KETIKA RINDU BERBALUT DOA

KETIKA RINDU BERBALUT DOA
Episode 10 - Serpihan Rindu


__ADS_3

Kini Asma langsung dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan yang baik dari pihak rumah sakit. Ihsan dan Asyam ikut mendampingi kedua orang tua Asma. Asma masih terbaring lemah dengan selang infus dan selang pernafasan. Dan menurut keterangan dokter kondisinya memang lemah namun tidak dikarenakan sebuah penyakit. Hanya saja kurang mengkonsumsi vitamin dan kurangnya mengistirahatkan tubuh. Asyam dan Ihsan bergantian berjaga pada siang hari , karena bunda Zulfah pulang untuk menyiapkan makanan berbuka untuk dibawa ke Rumah Sakit.


Asyam kembali masuk setelah dirinya selesai melaksanakan sholat subuh di musholah yang tak jauh dari kamar rawat Asma.


“san, sholat dulu. Biar aku yang jaga.” Ucap Asyam sambil menurunkan lipatan baju di lengannya.


“baik. Nanti kalau sadar segera panggil dokter yaa .” Pesan Ihsan.


“baik, insya allah.” Sahut Asyam.


Asyam duduk dikursi samping tempat tidur Asma, kursi yang sejak tadi diduduki oleh Ihsan. Asyam kembali memandangi wajah gadis pujaan hatinya yang sedang tertidur dalam lelah dan lemahnya. Dan Ia pun tersadar atas atas suatu hal yang tak pantas dilakukannya.


“Astaghfirullahal’adziim..”


“yaa Allah, maafkan hambamu ini. Jika memang dia yang telah Kau kirim sebagai teman dalam hidupku, Bidadari dalam istanaku dan Ibu bagi anak-anakku. Maka permudahlah dan satukan kami dalam ikatan suci pernikahan, aamiin.” Bisiknya dalam hati.


Asma mulai menggerakkan jarinya dan mengerutkan dahinya, matanya sedikit terbuka dan melihat sosok lelakinya yang duduk menantinya.


“asma ..” ucap Asyam.


“asma sadar , syam ?” ucap Ihsan yang baru saja masuk.


“Alhamdulillah. Aku panggil dokter dulu, syam.” Ucap Ihsan yang bergegas keluar mencari dokter.


Kedua orang tuanya kembali dihubungi oleh Ihsan yang mengabari keadaan Asma yang mulai sadarkan diri. Kini mereka menunggu dikamar bersama dokter yang sedang memeriksakan kondisi Asma.


“Alhamdulillah, membaik. Sore atau malam ini asma sudah boleh kembali ke rumah. Jangan lupa diminum obatnya dan mulai rutin untuk mengkonsumsi vitamin setiap hari yaa.” Jelas Dokter Irawati.


“Alhamdulillah, terima kasih dokter. Insya allah saya ikuti saran dokter untuk mulai mengkonsumsi vitamin.” Ucap Asma.


“saya akan urus obat-obatnya dan membeli vitaminnya, dokter.” Ucap Ayah Hasan.


“silahkan ke apotek untuk pengambilan obatnya , pak. Resepnya sudah saya serahkan di bagian apoteker.” Ucap Dokter.


“terimakasih, dokter.”  Ucap Ayah Hasan.


“kalau gitu saya pamit dulu.” Ucap Dokter Irawati.


Ayah, Bunda, Ihsan dan Asyam pun mendekati Asma yang sedang bersandar.


“Alhamdulillah , adiknya abang sudah membaik.” Ucap Ihsan.


“Alhamdulillah, bang.” Sahut Asma.


“jangan kecapean lagi ya, sayang.” Ucap Bunda Zulfah yang merangkul Asma.


“iya , bunda.” Sahut Asma.


“bang Asyam , Bang Ihsan, terimakasih ya sudah nungguin asma.” Ucap Asma.

__ADS_1


Asyam dan Ihsan hanya membalas dengan anggukan kepala dan senyuman.


Memasuki Ramadhan minggu terakhir, para Remaja disibukkan dengan pembagian zakat kepada masyarakat disekitar masjid. Dengan bantuan data yang diberikan oleh Pak RT , pembagian pun berjalan lancar dan cepat terselesaikan.


Tepat di hari ke-3 sebelum Idul Fitri, Asma dikejutkan dengan hati yang dipenuhi dengan perasaan rindu kepada seseorang. Gelisah tak mendapat kabar darinya, resah tak jumpai dirinya. Namun apadaya hati tetap menahan agar mulut tak berucap. Sebagaiman ia ingat pesan bang Ihsan yang telah dianggapnya sebagai seorang kaka olehnya.


“Bahwa cinta yang hadir dalam hatimu itu adalah titipan Tuhan , ketika Tuhan berkehendak mengambilnya cinta itu akan hilang. Maka ketika hatimu merasakan rindu pada seseorang jangan cepat-cepat berkata rindu. Berdoalah dan minta keyakinan atas rindu dan cinta yang hadir membalut hatimu. Sesungguhnya Allah Maha Tahu tentang apa yang dilahirkan (diucapkan) atau pun yang tidak dilahirkan (dirahasiakan).” Jelasnya.


Tiba suatu malam ia terbangun seperti biasanya, namun apa yang diingatnya. Sebuah ponsel yang ditaruh dimeja, berharap sebuah pesan singkat masuk kedalam inboxnya. Sudah beberapa hari ini, Asyam tak mengirim pesan padanya.


“kenapa aku jadi memikirkannya.” Bisik Asma dalam hatinya.


Nafasnya menghela, mencoba memejamkan mata sejenak untuk menenangkan. Tubuhnya pun bangkit dan melangkah menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Dalam sujud malamnya disebutnya nama yang kini menghiasi hatinya, Asyam.


Pagi ini Asma melangkah menuju Masjid untuk melaksanakan Dhuha. Setelahnya Asma melanjutkan menuju ruang sekretariat dan duduk di sofa untuk membaca Al-Qur’an. Kebetulan pagi ini hanya ada dirinya diruangan itu. Hingga akhirnya seorang lelaki yang sedang berjalan dihalaman masjid tersadar akan terbukanya pintu


sekretariat remaja. Kakinya pun melangkah menaiki tangga dan mengucap salam kepada seseorang yang berada didalam.


“assalamu’alaikum..”


“wa’alaikumussalam. Bang ihsan ? ada apa bang ?” Tanya Asma yang sedikit kaget dengan kehadiran Ihsan.


“ngga ada apa-apa. Cuma tadi aku mau dhuha dimasjid, tapi aku lihat pintu ini terbuka jadi mampir dulu kesini.” Jelasnya.


“mmmh .. beberapa malam ini abang suka kepikiran Asma.” Ucap Ihsan.


“maksud abang ?” Tanyanya sambil menoleh dan menutup Al-Qur’annya.


“bang , asma makin ga ngerti sama apa yang abang ucapin.” Ucap Asma.


“jujur! Apa ada seseorang yang membuat mu kagum dan merasakan sesuatu yang berbeda ? apa ada seseorang yang membuat mu gelisah ? apa ada seseorang yang sedang kamu rindukan ?” Tanya Bang Ihsan yang membuat Asma tertunduk seakan malu dan terkejut mendengar pertannyaan Ihsan.


“asma biasa aja ko’ bang.” Sahut Asma.


“asma mau jujur sama abang atau …..”


“asma pamit ya bang, assalamu’alaikum.” Selak Asma yang memutus ucapan Ihsan dan langsung keluar ruangan menuruni tangga.


Wajahnya terlihat cemas dan putaran bola matanya seperti orang yang kebingungan. Asma sendiri tak tau harus berkata apa untuk menjawab pertanyaan Ihsan yang berkenaan tentang perasaannya saat ini. Entah dengan cara apa dia bisa mengetahui tentang hal yang bersifat pribadi dan rahasia itu.


Langkah kakinya semakin cepat untuk sampai dirumahnya. Dengan mengucap salam, Ia membuka pintu dan langsung berlari menaiki tangga menuju kamar dan berdiam diri didalamnya. Tak ingin nafsu hati menguasai dirinya, ia pun berwudhu dan kembali mambaca Al-Qur’an sambil bersandar di atas kasur untuk menenangkan kegelisahan yang sedang menghampirinya.


...*Alladzii na aamanuu watathmainnu quluubuhum bidzikrillah , alaa bidzikrillahi tathmainnul quluub...


...“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tentram*.”...


...QS. Ar Ra’d (13) : 28....


Asma kembali memikirkan percakapan tadi bersama Ihsan “abang kaya ngerasain sesuatu , seperti merasakan kegelisahan asma dan rasa sedih. “jujur ! Apa ada seseorang yang membuat mu kagum dan merasakan sesuatu yang berbeda ? apa ada seseorang yang membuat mu gelisah tiap kali seseorang itu menghilang ?”.

__ADS_1


Entah keajaiban atau kehendak Tuhan. Sampai-sampai Ihsan dapat tahu apa yang dirasakannya. Semakin menjadi – jadi pertanyaan yang muncul dalam hati Asma. Ia pun menaruh Qur’an yang digenggamnya dan keluar kamar untuk menuju dapur. Kembali Ia menuruni tangga dan menundukkan tubuhnya untuk mengintip seseorang yang berada di dapur. Ditemui Ibunya yang sedang sibuk memotong sayuran dan memasak untuk menyambut hari Raya , esok hari.


“biar asma bantu , bun.” Ucapnya sambil memegang pisau yang sedang dipegang oleh Bunda.


“yasudah, bunda mau siapkan bumbunya dulu.” Ucap Bunda.


“ngga kerasa ya , bunda. Nanti malam kita sudah takbiran dan besok lebaran.” Ucap Asma kepada Bundanya yang berada di seberangnya sambil memegang cabai ditangannya.


“Asma mohon maaf ya bunda, kalau asma selalu merepotkan dan belum bisa menjadi anak yang baik buat bunda.” Ucapnya.


“asma sudah menjadi anak yang baik buat bunda dan ayah. Asma seorang anak yang sholihah yang ayah dan bunda punya. Seorang anak yang akan mengangkat derajat kedua orang taunya di akhirat kelak, karena kecintaannya terhadap Al-Qur’an.” Ucap Bunda.


“aamiin ..” ucap Asma sambil meneteskan air mata dan menatap Bunda.


Asma pun berlari memeluk Bunda yang juga menatapnya dengan penuh kebanggaan.


“teruskan hafalanmu ya, nak. Jadi hafidzah seperti raina, sahabat kecilmu. Bunda akan merasa bangga dan bahagia.” Ucap Bunda.


“aamiin, bunda. Insya allah.” Sahut Asma yang semakin deras air matanya mengalir di pipi.


Tepat dimalam terakhir Ramadhan, setelah berbuka puasa, suara Takbir menggema saling bersautan. Hari Raya Idul Fitri akan berlangsung  esok hari. Asma dan teman-teman remajanya berkumpul dihalaman masjid, berbincang dan saling bermaaf- maafan. Kembali lagi, tak di temui Asyam dalam pertemuan malam ini. Ihsan begitu faham dengan raut wajah asma yang mencari dan terlihat murung.


“asyam tadi titip salam. Katanya: taqobballahu minna waminkum, shiyamana wa shiyamakum (semoga Allah menerima amalanku dan amalanmu, puasaku dan puasamu) dia juga mohon maaf atas kesalahan ataupun perbuatan yang sengaja ataupun tidak sengaja yang dilakukannya. Dia tidak bisa menghubungi satu persatu ataupun mengirim pesan digrup whatsapp, 2 hari lalu dia terkena musibah. Hp dan laptopnya dicuri.” Jelas Ihsan.


“innalillahi wainnailaihi rooji’un ..”


“ada saja ujian untuk bang asyam disaat seperti ini.” Ucap Syahrul.


“kita doakan saja supaya Allah memberi kesabaran dan melimpahkan rezekinya supaya bisa membeli handphone dan laptop lagi.” Ungkap Silvi.


“aamiin ..”


“bang asyam nya ga kenapa-kenapa kan bang ?” ucap Asma yang spontan bertanya seperti itu.


“Alhamdulillah asyam baik-baik saja, baru tadi pagi dia menghubungi ku dengan nomor adiknya.” Jawab Ihsan.


“terus sekarang asyam ada dimana ?” Tanya silvi.


“mudik ke kampung halamannya di klaten, jawa tengah, nemuin keluarganya disana. Insya allah nanti balik lagi ke Jakarta dengan ibu dan kedua adiknya. Dia juga sudah menyewa rumah di dekat rumahnya salwa. Persis disampingnya.” Jelas Ihsan.


“oh, iya iya .. memang kosong si. Alhamdulillah ternyata bang asyam yang nempatin.” Ucap Salwa dengan raut wajah yang bahagia.


Terungkap setelah pembicaraan itu, Salwa juga menyimpan perasaan pada Asyam. Ihsan-lah yang lebih menyadari hal itu. Dalam hal ini kalau saja salwa tau bahwa Asyam mencintai Asma , tentulah hatinya akan merasa sakit jika Ia sangat berharap kepada Asyam. Dan Asma tentunya tidak ingin melukai hati sahabatnya dan rela untuk mengorbankan demi kebahagiaan orang disekelilingnya.


1 syawal. Hari Raya Idul Fitri merupakan puncak dari pelaksanaan ibadah puasa. Idul Fitri adalah hari raya dimana umat islam kembali untuk berbuka atau makan. Oleh karena itu salah satu sunnah sebelum melaksanakan makan / minum sebelum melaksanakan sholat Idul Fitri.


...“*Allahu akbar .. Allahu akbar .. Allahu akbar .. laa ilaaha illallahu allahu akbar .. Allahu akbar walillaa*hil hamd .”...


Gema takbir masih terdengar, mengiringi langkah kaki para umat muslim untuk melangkah memenuhi masjid untuk bersama-sama bersujud di hari kemenangan ini.

__ADS_1


Asma, Bunda Zulfa, Ayah Hasan, Salwa , Pak Habibi dan Bu Rana , melangkah bersama menuju masjid. Begitu pula dengan keluarga Ust. Rehan beserta istri dan kedua anaknya, Ihsan dan Raina yang melangsungkan sholat di lapangan komplek perumahan di bogor. Setelah melaksanakan sholat berjama’ah semua saling bersalaman dan berjalan kembali kerumah masing-masing. Seperti yang biasa dilakukan adalah makan bersama dengan keluarga, berkumpul dan bersilaturrahim ke rumah-rumah tetangga.


Bersambung .....


__ADS_2