Ketika Janda & Duda Berjodoh

Ketika Janda & Duda Berjodoh
Hari demi Hari


__ADS_3

Tidak terasa waktu semakin berjalan, hari semakin berlalu, dan bulan semakin cepat.


Bayi yang lahir beberapa bulan yang lalu kini tumbuh semakin membaik, ia semakin gemoy karena Zahra yang begitu kuasa mengurusnya, Evelyn juga ingin menemani untuk beberapa bulan agar Zahra tidak terlalu sibuk.


Hengky telah menyarankan untuk mencari pembantu baru dirumah namun Evelyn dan Zahra tidak mengizinkannya.


Karena sudah lama tak terbiasa punya pembantu dirumah mereka enggan dan tidak memperbolehkan Hengky untuk mencarikan mereka pembantu dirumah.


"Daddy, Mommy, ehm Ayu boleh yah bobo disamping kalian. Ayu kangen dan pengen bobo disamping adek bayi," akhir akhir ini Ayu suka rewel karena tidak ingin jauh jauh dari adeknya.


Namun Evelyn suka melarangnya tidur bersama Daddy Mommy nya karena alasan takut jika adeknya rewel Ayu ikutan.


Hengky dan Zahra saling memandang saat mendengar permintaan Ayu, ingin menolak tapi tidak tega menyakiti perasaannya.


"Boleh yah Dad, please," ucap nya sekali lagi memohon sambil menarik narik tangan Hengky.


"Ahm ya sudah deh sayang kalau begitu Ayu boleh bobo disamping Daddy Mommy tapi janji jangan rewel karena adek Ayu sering bangun tengah malam," ucap Hengky tidak tega menolak permintaan Ayu bagaimana pun Ayu adalah anak kesayangannya.


"Yeeeah hore, iyah Daddy Ayu janji tidak akan rewel," seru Ayu bertepuk tangan dan lompat lompat kegirangan.


"Mih Ayu tidur sama kami malam ini yah," pamit Hengky agar Maminya tidak nyari Ayu nanti.


"Apa tidak apa apa sayang," Evelyn ragu dan inginnya tidak mau jika Ayu tidak ada disampingnya.


"Tidak apa apa Mih kali ini saja, Ayu kangen katanya," balas Hengky bersikeras mau bawa Ayu.


"Ya sudah deh sayang," jawab Evelyn mau tidak mau mengizinkan Ayu.

__ADS_1


"Ayo sayang," Hengky mengangkat Ayu dalam gendongannya dan menaiki tangga pergi kekamar mereka.


"Mih Zahra mau tidur dulu yah, Mami mau cium si kecil dulu?" ucap Zahra menawarkan Ibu mertuanya untuk mencium bayinya.


"Oh iyah sayang, Mami kecup pipinya dulu," balas Evelyn segera mencium dengan dalam pipi cucunya.


Setelah itu Zahra menyusul anak dan suaminya kekamar mereka.


Zahra menaiki tangga dengan pelan dengan menggendong buah hatinya.


"Ayu mau tidur disamping Daddy," ucap Ayu segera merebahkan tubuhnya ke kasur disamping Hengky.


"Apa tidak apa apa Dad kalau Ayu disamping adek nya?" tanya Zahra takut siapa tau Ayu tidur tidak tenang dan ia menendang adeknya.


"Bentar saja sayang nanti kalau Ayu sudah tidur Daddy pindahin dia," jawab Hengky membiarkan Ayu tidur dimana saja.


Ayu yang terlihat begitu senang telah bersama Daddy, Mommy dan adeknya.


"Dad bacain dongen sama Ayu dong," lagi lagi Ayu penuh dengan permintaan kepada Hengky, karena terlalu dimanja oleh Hengky maka Ayu sangat banyak permintaan dan suka merengek ini itu kepada Ayah sambungnya itu.


"Oke sayang Daddy pasti mau, tapi Ayu harus bobo habis itu," ucap Hengky menuruti kemauan anak gadisnya.


Zahra terlihat mukanya kelihatan senang melihat kedekatan suaminya dengan Ayu, sungguh Hengky tidak membandingkan Ayu walau pun kenyataan dia bukan darah dagingnya


Hengky bersemangat membacakan dongeng untuk Ayu dan sesekali ia mempratekan gerakan yang ditunjukan dalam buku dongeng itu seketika Ayu tertawa dan guling guling ditempat tidurnya.


"Hahah Ayu suka," tanya Hengky yang melihatnya sangat lucu.

__ADS_1


"Suka Dad, ayo Daddy nyanyi buat Ayu lagi," permintaan kedua pun diucapkan Ayu lagi kepada Daddynya.


"Oke Daddy akan nyanyi, tapi setelah itu Ayu bobo yah," ucap Hengky menuruti tapi ia suruh Ayu untuk tidur.


"Oke bosku," jawab Zahra mengangkat tangannya memberi hormat kepada Daddy nya.


"Ayu dengarin yah, tapi Ayu peluk Daddy sambil bobo," ucap Hengky sembari mengucapkan permintaan juga ingin dipeluk sama Ayu.


"Hahaha Daddy manja, ya sudah Ayu peluk Daddy ku yang aku sayang," balas Ayu memeluk leher Hengky dengan kuat sambil menutup matanya.


"Ohw, leher Daddy kecekik sayang dipelan dong," Hengky pura pura sakit ia memutar bola matanya dan megeluarkan lidahnya seperti orang yang tengah mati dicekik.


"Hahahah Ayu ngakak, Dady lucu banget," Ayu malah tertawa sesegukan dan semakin mengeratkan pelukannya.


Ayah dan anak gadisnya itu sangat bahagia bersama, Hengky yang pengertian dan mau memanjakan Ayu, dan Ayu yang merasa disayang terus bergelagak manja kepada Daddynya


Zahra yang memperhatikan mereka berdua, dia ikut tertawa dan lucu melihat kekompakan itu.


Keluarga kecil yang telah mereka bentuk sama sekali tidak pernah terjadi konflik antara Ibu, Ayah dan anak.


Semula mereka adalah orang asing yang secara tiba tiba dipersatukan, Hengky yang disebut sebagai Ayah sambung Ayu sungguh tidak terlihat jika Ayu adalah anak tirinya karena kasih sayangnya tidak berbeda dengan anak kandung.


Ini keluarga yang paling bahagia, semoga sekarang dan selamanya tidak pernah berubah dan tidak pernah pudar kebahagiaan yang telah mereka ukir.


Ketika Janda & Duda Berjodoh.


TAMAT

__ADS_1


__ADS_2