
Ayu yang sudah akrab sama Hengky setiap hari merengek manja minta ini itu setiap pagi sebelum Hengky hendak ke kantor.
Tak sedikit pun Hengky menolak apa yang di minta Ayu padanya dengan senang hati ia melakukan, walaupun pagi sebelum ia pergi kantor Ayu memintanya untuk membawanya untuk jalan jalan dulu sebelum pergi dan tentu Hengky mengikuti.
"Terimakasih Tuan, aku tidak menyangka Tuan menerima Ayu disini" ucap Zahra sangat bersyukur melihat kedekatan Ayu kepada Hengky. "Tidak usah berterimakasih sayang, Ayu sudah kuanggap seperti anakku sendiri dia juga berhak bahagia layaknya seperti anak anak yang lain!" balas Hengky tersenyum mencubit pipi Zahra.
Zahra terdiam mendengar ucapan Hengky padanya, sungguh sulit mendapat pria yang tulus seperti Hengky, mungkin ini cara Tuhan memisahkan Zahra kepada pria yang tidak baik dan mempertemukannya dengan pria yang pas.
"Kenapa malah diam hem kau tidak usah ragu, aku tulus kepada kalian mencintaimu dan mencintai anakmu sekaligus." Hengky terus meyakinkan hati Zahra agar tidak berpikir yang tidak tidak.
"Terimakasih aku ucapkan untuk yang kesekian kalinya Tuan, aku juga tulus mencintai Tuan" balas Zahra memeluk Hengky terharu dengan perilaku baik Hengky padanya.
"Ya sudah, aku pergi kerja dulu nanti jika aku pulang kita bicarakan soal pernikahan kita, kita harus segera menikah agar Ayu bahagia mempunyai keluarga yang utuh"! jelas Hengky serius, tidak lagi menunda nundanya.
Zahra mengangguk mengerti dan memberi salam kepada Hengky yang beranjak dari sana.
__ADS_1
***
(Papi Mami di London)
"Ini kopinya Pih, cepat diminum keburu dingin!" ucap Evelyn meletakan gelas kopi di meja kerja Velix.
"Thank you Mih?" balas Velix yang tengah sibuk dilayar monitornya, ia meraih gelas kopinya dan menyeduh sedikit.
"Pih, Mami lihat Hengky post fotonya bersama Zahra namun ada anak perempuan sepertinya baru berumur tiga tahunan lah yah, gemes banget loh Pih!!" Evelyn menjelaskan jika ia sudah melihat foto Ayu di post Hengky. Lagi lagi Evelyn tengah heboh memberitahukan suaminya.
"Nah Pih, gemeskan?" ucap Evelyn tersenyum memperlihatkan foto Ayu kepada Velix.
"Ahh sepertinya itu anaknya Zahra deh Mi, coba perhatikan mereka sangat mirip kan?" keduanya malah membahas foto itu, menyatukan kepala di dedepan layar hp dan meneliti siapa Ayu. "Oh benarkah, aduh cantik banget!" gemes Evelyn memegang kedua pipinya.
"Hmm, Mami coba hubungi Zahra saja dan tanya siapa biar hatimu tenang" saran Velix lalu kembali duduk bekerja. "Iyah yah, oke nanti Mami hubungi!" balas Evelyn menenangkan diri.
__ADS_1
Beberapa minggu bahkan hampir satu bulan Hengky belum menghubungi kedua orang tuanya, dan mereka pun memahaminya karena tahu Hengky yang selalu sibuk.
Soal pernikahannya dengan Zahra pun kedua orang tuanya terus menunggu pemberitahuan dari Hengky, mereka belum tenang karena keadaan mereka yang berjarak jauh. Disana mereka khawatirkan Hengky yang tinggal berdua dengan satu atap bersama Zahra karena keadaan rumah yang begitu sepi.
Bukan soal menuduh Hengky bersikap buruk namun hati mereka yang tidak tenang.
"Ya sudah Papi kerja lagi gih, Mami mau masak untuk makan siang kita" Evelyn keluar dari ruang kerja Velix dan kembali melanjutkan kerjaannya di dapur.
***
(Kembali ke Zahra dan Ayu)
"Ayu sayang main mainnya tidak boleh berserakan yah, nanti Om tampan marah loh!" Zahra yang melihat Ayu bermain sambil berserakan, ia memberi teguran agar Ayu berhenti dengan kebiasaan buruknya.
"Baik Ibu, Ayu mengerti!" Ayu mendengarnya dan segera mengumpulkan mainannya di satu tempat.
__ADS_1
Zahra tersenyum memandangi Ayu yang begitu cantik, kehadiran Ayu di dalam kehidupan Zahra suasana dunia terasa begitu cerah karena kebahagiaan yang mereka miliki tiada tara.