
Setelah satu jam lebih berada dalam ruang operasi untuk mempertaruhkan hidup dan mati untuk sibuah hati, kini Zahra merasa lega setidaknya sudah keluar dari ruang operasi yang paling horor itu.
Fasilitas terbaik diberikan kepada mereka, kamar yang lengkap dan pelayanan yang baik.
"Syukurlah sayang Mommy baik baik saja," ucap Hengky kebahagiaan terukir diwajahnya ia memeluk dan mencium sang istri yang telah bertarung nyawa untuk anaknya.
"Sekarang Mommy sudah merasa lega Dad, tinggal nunggu baby nya sudah tidak sabar," balas Zahra menantikan wajah sibuah hatinya.
"Sebentar lagi sayang kata suster akan diantar disini," jawab Hengky masih dalam keadaan memeluk istrinya.
"Mih beritahu Papi jika mereka boleh kesini," Hengky tak lupa mengingat Ayu dirumah ia tidak sabar mempertemukan Ayu dengan adeknya.
"Sudah sayang, Mami sudah menghubungi sebentar lagi akan sampai kesini," balas Evelyn, mereka semua tak sabar menunggu baby cantik itu.
Tak lama setelah itu, seorang suster tengah menggendong bayi membuka pintu kamar inap Zahra.
CEKLEK!
Semua pandangan kearah pintu saat suara pintu terbuka.
Suster itu dengan penuh senyuman memasuki kamar dengan baby nya dalam gendongan.
"Bu Zahra selamat yah atas kelahiran baby nya," ucap suster itu menyerahkan bayi itu kedalam gendongan Zahra.
"Terimakasih banyak sus," jawab Zahra menerima bayinya tak lupa senyum bahagianya terukir di wajah.
__ADS_1
Suster itu menganguk dan segera enyah dari sana.
Evelyn yang tidak sabar segera berlari kecil menghampiri tepi ranjang Zahra.
"Dad baby nya cantik banget," ucap Zahra memeluk dan menciumnya.
"Ohh astaga, Mami gemes banget sama cucu Mami ini," Evelyn ikut mengomentari terkagum saat ia melihat wajah cucunya untuk pertama kali.
Hengky sangat bahagia melihat wajah anaknya hasil cetakannya sendiri, ia tersenyum memandang kearah bayinya dan mencolek pipi halus dan tipis milik bayinya.
"Mom, boleh Daddy gendong?" ucapnya tak sabar ingin mendekap bayi mungilnya itu.
"Iyah Dad nah, hati hati yah awas kalau jatuh," Zahra menyerahkan dalam gendongan suaminya serta menberi peringatan.
Hengky terlihat gugup menggendong bayi untuk pertama kalinya tangannya kaku ingin mengeratkan legangannya namun takut karena sangat berbeda kalau menggendong anak sebesar Ayu.
"Mih, cucu Mami sangat cantik," Hengky memujinya dan memberitahukan kepada Maminya.
"Gimana tidak cantik sayang, Mommy nya cantik kan?" tambah Evelyn seraya memuji Zahra menantu kesayangannya.
"Hehehe Mami bisa saja deh," balas Zahra naik kuping.
"Mami mau gendong?" tanya Hengky memberi kesempatan untuk Evelyn yang dari tadi tidak sabar.
"Ahh tentu Mami mau gendong sayang, sini," jawab Evelyn dengan senyum bahagianya segera meraih bayi itu kedalam gendongan Hengky.
__ADS_1
"Sabar dong Mih tangan ku tersangkut nih," ucap Hengky yang masih kaku dan gugup menggendong bayi mungilnya.
Evelyn memandangi wajah cucunya untuk pertama kali sungguh kebahagiaan nya tak bisa ia ucapkan dengan kata katanya.
Evelyn sangat senang sehingga ia membawa kesana kesini dalam dekapannya dengan penuh cintanya.
Zahra yang melihatnya ikut merasa bahagia, ia pantas untuk disayang dicinta dan diperhatikan karena kedatangannya menambah kebahagian dalam keluarga itu.
"Sayang tidak ingin istirahat dulu?" ucap Hengky selalu memberi perhatian penuh dengan istrinya yang sangat ia cintai.
"Boleh Dad punggung Mommy rasanya pegal, biusnya mulai hilang sebaiknya aku berbaring miring saja," Zahra tak merasakan sakit apa pun karena kualitas obat obatan yang diberikan padanya tak tertanding, semua kesakitan dapat ia lawan.
Hengky membaringkan istrinya dengan sangat pelan dan hati hati, namanya juga laki laki tidak pernah merasakan itu semua makanya terlihat sangat khawtir dan takut.
"Tidak apa apa kok Dad, Mommy bisa!" ucap Zahra merasa sudah membaik.
"Daddy takut bagaimana kalau jahitannya lepas,"pikiran yang terlalu o'on namun Zahra memaklumi semua laki laki yang sayang istrinya memang begitu sikapnya rata rata.
Zahra senyum merasa senang sekali dengan suaminya super super perhatian ini, ia meraih tangan suaminya memegang erat dan memandangi wajah tampan suaminya itu.
"Kenapa sayang?" tanya Hengky bingung.
"Makasih yah sayang, kepedulianmu terhadap Mommy sangat memuaskan," balas Zahra tak lekang pandangannya diwajah Hengky.
"Hem siapa lagi yang Daddy pedulikan selain istrinya, sudah deh Mommy istirahat yah sebentar lagi waktunya Mommy makan dan minum obat kalau sudah sembuh total kita cepat pulang," balas Hengky menenangkan Zahra agar tidak berpikiran aneh aneh dulu.
__ADS_1
Zahra mengangguk dan memejamkan mata dengan hati dan pikiran yang tenang dan damai.