Ketika Janda & Duda Berjodoh

Ketika Janda & Duda Berjodoh
BAB 63 Sepulang dari Liburan


__ADS_3

Waktu liburan berakhir tepat hari ini, karyawan karyawan serta teman teman mereka telah kembali kekediaman masing masing. Menyisakan Hengky bersama kekasihnya, Nila bersama adiknya serta Vicky dan Juan. Tengah berbincang serius dirumah Hengky untuk membahas tentang pernikahan Nita dengan Juan.


"Kita harus pergi sekarang kerumah Nila untuk menemui ibu mereka dan meminta restunya, Juan!" tegas Hengky setelah banyak pembahasan.


"Alangkah baiknya begitu Ju, setelah itu nanti baru kau bawa orang tuamu" sahutan Vicky kepada Juan.


Juan ragu ragu untuk berhadapan kepada ibu Nita, ia takut jika salah ngomong karena semua ini bukan yang telah ia rencakan melainkan sebuah kecelakaan besar yang tidak bisa ia elakan.


"Baik, aku harap kalian mendukung ku!" ucap Juan telah mempersiapkan dirinya.


"Tidak perlu cemas kami semua mendukungmu disana nanti!" ucap Hengky memberi semangat. Nita terdiam dan deg degan perasaan berselimut takut dan sedih. Ketakutannya ketika ibunya memarahinya dan kesedihannya jika mereka setuju dengan pernikahannya.


"Lebih baik kita pergi dari sekarang, jangan membahas terus!" ucap Nila melipat kedua tangannya didada dan memutar bola matanya ia masih marah kepada Juan dan Nita.


"Ya sudah kita pergi sekarang jangan menunda nundanya lagi" Hengky setuju dan segera beranjak dari duduknya.


"Kau mau ikut sayang, atau jika kau capek istirahatlah saja?" tanya Hengky kepada Zahra yang ingin pergi dengan segera.


"Aku mau ikut, tidak mau tinggal sendiri disini" balas Zahra ingin ikut juga.


***


Sesampainya dirumuah Nila dan Nita

__ADS_1


TOK-TOK-TOK!


Nila mengetuk pintu rumahnya dan berseru."Ibu kami pulang!!" seru Nila memanggil Ibunya namun belum ada sahutan.


"Ibu, ini Nila bu kami pulang!" teriakan Nila dari luar memanggil Ibunya, satu ketukan, dua ketukan baru juga ada sahutan dari dalam. "Iyah nak Ibu didapur tunggu sebentar!" Ibu nya menyahut dari dalam setelah Nila meninggikan suara memanggil ibunya.


Ibunya berlari dari dalam dan segera membuka pintu.


CEKLEK!


Ibunya terdiam sesaat karena yang datang bukan cuma Nila dan Nita melainkan ada cowok cowok tampan mendapingi mereka. "Ibu kami pulang" ucap Nila menghampiri Ibunya diambang pintu memberi salam. "Ahh iyah nak, ayo kalian masuk" jawab Ibunya tersadar saat Nila berbicara. "Nit ajak semua masuk!" ucap Nila yang mengikuti Ibunya kedalam.


Rumah Nila tidak terlalu mewah melainkan sederhana namun halamannya bersih begitu juga di dalamnya.


"Silakan kalian duduk, maaf rumah kami berantakan!" ucap Ibu Nila yang sedari tadi menyambut kedatangan mereka semua. Mereka mengangguk seraya tersenyum mendengar ucapan Ibu Nila.


Nita tidak ikut duduk disana melainkan pergi kedapur dan membuatkan teh untuk mereka semua.


"Mereka semua siapa Nil, apa mereka teman kalian berlibur?" tanya Ibunya ragu ragu seraya memberikan senyumannya. Ibu Nila salah satu wanita yang ramah dan baik hati biasa di panggil namanya dengan Ibu Susan (sekedar pengenalan singkat)


"Ehm iyah bu, ini adalah Tuan Hengky bos dari tempat aku bekerja disampingnya Zahra kekasih bos ku, dan tentu Ibu tahu kan dengan Vicky, dan yang terakhir namanya Juan calon suami Nita!" ucap Nila memperkenalkan kepada Ibu Susan, namun saat Nila mengucapkan kalimat terakhirnya Ibu Susan mengerutkan keningnya ia masih tidak tau maksud perkataan Nila barusan. "Maksud kamu apa bilang calon suami Nita?" tanya ibu Susan bingung mengerutkan keningnya, "Apa aku salah dengar" batin Susan.


"Iyah bu Juan adalah.." Nila menghentikan ucapannya saat ibunya menyela. "Tunggu-tunggu, Nita kemari sebentar!!!" Ibu Susan segera menghetikan ucapan Nila dan berteriak untuk memanggil Nita di dapur.

__ADS_1


DEG!!


Jantung Nita serasa copot berdetak tak henti, tangannya gemetar, wajahnya mulai memucat dan langkah kakinya semakin lemah yang ia takutkan terjadi juga saat ini.


"Cepat kesini duduk dan jelaskan apa maksud kakakmu" bentak Ibu Susan syok mendengar tiba tiba saja Nita secepat itu menikah. "Jelaskan sama Ibu Nita!" ucap Susan sekali lagi. Ibu Susan memang mengizinkan mereka untuk pacaran namun ia tidak suka jika sudah di luar batas ia juga akan marah besar.


Juan melihat Nita yang ketakutan tidak tega jika ia dibentak seperti itu. "Maaf bu, biarkan aku menjelaskan semua apa yang dimaksud dari perkataan Nila!" Juan segera mengambil alih untuk menjawab pertanyaan Ibu Susan karena Nita tak kunjung membuka suara.


Ibu Susan menoleh kehadapan Juan dengan wajah tak pecaya. Juan memberanikan untuk berdiri menghampiri Ibu Susan ia membungkuk dan meraih tangan Susan lalu ia jongkok dihadapa Ibu Susan dan mencium punggung tangan. "Sebenarnya ini ada apa, apa yang telah terjadi tolong di jelaskan jangan buat Ibu bingung?" ucap Ibu Susan mengerutkan keningnya melihat Juan seperti itu di hadapannya.


Juan menarik nafasnya mempersiapkan diri untuk berbicara. "Maafkan kami berdua bu, kami terjebak namun ini cuma salah paham, untuk menebus kesalahanku aku siap bertanggung jawab menikahi Nita dan melanjutkan kuliahnya!" jelas Juan yang masih tertunduk memegang kedua tangan bu Susan.


"Oh Tuhan, apa benar itu Nita!" ucap bu Susan terbata bata, ia menoleh kearah Nita untuk meminta perjelasan.


"Aku minta maaf bu, tapi sungguh kami belum berbuat apa apa ini semua cuman salah paham" suara Nita melemah seraya meneteskan kembali air matanya.


"Aku mohon restui pernikahan kami bu?" ucap Juan menyahut kembali. Bu Susan mulai gelisah matanya berkaca kaca ia meraih tangan Juan dan mengangkat agar Juan kembali duduk dikursinya. "Berdiri nak Juan, Ibu tidak tau harus ngomong apa lagi dengan kalian. Untuk apa aku marah semua telah terjadi, dengan hati yang tenang Ibu merestui kalian!" ucap bu Susan menangis, ia sedih karena ini harus terjadi pada Nita, dan ia merasa terharu dengan ketulusan Juan bertanggung jawab.


DEG!!!


Jantung Nita semakin kencang berdetak benar benar ia merasa sesak nafasnya terhenti ia tidak percaya jika ibunya akan menyetujui ini semua. "Ibuuu!" ucap Nita menoleh kearah ibunya dengan air mata yang berlinang tak berhenti.


Juan merasa lega dengan jawaban bu Susan begitu pun Hengky dan Zahra mereka merasa lega sebenarnya ini tak mudah mengambil hati orang tua Nita namun mungkin karena ketulusan Juan hatinya luluh.

__ADS_1


__ADS_2