
(Menghubungi Zahra)
"Halo sayang, apa kau sudah pulang?" tanya Hengky beranjak dari kantornya. "Masih belum Tuan, mungkin sebentar lagi" jawab Zahra. "Kirimkan lokasimu aku akan menjemput!" ucap Hengky seraya masuk kedalam mobilnya.
Ia langsung ketempat yang dikirimkan lokasi oleh Zahra.
***
(Zahra dan Ayu sedang belanja mainan)
"Sayang apa tidak ada lagi yang kamu mau?" tanya Zahra ke Ayu setelas selesai membayar harga mainan. "Tidak lagi bu, Ayu capek pengen bobo!" balas Ayu menggelengkan kepalanya.
"Oke kalau begitu kita pulang" Zahra tidak ingin Ayu kelamaan diluar ia takut jika terlalu capek nanti jatuh sakit. "Kita pulang kemana Ibu?" Ayu merasa binggung mereka akan pulang kemana, ia tak ingin pulang lagi kerumah Ayah Fano.
"Nanti Ayu tahu sendiri, sabar sebentar!" Zahra mengendong dan mencium Zahra. Mereka keluar dari toko mainan dan menunggu Hengky datang menjemput mereka.
(Hengky datang)
Hengky berhenti tepat dilokasi yang dikirim Zahra, memarkir mobilnya dipinggir jalan dan turun dalam mobinya. Ia melihat sekeliling depan toko untuk mencari keberadaan Zahra.
__ADS_1
"Tuan,,, kami disini!!" teriakan Zahra memanggil Hengky lalu mereka saling menghampiri bersamaan. Hengky melihat Zahra dari kejauhan bersama anaknya, dari kejauhan sana ia memandangi Zahra terlihat sangat keibuan menggendong Ayu sambil berjalan.
"Heii,,,namanya siapa ini kok gemes banget sih?" ucap Hengky saat Zahra sampai di hadapannya, ia mencubit pipi Ayu gemes. "Dia lagi ngantuk tuan katanya mau bobo!" sahut Zahra tersenyum kepada Hengky.
Bayangin saja wajah gemes Ayu seperti iniš
Hengky malah terus mengganggu Ayu meskipun Zahra menegurnya. "Ya sudah kalau begitu kita antar dia, takutnya mantan suami mu marah mengajaknya keluar terlalu lama" ucap Hengky yang masih belum tau kejadian tadi dirumah Fano.
Zahra terdiam memeluk erat dan mencium Ayu. "Tidak Tuan, aku tidak mengembalikannya lagi, izinkan aku membawanya" Zahra memohon agar Hengky mengizinkannya.
Zahra mengeluarkan selembar surat di dalam tasnya dan menyodorkan nya kepada Hengky.
"Tuan baca dulu!" ucap Zahra, lebih jelas jika Hengky membaca isi surat itu dari pada menjelaskannya dari mulut rasanya susah. "Loh, kenapa bisa sayang, bukannya dia selalu mempertahankan Ayu kepadanya?" tanya Hengky mengerutkan keningnya.
"Nanti aku jelaskan padamu sayang, sekarang kita pulang dulu tanganku sudah pegal" balas Zahra tersenyum mencolek pipi Hengky yang berdiri mematung masih memandanginya. Zahra masuk kedalam mobil, diikuti dengan Hengky yang terlihat bodoh bertanya tanya di dalam hatinya.
(Di dalam mobil perjalanan pulang)
__ADS_1
"Jelaskan samaku sayang, kenapa bisa Ayu diserahkan padamu oleh mantan suami mu itu?" kembali dengan pertanyaan itu, Hengky seakan menyelidiki karena ketakutan lebih besar menguasai pikirannya. Zahra tersenyum menoleh kearah Hengky yang terlihat lucu.
"Aku membayarnya dengan uang makanya ia menyerahkan padaku!" jawab Zahra santai tersenyum mengelus pipi Hengky yang dipenuhi bulu kasar.
"Jangan menggodaku dulu, dari mana kau ambil uang untuk diberikan kepadanya?" Hengky semakin bertanya tanya karena Zahra menjelaskannya terpotong potong.
"Aku berikan yang pernah Tuan transfer padaku!" balas Zahra masih dengan senyuman. "Astaga sayang, apa yang telah terjadi padamu!" Hengky terlihat kesal menepuk jidatnya, bela belain dia memberikan uang dengan jumlah besar kepada Zahra, eh malah seenak jidat ia memberikan kepada orang lain.
"Kenapa Tuan, apa tidak mengizinkanku membawa Ayu?" Zahra memandangi Hengky dengan serius menaikkan sebelah alisnya. "Bukan begitu, tapi ....!" Zahra langsung memotong bicara Hengky tidak memberi kesempatan lagi untuk berprotes.
"Uang bisa dicari tuan tapi anak tidak ada yang bisa memberimu, bagiku Ayu adalah segalanya dia lebih berharga dengan uang yang aku berikan kepada Fano" Jelas Zahra, memperbaiki posisinya menghadap kedepan sudah kesal.
"Jangan salah paham dulu sayang, bukan begitu maksudku!" Hengky malah kesusahan menjelaskan kembali kepada Zahra, sementara Zahra sudah mulai ngambek padanya. "Sudah lah Tuan, jelaskan padaku apa kau mengizinkan ku membawa Ayu atau tidak!"
Zahra sudah tidak ingin berdebat lagi, ia cukup meminta jawaban Hengky tentang anaknya. "Dengan senang hati aku mengizinkannya malah aku sangat senang dengan kedatangan Ayu.
Hengky salah satu penyayang anak, dia sangat menyukai anak kecil apa lagi kalau gemes gemes, dia pasti sangat suka bahkan untuk mengurus ia bersedia.
"Ya sudah, kalau begitu jangan kita membahasnya lagi!" balas Zahra sudah tidak enakkan. "Tapi kau jangan marah lagi dong sayang, please?" rayu Hengky agar Zahra tidak ngambek. "Hmm" malah Zahra mencuekinya ia hanya menjawab dengan deheman dan terus menciumi kepala Ayu dengan penuh cinta.
__ADS_1
Hengky yang melihat Zahra sudah tidak mau menanggapinya lagi, ia terdiam mengangkat kedua bahunya, "Terserah" batinnya.