
"Bima, berikan padaku nomor temanmu itu!" ucap Hengky berpikir ada baiknya untuk melacak keberadaan mereka dari pada capek capek mencari tak juga di temukan. " Baik tuan" Bima memberikan nomor Juan kepada Hengky untuk dicari tau keberadaannya.
5 menit keheningan di tempat itu Hengky yang sedang fokus dengan layar hp-nya mencek lokasi Juan. "Sepertinya aku menemukannya, berada di taman dibawah tanjakan itu!" ucap Hengky sambil menjukkan letakknya. " Benarkah tuan, kalau begitu kita cek disana dulu!" balas Vicky mulai semangat. "Lebih baik kita berempat saja disana, yang lainnya tetap disini", Hengky juga tak ingin keributan terjadi disana sengaja ia memprivasikan tentang apa pun yang terjadi nanti disana.
"Tuan, apa tidak keberatan jika aku ikut?" tanya Bima, pikirannya mulai tidak tenang memikirkan temannya itu. "Oke lah, kau ikut Bima!" jelas Hengky.
Mereka berlalu pergi mendatangi tempat yang ditunjukkan Hengky, mereka pergi berlima kebawah sana.
mereka Berjalan jauh meninggalkan Villa menuju di mana taman yang mereka datangi terlihat sangat sepi dan tidak ada orang di sana. Mereka terus berjalan mendekati ayunan ayunan yang berada di bawah pohon sana. Mereka melihat sekeliling bawah pohon di mana ayunan di sana banyak digantung, karena Hengky dan Vicky yang ada di depan jalan mereka melihat di pojok sana ayunan diatasnya ada dua orang yang sedang tertidur.
Mereka berlari cepat menghampiri tempat itu, Nila mulai curiga bahwa disana adalah Nita. Mereka terdiam sesaat menyaksikan mereka yang tengah tertidur saling berhadapan dan berpelukan, Nita yang berada dalam dekapan Juan sungguh posisi yang begitu intim. Pikiran Nila mulai melayang melihat mereka seketika emosinya meledak, dengan cepat ia menarik ayunan itu dan menggoyangkan, Nita dan Juan tersentak kaget dan segera terbangun.
__ADS_1
"Ahh kakak!" suara Nita terdengar serak mungkin karena baru bangun, ia melihat siapa saja yang datang ia bingung bodoh menggaruk kepalanya tak gatal. Juan juga yang baru menyadari mereka yang tengah berdua tidur diatas ayunan rasanya sangat malu melihat juga Bima ada disana, ia mengusap wajahnya kasar dan meraih hp-nya yang tergeletak di tanah.
"Apa yang sedang kau lakukan disini bersama laki laki itu Nita!" suara Nila meninggi menggertak Nita, wajahnya merah api seperti Singa yang siap menyantap mangsanya.
"Ehmm Nita bisa jelasin kak!" ucap Nita ketakutan melihat kakaknya sedang marah besar padanya. "Kurangajar!" emosi Nila sudah di unjung kepalanya rasanya sakit jika ia tak mengeluarkannya, ia dengan sekuat tenaga menampar pipi adiknya Nita.
PLAK!
Juan yang menyaksikan ini semua mulai tak tenang, ia merasa bersalah Nita yang kena getahnya. "Maaf jika aku lancang, ini semua bisa aku jelaskan dan aku juga akan bertanggung jawab kepada Nita", ucap Juan berjalan berpindah tempat di samping Nita, ia dengan berani merangkul tubuh Nita yang tengah meringis kesakitan. "Kau juga pantas untuk mendapatkan tamparan!" ucap Nila berteriak dengan cepat melayangkan tanparannya kembali di pipi Juan.
PLAK!
__ADS_1
Suara tamparan untuk yang kedua kalinya terdengar bergema. "Kakak!!!" dengan cepat Nita menyela maju kedepan Juan. "Nil udah!" teriak Vicky menarik Nila kembali. Juan terlihat santai mengusap pipinya dan tersenyum sinis. Perlu di jelaskan status Juan disini masih lajang dan tidak jauh berbeda pekerjaannya seperti pekerjaan Hengky, ia juga memiliki usaha sendiri dan umurnya yang tidak jauh beda dengan umur Hengky.
Jika saja Nila mengetahuinya mungkin ia segan berbuat seperti itu, Nita yang telah mengetahuinya semua seakan akan menyimpan perasaan kepada Juan.
Suasana semakin tegang Bima yang ikut menyaksikan kejadian itu tidak berani berbicara. Hengky memahami situasi semakin tidak baik, ia berfikir lebih baik membicarakannya dengan kepala dingin.
"Nila redakan emosimu, masalah semakin rumit jika terus bertindak kasar seperti ini, lebih baik kita bicarakan di Villa nanti" Ucap Hengky mengambil keputusan yang tepat. "Iyah Nil, lebih baik begitu, ayo Nita ikut kakak pergi dari sini!" ucap Zahra mendukung perkataan Hengky, ia meraih tangan Nita dan membawanya pergi dari sana.
Nita menurut saja, sungguh sangat kasihan Zahra melihat Nita sangat terpukul dengan apa yang terjadi ini. Akhirnya semua yang berada di sana mengikuti Zahra dan Nita meninggalkan tempat itu, emosi Nila mulai mereda dan juga menurut tanpa berportes lagi.
Tak tinggal Juan juga mengikuti mereka dengan Bima yang merangkulnya memberi semangat.
__ADS_1