
Asma menepati janjinya untuk mengantar Ainun kembali kerumah. Dibawanya bingkisan sebagai buah tangan kunjungan pertama kali setelah sekian lama waktu memisahkan. Pak Renda dan Bu Wida menerima kehadiran Asma bersama putrinya dengan hangat. Dipersilahkannya Asma untuk masuk dan duduk di ruang tamu. Bu Wida banyak menyiapkan hidangan saat tahu kabar putrinya akan datang bersama dengan Asma. Gadis yang banyak menyebarkan manfaat kepada putrinya. Satu-satunya gadisnya yang diakui sebenar-benarnya teman bagi sang putri semata wayang.
“asma, tante mohon maaf ya kalau ainun ngerepotin kamu.” Ucap Bu Wida sambil merangkul sang putri.
“ngga apa-apa, tante. Asma malah bersyukur karena bisa bertemu lagi sama ainun dan akhirnya bisa sampai silaturrahim kerumah om dan tante.” Jelas Asma.
“asma, kau bilanginlah sama ini anak, supaya dia mau terima perjodohan yang sudah om siapkan. Om tidak main-main dengan laki-laki yang om carikan.” Jelas Pak Renda.
“om renda, baiknya kalau masalah jodoh, pernikahan, jangan dipaksakan. Karena kan yang menjalankan ainun dan pasangan. Kalau om renda meminta ainun untuk bertemu dan berkenalan atau saling mengenal, mungkin ainun masih bisa mempertimbangkan.” Jelas Asma.
“iya, om memang meminta untuk berkenalan.”
“bohong ! papa memang minta untuk berkenalan tapi niat papa untuk menjodohkan ainun kan.” Tegas Ainun.
Asma hanya tersenyum menatap Om Renda.
“hemm.. yasudah, papa minta kau berkenalan lah dengan teman papa itu. Selanjutkan kalian yang memutuskan.” Ucap Pak Renda.
“asma, kita makan dulu yuk. Tante sudah siapkan banyak makanan untuk kamu dan ainun.” Ucap Bu Wida.
“jadi mama masak hanya untuk ainun dan asma, tidak untuk papa.” Ucap Pak Renda.
“mulai lagi kan tingkahmu itu. Aku masak untuk yang ada dirumah ini.” Tegas Bu Wida sambil merangkul Asma dan Ainun menuju ruang makan.
“lupakan sama suaminya kalau sudah bertemu dengan anakmu itu.” Teriak Pak Renda dari ruang tamu.
Asma hanya tertawa kecil melihat tingkah Om Renda dan Bu Wida.
Sungguh keluarga ini sangat lucu, hangat dan sangat bersahabat. Sesungguhnya banyak kebahagiaan yang tersimpan didalamnya. Asalkan kita dapat memerankan peran masing-masing dengan baik. (Catatan Asma)
Pada saat yang bersamaan, Ustadz Rehan dan Ustadzah Asyha mengunjungi kediaman Ustadz Hasan. Demi meluruskan kesalahpahaman dan mempercepat penyelesaian masalah yang dialami putra-putrinya. Suasana masih menyenangkan sebelum Asma datang bergabung.
Ustadzah Zulfah menyambut dengan bahagia seperti biasanya, ditambah pula dengan pembahasan persiapan pernikahan putra-putri mereka. Ada sedikit rasa sedih dihati untuk mengundur acara pernikahan dikarenakan kondisi Ihsan yang masih lemah dirumah sakit dan tidak memungkinkan untuk melangsungkan pernikahan. Banyak keputusan yang sulit diambil, banyak rencana-rencana lain yang masih
dalam kebimbangan. Namun semua harus tetap dipersiapkan demi kelancaran acara besar nan sakral itu.
Dengan penuh tergesah Asyam melangkahkan kaki untuk berkunjung kesuatu tempat. Saat keluar gang rumahnya, Asyam hampir saja menabrak seorang gadis dari sisi kirinya. Asyam pun melangkah mundur dan menaiki tali tasnya yang sedikit menurun.
__ADS_1
“astaghfirullahal’adzim .. “ ucap Asyam yang membuat gadis muslimah ini mengangkat pandangannya.
“bang asyam .. “
“asma .. ! assalamu’alaikum ..” Ucap Asyam.
“wa’alaikumussalam.” Sahut Asma.
“asma mau kemana ?” Tanya Asyam.
“saya mau pulang, bang asyam.“ Jawabnya.
“oh. Mmh, ada yang ingin saya bicarakan.” Ucap Asyam.
“maaf bang, tapi asma lagi buru-buru. Sudah ada yang menunggu dirumah.” Balasnya.
“oh , yaudah kalau gitu. Mungkin lain waktu. Sebenarnya abang juga sedang ada urusan. Assalamu’alaikum.” Ucap Asyam yang langsung meninggalkan Asma.
“wa’alaikumussalam.” Jawabnya.
“asma sedang ada urusan ?” Tanya Ustadz Rehan.
“tidak, abi. Asma hanya habis mengantar teman asma pulang sekaligus bersilaturrahmi dengan keluarganya.” Jelas Asma.
“bagaimana persiapan dengan Ihsan, ada masalah kah ?” Tanya Ustadz Rehan yang membuat Asma bingung manjawabnya.
Asma terdiam, memainkan bola matanya memandangi sesisi meja. Bingung harus menjawab seperti apa atau harus menceritakan mulai dari mana.
“apa ada kendala, asma ?” Tanya Ustadzah Asyha.
“tidak, ummi. Hanya saja, asma belum bertemu lagi dengan bang ihsan sejak hari itu. Bang ihsan juga belum berkunjung lagi.” Jelas Asma.
“jadi, karena itu. Bang ihsan belum mencoba baju pengantinnya karena ada urusan mendadak hari itu.” Lanjut Asma.
“mmhh… bagaimana kalau besok, asma ikut sama abi untuk bertemu dengan ihsan ?” Ucap Ustadz Rehan menawarkan.
“kalau asma mau, hari ini asma menginap bersama raina dirumah ummi. Besok kita bertemu bang ihsan.” Jelas Ustadzah Asyha.
__ADS_1
“bang ihsan tidak ada dirumah ?” Tanya Asma.
“asma, baiknya kamu temui ihsan besok ya, nak.” Ucap Bunda Zulfah.
“iya, tapi emang bang ihsan ada dimana ?” Tanya Asma.
“abi, asma tidak bersedia dan asma tidak mau menerima kejutan-kejutan lagi dari, abi. Jangan jadi sosok abi yang misterius, asma tidak mau menerima macam-macam perasaan setiap kali abi memberi tahu sesuatu.” Ucap Asma dengan gerakan tangan dan wajah yang mulai bingung, sedih dan kesal.
“kalau abi kasih tau dimana ihsan berada, apa kamu tetap bersedia ikut abi hari ini dan menemui ihsan besok ?” Tanya Ustadz Rehan.
Asma terdiam, sambil menarik nafas yang sangat terlihat dari gerak tubunya. Bunda Zulfah merangkulnya untuk menenangkan.
“lakukanlah, nak. Ini telah menjadi urusanmu. Kamu harus menyelesaikannya.” Ucap lembut Bunda Zulfah.
“iya, asma akan menemui bang ihsan.” Jawab Asma.
“saat ini, ihsan masih terbaring dirumah sakit, asma.” Ucap Ustadzah Asyha yang membuat Asma mengangkat pandangan dan menatapnya.
“rumah sakit ?”
“nak, saat hari itu. Ummi menemukan raina menangis di tangga, saat itu kamu sedang tertidur. Raina menerima telepon yang mengabarkan kalau ihsan mengalami kecelakaan.” Jelas Bunda Zulfah.
“kenapa bunda tidak kasih tahu asma ?”
“saat itu raina melarang bunda untuk kasih tahu kamu, mempertimbangkan kondisi kamu. Dan juga belum jelas kabar tentang keadaan ihsan. “ Lanjut Bunda Zulfah.
“asma, ayah berharap kamu tetap yakin dengan pernikahan ini bagaimana pun kondisi ihsan saat ini.” Ucap Ustadz Hasan.
Asma tak lagi dapat menahan air matanya yang menggenang.
“asma siap-siap dulu, bunda.” Ucap Asma yang langsung bangkit dan meninggalkan.
Isak tangis semakin menjadi saat tiba didalam kamar, sambil memandangi gaun pengantin yang berdiri sejajar. Pernikahan yang diimpikan, masalah dan musibah yang datang silih berganti, satu persatu datang menguji persiapan pernikahannya.
Setiap hal memiliki pasangan untuk berdampingan. Bukan hanya bahagia selalu yang terus aku rasa, tapi juga sedih akan datang menyapa. Sama juga dengan tawa dan tangis air mata, setiap orang pasti memilikinya dan pernah merasakannya. Dan setiap orang sudah punya porsinya masing-masing untuk dirasa. Aku hanya harus babngkit dan kembali menyapa rasa-rasa yang telah Tuhan siapkan untuk aku rasa selanjutnya.
Bersambung .....
__ADS_1