KETIKA RINDU BERBALUT DOA

KETIKA RINDU BERBALUT DOA
Episode 78 - Semoga...


__ADS_3

Asma merapihkan diri dicermin toilet dan mencuci tangannya. Sesekali ia menatap dirinya didalam cermin. Ada seseorang yang datang menempati wastafel disebelahnya. Mencuci tangan dan menggunakan lipstik sambil bercermin. Asma menoleh sambil tersenyum dan kembali memandangi tangannya yang basah karena kucuran air. Namun sejenak, ia berfikir atas apa yang dilihat disebelahnya. Wajah yang nampak tak asing dimatanya. Sekali lagi ia beranikan diri untuk menatapnya. Benar, dia adalah gadis yang dikenalnya. Nampaknya tak hanya Asma yang punya perasaan yang sama, gadis yang ada disebelahnya pun menatapnya.


"kirei.. " Bisik Asma, halus.


"asma.." Ucap Kirei yang langsung memeluk Asma dengan tangisan.


"Ya Allah, aku bersyukur, aku seneng banget bisa ketemu kamu lagi." Ucap Kirei.


"gimana keadaan kamu ?" Tanya Kirei melepas pelukan dan menghapus air matanya.


"alhamdulillah aku baik." Jawabnya.


"bagaimana denganmu ?" Tanya Asma.


"aku, baik." Jawbanya.


"Aku selalu bertanya gimana keadaan kamu. Karena aku ngga sempat menemui kamu sebelum aku pergi. Aku juga dengar kamu koma. Aku hanya bisa berharap aku bisa ketemu kamu lagi." Jelasnya yang begitu bahagia saat bertemu dengan Asma kembali.


"doa dan harapan kamu dikabulkan. Dan keinginanku untuk bertemu kamu juga Allah kabulkan." Ucap Asma.


Sementara itu, para santri dan pengajar lainnya sedang bersenang-senang bermain dengan tim outbound. Keseruan yang kelak akan menjadi kenangan untuk diceritakan. Cerita yang menjadi pengalaman indah dimasa remaja, masa muda yang indah. Bermain bersama teman-teman, ikut berorganisasi, semangat dalam belajar, sebuah pengalaman yang kelak akan dirindukan, semua akan terbingkai indah dan hanya akan menjadi kerinduan.


Farhan yang berniat ikut untuk menjaga Asma, juga ikut bermain bersama Ihsan dan pengajar lainnya. Berbaur dan berkenalan dengan santri-santri lainnya, ikut dalam keseruan bersama. Hari-hari yang sesekali membuatnya tegang di tempat kerja, kini ia rasakan berbeda. Begitu ringan dan menyenangkan. Seperti kembali ke masa anak-anak, bermain bersama teman-teman tanpa beban.


Syahrul yang juga ikut bermain tak lupa dengan tugasnya untuk mengabadikan moment bahagia dalam acara.


Asma melanjutkan perbincangannya dengan Kirei dimeja pelanggan. Sambil berfikir menyusun kata yang pas untuk sampai kepada tujuannya.


"jadi kamu sudah kembali ke indonesia ?" Tanya Asma.


"bukan untuk menetap. Aku sedang tugas, ada wisatawan yang datang ke indonesia." Jelas Kirei.


"kamu jadi tour guide di jepang ?" Tanya Asma.


"yes."


"masya allah."


"kire.. sebenarnya.." Asma.


"kire.." Ucap seorang lelaki yang menghampiri kirei.


Tangannya yang menyentuh bahu kirei saat menyapa, membuat Asma salah faham dan takut atas prasangka buruknya.


"Asma. Sepertinya aku harus pergi." Ucap Kirei.


Laki-laki yang terlihat cukup akrab dan sangat dekat dengan kirei. Dalam dirinya, Asma merasa khawatir kalau Kirei sedang menjalin hubungan dengan lelaki itu.


"emh.. kirei. Boleh aku minta kontak yang bisa dihubungi ?" Tanya Asma.

__ADS_1


"ah, ya.. boleh. Sebentar." Kirei membuka tas ranselnya dan merogoh kedalamnya.


"ini kartu nama aku." Ucap Kirei.


"maaf ya, asma. Aku harus pergi. Sampai ketemu lagi." Ucap Kirei berlari sambil menggenggam lengan lelaki itu yang beralaskan kemeja hitam.


"Ya Allah, semoga masih ada kesempatan untuk bang ihsan memperjuangkan cintanya." Asma.


Asma menatap kepergian Kirei sambil terus memegang kartu namanya. Lamunannya pecah saat seorang lelaki menepuk bahunya dan memanggil namanya dengan lembut.


"asma."


Asma menoleh, terkejut.


"kamu ngapain ngelamun sendirian ?" Tanya Farhan dengan tubuh yang basah.


Rambut, wajah, baju dan celananya basah karena keseruannya bermain bersama teman-teman dan para santri.


"itu kartu nama siapa ? kamu habis bertemu seseorang?" Tanya Farhan.


"kamu nanyanya satu-satu dong, mas." Ucap Asma sambil tersenyum.


"kamu ikut main sampai basah-basahan begini ?" Tanya Asma.


"iya, seru." Ucap Farhan bahagia.


"makasih, ya sayang. Karena kamu aku jadi punya pengalaman baru." Ucap Farhan sambil memeluk tubuhnya kedinginan.


Setelah selesai mengurus Farhan. Asma kembali kepada teman-temannya untuk menyiapkan hal lainnya. Baru terlihat Nadia yang ada dimeja sambil menyusun gelas-gelas plastik.


"ada yang bisa aku bantu ?" Tanya Asma dengan senyuman sambil ikut menata gelas.


"aku tuang air teh nya ya." Ucap Nadia mengambil teko berisikan teh.


"kamu ngga ikut main ?" Tanya Asma.


"ikut. Hanya dipinggiran, mantau sambil bantu syahrul dokumentasi." Jelas Nadia.


"ayo, yang sudah bersih. Minum teh nya dulu, biar hangat." Ucap Asma kepada para santri yang sudah berganti pakaian.


"pelan-pelan ya, panas." Ucap Nadia dan Asma sambil memberikan teh kepada santri yang mendekat.


"kakak, aku mau teh nya dong." Ucap Farhan dari belakang Asma sambil menyandarkan kepada dibahu Asma.


"aduuh.. dokter farhan jangan bikin iri dong." Ucap Nadia.


"nanti kalau sudah saatnya juga bisa kaya gitu ko." Ucap Syahrul yang datang mengambil teh dan langsung pergi lagi.


Nadia terdiam, malu. Suaranya, kata-katanya, membuatnya berdebar. Bibir yang berusaha ditahan untuk tetap diam, tetap saja merekah menjadi senyuman. Asma yang melihatnya ikut bahagia, Farhan yang masih dibelakang Asma, memeluk dan mendaratkan kecupan dipipi.

__ADS_1


"aku tunggu ditenda, ya." Ucap Farhan mengambil segelas teh.


"nad.. " Sapa Asma.


"hem ?" Sahut Nadia yang sejak tadi berusaha fokus mengisi gelas-gelas kosong.


"sudah." Ucap Asma menghentikan sambil memegang tangan Nadia.


"jangan terlalu banyak, nanti dingin. Biar nanti mereka yang tuang sendiri kalau kurang." Ucap Asma.


"haaaaiii.." Teriak Salwa dengan ceria.


"wah.. wah.. Paling enak nih yang anget-anget." Ucap Asyam.


"Bang asyam, melihat bang ihsan ?" Tanya Asma.


"mungkin ditenda. Tadi sih dikamar mandi ngga ada." Jawabnya.


"Kalau minum tuh, duduk." Ucap Salwa menyindir Asyam saat ingin meneguk teh yang dipegang.


Salwa merapihkan gelas yang berisikan teh tanpa memperhatikan Asyam saat menyindirnya. Asyam tersenyum dan langsung duduk beralaskan sandal.


"sudah, bu guru." Sahutnya.


"nah, nih buat zidan." Ucap Asma sambil memberika teh kepada Zidan.


"lhoo syahrul mau lagi ?" Tanya Asma yang menemukan Syahrul bersama dengan Zidan.


"mau." Sahutnya.


"nih." Ucap Asma sambil memberikan teh.


"bukan teh. Cuma mau.. ngeliat ajah." Ucap Syahrul sambil melirik.


"syahrul.. syahrul.. hahaa.." Tawa Salwa.


"lebih baik dijelaskan, rul. Supaya ndak membuat salah faham." Ucap Asyam.


"kalau perlu dipercepat. Biar ngga keduluan orang." Ledek Asyam.


"kaya sendirinya ngga bikin orang salah faham saja." Gumam Salwa.


"tuh, dengar." Ledek Nadia kepada Asyam.


"haha.."


"menunda-nunda, ngga baik. Cepat-cepat dan tergesah-gesah juga ndak baik, bang. Jadi yang pas saja. Akan ada waktu yang tepat. Kalau ada orang yang lebih dulu, bukan berarti keduluan. Tapi memang bukan jalannya, bukan jodohnya." Jelas Syahrul.


"Tapi semua juga butuh diperjuangkan. Lebih baik dibicarakan dan mendapat kesepakatan bersama. Bertemu dengan orang yang berhak atasnya, tentunya." Lanjut Asma.

__ADS_1


"Aku permisi, ke toilet dulu." Ucap Nadia, malu.


"yah, ko kabur. hahaha.." Ucap Zidan.


__ADS_2