
Hengky yang sudah kepanikan melihat sekeliling jalanan sedikit pun ia tidak mendapati Zahra segera ia memasuki mobilnya dan mencari dimana perginya Zahra.
"tuan tunggu!!" ucap Viky berlari mengejar Hengky yang tengah mau melajukan mobilnya.
"ada apa lagi Viky?" teriakan Hengky dari balik jendela mobil.
"aku mau ikut tuan!" segera memasuki mobil tanpa menunggu persetujuan Hengky.
menambah kekesalan Hengky melihat Viky tidak memperdulikan kecemasannya.
ia menginjak pedal gas dan melajukan mobilnya dengan kencang.
"jangan ngebut tuan!" ucap Viky mencegah Hengky yang menyetir sangat ngebut.
Hengky menoleh melihat Viky semakin kesal, ia menghembuskan nafasnya kasar dan melototi Viky.
"bisa tidak Viky kau diam saja jangan banyak omong!" suara Hengky meninggi dengan wajah memerah.
"baik tuan,!" jawab Viky takut melihat tuannya yang mulai marah ia menunduk tidak berani metapap Hengky lagi.
"jangan diam saja lihat di luar jendela siapa tau Zahra ada di jalan!" perintah Hengky marah melihat Viky terdiam menunduk.
__ADS_1
Viky tidak menjawabnya lagi ia takut dengan Hengky yang memucat kemarahannya.
Raut wajahnya yang sudah bersemu merah Viky tidak berani menatap ia langsung menoleh keluar jendela.
***
Sepanjang perjalanan mereka tidak menemukan Zahra, karena kecewa Hengky membelok kearah rumahnya dan berniat untuk menenangkan diri dulu di rumah.
"sebaiknya kau kembali kekantor Viky, biarkan aku pulang kerumah saja!" ucap Hengky dengan suara beratnya.
"iyah tuan, akan aku turuti!" jawab Viky.
Hengky turun dari mobilnya masuk kedalam rumah.
Tanpa bersuara ia memandang sekeliling ruangan rumahnya tidak ada satupun orang disana, ia melihat dapur juga tak ada.
Saat ia melewati depan pintu kamar Zahra ia mendengar suara tangis terisak begitu terharu mendengarnya.
Ia mendekatkan diri di balik pintu itu mulai sedih dan cemas mendengar Zahra menangis, ia merasa bersalah telah membuat Zahra patah hati seperti itu.
Zahra menangis hebat di dalam kamarnya ia terduduk di lantai di balik pintu kamarnya.
__ADS_1
Setelah satu tahun berada dalam kesedihan patah hati dan kecewa terhadap pria kini kembali ia menagis dan mendapati sakit teramat yang pernah ia rasakan sebelumnya.
Seperti luka yang ditaburkan garam rasanya sangat perih dan sakit itu yang dirasakan Zahra saat ini.
***
"sayang, tolong buka pintunya aku ingin bicara menjelaskannya padamu!" suara Hengky memberanikan diri membujuk Zahra.
"tolong jangan ganggu aku tuan, aku ingin sendiri!" jawab Zahra dengan suara yang dibarengi tangisan.
Seketika tangisnya pecah tak terbendung saat mengetahui Hengky berada di balik pintu kamarnya.
Perasaan Zahra yang tidak mengerti sebenarnya apa yang terjadi dengan Hengky tidak tertahankan emosinya untuk menangis.
Sebenarnya jika ia mendengarkan dulu penjelasan Hengky bahwa ia hanya sekedar salah paham mungkin ia tak menangis sehebat itu.
"aku minta maaf Zah, telah membuat mu sedih dan menangis seperti ini izinkan aku menjelaskan nya padamu!" suara Hengky lesu tak tau harus berbuat apa lagi.
Dia ikut bersedih mendengar tangisan Zahra yang tak terhentikan.
seandainya ia tidak meminta Intan membantu memijit kepalanya mungkin masalah tak seperti ini.
__ADS_1
Penyesalan tumbuh dalam hati Hengky karena bertindak tanpa berpikir, ia juga tak menyadari jika Zahra telah berpesan mengantar makananya di kantor siang itu.
Ia ikut meneteskan air matanya mendengar terus tangisan Zahra seandainya saja ia berada disana ia memeluk dan menenangkan Zahra.