
"hallo pih, ada apa di telepon sangat pagi sekali ? "
"nak, ada sesuatu yang penting yang papi beritahu.! "
"apa itu pih?
"papi mendapat masalah di bisnis papi seseorang merebutnya dan mengubah nama papi.!"
"terus bagaimana pih, apa yang perlu kita lakukan?"
"jika boleh papi memintamu membantu papi datang kesini"
Hengky mendapatkan telepon dari papinya di London disana ia mendapat masalah di bisnisnya .
papinya meminta Hengky untuk datang kesana untuk membantu nya.
"yasudah lah pih, nanti Hengky membicarakan nya dulu kepada bawahan ku jika dia bisa menyelesaikan pekerjaan ku disini!!"
"tolong beritahu papi bila pasti kemari! "
"baik pih, Hengky telepon kembali nanti. "
Hengky sedikit panik saat ia mendengar masalah papinya di London ia segera menghubungi Viky dan meminta untuk datang menemuinya.
" halo Viky tolong datang kemari dengan cepat sekarang.! "
"ah baik tuan aku akan kesana sekarang.! "
Tanpa ada basa basi ia berkata kepada Viky. dengan cepat Viky menanggapi ia tau tuannya sedang serius ia tanpa ragu segera pergi.
"Zahra, jika Viky datang panggil aku! "
"baik tuan.! "
Zahra heran kepada Hengky pagi ini tidak seperti biasanya terlihat seperti banyak pikiran cara ngomong nya pun kepada Zahra tidak ada ekspresi sama sekali.
Viky mengendarai mobil nya dengan ngebut keadaan yang masih sangat pagi tidak mendapat kemacetan tidak butuh waktu lama sampai kerumah Hengky.
bunyi bel terdengar dari luar Zahra segera membuka pintu karena Hengky telah berpesan maka ia tau jika yang datang adalah Viky.
"selamat pagi non Zahra!"
"ia Viky selamat pagi, silakan masuk! "
"baik, tuan dimana non? "
"di atas, silakan duduk dulu biar aku panggil !"
Seperti pesan Hengky Zahra segera naik keatas dan memanggil nya.
"tuan, Viky sudah datang ia sedang menunggu di bawah "
"hmmm...! "
Hengky yang beberapa bulan ini kelihatan bahagia tetapi pagi ini dia kembali terlihat dingin dan tidak banyak omong.
Dia turun dari tangga dengan Zahra yang mengekorinya dari belakang.
Zahra kembali takut karena tuan nya bersikap tidak seperti biasa nya.
"selamat pagi tuan.! "
"hm, pagi.! "
Viky menyapa tuannya dan berdiri, Hengky yang menjawab singkat dan duduk Viky dengan ragu kembali duduk.
Viky merasa heran kepada tuannya pagi ini sikapnya begitu dingin.
"ehm maaf tuan, ada apa memanggilku sepagi ini? "
"ada yang perlu aku perintahkan padamu!"
"apa itu tuan?"
"siang ini aku berangkat ke London semua pekerjaan ku di kantor selalu kau pantau, jika ada yang tidak tau hubungi aku!"
"ah, eh tapi tuan..! "
"aku hanya dua minggu di sana, aku harap kau bisa bekerja dengan baik.! "
Viky tidak bisa berkata apa apa lagi dengan terpaksa ia menerima perintah tuannya.
"pagi ini cepat datang ke kantor jemput Nila bawa kesini, ada yang perlu aku perintahkan padanya!"
"baik tuan siap laksanakan semua perintah tuan!"
"hm, kau boleh pergi! "
"kalau begitu aku permisi! "
saat Viky pergi Hengky tak lupa menyerahkan segala berkas yang penting di kantor kepada Viky.
Dia sengaja memanggil Nila karena ada yang perlu ia sampaikan dan yang perlu ia perintahkan.
"pih, Hengky pasti akan datang kesana siang ini aku akan berangkat! "
"ah syukurlah nak, papi akan memesan tiketmu nanti papi akan beritahu jadwalnya!"
hanya untuk menyampaikan itu, Hengky memutuskan kembali telepon dari papi nya.
Ia menarik nafas dan mengeluarkan nya, Dia berpikir bagaimana untuk menyelesaikan masalah itu.
papi nya yang mendengar kabar jika Hengky akan datang, ia merasa senang dan tenang ia berharap kedatanga Hengky masalah akan selesai.
"Zahra kopi ku mana?"
"ini tuan akan aku bawakan!"
Zahra membawa segelas kopi untuk Hengky dengan perasaan tidak tenang karena Hengky bersikap seperti itu padanya.
"duduk dulu Zahra, ada yang mau ku beritahukan pada mu!"
"iyah tuan"
Zahra yang masih belum tau kejadian itu dalam hatinya ada keraguan ia berpikir ada kesalahan yang telah ia buat.
"mendekat lah Zahra duduk di sampingku!"
"sebenarnya ada tuan?"
"sini duduk dulu sayang, kenapa malah ketakutan?"
Hengky menepuk sofa di sebelahnya mengajak Zahra duduk di sana.
"sayang, aku ingin beritau kalau aku siang ini berangkat ke London"
Zahra terdiam saat mendengar Hengky mengatakan itu.
__ADS_1
"hei sayang, kok malah diam? Dengar aku ngomong kan?"
"ah, tuan tidak membohongiku kan?"
"tidak sayang aku betul siang ini pergi"
Zahra kelihatan cemas saat Hengky berkata serius.
"tidak perlu takut aku hanya dua minggu di sana, aku sudah bilang ke Viky supaya mengajak Nila sekretaris kantor untuk menemani mu di sini!"
Hengky tersenyum dan mengusap rambut Zahra.
Sedangkan Viky yang sudah berada di kantor menunggu Nila datang untuk membawanya ketemu tuan Hengky.
"ehm Susi tunggu! Apa kau melihat Nila datang?"
"oh, masih belum pak Viky mungkin sebentar lagi"
"baiklah, terimakasih yah!"
Viky dengan sabar menunggu Nila, hatinya yang sudah mulai deg degan ketika ia memikirkan akan berhadapan dengan Nila.
Tak lama pun Nila datang, Viky memanggilnya.
"Nila, tunggu sebentar!"
Ia menoleh dan berhenti saat Viky memanggil namanya.
"ada apa pak Viky?"
Viky malah terdiam dan tidak berkedip melihat Nila.
"pak Viky ada apa?"
"ah, oh, iyah maaf Nila tuan Hengky menyuruh ku menjemputmu, Nila di suruh untuk datang nenemui tua Hengky ada yang ingin dia sampaikan!"
Viky yang sudah merasakan bulu tangannya merinding saat Nila meninggikan suara nya.
"yasudah baik lah, ayo segera antarkan aku!"
Nila tidak banyak pertanyaan lagi ia segera meminta Viky mengantarnya.
"silakan masuk !"
Viky membuka pintu mobil dan menyuruh Nila masuk.
Nila mengangguk tersenyum dan masuk kedalam mobil.
Sepanjang perjalanan mereka hening tak bersuara.
Viky terasa gugup karena baru kali ini berdekatan dan bareng dengan Nila.
Ia tidak punya bahan cerita untuk memulai percakapan.
untuk memecahkan keheningan ia menyalakan musik agar suasana tidak terasa canggung.
"pak Viky, kira kira apa yang di sampaikan tuan Hengky sampai ia meminta datang kerumah?"
"em, aku juga tidak tau tuan belum memberitahuku!"
Nila yang tidak tau sama sekali apa yang Viky rasa, ia terlihat biasa saja dan tidak ada rasa apa pun.
"ayo kita turun Nila!"
"iyah pak Viky!"
"maaf tuan, aku datang untuk membawa Nila kemari!"
Dengan keadaan rumah yang terbuka dan Hengky sedang menikmati kopinya di luar.
"iyah Viky dan Nila silakan masuk dulu."
Viky dan Nila menurut mengikuti Hengky masuk.
"Zahra!"
"iyah tuan?"
"kemari sebentar!"
Hengky juga memanggil Zahra dan mempersilakan mereka bertiga duduk.
"ehm begini Viky Nila dan Zahra, siang ini aku pergi ke London untuk beberapa minggu saja.
dan aku minta Viky dan Nila tinggal di sini dan kalian yang mengerjakan sementara pekerjaan ku!"
Mereka bertiga mendengarkan Hengky tetapi tidak ada salah satu dari mereka menjawab.
"bagaimana, kenapa kalian malah diam?"
"tapi apa tidak masalah jika kami tinggal di rumah tuan?"
"masalahnya dari mana Viky, aku kan yang menyuruh kalian!"
Viky ingin menolak dan tidak mau tinggal bersama Nila dan Zahra dalam dua minggu itu, ia kepikiran seperti apa jika keduanya memerintahkannya terus.
"baik lah tuan, tidak masalah sama saya bila tuan yang perintahkan!"
"terimakasih Nila!"
tanpa basa basi Nila menyetujui dan tidak membatah.
"bagaimana Viky?"
"em,,yaudah deh aku ngikut saja!"
Mau tidak mau Viky mengikuti juga berpikir bila ada Nila bisa satu kesempatannya mendekati idaman hati nya itu.
"kalau begitu kalian kembali ke kantor dulu, nanti siang aku menghubungi mu Viky mengantarkan aku di bandara!"
"baik tuan!"
Selesai membicarakan itu Viky dan Nila kembali ke kantor, Zahra yang masih duduk termenung seakan sedih saat Hengky meninggalkan nya walaupun itu hanya sementaara namun perasaannya tidak senang.
"kenapa sayang?"
"em tidak tuan aku hanya mikir nanti aku bakal merindukan tuan!"
"Zahra sayang aku hanya pergi dua minggu saja kok jangan sedih yah?"
"ehm..!"
Zahra malah bersikap manja tidak ingin di tinggalkan oleh Hengky.
"Sekarang bantu aku beresin bajuku di koper aku harus siap siap bentar lagi aku pergi!"
"em iyah deh tuan"
__ADS_1
Zahra akhirnya luluh saat Hengky memberi perhatiannya. ia membantu Hengky membereskan barang yang perlu Hengky bawa.
semua telah di bereskan oleh Zahra, tak terasa hari telah menjelang siang.
"tuan makan dulu sebelum pergi yah?"
"tentu sayang, aku ingin menikmati masakan kekasihku yang bakal tidak ku makan dalam dua minggu ini nanti!"
Zahra tersenyum dan meletakkan semua makanan di meja.
"ayo makan bersama"
"iyah tuan!"
Zahra memberikan nasi di piring untuk Hengky dan untuk diri nya, siang itu mereka makan bersama.
"aku telah menghubungi Viky untuk mengantar ku, kau siap siap setelah makan kau juga harus ikut mengantarku!"
"hm tentu aku mau!"
mereka saling melempar senyuman saat sedang menikmati makan siang.
Tidak terasa siang pun tiba, Hengky telah menyiapkan barang nya yang perlu dibawa .
"Viky tolong yah kopernya dimasukkan di mobil!"
"siap tuan!"
"ayo naik Zahra!"
Hengky dan Zahra duduk di tempat penumpang sementara Viky yang menyetir.
"tidak perlu ngebut Viky, waktu masih lama bisa di pelan saja!"
"iyah tuan!"
Viky yang melihat mereka di belakang dengan kaca spion di depan.
"ayo jalan"
menginjak pedal gas dan mobil melaju menuju bandara.
"mulai nati malam kalian sudah bisa ada dirumahku Viky, biar Zahra mengatur tempat tidur kalian"
"baik, nanti aku ambil pakaian ku di rumahku dulu!"
"hm, dan satu kesempatan untukmu mendekati Nila!"
Zahra menoleh melihat Hengky saat bicara seperti itu, dia yang tidak tau apa apa merasa heran Hengky bicara seperti itu.
"apaan sih tuan ngomong seperti itu sama Viky!"
"haha, tenang saja Zahra kau jangan marah jika melihat Viky mendekati Nila karena itu yang dia targetkan selama ini!"
Viky yang mendengar itu tertawa sangat lucu Zahra masih saja sepolos itu.
"hahah,, non Zahra nanti bantu aku yah biar Nila terima aku!"
"ooh,,,, Viky juga menyukai Nila ternyata!"
"hahahahaha!!"
Hengky dan Viky tertawa bersamaan mendengar Zahra berbicara.
Hengky memeluknya dari samping dan mencium kening Zahra.
"kau sangat lucu sayang, usahakan Viky menembak Nila jangan sampai belum jadian sebelum aku pulang!!"
"hem, dasar yah kalian laki laki!"
Zahra mencubit lengan Hengky gemes mendengar itu.
Jarak rumah Hengky dari bandara soekarno tidak begitu jauh hanya membutuhkan waktu lebih dari setengah jam saja.
Viky menghentikan mobil ia turun dan membukakan pintu untuk tuannya dan Zahra.
"silakan tuan, non Zahra!"
Viky berlari kecil membuka bagasi mobil untuk mengambil koper Hengky.
"ah kemari Viky biar aku saja yang bawa sampai di dalam!"
"ini tuan, maaf!!"
Hengky meraih kopernya di tangan Viky.
"sayang, aku pergi dulu yah kau baik baik di rumah jangan sampai terjadi apa apa sama mu!"
Memeluk dan mencium kening Zahra.
"emm, tuan hati hati juga semoga selamat sampai tujuan!"
Zahra membalas pelukan itu ia terlihat sedih dan mata yang mulai berkaca kaca.
"iyah sayang, udah gih tidak usah nangis!
Ia memegang pipi Zahra mengusap air mata itu dari pipinya Zahra.
"tuan cepat pulang yah jangan nakal di sana!"
"hahah, tentu sayang tenang saja aku bakal jaga hati untukmu!"
"hem!"
Tak lupa Zahra memberi salam untuk perpisahan yang sementara kepada kekasihnya yang sangat ia cintai itu.
Viky yang melihat dua insan sama sama tidak ingin saling pisah walaupun hanya sementara.
Viky malah bengong dan mematung .
" Viky,, Viky,, woy Viky!!!"
Hengky memukul lengan Viky yang membuatnya kaget dengan segera ia meraih tangan Hengky dan menyalami.
"ah i,,i,,iyah tuan! Hati hati di jalan!"
"hahah,, kau kenapa sih?"
Hengky dan Zahra tertawa bersamaan saat melihat Viky yang seperti itu.
"tidak apa apa tuan!"
"ok lah aku masuk dulu untuk cek in, Viky hati hati nyetirnya!"
"iyah tuan!"
Zahra dan Viky bersamaan menjawab Hengky dan mengangguk.
__ADS_1
Mereka yang melihat kepergian Hengky saat ia tidak terlihat lagi mereka juga pulang, Viky mengantar Zahra dan terus kembali kekantor menunggu Nila sampai sore untuk pulang.