
Zahra telah menyiapkan pakaian untuk suaminya meletakan diatas kasur, namun ditengah lipatan baju ia meletakan sebuah kotak kecil yang dilapisi dengan bungkusan kado yang telah di hias seindah mungkin.
Selesai menyiapkan itu, ia kembai kebawah untuk menanti tanggapan suaminya tentang bungkusan kado itu.
Hengky keluar dari kamar mandi sambil mengibas ngibaskan rambutnya yang basah, sesaat memandangi wajahnya di cermin setelahnya ia meraih pakaian yang telah disiapkan Zahra padanya.
Mulai dari boxer dan celana rumah, namun saat ia menarik lipatan baju tanpa menyadarinya kotak kecil itu terjantuh dilantai, dengan seksama mengikuti dengan matanya arah kotak yang terjatuh itu.
Ia meraih dan mengangkatnya, begitu ringan seperti tak ada isinya, wajahnya penuh dengan tanda tanya.
Dengan cepat ia memasang pakaianya karena penasaran ia membawa kotak kecil itu untuk dipertanyakan kepada istrinya.
"Sayang, apa ini?" tanya nya mengangkat kotak itu memperlihatkan kepada istrinya.
Zahra menoleh kearahnya dan tersenyum.
"Apa Daddy belum membukanya?" balas Zahra sambil menikmati cemilan nya.
"Belum, aku takut jika ini milikmu nanti Mommy marah bagaimana?" ucapnya ikut duduk disofa tempat Zahra berada.
"Itu memang untuk Daddy kok, buka saja tidak apa apa!" jawab Zahra sambil mengambil cemilannya dan memasukinya dalam mulutnya.
"Daddy mau?" ia menyodorkan sepotong cemilan itu kepada suaminya, tanpa ragu Hengky membuka mulutya menerima cemilan itu.
Hengky masih penasaran ia memutar mutar kotak kecil itu ditangannya dan menerka nerka apa isinya sebelum ia membuka.
"Sudah deh Dad buka saja, kok masih dilirik lirik?" ucap Zahra yang melihat suaminya kebingungan seperti itu.
"Mommy tidak mengerjain Daddy kan?" tanya Hengky masih ragu dengan kotak itu, siapa tau Zahra sedang menjahilinya tau taunya itu semacam kecoak atau cacing karena itu sesuatu yang sangat membuatnya takut.
"Loh tidak lah sayang, begitu kali Mommy jahilnya" balasnya senyum senyum karena ia tau Hengky sangat tidak mau membuka jika itu membuatnya kesal.
Dengan pelan pelan ia memberanikan diri mulai membuka bungkusan demi bungkusan kotak itu.
__ADS_1
Zahra membungkusnya beberapa lapisan sehingga membuatnya lama mendapatkan isi kotak itu apa.
Sambil membuka sesekali ia menoleh kearah Zahra.
"Kenapa lagi malah lihat lihat Mommy Dad?" tanya Zahra tersenyum seperti sedang menjahili seseorang.
"Daddy tidak percaya dengan kado ini kenapa sangat kecil sekali?" ucap Hengky semakin membuka bungkusan itu makin dalam makin kecil.
"Buka dulu jangan bilang tidak percaya, Daddy buktikan sendiri dengan isinya!"balas Zahra senyum kembali menyantap cemilanannya.
Bungkusan terakhir dilepas oleh Hengky, ia membuka tutup kotak itu, namun sesuatu didalamnya lagi telah dibungkus.
"Aduh sayang tidak capek apa ngebungkus ini tadi?" tanya Hengky mau heran tapi ini kenyataan.
"Dengan senang hati Mommy membungkusnya agar rasa penasaran Daddy makin besar" Zahra malah semakin membuat suaminya itu kesulitan dengan isi kotak itu.
Hengky beranjak dari duduknya.
"Loh Daddy mau kemana?"tanya Zahra menahannya.
"Mau ngapain ambil korek?" Zahra kembali menariknya sampai terduduk di sofa.
"dibakar saja kertasnya biar cepat!" ide cemerlang terlintas di otaknya.
"No Daddy, tolong buka dengan usahamu sendiri!" tolak Zahra.
"Hmm baiklah!" ucapnya pasrah dan kembali membuka kertas kertas itu lagi.
Hengky memakai jurus andalan tangannya semakin lincah untuk membuka semua kertas yang melapisi isi kotak itu.
kertas yang terakhir ia buka, ia menarik perlahan isi kotak itu
dan
__ADS_1
DEG!
Jantung Zahra berdetak kencang saat suaminya meraih test itu.
"Sayang ini, ini beneran?" Hengky seketika kaget dengan isi kotak itu yang ternyata alat test kehamilan.
Hengky tercengeng meneliti dengan jelas namun ia kurang paham selama pernikahannya yang pertama ia tidak pernah melihat tespek itu dinyatakan positif atau negatif.
"Sayang apa hasilnya?" ucapnya bingung ia mengerutkan keningnya sembari menggaruk kepalanya.
"Lihat dulu dong, disana berapa terdapat garisnya?" balas Zahra menjelaskan namun setengah setengah.
"Disini sih ada dua garisnya, berarti itu positif?" ucapnya menoleh kearah istrinya dengan senyuman bahagiannya.
Zahra tersenyum sembari mengangguk angguk.
Tanpa berkata kata lagi Hengky berdiri dan mengangkat Zahra dalam gendongannya.
"Yesss, yesss aku berhasil! Thank's Good!!" teriaknya bahagia sambil mencium semua wajah istrinya.
"Ihh sayang turunkan aku!" teriak Zahra tidak mau digendong seperti itu sama saja ia membahayakan.
"Oh oke oke maaf sayang, karena aku sangat bahagia!" ucapnya menurunkan Zahra pelan pelan.
"Bukan cuman Daddy yang bahagia Mommy juga sangat bahagia, akhirnya tidak sia sia membayar mahal Hotel Liverpool!" sindir Zahra sambil tersenyum sinis.
"Hahaha Daddy tidak peduli yang penting Daddy sudah mencetak gol," balas nya menjulukan lidahnya.
"Hmm bangga amat, coba kalau tidak ada Mommy Dady cetak golnya dimana?" ucap Zahra ikut menjulukan lidahnya kearah suaminya.
"Hm paling buang diluar gawang !" jawabnya singkat takut berdebat lagi.
Zahra malah tertawa segera memeluk suaminya dan membalas semua ciuman diwajah Hengky.
__ADS_1
Hengky menerima pelukannya, sungguh mereka sangat bahagia ia mencium pucuk kepala Zahra dengan lembut dan memanjatkan syukur.