
Salwa, Nadia, Asyam dan Ihsan melihat lokasi kebakaran. Untuk meninjau seberapa parah dan apa saja yang akan dibutuhkan kedepannya. Ada beberapa rumah warga yang terbakar habis ada juga yang terbakar sebagian, ada juga rumah santri yang ikut terlahap api.
"kita akan menggalang dana ?" Tanya Nadia.
"pasti. Kalian juga nanti bantu juga ya dari orang-orang terdekat dan juga teman-teman kalian." Jelas Ihsan.
"oke." Ucap Salwa.
"kudengar ibumu sempat pingsan ?" Tanya Ihsan.
"iya. Alhamdulillah sudah membaik." Jawab Asyam sambil melangkah bersama Ihsan.
"kamu tidak mengungsi semalam ?" Tanya Ihsan.
"ah, itu.. Kebetulan saat bu'e pingsan, liya bertemu dengan asma. Jadi saya sekeluarga menginap disana." Jelas Asyam.
"bang asyam nginep dirumah asma... Jadi semalam dia ngga ada dirumah." Salwa.
"yasudah, kita balik ke masjid dan bagi tugas disana." Ucap Ihsan.
"mhh.. kalian sudah pada sarapan belum ?" Tanya Salwa.
"kalau boleh, aku mau nyiapin sarapan dirumah untuk kalian." Ucap Salwa.
Nadia dan Ihsan saling memandang.
"boleh." Ucap Ihsan.
"yuk." Ajak Nadia.
Sesampainya dirumah, Salwa mempersilahkan teman-temannya untuk duduk dan menunggu di meja makan.
"nad, telepon syahrul dan zidan saja suruh kesini. Biar mereka sarapan dulu." Ucap Salwa sambil mengambil gelas.
Syahrul dan Zidan berjalan menuju rumah Salwa dengan hati yang senang.
"sarapan, rul.. lumayan." Canda Zidan sambil mengelus perutnya.
"alhamdulillah ada rejeki di pagi hari." Balas Syahrul.
"betul... gratis pula..." Lanjut Zidan.
Syahrul hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala melihat tingkah laku sahabatnya.
"cah ayuuu.. bu'e mau pulang saja ya, ndak enak kalau lama-lama disini." Ucap Bu Nurlela yang duduk diatas kasur.
__ADS_1
"ngga apa-apa, bu. Asma senang bisa membantu. Biar nanti liya dan bang asyam lihat kondisi dirumah dulu dan dibersihkan supaya bu'e nyaman." Jelas Asma yang setengah berdiri dihadapan Bu Nurlela sambil memegang tangannya.
"ya allah, ndo.. ndo.. kalau saja bu'e punya menantu seperti kamu, bu'e bersyukur dan senang sekali." Ungkap Bu Nurlela.
"semoga bang asyam dipertemukan dengan wanita terbaik pilihan Allah ya, bu." Ucap Asma dengan senyuman.
Liya yang melihat pemandangan sang ibu yang begitu penuh harap kepada Asma hanya bisa tersenyum. Berharap Bu'e bisa mendapatkan dan menerima seseorang pilihan sang kakak kelak.
Asyam dan Ihsan masih berada dirumah Salwa. Kini piring-piring telah mendapat pemiliknya, Syahrul dan Zidan juga telah sampai dan bergabung.
"alhamdulillah, terima kasih loh salwa sarapannya." Ucap Zidan sambil menyantap nasi goreng buatan Salwa.
"sama-sama." Sahutnya.
"buat sendiri ?" Tanyanya lagi.
"iya, tadi kepikiran saja buat bagi-bagi. Ini aku sisain kalau nanti ada temen-temen yang liat lokasi, eh beneran tadi pagi ada bang ihsan sama bang asyam sama nadia juga." Jelas Salwa.
"enak. Udah cocok.. cocok.. jadi istri." Ucap Zidan sambil mengacungkan jempol.
Salwa tersenyum menanggapi ucapan Zidan. Tatapan matanya mulai berpindah pada lelaki yang berada disebelah Ihsan, Asyam. Sambil menyuap nasi, Asyam mengangkat pandangannya tertuju kepada Salwa. Keduanya saling memandang dan Asyam lebih dulu menarik pandangannya.
"aamiin.. semoga setelah asma, salwa menyusul kepelaminan." Ucap Ihsan.
"aamiin.."
Entah jodoh seperti apa yang akan dipertemukannya. Dan bagaimana jalan cinta akan terajut menjadi kisah untuk dirinya. Semoga tak ada lagi luka untuk hati yang masih butuh penjaga.
Setelah selesai sarapan, Ihsan dan yang lainnya kembali ke masjid untuk melanjutkan tugas hari ini. Mereka bertemu dengan Asma yang juga ingin memasuki halaman masjid.
"masya allah, sudah pada kumpul ? habis darimana ?" Tanya Asma.
"abis numpang sarapan nih dirumah salwa." Jawab Nadia.
"Alhamdulillah."
"yuk kita kumpul diruangan sekretariat." Ucap Ihsan.
Asyam berjalan setelah teman-temannya memimpin.
"bang.."
"ya.."
"bu'e masih dirumah saya. Bu'e tadi minta pulang, tapi saya larang. Nanti kalau ada waktu luang, mungkin abang bisa cek kondisi rumah supaya nyaman untuk ditempati bu'e. Paling tidak sudah bersih dari abu dan asap kebakaran." Jelas Asma.
__ADS_1
"iya, tadi sudah saya cek. Nanti tinggal saya bersihkan atau nanti saya suruh liya." Balas Asyam.
"apa yang mereka bicarakan ya ? kenapa harus selalu asma yang lebih unggul dariku ? kenapa juga dia selalu dekat dengan bang asyam. Padahal dia tau aku menaruh hati pada bang asyam." Bisik Salwa yang memperhatikan keduanya dari kejauhan.
"hey.. ayo, masuk." Ucap Nadia kepada Salwa.
"iya.."
Farhan kembali bertugas diruangannya. Lagi-lagi ada kotak hadiah untuk dirinya. Rasa kesal dihatinya mulai muncul, wajahnya ceria berubah menjadi muram. Dibukanya kotak berukuran sedang dihadapannya. Kotak indah berwarna biru muda dengan hiasan pita biru tua yang menambah kecantikannya.
Didalamnya berisikan obat-obatan untuk luka bakar dan satu kotak kecil berisikan dessert red velvet dan sebotol susu putih. Juga secarik kertas kecil bertuliskan -Semoga lekas sembuh, semoga sesuatu yang manis membuat harimu lebih indah- . Farhan memanggil perawat keruangannya.
"iya dokter." Ucap Suster saat memasuki ruangan Farhan.
"kamu lagi yang terima kotak ini ?" Tanya Farhan.
"ngga, dokter. Saya... sama sekali ngga terima apa-apa dari pagi." Jawab Suster.
"yasudah, ini bawa buat kamu saja." Ucap Farhan sambil memberikan.
"terima kasih, dokter." Ucap Suster, meninggalkan.
Farhan menghubungi Xena untuk menanyakan perihal kotak biru yang ada dimejanya.
-via telepon-
Xena : Farhan ? tumben kamu telpon aku. Kamu suka sama hadiah yang aku kirim ?
Farhan : Ternyata benar kamu ya ? saya udah peringatkan kamu untuk kesekian kalinya. Jangan ganggu hubungan saya dengan asma. Saya sudah beristri jadi tolong jaga sikap kamu.
Xena : apa yang salah sih, farhan ? aku kan teman kamu.
Farhan : saya tau niat kamu xena. Jadi tolong jangan lagi kamu kirim-kirim sesuatu keruangan saya. Ngerti !
Farhan langsung menutup telponnya dan mengusap wajahnya sambil menarik nafas.
Asma dan teman-teman perempuan membagikan makanan untuk para pengungsi. Ihsan dan teman laki-laki berada di gudang untuk menyiapkan sembako yang nanti akan dibagikan.
Ada beberapa yang kembali kerumah dan ada yang masi tetap mengungsi karena kehilangan rumah dan barang-barang.
Sesungguhnya Allah tidak akan menguji diluar batas kemampuan hambaNya. Entah untuk membuat mereka bersabar atau untuk mengambil pelajaran dari setiap kejadian. Bahwa harta hanyalah titipan. Mungkin saja harta yang hilang disebabkan karena milik orang lain yang tetap kamu simpan. Dan keluarga adalah harta yang dinikmati dengan waktu luang. Jika saja kesibukanmu membuatmu lupa, maka datangnya musibah adalah tanda untuk mengingatkan.
.
.
__ADS_1
.
...-Bersambung-...