Karena Kamu

Karena Kamu
tuan muda??


__ADS_3


"BANGUUUUNN..!!"


teriak Damar tepat di dekat telinga Laila yang masih tertidur pulas..


Laila terperanjat bangun dan nyaris memukul kakaknya karena ia paling kesal dibangunkan dengan cara seperti itu...


Namun saat melihat Damar yang berdiri di samping tempat tidurnya dengan menyilangkan tangan didada, tiba-tiba ia menarik tangannya yang hampir melempari Damar dengan bantal..


Bukan karena takut, tapi melihat kakaknya yang sudah rapih membuatnya berusaha mengumpulkan nyawanya dengan cepat..


"jam berapa ini..?"


"jangan tanya jam lagi.. aku saja hampir terlambat...!" jawab Damar melirik jam di tangannya..


"oh.. tidak..!"


seketika Laila panik, ia segera berlari menuju kamar mandi untuk mempersiapkan diri..


dan kepanikan itu membuat Damar tersenyum dengan menggelengkan kepalanya..


"waah.. anak ayah terlihat sangat dewasa sekali..!" puji Rahadi saat Laila datang menghampirinya dimeja makan..


Laila yang memakai stelan baju kerja formal yang ia beli kemarin membuatnya semakin terlihat berkelas...


"apa aku berlebihan Yah..?"


"tidak..!" timpal Damar yang keluar dari kamarnya dan mendekat dengan menggandeng Nadia disampingnya..


"tidak berlebihan.. tapi apa ini maksudnya?" Damar menendang pelan sepatu kets yang dikenakan Laila..


"ihh.. aku kan mau bawa motor.. masa pake heels? nggak banget deh kak..!" jawabnya dengan mengacungkan peperbag berisi sepatu heels miliknya..


"repot banget..!" ledeknya yang mendapat timpukan dari paperbag ditangan Laila..


"bawa mobil aja biar gak repot..!"


"aku udah hampir telat kak..jalanan udah pasti macet banget.


kakak enak.. telat juga gada yang marahin. lha aku baru mau kerja masa udah telat?"


"biarkan saja Damar.. ikuti saja kemauan adikmu itu..!" sambung Rahadi mendukung keputusan Laila..


tumben ayah dukung aku?


gumamnya dalam hati karena bibirnya hanya menampilkan sebuah senyuman..


Rahadi memang sengaja membiarkan Laila melakukan hal yang ia ingikan dan ia sukai..


Bukan tanpa alasan, entah apa itu tapi untuk saat ini ia benar-benar memberi kebebasan pada Laila..


"Bagas kemana mbak..?"


sejak ia keluar kamar dan kini sudah berada dihalaman depan, ia belum melihat penampakan adiknya..


Setelah minta restu ayahnya dan minta doa dari kedua ART'nya tinggal Bagas yang belum ia mintai dukungan..


"dia masih nangisin sepatu dari kamu tuh..!" jawab Nadia menunjuk jendela kamar Bagas dengan dagunya..


"mbak udah pusing liatnya..!"


"hhaishh.. anak itu...


bilangin mbak, nanti kalo aku gajian aku beliin lagi yang baru..!"


"gayanya gajian.. kerja juga belum udah mikirin gajian aja..!" ledek Damar yang mendapat cubitan dipinggang dari istrinya..


Laila mengerucutkan bibirnya bersamaan dengan tangannya yang sibuk dengan ritualnya sebelum ia berubah menjadi power rangers.. ehhh...


Helm, jaket dan sarung tangan sudah siap. ia menaiki motornya dan mulai menghidupkan mesin. Tapi pandangannya teralih saat melihat Damar yang tengah berpamitan dan nampak berbicara dengan perut istrinya yang mulai membuncit..


"ayah berangkat dulu ya cayang..!"


Laila memutar bola matanya malas, apalagi saat Nadia menjawab dengan suara yang dibuat seperti anak kecil seolah anaknya yang menjawab..


"iya.. hati-hati ayah..!"


Hadeuuuhh... terdengar menggelikan ditelinganya..


* * *


HARI PERTAMA


Laila sedikit berlari saat memasuki sebuah gedung besar yang dialamatkan Damar kepadanya..


Dengan tergesa-gesa ia menghampiri dua orang wanita yang berada dimeja resepsionis..


Laila langsung menanyakan ruangan pemimpin perusahaan seperti yang diarahkan Damar sebelumnya. Tapi tanggapan dua wanita itu tidak seperti dugaannya..


"anda sudah membuat janji..?" tanyanya dengan tatapan sinis memperhatikan Laila dari atas sampai bawah..


"harusnya sih sudah..!" jawabnya berfikir ragu-ragu..

__ADS_1


"kalau begitu.. silahkan anda tunggu dulu disana..!" perintahnya menunjuk sebuah sofa disudut ruangan yang terbuka itu..


Dua wanita itu nampak saling berbisik..


Laila tak mendengarnya tapi ia mengerti kalau mereka tengah membicarakannya..


"siapa ya..?"


"karyawan baru mungkin?"


"karyawan baru kok datangnya telat?"


"tamu bos kali..?"


"gak mungkin.. belum ada janji kok!"


"tapi cantik ya?"


"cantik si cantik.. tapi pakeannya itu lho.. gak bangeeet..!" mereka cekikikan dan Laila jelas melihatnya walau jaraknya agak berjauhan.


katanya yang punya perusahaan udah setuju, tapi kok kayaknya mereka gada yang tau..


kak Damar gimana sih..?


Laila terus ngedumel sendiri dengan sesekali melihat jam tangannya..


gak telat-telat banget.. apa jam tangan aku yang salah ya?


Laila terus berkata-kata saat ia mulai merasa bosan duduk menunggu tanpa kepastian. Hingga pada saat seorang wanita menghampiri resepsionis, Laila memperhatikan pergeraknnya..


"anak baru yang namanya Laila belum datang juga ya..?" tanyanya pada dua orang wanita yang berada disana..


"maksudnya yang itu mbak?" tunjuk salah satu dari mereka ke arah Laila..


"kenapa kalian gak cepet hubungi saya sih..?" omel wanita itu sedikit menggebrak meja didepannya..


"maaf mbak.. kita gak tau..!"


Dia pun berdecak dan menghampiri Laila yang tengah duduk sendiri.


Wanita yang mengenalkan diri sebagai sekertaris itu bernama Amel dan ia meminta Laila untuk mengikutinya..


"tunggu mbak..!" ucap Laila saat pintu lift yang mereka naiki itu terbuka.


"kenapa kamu gak pake dari rumah aja..?" tanyanya yang melihat Laila nampak masih sibuk membuka jaket dan mengganti sepatunya..


"aku naik motor mbak.. gak enak kalo pke heels..!" jawabnya yang sibuk membenarkan sepatunya dan masih merapikan diri..


"naik motor??"


"maaf ya Laila..!"


"gapapa mbak.. bukan salah mbak kok..!"


Setelah Laila melepas jaket dan memakai sepatu heelsnya, ia nampak lebih elegan..


Amel tersenyum dan diam-diam mengagumi sosok gadis dihadapannya walau baru kali ini mereka bertemu.


Dan lagi-lagi Laila jadi pusat perhatian saat ia berjalan beriringan dengan Amel melintasi meja karyawan yang lainnya..


Pesona Laila selalu berhasil membuat kaum adam terperangah..


Senyum sapanya di balas mereka yang menyukai kehadirannya..


Tapi tentu saja tidak semuanya.. sebagian dari mereka nampak tak menyukai dirinya.. terutama kaum hawa..


Setelah Laila meletakkan barang-barangnya di meja kerja yang Amel tunjukkan untuknya, ia mengikuti langkah sekertaris itu yang akan membawanya ke ruangan sang atasan..


Gugup sudah pasti.. tapi Laila mencoba membuat dirinya terlihat tenang..


Entah kenapa rasanya sama seperti saat ia akan menjalani sidang dikampusnya..


"Laila.. ini ruangan tuan muda yang memimpin perusahaan ini..!" ucap Amel saat mereka telah berdiri didepan pintu ruangan si bos..


"tuan muda??"


"iya.. kamu belum tau..?"


Laila menggeleng karena memang Damar tak memberitahunya..


"sudahlah.. nanti kamu juga tau.. jangan gugup ya..!" ucap Amel memberi semangat dengan mengusap lengannya


Laila pun mengangguk dan mulai mengatur nafasnya..


Saat jari tangannya hampir menyentuh pintu untuk diketuk, ia menoleh lagi saat Amel kembali memanggil namanya..


"kamu jangan kaget ya.. soalnya tuan muda kita ganteng banget..!" imbuhnya sedikit berbisik dan membuat Laila tersenyum..


Haduuh... makin nervous aja tu Laila..


ia pun mulai mengetuk pintu dan tersengar balasan dari dalam yang menyuruhnya masuk..


Dibukanya pintu itu dan ternyata si bos tengah berdiri membelakanginya..

__ADS_1


Laila menghembuskan nafasnya sembelum ia memluai berkomunikasi dengan atasannya..


jangan gugup jangan gugup


pintanya yang ia ucapkan berulang kali dalam hatinya..


"se..selamat pagi pak..!"


Mendengar Laila menyapanya, pria itu pun memutar badan dan membalas sambutan Laila..


"selamat pagi juga Laila..!"


ucapnya tersenyum lebar menatap Laila yang kini berada dihadapannya..


Sejenak ia terpaku..


Laila nampak bingung dengan mengerutkan keningnya sedikit terkejut melihat penampakan atasannya..


*katanya ganteng banget?


menurutku biasa aja*


Pria itu pun sama bingungnya melihat ekspresi yang ditunjukkan wajah Laila..


Lah kok??


"ada apa Laila?"


Laila sedikit terlonjak karena beberapa detik yang lalu fikirannya melayang memikirkan ucapan Amel yang nampak berlebihan menilai bosnya..


Setelah Laila mengatakan tidak apa-apa, atasannya yang memperkenalkan diri bernama Bayu Saputra itu mulai memberi penjelasan tentang tugas-tigas yang harus Laila kerjakan.


Saat ia memeberikan beberapa berkas pada Laila untuk dipelajari, tiba-tiba ponselnya bergetar..


"apa??


kamu hamil??


Alhamdulillah..!"


percakapan Bayu dengan seseorang disana dapat didengar Laila walau Bayu sedikit menjauh darinya..


"saya mau jadi ayah Laila..!" ucapnya setelah kembali berhadapan dengan Laila yang menampakkan wajah sumringahnya..


"selamat ya pak..!" Laila tersenyum dan mengulurkan tangannya yang disambut uluran tangan dari Bayu..


Namun seseorang yang mengintip dari balik pintu ruangan pribadinya merasa kesal sendiri..


ia yang bersusah payah menahan perasaannya saat melihat Laila malah dibuat kesal karena Bayu menjabat tangan kekasihnya cukup lama..


awas kamu ya berani pegang-pegang tangan Laila..!


ancamnya dalam hati dengan mengepalkan tangannya kuat.


Kalau saja bukan karena sebuah tujuan.. mungkin ia akan langsung menghampiri kekasihnya, memeluk dan mengatakan


"aku adalah bos kamu"


tapi harus ia tahan sampai tepat pada waktunya..


* * *


"menurut kamu pak Putra itu gimana..?" tanya salah satu rekan kerja yang mengaku bernama Sri itu saat jam istirahat dikantin kantor


Putra?


mungkin Bayu Saputra yang dia maksud..


"Oh.. dia cukup ramah..!" jawab Laila santai yang mendapat ekspresi kecewa dari wajahnya..


"udah..gitu doang?"


Laila mengerutkan dahinya bingung.. memangnya dia harus jawab apa lagi..??


"kenapa harus ngomongin si bos..? kita kan baru kenal, gimana kalo kita saling mengenal aja..?" saran Laila mengalihkan pembicaraan dan disetujui teman barunya..


Disaat mereka tengah asyik berbincang, datang seorang pria ikut bergabung bersama mereka..


Daya tarik Laila memang sangat kuat..


Meskipun mereka baru saling mengenal, namun terlihat dari interaksinya mereka nampak akrab..


Pria yang bernama Akmal itu menatap Laila dengan tatapan yang berbeda..


Senyum dan tawa Laila seakan menghipnotis matanya untuk tidak berpaling menatap yang lain..


Pemandangan itu jelas membuat rekan wanita yang lain menatap tak suka dengan keakraban mereka. Termasuk si bos yang tak sengaja melintas dan melihat mereka dari kejauhan..


"siapa dia..?"


"dia itu Akmal, staf keuangan kita..!"


jawab Bayu menjelaskan pada tuan mudanya yang sudah menampakkan wajah yang berapi-api..

__ADS_1


"PECAT..!!"


__ADS_2