
Semua yang ada di lokasi menghentikan perkelahian mereka..
Tak di sangka Beni akan berani melakukan hal itu..
Aleyy segera menahan tubuh Fikri yang mulai roboh.. walau akhirnya Aleyy tak mampu menopangnya..
dan pada akhirnya Aleyy ikut terduduk karena merasa lemas..
Aleyy memangku kepala Fikri dengan perasaan gemetar karena melihat darah segar yang mengalir dari perut sahabatnya..
"Fikrii.."
ucapnya lirih seakan tak percaya..
Tangisnya pun pecah...
Tiba tiba....
ngiungg ngiungg ngiungg
(abang es krim lewat.. ehh)
Beberapa mobil polisi datang k tempat kejadian..
Beni yang hendak melarikan diri pun kalah cepat dengan pergerakan polisi..
yang lain berhamburan entah kemana menyelamatkan diri masing masing..
Sebagian yang tertangkap pun langsung di giring ke kantor polisi.. begitu juga Aleyy..
Fikri dengan cepat di larikan ke rumah sakit terdekat..
* * *
Aleyy.. Beni..
dan beberapa orang lainnya yang ikut tertangkap pun di periksa polisi.
Beni di tetapkan jadi tersangka dengan bukti dan saksi yang kuat atas percobaan pembunuhan.
Aleyy masih menangis terisak di bangku tunggu dalam kantor polisi..
Dia menenggelamkan wajahnya d atas lutut yang dia tekuk..
Bukan menangisi karena dia di tangkap.. tapi menangis karena memikirkan keadaan sahabatnya Fikri..
"sekarang lo gimana Fik..?" gumamnya dalam hati..
Seketika lamunannya membuyar ketika mendengar ayahnya datang dengan marah marah..
Ternyata ayah nya datang bersama Damar.. dan sasaran kemarahan ayahnya adalah Damar...
Laila mendongak.. dilihatnya sang ayah sedang berbicara dengan petugas..
Laila melihat Damar yang diam saja tak ikut bicara.. hanya duduk bersebelahan dengan ayahnya..
Laila bisa di bebaskan atas jaminan dari orang tuanya. Dan saat itu juga ayahnya sangatlah murka...
Bagai gemuruh dan petir menyambar kepalanya saat melihat sang ayah menatap dirinya..
* * *
Dari mulai memasuki mobil.. dan sepanjang perjalanan ayahnya terus saja berceramah..
__ADS_1
Habis bersihlah sudah...
Ayahnya benar-benar marah besar kali ini..
Damar yang duduk d bangku penumpang bagian depan memalingkan pandangan ke luar jendela.. ia pusing mendengarkan omelan ayahnya yang sudah sedari tadi.
Laila duduk di belakang bersebelahan dengan ayahnya hanya menunduk menerima omelan yang sudah berpuluh puluh menit tak berhenti.. walaupun entah bisa di cerna atau tidak.. karena fikirannya masih pada Fikri.
* * *
Sesampainya di rumah pun omelan masih berlanjut..
Damar yang ingin mengantar Laila ke kamarnya pun di cegah..
Sang ayah menyuruh mereka duduk di sofa ruang tengah..
"Ayah tidak habis fikir.. seorang Profesor seperti ayah mendatangi kantor polisi untuk membebaskan anak gadisnya yang ikut balap liar dan berkelahi seperti jagoan..!!"
dengusnya kesal..
keduanya hanya terdiam menyimak kalimat itu untuk yang kesekian kalinya..
"dan kamu Damar.." di tunjuknya si anak sulung Damar..
"sebagai kakak kamu terlalu memanjakan adik mu sampai dia di luar batas seperti ini..!" begitu lanjutnya..
sesaat pun hening karna tak ada perlawanan dari siapa pun..
" baiklah.. mulai saat ini kamu tidak boleh lagi memakai pakaian seperti ini lagi..!" di tunjuknya pada pakaian Laila yg menggunakan celana jeans robek robek dan jaket bombernya. Laila mendongak tapi masih tak mengatakan apa apa.
"kamu anak perempuan.. tidak pantas berpakaian seperti ini.." tambahnya dengan tanpa basa basi lagi ayahnya menyuruh bi ani dan bi tati untuk menguras habis lemari Laila..
" buang semuanya..!"
Laila terperanjat dan berdiri menghampiri ayahnya..
panggilnya memulai perlawanan..
"ni semua barang punya Laila.. jangan dibuang ayah.." rengek laila dengan memegangi lengan ayahnya. Namun tak mendapat tanggapan..
Ayahnya hanya menyuruh pelayan rumah nya untuk lebih cepat menjalankan perintahnya...
"ayo tunggu apa lagi.. keluarkan semuanya.." bentaknya saat kedua asisten rumah tangganya itu malah terdiam..
"tapi tuan.." kata bi ani yang tak tega melihat Laila..
"siapa yang membayar kerjaan mu disini hah..!!" bentaknya lagi..
"i..iya tuan.." bi ani melirik k arah Laila namun tak bisa berbuat apa apa selain menuruti perintah tuan besarnya.
Terlihat ayahnya mulai mengatur nafas..
"ayah tidak mau pakaian mu membuat mu seperti anak laki laki.." kali ini dengan nada rendah..
Laila faham yang di rasakan ayahnya.. semua memang kesalahannya.. akhirnya dia pun pasrah melihat semua pakaian nya di bawa keluar..
Air matanya pun tak terbendung lagi..
nyesek rasanya
Laila pun terduduk kembali dengan kepasrahan nya.. semua yang ada dilemarinya itu adalah pakaian favorit yang kebanyakan ia beli sendiri dengan uang saku bulanannya..
Damar meraih bahu Laila.. mengelus kepalanya perlahan.
__ADS_1
Damar pun tak bisa berbuat apa apa jika itu sudah jadi keputusan ayahnya..
" daan.. satu lagi.." kata ayahnya tiba tiba yg membuat keduanya mengarah pandangan pada sang ayah..
"motor kamu pun akan ayah jual..!"
sontak saja membuat Laila terperanjat seperti kena sambaran petir.. Damar pun demikian.. Dia tak percaya apa yang akan d lakukan ayahnya itu..
Kali ini Laila tak mau pasrah begitu saja. Dia pun kembali mendekat dan memohon pada ayahnya..
"Laila mohon ayah.. jangan jual motor Laila.." tangisnya pun pecah lagi..
Ayahnya diam saja dalam kekukuhan hatinya..
Melihat tak ada respon sama sekali.. Laila pun sampai bersujud memegangi kaki ayahnya melakukan permohonan..
"Laila mohon ayah.. jangan.."
dengan berisak tangis..
"itu adalah hadiah dari ka Damar yang Laila sayangi.. tolong ayah.. jangan di jual.." Laila terus menangis sampai Damar yang melihatnya pun ikut meneteskan air mata.. ia merasa tak berguna untuk adiknya sendiri..
Ayahnya berusaha melepaskan tangan Laila dari kakinya.. tapi Laila terus memohon dengan tangisannya yg begitu menyayat hati..
"Laila mohon jangan ayah.. hiks hiks.."
Hingga akhirnya sang ayah pun luluh dengan pertahanan Laila..
Hanya saja tak mau menurutinya begutu saja.. ia terima namun dengan syarat...
"motor itu boleh ada di sini.. tapi kamu nggak boleh memakainya.." jawabnya tanpa menatap Laila..
" kalau kamu mau kemana mana biar pak Arif saja yang antar.." katanya kemudian berlalu meninggalkan mereka..
"trima kasih ayah.."
Laila bangkit dan matanya pun mulai berbinar.. Laila berbalik menatap Damar yang sudah tersenyum.. dengan sedikit berlari Laila menghamburkan pelukan pada Damar...
Laila merasa lega.. walau tak bisa keluar dengan motornya, asal bisa dekat dan masih bisa memilikinya sudah membuatnya bahagia..
Haah... aley memang sudah seperti teman terbaik bagi Laila..
( si motor bohay maksudnyaa..)
Kejadian tiga tahun lalu itu tak mungkin terlupakan.
Sejak saat itu.. Laila berubah tak seceria dulu..
"tuan muda..?" suara itu mengejutkan lamunan Damar
"Oh.. bi tati ada apa?" tanyanya..
" tuan butuh sesuatu..?"
"Oh tidak.. saya mau istirahat.." tolak Damar kemudian berlalu begitu saja..
Ternyata lamunan nya itu berhasil membuat matanya berkaca kaca..
__ADS_1
bersambung
"gimana guys? maaf ya kalo ceritanya agak garing.. tapi tunggu kelanjutan nya. makasih yg udah baca jangan lupa like n komennya. karna tu penting buat kemajuan tulisan saya.. see u"