Ketika Janda & Duda Berjodoh

Ketika Janda & Duda Berjodoh
Hamil Tua


__ADS_3

Perut Zahra yang kini sudah sangat besar membuatnya kesusahan untuk berbaring, terkadang ia tidur dengan menyandarkan beberapa bantal dipunggung, namun itu tidak akan membuatnya nyaman.


Tengah malam ia terbangun dengan perasaan gelisah dan berkeringat disekujur tubuhnya.


Ia duduk dengan bersandar di atas ranjangnya.


"Aduh aku kok susah kali untuk menutup mata," suaranya ngos ngosan seraya mencari cara agar pernafasannya agak membaik.


Sebelumnya saat ia mengandung Ayu perutnya tidak sebasar itu, sekarang malah sangat beda ini malah sangat besar membuatnya sangat kesusahan dengan apa pun.


Hengky yang tiidur sangat pulas disampingnya terbangun saat Zahra mencoba untuk turun diatas tempat tidur.


"Ahm sayang mau kemana?" dengan cepat ia duduk dan meraih tangan Zahra pelan.


"Mommy tidak bisa tidur Dad tolong temani diluar, AC ini sangat tidak membantuku mengademkan Mommy yang sangat kepanasan,"balas Zahra terlihat sangat lelah dengan perutnya yang sangat besar itu.


"Ya sudah sayang pelan pelan yah," mau tidak mau Hengky menuruti karena jika Zahra keluar sendiri takut terjadi apa apa.


Hengky membuka pintu balkon ia membawa Zahra disana untuk menghirup udara yang sejuk.


"Kita bersantai disini saja yah sayang jangan lagi turun kebawa, lewat tangga akan membuatmu capek," Hengky mendudukan tubuh Zahra dengan pelan dikursi santai yang terdapat di balkon.

__ADS_1


"Mommy seperti sesak Dad, tolong punggung Mommy di elus elus agar merasa enakan," pinta Zahra dengan wajah yang sangat menyedihkan.


"Baik sayang," Hengky segera menuruti keinginannya, ia sangat kasihan melihat istrinya seperti ini.


Baru ia mengerti jika perempuan hamil merasakan hal yang sangat menyiksa diri.


Ia semakin terharu dan mengingat Maminya dulu pasti telah merasakan hal yang seperti ini saat ia dalam kandungan Maminya.


Tanpa ia sadari air matanya menetes tidak tega membayangkan perempuan yang mengandung, belum lagi nanti kalau bayinya lahir disitu pasti akan lebih sakit dari pada saat ini.


"Daddy kenapa malah nangis?" Zahra menyadari suaminya sedang meneteskan air matanya.


Hengky memegang tangan Zahra yang mengusap pipinya lalu ia mencium lekat tangan lembut itu.


"Daddy minta maaf sayang semua ini salah Daddy menginginkan seorang anak," ucapnya liris semakin terisak.


"Daddy ngomong apa kenapa malah menyalahkan diri sendiri, ini adalah berkat Dad dan itu harus Mommy nikmati itulah perjuangan seorang Ibu,"


balas Zahra tersenyum, tidak ingin disaat seperti ini malah sedih dan saling menyalahkan.


"Daddy tolong kursinya, kaki Mommy kebas pengen merebahkan," Zahra tak ingin berlarut dengan haru, ia mengalihkan pembicaraan agar suaminya melupakan itu semua.

__ADS_1


"Ini sayang, biar Daddy bantu angkat kakinya," Zahra menurut dan meluruskan kakinya diatas kursi itu.


Hengky kembali memperhatikan kaki Zahra yang sudah sangat bengkak, hatinya semakin teriris melihat itu namun ia menyembunyikan rasa kesedihannya ini tidak ingin bila istrinya melihat lagi.


"Daddy bantu pijit kakinya yah sayang agar enakan," dengan cepat ia memegang kaki yang sudah bengkak itu dan mengelusnya pelan.


Zahra tersenyum merasa senang diperhatikan seperti itu.


"dipelan saja yah Dad," ucapnya sambil menikmati sentuhan itu tak lupa menghirup udara yang begitu segar.


"Beritahu Daddy kalau ingin sesuatu yah sayang " ucapnya menawarkan diri apa pun yang disuruh istrinya.


"Mommy ingin air putih saja Dad," jawab Zahra menginginkan itu.


"Apa ada lagi," ia menyuruh agar Zahra menyebut semua padanya agar dengan sekalian ia mengambil semua.


"Sudah itu saja sayang,"


Hengky cepat berlari masuk dan mengambilkan air mineral untuk istrinya.


Zahra sungguh ingin jika baby nya akan segera lahir kedunia ini karena ia tidak tega melihat orang orang yang ia sayang ikut menderita dengannya, terutama mertuanya dan terlebih suaminya namun apa daya semua itu bukan manusia yang menentukan nya.

__ADS_1


__ADS_2