
Suasana di dalam kamar itu menjadi tegang seakan hawa emosi menyelimuti seluruh ruangan. Hengky yang terdiam sedari tadi juga menahan emosinya, bukan karena Juan bersikeras menikahi Nita tetapi dia emosi dengan Nila yang tidak mau turun bicaranya.
Sebenarnya ia setuju dengan Juan, menikahi Nita salah satu menunjukan rasa tanggung jawabnya.
Nita yang melihat Juan telah pergi ia segera munyusul untuk pergi dari kamar itu menuju kamar yang mereka biasa tempati bersama kakaknya dan Zahra.
"Nita kau mau kemana?" teriak Zahra berlari mengejar Nita. Nila tak tinggal diam ia juga pergi dari sana berlari menuruni anak tangga dan entah kemana ia pergi.
Hengky melirik jam di pergelangannya waktu makan siang sudah tiba, perutnya yang keroncongan sedari tadi belum di isi ingin segera makan. "Vic, apa kau mau turun kebawah untuk makan?" tanya Hengky mengajak Vicky. "Ahh iyah tuan, ayo kita turun", ucap Vicky, Hengky mengangguk dan pergi kebawah berdua dengan Vicky.
Diruang makan telah berkumpul disana teman teman yang lain, Hengky dan Vicky mencari tempat duduk lalu memulai kegiatan makan mereka.
"Sudah Nit jangan sedih lagi ini semua takdir yang menimpa mu, lebih baik kita makan dibawah dari tadi pagi kan kau belum makan?" ucap Zahra terus membujuk Nita, rasa kasihannya terlalu besar karena ia bisa rasakan jika terjadi seperti itu di posisinya.
***
__ADS_1
"Apakah aku boleh bergabung makan dengan kalian?" tanya Juan yang tengah berdiri memegang makanannya dan minumannya dihadapan meja dimana Hengky dan Vicky sedang menikmati makanannya.
Hengky dan Vicky serentak menghentikan kegiatan mereka, mengangkat wajah mereka melihat siapa yang berbicara, Juan tersenyum ramah saat mereka memandangnya.
"Apakah aku boleh duduk?" tanya nya sekali lagi mengangguk dan tersenyum melihat keduanya mematung memandangnya. "Ahh tentu boleh, silakan duduk!" balas Hengky mengangguk dan melanjutkan makanannya. "Maaf jika kita sedari tadi belum mengenal satu sama lain, kenalkan namaku Juan", ucap Juan senyum sebelum melanjutkan makanannya. "Oh iyah, aku Vicky dan ini bosku Hengky!" jawab Vicky yang tengah mengunyah makanannya, Hengky memandangnya dan tersenyum.
Juan memperhatikan Hengky dan mengingat nama itu seperti tidak asing di telinganya. "Jika aku tak salah tebak, apa benar kau Hengky Riccardo pewaris dari perusahaan Harvest Company yang lumayan terkenal dikalangan dunia pekerja itu?" tanya Juan dengan ragu namun ia memberanikan diri untuk memastikannya.
Hengky kembali mengangkat wajahnya seraya menyuap makanan kemulutnya, ia melihat Juan penasaran kenapa bisa ia mengenal perusaan yang diwarisi kakeknya padanya. "Kau benar, dari mana kau tahu tentang itu?" tanyak Hengky heran.
"Oh yah, kalau begitu Ayahmu mengenalku?" Hengky baru mengerti ternyata Juan setara dengan statusnya.
"Tentu Ayahku mengenalmu", jawab Juan kembali lalu ia menyantap makanannya. Hengky tersenyum senang bertemu dengan Juan, hatinya tenang jika benar ia menikah dengan Nita ia tidak akan menyakiti Nita karena Juan bukan orang sembarang melainkan orang ternama yang mempunyai jabatan.
"Kau sendiri bekerja dibidang apa?" tanya Hengky mulai akrab. "Kebetulan aku mempunyai perusahaan sendiri yang diwarisi kakekku sama sepertimu!" jawab Juan sambil tersenyum menjelaskan kepada Hengky.
__ADS_1
"By the way aku sungguh minta maaf atas kesalahpahaman ini, namun janjiku akan pasti ku tepati!" ucap Juan mengingat kejadian semalam bersama Nita. "Selagi kau bisa mempertanggung jawabkan masalahmu maka semuanya akan aman!" balas Hengky tersenyum.
Juan ikut tersenyum mengangguk setuju dengan ucapan Hengky, tidak terasa makanan mereka habis dibarengi dengan mengobrol bersama.
Selesai dengan kegiatan mengisi perut, kini mereka bertiga melanjutkan obrolan itu, Juan merasa senang dengan sikap Hengky yang tidak menyombongkan dirinya.
(Pemberitahuan)
Nama Viky diubah menjadi Vicky, sory kalau membuatmu keliru.
tetap semangat untuk kalian yang setia membaca.
salam dari penulis
~ Gadis Nias ~
__ADS_1