
Keadaan rumah kembali sepi di siang hari karena Nila dan Viky pergi bekerja.
Zahra yang telah menyelesaikan semua pekerjaannya sedang bersantai bermain hp nya.
Perjalanan Hengky ke London memakan waktu sehari karena jarak dari indonesia ke London sangatlah jauh.
Hengky yang baru sampai saat beristrihat sebentar ia menghubungi Zahra.
"hallo tuan, apakah tuan sudah sampai?"
Ucap Zahra saat ia menjawab telepon Hengky.
"ahh iyah Zahra aku baru sampai siang ini bagaimana, apakah Viky dan Nila menginap di rumah?"
Tanya Hengky kepada Zahra.
"iyah tuan tapi pagi tadi mereka pergi ke kantor!"
jawab Zahra menjelaskan.
"oh baguslah, aku lupa meninggalkan uang belanja padamu tolong kasitau Viky nanti biar ia mengirimkan nomor rekening pribadinya!"
"baik tuan!"
Hengky karena terburu buru saat pergi sampai ia lupa meninggalkan uang belanja kepada Zahra, pikirannya yang benar kacau kemarin itu tidak sempat memikirkan banyak hal untuk persiapan Zahra.
"aku merindukanmu Zahra!"
ucap Hengky saat hening tak bersuara di balik teleponnya.
"ehm aku juga merindukanmu disini tuan!"
perasaan Zahra tak lain sama juga seperti yang Hengky rasakan, kali pertama terpisah walaupun sementara namun karena keadaan mereka yang baru menjalin hubungan rasanya tidak mau jauh jauh dulu.
"jaga dirimu baik baik sayang, aku akan pulang setelah masalah papi selesai!"
"baik tuan, salam untuk mami dan papi yah?"
Zahra tak lupa juga memberi salam kepada kedua orang tua Hengky karena baginya mereka adalah orang tua yang paling istimewa dalam hidupnya.
"iyah, aku tutup telefonnya dulu nanti hubungi bila Viky pulang!"
Hengky mengingatkan kembali kepada Zahra.
"hem!"
Zahra menjawab dengan deheman dan menutup sambungan telefonnya.
*
"sayang, ayo makan dulu!"
Panggil maminya mengajak Hengky untuk makan.
"ah ya mi aku akan kesana!"
Hengky berjalan menuju meja makan dan segera meraih kedua sumpitnya.
__ADS_1
"apakah kau sudah mengabari Zahra?"
tanya maminya lagi.
"sudah mi, dia malah kirim salam untuk kalian berdua!"
Hengky memberitahu kepada papi maminya pesan Zahra padanya.
"oh baik lah sayang rasanya mami ingin memeluk Zahra!"
Mami Evelyn malah mengingat Zahra saat ia mengirimkan salam untuk mereka.
Hengky melanjutkan kegiatan makan siangnya setelah menyampaikan salam dari Zahra.
papinya yang duduk berhadapan dengannya menatapnya dengan gelisah matanya berbicara ada kekhawatiran.
"papi tak perlu memikirkan masalah ini, selagi Hengky bersama papi masalah akan selesai!"
Kata Hengky menenangkan hati papinya.
"papi khawatir nak, bagaimana jika bisnis ini hancur jadi korban bila kita merebutnya !"
Wajah papi Velix yang terlihat menyedihkan dan penuh ke khawatiran.
Selain bisnisnya itu tak ada lagi pekerjaan mereka untuk menyambung hidup di negara London.
"kita usahakan untuk kembali ditangan kita pi!"
Hengky pun tidak rela jika bisnis yang papinya buat dengan banyak menghabiskan dana dan tenaga sehingga berkembang pesat tak mau jika orang lain yang menikmatinya.
"cepatlah makan, setelah itu istirahat dulu nanti pagi kita akan bicarakan!!"
"heem!!!"
Hengky mengangguk sembari menyuapkan makanan kedalam mulutnya.
*
*
Hengky yang baru sampai jam 03:00 pagi waktu di negara London. Dia merasa ngantuk karena sudah dini hari.
Sementara di indonesia baru menujukan jam 11:00 siang itulah perbedaannya. Negara indonesia waktu nya lebih cepat dari pada di negara London.
Jam istrahatnya kurang lebih dari tiga jam lagi maka sudah pagi tapi di indonesia waktunya telah menjelang sore.
keadaan capek setelah menempuh perjalanan satu hari, Hengky terbangun saat hp miliknya berdering beberapa kali.
Ia meraih benda pipihnya itu dan melihat siapa yang menghubunginya.
"hem........!!!!"
ia menjawab dengan deheman saja dan suara yang terdengar serak serak basah.
"maaf bila mengganggu tuan, aku hanya memberitahu jika Viky telah mengirim nomor rekeningnya untuk tuan!"
Zahra menjelaskan dengan panjang lebar sedangkan Hengky disana hanya mendengar dan menjawab dengan deheman lagi.
__ADS_1
Kembali menutup telefon saat Zahra mendengar hanya deheman itu, ia mengerti Hengky pasti dalam keadaan capek bukan karena malas menjawabnya.
*
*
*
Hengky terbangun di siang hari ia mengambil handuk yang telah disiapkan maminya dan beranjak untuk pergi mandi.
Setelah kegiatan mandi selesai ia keluar dari kamar mandi dengan melilit handuk di pinggang dan rambut yang masih basah terlihat begitu tanpan dan seksi.
Ia meraih benda pipihnya itu dan duduk dibibir ranjang ia kembali mengecek pesan masuk dari Zahra dan membalas dengan menyampaikan kata maafnya.
Setelah berpakaian ia turun dan mencari keberadaan papinya.
"mi, papi ada dimana?"
tanya Hengky kepada mami Evelyn.
"ia sedang berada di ruang kerjanya sayang, pergi temuilah dia papi telah berpesan!"
Evelyn menjelaskan kepada Hengky bahwa Velix sedang menunggunya diruang kerja.
Hengky berjalan menuju ruang kerja papinya ia membuka pintu pelan dan mendapati Velix tengah berada didepan layar monitor miliknya.
"papi sedang apa?"
Hengky dengan suara pelannya supaya papinya tak kaget.
"oh, kau sudah bangun?"
papi Velix menoleh dan tersenyum tipis.
"papi sedang mengecek pemberitahuan dari bisnis kita nak, kemari duduk lah!"
Velix melambaikan tangannya kepada Hengky dan menepuk kursi yang ada disebelahnya.
Hengky mendekat dan duduk sesuai perintah papinya.
"bagaimana pi apa ada perubahan infonya?"
Hengky bertanya memastikan.
"masih belum, orang itu mengambil kekuasaan tinggi untuk merebutnya!"
Velix menggeleng kepala dan membuang nafasnya lesu.
"apa kita punya pembela yang kuat pih?
Hengky kembali bertanya memastikan sebelum ia melakukan tindakannya.
"tentu ada, pengacara hukum dan para kepolisian telah papi hubungi!"
Velix menjelaskan detailnya supaya Hengky mengerti dan punya usulan.
"kalau begitu segera kita bertindak dan berani jangan sampai jatuh ketangan orang itu pih"
__ADS_1
Hengky mendorong dan memberanikan diri karena dukungan dari orang dalam ia yakin membuat mereka bersemangat merebut kembali bisnis papinya itu.