Karena Kamu

Karena Kamu
BAGAS-ZORA 1


__ADS_3

🔧


"widiiiihhhh.... udah rapih aja tuh?? mau kemana sih?? pake masker segala,, takut kena virus yang lagi viral itu ya..??"


goda Abay pada seorang gadis yang nampak berpakaian lengkap, mulai dari topi, jaket, sepatu dan tas selempang kecil miliknya, yang tak lain adalah Zora..


"apaan sih bang.. orang cuma biar gak kena debu doang kok..!" jawabnya dengan memanyunkan bibirnya walau Abay tak dapat melihatnya..


Abay terkekeh..


"mau kemana sih? masih pagi lho ini..!" ujarnya dengan membuka lebar-lebar rollingdor bengkel tempat ia bekerja..


"em.. dari semalam aku merindukan ibu bang (ia menurunkan maskernya)


jadi sekarang aku mau nyekar ke makamnya..!" jawabnya bernada sendu..


"makam bapak lo juga disana ya?"


Zora terdiam sesaat..


"kalo makam bapak,, (ia nampak berfikir)


aku gak tau bang, jasadnya aja aku gak bisa liat..!" gadis itu terlihat semakin sedih..


pasalnya setelah musibah yang terjadi saat itu,, jasad ayahnya tak bisa ditemukan kemudian ia resmi dinyatakan meninggal dunia..


Abay menghentikan aktifitasnya dan mendekat pada gadis itu


"tempatnya kan jauh jo.. mau gue anterin??"


walau tak ada hubungan darah sekali pun, orang-orang disekitar gadis ini memang sangat peduli kepadanya..


namun Zora menggeleng cepat..


"gak usah bang, bang Abay kerja aja.. setelah ke makam ibu, aku mau jalan-jalan dulu. kangen banget bang suasana disana..!" jawabnya dengan wajah sedikit berbinar


"oh ya udah.. tapi lo udah bilang sama bos kan?" tanyanya mengingatkan..


"udah dong bang.. kak Zacky udah ngasih ijin kok..!"


Zora berpamitan dan menuju jalan utama untuk mencari angkutan umum yang akan membawanya ke tempat dimana ibunya disemayamkan..


Disepanjang perjalanan, ia sangat menikmati suasana perbukitan yang asri dan menyejukkan..


Meskipun dia tak lama tinggal ditempat itu, tapi kenangan dirinya dengan sang ibu sangat melekat dihatinya..


Didepan sebuah pusara kini ia berada..


isak tangisnya dapat terdengar jelas oleh peziarah lainnya. Namun ia tak mempedulikan hal itu..


"ibu,, maafkan aku yang belum sempat membahagiakanmu.. tapi aku akan selalu berdoa untukmu ibu.." ia masih terisak..


"apa kau tau ibu.. (tersenyum kaku)


sekarang aku menemukan sebuah keluarga baru.." ceritanya dengan menyeka airmatanya.


"aku bahagia bu, mereka sangat perhatian walau aku bukanlah anak kandung.. tapi mereka memperlakukan aku dengan sangat baik..!"


"meski terkadang.. aku merasa gak enak dengan sikap mereka yang terlalu baik padaku.. jadi, aku sering nolak setiap kali mereka memberiku sesuatu yang berlebihan..


apa aku salah bu??"


Zora menumpahkan segala isi hatinya, berbicara panjang lebar seolah ia sedang berhadapan dengan ibunya..


Setelah membacakan doa, ia beranjak berdiri dan keluar dari area pemakaman..


Zora berencana akan mengunjungi pasar tradisional disana dan berjalan-jalan menaiki bukit cinta yang terkenal dengan mitos dan pemandangannya yang begitu cantik jika dilihat dari atas sana..


Sungguh sangat menyenangkan meski ia baru membayangkannya..


Hanya saja, iya menyayangkan karena tak ada teman berbagi kebahagiaan kali ini..


Tumpukan sampah yang berada dipingiran pasar membuatnya menaikkan maskernya untuk mengurangi bau tak sedap yang masuk ke rongga hidungnya..


Saat ia melenggang hampir mendekati area pasar yang luas itu, dia tak memperhatikan ada seorang pria berlari dari arah yang berlawanan dan menabraknya..


"eh.. heeyyy...!" teriaknya saat tas selempang miliknya ditarik pria tak dikenal itu yang berlari cepat meninggalkannya.. sesaat ia terpaku karena bingung..


"wooyy.. dompet gue..!!"


Zora berbalik,,,,


ternyata ada seorang pemuda meneriaki orang yang sama..


ia terperangah saat pemuda itu berhenti tepat didepannya, membungkuk dengan berusaha mengatur nafasnya..


ia menatap seakan tak percaya..


"kamu kecopetan juga..?" ia menoleh dengan nafas yang terengah-engah..


Zora tak mampu berkata-kata.


ia hanya mengangguk cepat, masih dengan menatapnya dengan tatapan tak percaya..


"kalo gitu ayo kejar...!!"


tanpa meminta persetujuan, pemuda itu langsung menarik tangannya untuk bersama-sama mengejar pencopet yang sama..


Zora terus berlari tanpa memikirkan benda miliknya yang hilang..


yang ia lakukan adalah mengikuti kemanapun pemuda itu membawanya pergi..

__ADS_1


Pencopet itu bermain-main dengan sengaja membawa mereka berputar-putar didalam pasar kemudian memasuki gang-gang sempit dan melewati perkebunan disekitaran sana agar mereka menyerah dan tak mengejarnya lagi..


Zora merasakan sesuatu yang asing dihatinya saat tangan pemuda yang menggenggam tangannya terasa semakin erat..


Pemuda itu juga melindunginya dari sekumpulan ayam yang membuat Zora menjerit ketakutan..


Dia memang trauma dengan unggas yang satu itu..


Sejenak mereka berhenti untuk mengambil nafas saat mereka kehilangan jejak. Dan genggaman itu pun terlepas,, ia merasakan ada sesuatu yang hilang..


tapi.........


"itu dia..!!"


pemuda itu mendapati lagi sosok pencopet yang ia kejar..


kembali ia menarik dan menggenggam tangan Zora tanpa meminta persetujuannya lagi..


Jantung Zora bergetar..


Sampai pada saat mereka dititik tenaga penghabisan, mereka terduduk lemas diatas direrumputan dengan meluruskan kaki mereka.


Nafas mereka terengah-engah dan sepertinya mereka melilih untuk menyerah..


"aduhh.. aku nyerah deh..!" ucap Zora dengan membuka masker yang menutupi sebagian wajahnya


"aku juga..!" timpal pemuda itu masih mengatur nafas dan menoleh pada Zora..


Dan saat itu juga, ia membulatkan matanya begitu menyadari kalau orang yang bersamanya itu adalah gadis yang selalu membuatnya berada diposisi tak mujur..


ia menegakkan duduknya dan menatap Zora lekat..


"kamu..??" tanyanya pelan dengan menujuk Zora yang tengah memamerkan deretan gigi putihnya..


Ya..


pemuda itu tak lain adalah Bagas..


Pemikiran mereka pun sama, yaitu bagaimana mungkin ditempat sejauh itu mereka bisa bertemu..


Kebetulan atau kesialan..???


Bagas tertawa kecil..


"ya ampun.. dari sekian banyak orang, kenapa harus kamu sih..?" ucapnya dengan menggeleng karena masih belum.percaya..


"emangnya aku pengen ketemu kamu apa?" balasnya sinis dengan menyilakan kakinya..


"ini tu bukan rencana aku, tapi rencana Tuhan..!!" imbuhnya yang membuat Bagas ikut dusuk bersila didepannya..


" kalo ini rencana Tuhan, berarti kamu tu emang kesialan yang direncakan Tuhan buat aku..!" ujarnya dengan sedikit menyondongkan tubuhnya pada Zora


"heh.. enak aja..' Zora melempari Bagas dengan rumput kering didekatnya yang spontan membuat pemuda itu memundurkan tubuhnya


Bagas terkekeh..


sungguh ajaib memang.. fikirnya


"kenapa kamu bisa ada disini??" tanya Zora dengan memicingkan matanya..


"aku nyasar.. temen aku ngasih alamatnya gak jelas..!" jawabnya tanpa menoleh


"kok bisa kecopetan??" Zora penasaran


Pemuda itu menghela nafas,


"tadinya sih lagi nanya alamat, gak taunya dia merogoh saku terus lari..!"


Zora tertawa.. dan pemuda itu menoleh padanya dengan menyunggingkan senyuman..


"emangnya kamu sendiri lagi ngapain disini..?" tanyanya membuat Zora yang semula sedang tertawa menjadi mendongak..


"aku..??


"iya lah, siapa lagi..!" jawab Bagas melengos ..


"dulu aku tinggal disini,." ucapnya beranjak berdiri. ia tersenyum dengan mengayunkan ranting kecil ditangannya dan memandang kesekitar..


Bagas ikut berdiri..


"bagus deh kalo kamu tau tempat ini..!" ucapnya sembari mengibaskan dedaunan kecil yang menempel di celananya..


Namun, seketika senyum Zora memudar. ia nampak linglung dengan berputar-putar menyapukan pandanganya ditempat itu..


"sekarang kita jalan kearah mana nih..?" tanya Bagas membuayarkan kelinglungannya..


"tunggu.. tunggu..!" ucapnya dengan menahan Bagas namun pandangannya masih mengelilingi tempat itu..


"kamu kenapa sih..?"


Bagas mengerutkan keningnya memperhatikan gadis berambut panjang itu yang masih nampak kebingungan..


"ini kita dimana ya..??"


"hah..??"


Bagas terperangah,


"kamu ini gimana sih? katanya pernah tinggal disini..!" omelnya lantang


"iya.. tapi kan aku gak pernah main sejauh ini..!'' jawab Zora sama lantangnya dengan suara pemuda berjaket hitam itu..

__ADS_1


Bagas tersenyum kecut..


"kamu bercanda ya..??" ucapnya menyeringai..


Si gadis semakin menciut..


"jadi ini gimana dong??" ia nampak ketakutan..


melihat ekspresi gadis itu yang terlihat frustasi, nampaknya dia sedang tak berbohong..


"arrghh...!!" Bagas mengacak rambutnya kasar,..


bener-bener sial ni cewek


gumamnya dalam hati


Bagas mengeluarkan ponselnya, namun nihil.. tak ada jaringan sama sekali.


Bahkan tak ada yang bisa diharapkan dari ponsel Zora karena telah raib bersama tas kecilnya..


Bagas berdecak kesal, akhirnya mereka memutuskan untuk kembali dengan melewati jalan setapak yang 'sepertinya' mereka lalui sebelumnya.


Tak ada percakapan, hanya sesekali mereka berseteru karena berbeda pendapat antara kanan atau kiri..


Dan ternyata perjalanan itu semakin jauh, semakin sunyi..


jangankan perumahan, berharap seseorang lewat pun tak ada. Hanya ada pepohonan dan rumput setinggi pinggang orang dewasa..


Oke fiks, sumpah serapah dan umpatan pun bergemuruh dalam hatinya..


Ditengah suasana yang mencekam, tiba-tiba saja Bagas terkekeh yang membuat Zora bergidik..


"kok bisa ya kita gak nyadar sampe sejauh ini..?" ucapnya dengan terus menatap jalan dihadapannya tanpa mempedulikan ada seorang gadis dibelakangnya..


"aku takut..!" gumam gadis yang mengekori Bagas dan membuatnya menoleh..


ia menghela nafas.. gak tega juga liat ni cewek ketakutan, kata batinnya.


"udah jangan takut,' Bagas meraih tangan gadis itu.


'kita terjebak disini sama-sama, keluar juga sama-sama, oke..?"


Zora mengangguk..


sekelebat rasa nyaman dihatinya saat berada didekat pemuda yang kini menuntunnya..


Setelah melewati jalan yang menanjak cukup curam, akhirnya mereka sampai dipuncak sebuah bukit..


"uuhhh...!" seru Bagas dengan membentangkan tangannya menikmati keindahan yang tersuguhkan disana..


Pegunungan, sawah, sungai dan juga dapat terlihat adanya jalan raya..


Ahh.. indah sekali...


Zora terus menatapnya dari belakang, tersenyum melihat keceriaan pemuda didepannya..


Bagas menoleh dan memanggil gadis yang mematung dibelakangnya untuk ikut bergabung menikmati keindahan itu bersama-sama..


dan Zora menyambutnya dengan tersenyum..


ia berdiri disamping pemuda yang bembawanya sampai ke tempat itu..


Semilir anginnya sungguh menyejukkan..


"Aaaaaa......!!"


"heeeyyy...!!"


"huuuuuu....!!"


Mereka meneriakkannya dengan lepas dan bergantian.


ada tawa diantara mereka..


Sejenak mereka melupakan apa tujuan mereka sampai akhirnya berada ditempat seindah itu..


Bahkan mereka lupa satu hal..


"NAMA"


Ya..


mereka belum tau nama satu sama lain..


Namun itu bukanlah sebuah kunci kebersamaan mereka.


Karena yang mereka tau, tak ada teman berbagi kebahagiaan selain orang yang bersamanya saat ini..


Keduanya membentangkan tangan, membiarkan angin menjamah setiap permukaan kulit mereka dengan lembut.


Dan tanpa terasa kedua tangan yang terbentang itu terpagut membuat pemiliknya saling menatap..


.


.


.


.


*bersambung

__ADS_1


💞*


__ADS_2