
⛅
"STOP...!" teriak Laila nampak kesal
"kalian keterlaluan... matiin aja telfonnya..!' teriaknya lagi dengan membuang muka saat melihat dua orang mengumbar kemesraan melalui panggilan video call..
Dan mereka yang disana pun jadi tertawa melihat reaksi Laila..
makanya cepet nikah dek..
ledek Damar yang dibalas cebikan bibir dari Laila..
nanti kalau bulan madu kesini aja Laila.. disini tempatnya bagus..
sambung Nadia memberi ide padanya..
"gak ahh.. aku gak suka musim dingin mbak.. aku takut mati beku disana..."
kalo sama orang yang kamu cintai pasti dinginnya gak berasa..
lanjut Damar kembali menghujani istrinya dengan ciuman..
"ishh... kalian sangat menyebalkan..!" gerutunya..
"awas aja kalo____"
tok tok tok
Laila menggantungkan kalimatnya saat pintu kamarnya diketuk..
ia menoleh kemudian beranjak dengan membawa serta ponselnya..
"ada apa..??"
tanya Laila saat pintunya telah ia buka..
"dipanggil ayah tuh.. katanya ditunggu di teras samping...!" jawabnya menyampaikan pesan..
"Oh.. oke..!" balasnya dengan menutup pintu kamar..
"Lanjutkan..!"
tambahnya dengan menyerahkan ponsel pada seorang dihadapannya kemudian berlalu meninggalkannya...
Orang itu pun nampak bingung kemudian memperhatikan layar ponsel Laila dan terlihat dua orang yang ia kenali...
"hai kak...!"
sapanya dengan senyum merekah dan melambaikan tangan
"bawakan aku oleh-oleh salju ya...!" pintanya penuh semangat yang membuat Nadia tepok jidat dan geleng kepala..
* * *
"ayah dengar ada sebuah insiden saat pernikahan kakakmu...?"
tanya Rahadi pada Laila yang sudah duduk disampingnya tengah menuangkan teh hangat yang baru saja dibawakan bi Ani..
"iya itu benar.... kenapa ayah bisa tau??"
jawabnya dengan menyerahkan cangkir berisi cairan berwarna coklat kemerahan itu pada ayahnya..
saat itu Laila berusaha menutupinya karena takut membuat ayahnya panik. mengingat kondisinya yang sudah lelah dan ditambah berita yang tak menyenangkan, itu sangat tidak baik untuk ayahnya..
"Clara yang memberitau..!" jawabnya kemudian menyesap isi cangkir ditangannya..
Laila tertunduk diam memikirkan sejauh mana Clara bercerita pada Ayahnya.. sedangkan Clara memang sudah banyak tau tentang Zacky dan dirinya..
"memangnya mbak Clara bilang apa Yah..?" tanyanya ragu..
"banyak..!" jawabnya dengan menaruh cangkir beserta tatakannya di atas meja..
"dia bilang anak itu pacar kamu.. apa itu benar?" lanjutnya setelah duduk bersandar dikursinya..
Laila mengerjapkan matanya dua kali menatap ayahnya..
bagaimana pun juga cepat atau lambat ayahnya harus tau kalau hubungan mereka memang lebih dari sebatas teman..
"kamu menyukainya..?"
Laila tetap terdiam dan hanya memberi jawaban dengan anggukan..
"sebenarnya ayah kurang menyukainya.." ujarnya berjeda..
"sepertinya dia sama saja seperti anak berandal teman-teman kamu dulu itu.. keluarganya juga belum jelas..!" imbuhnya yang membuat Laila mendongak..
"ayah.. dia tidak seburuk yang ayah bayangkan.. dia baik dan juga bertanggung jawab.. hanya saja ayah belum begitu mengenalnya..!" cerocos Laila memprotes..
"bukankah ayah juga belum mengenal Putra..?"
Rahadi menatap balik anaknya yang melontarkan pertanyaan bernada sinis..
"setidaknya ayah tau keluarganya.. ayah pastikan dia anak yang baik..!"
"tapi bukan berarti ayah bisa menilai Zacky dari sebelah pihak...
keluarga baik juga tidak selalu melahirkan anak yang baik Yah..? buktinya dia selalu beralasan untuk bertemu..!" bantahnya..
Rahadi tau..memang keinginan itu egois.. tapi janji yang mengikatnya itu tak mungkin ia ingkari..
"seharusnya ayah memberi kesempatan untuknya membuktikan dia itu anak baik-baik..!" dumelnya pelan menatap arah lain dan itu di terdengar di telinga Rahadi..
"baik...!" jawabnya membuat Laila menoleh..
"ayah akan memberinya kesempatan.. tapi__"
"tapi apa ayah..?" tanyanya bersemangat dengan senyum mengembang..
__ADS_1
"kamu harus janji..
kamu juga mau memberi kesempatan untuk mengenal Putra karena hari itu dia tak bisa datang..!"
senyum Laila pun memudar, ia sedikit berfikir.. kenapa harus begitu? tapi kalau hanya untuk mengenal mungkin itu bukan hal yang buruk.. fikirnya..
"baiklah...."
"sepakat...?" Rahadi mengulurkan tangan
"sepakat..!!"
jawab Laila membalas menjabat tangan ayahnya.
Mereka pun tersenyum dengan fikiran masing-masing..
* * *
🌤
"selamat sore..!"
Zacky mengalihkan pandangannya dari laptop ke pintu masuk..
"papa...?" ia terkejut dan bangkit dari kursi putarnya..
"tumben papa kesini..?" tanyanya saat menyambut papanya..
"papa ingin tau perkembangan bengkel kamu ini..!" jawabnya dengan mengedarkan pandangannya mengelilingi ruang kerja Zacky..
Arya mengitari ruangannya dan membuka sebuah pintu disana..
"jadi kamu tidur disini kalo lagi ngambek sama papa..heum??" tanyanya saat melihat ada tempat tidur dan sebuah lemari kecil didalamnya..
"hehe.. iya pah...!"
jawabnya dengan meremas tengkuknya sendiri dan membuat Arya mengangguk mengerti..
"kenapa kamu gak bekerja di perusahaan papa saja..?" ujarnya saat merebahkan diri di sofa panjang di ruangan itu..
"ini udah jadi impian aku pah..!" balasnya ikut duduk samping papanya..
"kamu masih boleh meneruskan usaha kamu ini.. tapi papa juga butuh bantuan kamu nak. papa sudah mulai kewalahan mengurus perusahaan sendirian..!" pintanya dengan mengeluarkan rokok dari saku jasnya
"bengkel aku baru berkembang pah.. masih perlu perhatian ekstra.." balasnya menyodorkan pematik menyalakan rokok papanya..
"lagipula sebentar lagi masuk kuliah, jadi aku bakal repot...!"
"kenapa kamu harus repot-repot kuliah lagi? buang waktu saja..!
apa gunanya papa nyekolahin kamu diluar negeri sampai lulus kalau kamu tak bisa bantuin papa dan malah kuliah lagi.."
ucapnya bernada kesal dan Zacky menyadari itu..
"tapi kalo aku tiba2 berhenti kuliah nanti akan ada banyak tanda tanya di kampus pah..!"
"memangnya kau siapa..?" tanyanya sedikit menarik wajahnya..
Zacky berdecak dan menyandarkan punggungnya disofa dengan menyilangkan kaki..
"papa gak tau anak papa ini jadi idola dikampus..!" jawabnya menyombongkan diri..
Arya tertawa dan menepuk bahu Zacky hingga membuatnya mengaduh..
"kamu memang benar-benar anak papa..!" katanya kembali tertawa..
"papa juga dulu jadi idola gadis-gadis saat sekolah dulu..!" lanjutnya membanggakan diri yang membuat Zacky memutar bola matanya malas..
"bukannya mama kamu bilang kamu sudah punya pacar..?"
Zacky menoleh dan mengangguk.. mamanya pasti sudah cerita banyak tentang Laila..
"selain cantik dia juga baik..!" jawabnya santai..
"tapi saran papa, kamu jangan pacaran dengan gadis yang bisa berkelahi..!" ucapnya kemudian menghisap benda berasap di sela jarinya itu..
dan Zacky mendelik mendengar ucapan papanya
"apa salahnya kalau dia bisa bela diri pah??"
Arya berdecak..
"lalu apa gunanya kamu yang jagoan? dia bisa liar karena merasa bisa jaga diri..!"
ucapnya dengan mematikan roroknya dalam asbak..
"pah... dia gak kaya gitu kok.. memang sifat tomboynya belum hilang, tapi dia gadis baik-baik pah.. dan papa harus mengenalnya...!" jelas Zacky membela gadisnya..
"ya.. baiklah terserah kau saja..!
tapi gadis pilihan papa pasti jauh lebih baik dari pacar kamu.."
"PAH...!" nadanya meninggi tapi di tanggapi santai oleh Arya..
"aku gak suka ya pah kalo___"
"tidak akan...!" Arya memotong ucapan Zacky
"asalkan kamu mau bekerja diperusahaan, papa gak akan jodohin kamu..!" ia mengerti apa yang di maksud anaknya..
Zacky pun menghela nafas.. kenapa harus gitu juga sih..?? fikirnya
melepaskan salah satu dari bengkel dan kampus itu sulit baginya..
bengkel adalah impiannya, sedangkan kampus adalah tempat dimana ia bisa dengan mudah menemui kekasihnya..
pilih semuanya juga bukan pilihan yang bagus..
__ADS_1
saat itu juga Zacky berfikiran andaikan saja ia seperti amoeba yang bisa membelah diri.. mungkin ia tak sebingung ini..
* * *
Beberapa hari setelah kedatangan Damar dan Nadia, Laila pulang bersama Zacky kerumah untuk bertemu dengan ayahnya.
Begitu memasuki halaman rumah suasananya terasa berbeda.
"kok sepi sih..?" tanya Zacky melihat sekeliling rumah Laila
"iya.. pa amin sama pak arif disuruh liburan sama ayah.."
Zacky pun mengangguk dan Laila membawanya masuk..
Sesuai kesepakatan, Rahadi menyambut dan memberinya kesempatan untuk lebih mengenal..
Mereka tengah duduk berhadapan di teras samping dengan papan catur di atas meja..
Mereka terlihat berbincang namun Laila yang sibuk menguping tak bisa mendengarnya karena jarak yang terlalu jauh..
"hayyoo..!!"
"ishhh... berisik!" Laila menepuk orang yang mengagetkannya..
"jangan ngintip kak.. tar matanya bintitan lho..!" godanya yang kembali mendapat tabokan..
"diem deh.. aku pengen tau mereka ngomongin apaan..!" jawabnya kembali mengintip dan malah diikuti orang itu..
"Laila, Bagas.. ngapain disitu?"
Nadia mengejutkan mereka dari belakang.. dan mereka pun malah cengengesan
Sesaat kemudian terdengar suara klakson. Mereka bersamaan menuju ke halaman depan dan melihat sebuah mobil pick up terparkir depan rumah..
"bapak gak salah?" tanya Laila pada supirnya
"bener neng, disini atas nama Rahadi" jawabnya menunjukkan sebuah nota
Laila dan Nadia saling pandang setelah melihat isi mobil itu bermuatan beras.
Untuk apa ayah beli beras sebanyak ini? bikin selametan juga gak bakal ngabisin sebanyak ini kali..! batinnya..
Rahadi pun datang diikuti Zacky dibelakangnya dan membenarkan kedatangan pesanannya itu. ia beralasan ingin berbagi dengan yang membutuhkan..
Rahadi pun meminta Zacky menurunkan semuanya karena tak ada tenaga lain disana.. bahkan secara mendadak ia menyuruh Bagas membelikan obat untuknya..
Dengan sigap Zacky menurunkan karung beras satu persatu kedalam rumah.
Laila merasa kasihan melihat Zacky yang nampak kelelahan..
dan Rahadi hanya jadi penonton dengan menggendong tangannya ke belakang persis seperti seorang mandor..
"tolongin dong pak..!" pinta Laila pada supir..
"maaf neng.. tugas saya cuma nganterin doang!" tolaknya yang fokus menghitung uang dengan santai..
Laila baru mengerti kenapa ayahnya meliburkan pak amin dan pak arif.. ternyata untuk menyiksa, eh bukan, ngerjain Zacky maksudnya..
Laila mengajak Zacky menuju washtafl untuk mencuci tangan setelah menyelesaikan tugas beratnya..
dan Zacky menerima segelas air yang Laila berikan kemudian menenggaknya habis..
"kasian banget sih..!" Laila menyeka keringat Zacky yang bercucuran dengan tisu..
"yank..!"
"heum?"
"kalo kita punya anak mending anak cowok aja deh..!" ucapnya yang membuat Laila tersenyum
"kenapa?"
"seenggaknya kalo cowok nanti aku bisa ajarin dia jadi anak yang kuat..!"
"kalo cewek..?"
"emmm... aku takut bakal lebih kejam sama calon mantuku.. tar gak ada yang mau ngawinin anak kita lagi...!" candanya membuat Laila tertawa kecil dengan meninju pelan dada Zacky..
"jadi ayah kejam nih..?"
Zacky jadi ikut tertawa mengingat perlakuan calon mertuanya..
"apa kamu takut..?"
Zacky menoleh dan memutar badannya dengan sedikit mendorong tubuh Laila hingga punggungnya membentur kulkas dan Zacky mengunci tubuh Laila dengan kedua tangannya
"kau meragukanku..?"
jantung Laila mulai berdebar tak berirama
"jangankan mengangkat beras, mengangkatmu ke pelaminan juga aku berani!" bisiknya yang membuat Laila meremang.. jantungnya berdebar dan nafasnya seakan hampir kehabisan oksigen..
dia selalu saja membuat Laila seperti itu..
"Zacky.. nan..nanti ada ayah..!" ucapnya gugup berusaha mendorong Zacky namun ia menahannya dengan tetap menempatkan tangan Laila didada bidangnya
"biarin aja.. biar dinikahin sekalian..!"
Laila membulatkan bola matanya..
jarak mereka yang sangat dekat membuat Laila reflek memejamkan mata dan menahan nafas.. tapi Zacky malah tertawa kecil melihatnya..
Menyadari Zacky tak melakukan apa-apa pun Laila membuka mata dengan wajah merona..
"awas..!" ucapnya nampak kesal melihat Zacky yang menertawakannya..
tanpa aba-aba Zacky menarik tengkuk Laila dan menyatukan bibir mereka.. menyesap dan melumat lembut bibir Laila yang terasa sangat manis baginya..
__ADS_1
entah sejak kapan tangan Laila beralih melingkar di leher Zacky.. tapi yang pasti mereka sangat menikmatinya..