Ketika Janda & Duda Berjodoh

Ketika Janda & Duda Berjodoh
Merebut Hak Asuh Ayu


__ADS_3

"Zahra apa kau tidak kepikiran untuk kembali dirumah ini, apa tidak kasihan dengan Ayu yang setiap hari merindukanmu?" ucap Fano licik seakan akan yang berbuat kesalahan disini bukan dirinya melainkan Zahra yang tega meninggalkan mereka.


"Yang sudah aku putuskan tidak akan lagi aku kembali!" jawaban Zahra penuh ketegasan. Fano terdiam sesaat merasakan Zahra yang tegas tak seperti yang dulu selalu mengikuti kemauannya.


"Setidaknya pikirkan Ayu!" ucap Fano lirih, semua masalah malah ia lontarkan kepada Zahra. "Sudah aku pikirkan tentang Ayu, dan hari ini pun akan aku bawa ia bersamaku!" Zahra mulai emosi dengan Fano yang seakan akan menyalahkannya, pikirannya mulai tidak sehat.


"Aku tidak akan pernah mengizinkanmu membawanya Zahra!" balas Fano melihat kearah Zahra yang tengah menggendong Ayu. Ia sengaja menahan Ayu supaya Zahra tetap terikat. "Berarti mas yang tidak memikirkan Ayu, keaadaanmu sekarang yang sudah tidak bisa diharapkan masih saja kau mempertahankan hak asuh Ayu!" bentak Zahra dengan suara meninggi, wajahnya yang mulai memerah api sangat geram dengan sikap Fano.


Fano terdiam berbicara dengan pikirannya sendiri, jika ia merelakan Ayu sudah tiada harapan untuk mengambil hati Zahra lagi, tetapi jika ia mempertahankan Ayu akan ikut menderita dengannya.


"Tidak perlu lagi meretapi kesalahan mas di masalalu jangan egois mempertahankan Ayu mas, biarkan kami bahagia bersama." Suara Zahra yang masih meninggi namun tedengar kasihan.

__ADS_1


Keadaan Fano yang kritis saat ini tidak bisa besar mulut untuk mempertahankan Ayu lagi, pikirannya menjadi kacau. "Tapi Zahra...!" suaranya tertahan saat Zahra menyela. "Aku akan memberimu uang untuk menyambut hidup dan mencari kehidupan barumu lagi, tapi tolong jangan kau ganggu kehidupan ku dengan Ayu!" tegas Zahra, tekatnya telah ia pegang bahwa Ayu ia bawa bersamanya.


Memikirkan tentang uang, Fano masuk akalnya jika ia diberi uang oleh Zahra memulai bisnis lagi dan kembali mencari istri, sikapnya yang serakah pun bisa merelakan keluarganya demi uang.


"Apa kau tidak berbohong?" tanya Fano bergeming mendengar Zahra memberinya uang. "Berikan nomor rekening padaku!" balas Zahra tak main main.


Fano terngiang ngiang mendengar ucapan Zahra, mendengar uang dia seketika tidak mempertahankan Ayu lagi. "Ahh baik biar aku sebutkan!" cepat cepat fano pun memberikan nomor rekeningnya kepada Zahra dengan wajah tersenyum senang.


Sikap Fano yang hanya memikirkan uang rela mengorbankan keluarganya demi kesenangan hatinya, namun ia tidak pernah berpikir jika sebenarnya uang bisa dicari tetapi keluarga utuh dan bahagia jarang di dapat.


"Sudah aku transfer, sekarang buatkan surat perjanjian untukku jika kau memang sudah merelakan Ayu padaku" ucap Zahra meminta Fano agar menghilang dikehidupannya setelah ini.

__ADS_1


"Baik, aku akan buat surat perjanjian untukmu dan aku berjanji tidak akan lagi menggangu kehidupan kalian.


Fano pun bersorak gembira melihat jumlah uang yang diberikan Zahra begitu besar, dengan senang hati ia mengikuti kemauan Zahra.


Setelah beberapa saat membuat surat perjanjian, hitam diatas putih dengan meterai dan tanda tangan kedua belah pihak, disana telah tertulis perjanjian yang tidak bisa di ingkari.


***


Akhirnya perasaan Zahra lega serasa beban di pundaknya yang sebesar gunung telah hilang. Ia tersenyum sembari bahagia memikirkan Ayu yang utuh bersamanya.


Tak ingin berlama lama lagi disana ia segera pergi meninggalkan Fano membawa Ayu.

__ADS_1


"Bagaimana perasaanmu sayang, apa kau bahagia telah bersama ibu lagi?" tanya Zahra kepada Ayu yang berada dalam gendongannya. "Umm bahagia Ibu, Ayu sangat senang sudah bersama Ibu!" jawab Ayu tak berbohong. Selama Ibunya tak bersamanya ia terlihat kurus tak terurus, menangis setiap hari karena Ayahnya yang membiarkannya tanpa kasih sayang.


__ADS_2