawanya. Bahkan nasib baiknya saat ini juga belum tentu berpihak kepadanya..


"kau puas Fikri..??" ucapnya bertanya balik dengan bibir bergetar menahan tangis..


Sudut mata Fikri meluruhkan cairan bening, nampak sebuah penyesalan tercetak diwajahnya. ia tak mampu mengucapkan kalimat lain lagi selain kata maaf..


Bahkan ingin mengucapkan kata itu saja ia harus berusaha keras bersamaan dengan rasa sakit yang menjalar diseluruh tubuhnya.


Laila kembali menangis terisak,, hatinya begitu sakit. Namun melihat keadaan Fikri seperti itu semakin membuat dadanya terasa sesak.


"ma..maaf..!" ucapnya lagi mencoba meraih tangan Laila dengan nafas yang terputus-putus


Laila menggenggam tangannya dan mengangguk..


"aku memaafkanmu Fik.. maafkan yang aku tak bisa membalas cintamu. kau sahabatku dan selamanya akan menjadi sahabat terbaikku..!" ucapnya tanpa bisa menahan airmatanya yang luruh begitu saja..


Nafas Fikri semakin tersendat seakan masih berusaha mengucapkan beberapa kata lagi. Namun seketika genggaman tangannya terlepas, hal itu membuat Laila menjadi panik dan segera memanggil dokter.


"ada apa sayang??"


"aku gak tau, Fikri udah kaya gini..!"


Zacky memeluk tubuh Laila yang bergetar melihat Fikri yang tiba2 saja tak bergerak lagi..


Dokter langsung memeriksanya dan raut kecewapun ditampilkan wajah dokter paruh baya itu..


"maaf nyonya,, pasien sudah tak bisa diselamatkan..!"


Laila kembali meraung dengan membenamkan wajahnya didada sang suami..


ini adalah pertemuan terakhirnya dengan sang sahabat, dan mereka kini berpisah untuk selamanya..


* * *


Marissa menarik kopernya perlahan saat memasuki area bandara.


Wanita cantik itu nampak tegar berjalan sejajar dengan seorang pria yang mengantarkannya sampai ditempat itu..


"Ca.. ini untukmu..!"


Pria itu memberikan sebuah kotak kecil dari saku jaketnya..


"apa ini??" tanyanya saat menerima kotak tersebut


"buka saja.."


Marissa terkesima dengan penampakan isi kotak itu yang menampilkan sebyah bros cantik berhiaskan mutiara terbaik dinegeri ini.

__ADS_1


"waaaww... cantik sekali..!" pujinya yang langsung memakaikan benda berbentuk bunga itu pada blazernya..


"Laila sendiri yang memintaku untuk memberikannya padamu..!"


Marissa mengangkat kedua alisnya..


"benarkah??"


"iya,, dia tau kalau kamu suka dengan mutiara..!"


Marissa tersenyum..


"istrimu manis sekali..!" pujinya lagi bernada meledek..


Zacky terkekeh sambil memasukkan tangannya kedalam saku celana.


"terimakasih Ca, kalau kau tak berada disana mungkin polisi akan terlambat menemukan istri dan adikku..!" ucapnya tulus


"ahh.. jangan terlalu sungkan,, aku yang harusnya minta maaf. Seharusnya aku tau diri dan tak mengusik rumah tangga kalian. Aku benar2 menyesal..!"


Zacky mengangguk sambil menyunggingkan senyuman khasnya yang amat disukai Marissa..


"sudahlah, yang lalu biarlah berlalu. Semoga kamu mendapatkan pria yang yang benar2 tulus mencintaimu..!"


Marissa menghela nafas kasar..


"yaa..semoga saja akan ada pria tampan lain yang terjebak seperti dirimu..!" ucapnya meninju pelan dada Zacky hingga mundur satu langkah sambil terkekeh..


"iya.. semoga..!"


"hemmm.. baiklah, aku harus pergi. Sebenarnya aku berniat menetap disini, kalau saja orang yang kucintai mau hidup bersamaku. tapi ternyata, negara ini tidak cocok untukku..!" tuturnya bercanda namun matanya mulai berkaca..


"maaf...!"


Marissa mengangguk dengan merapatkan bibirnya menahan tangis..


"Putra, boleh aku meminta sesuatu??" tanyanya ragu..


"katakanlah..!"


"apa boleh, untuk terakhir kalinya aku ingin memelukmu sekali ini saja..!"


pintanya penuh harap..


Tanpa terucap permohonan keduakalinya, Zacky langsung memeluk Marissa..


Dan disana, wanita itu menangis..


Segala perasaan sedih, kecewa, penyesalan, haru dan bahagia bercampur dalam pelukan terakhir pria yang dicintainya..


Ada rasa tak rela saat pelukan itu harus diakhiri..


"terimakasih..!"


ucapnya setelah Zacky melepaskan pelukannya. Pria tampan itu hanya bergumam sambil mengangguk.


Bagaimanapun juga perpisahan adalah jalan terbaik. Negara ini bukan tempatnya.


Marissa berharap akan mendapatkan cinta sejati di negara yang akan ia tempati, walaupau ia sendiri merasa tak yakin..


"sampaikan salam dan terimakasihku untuk Laila..!"


"pasti,,..!!"


Marissa melambaikan tangan dan semakin menjauh..

__ADS_1


Ya... semakin ia jauh akan semakin baik..


bersambung..


__ADS_2