
Sinar matahari kembali menyapa untuk membuka hari. Sejak kejadiaan dua hari lalu, Farhan tak mengizinkan Asma untuk beraktifitas diluar. Kondisi Asma baru membaik sejak hari itu dan memutuskan untuk melakukan pemeriksaan kerumah sakit tempatnya bekerja.
"tidak ada gejala penyakit khusus yang diderita isteri dokter farhan. Saya sarankan untuk mengunjungi dokter kandungan untuk pemeriksaan lebih lanjut." Jelas Dokter yang bekerja pada hari itu.
"baik, kalau begitu saya coba keruang dokter sheryl untuk pemeriksaan, dok. Terima kasih." Ucap Farhan.
Asma mengikuti arahan dari suami untuk menemui dokter kandungan hari itu. Detak jantung semakin tak menentu, kadang tenang, kadang kencang. Perasaan saat itu tak bisa digambarkan, ada rasa takut juga senang. Mungkinkah telah tiba saatnya, amanah itu sampai kepadanya.
"Selamat ya, dokter farhan. Istri dokter sedang mengandung." Ucap Dokter Sherly.
"allahuakbar..." Ucap Farhan.
"alhamdulillah." Ucap Asma dengan mata yang berkaca-kaca.
"saya hamil, dok ? berapa usia kandungannya ?" Tanya Asma.
"dari pemeriksaan, kandungan ibu asma sudah memasuki 10 minggu." Jawabnya.
"masya allah." Ucap Asma yang masih tak menyangka mendapat kabar bahagia.
"dari yang saya lihat, kondisi ibu asma lemah. Jadi saya sarankan untuk mengurangi aktifitas diluar rumah dan juga pekerjaan berat didalam rumah. Perbanyak istirhat untuk awal usia kehamilan, makan-makanan sehat dan bervitamin." Jelas Dokter Sherly.
"tuh, sudah dengar ya. Ngga boleh capek-capek, harus banyak istirahat." Ucap Farhan kepada Asma.
"iya, mas." Sahut Asma dengan senyuman.
"kalau gitu saya buatkan resep vitaminnya ya dan jadwal kontrol selanjutnya." Jelas Dokter Sherly.
"baik, dok." Sahut Asma.
Tak menyerah, Ainun masih mencari Asma hingga ke masjid. Tak hanya untuk keperluannya dengan Asma namun juga punya maksud lain dibaliknya. Matanya menyapu sekeliling untuk mencari para remaja yang dikenalnya. Dilihatnya seorang lelaki memasuki halaman masjid dengan ransel dipunggungnya. Ia pun berdiri untuk menyapa.
"syahrul." Sapanya.
"kamu ngapain disini ?" Tanya Syahrul.
"aku ada perlu sama asma." Jawabnya gugup.
"sudah janjian ?" Tanya Syahrul.
"mhh.. belum sih." Jawabnya.
"lain kali kalau mau ketemu asma janjian dulu. Dia ngga setiap hari ada dsini." Jelasnya.
"yaudah, kalau gitu aku janjian sama kamu ajah yang setiap hari ada disini." Balasnya.
"tolong jaga ucapanmu, ya." Ucap Syahrul yang langsung meninggalkan.
Namun Ainun melayangkan tangannya untuk menangkap lengan syahrul dan menggenggamnya.
"astaghfirullah. Ainun ! Lepas !" Tegasnya.
Nadia yang sedang asik memperhatikan jam nya, terkejut melihat pemandangan dihadapannya. Matanya mengarah kepada tangan Ainun yang menggenggam lengan Syahrul yang beralaskan jaket berwarna hitam.
"ainun, lepas." Bisiknya.
"jadi dia perempuan yang kamu maksud ?" Tanya Ainun.
"Aataghfirullah, ainun. Lepaskan." Teriak Nadia sambil menghampiri.
Ainun melepaskan perlahan sambil tersenyum.
"Hai." Sapa Ainun melambaikan tangan kepada Nadia.
"Nad, kamu urus dia. Dia datang mencari Asma. Aku mau sholat dulu." Jelas Syahrul yang langsung berbalik pergi.
__ADS_1
"bukannya kamu bilang aku harus janjian dulu untuk bertemu asma ?" Ucapnya menahan Syahrul melanjutkan langkahnya.
"kalau begitu, bukankah sudah jelas, keberadaanku sekarang ingin bertemu dengan siapa ?" Lanjut Ainun.
"Nad, aku tarik kata-kataku tadi. Sebaiknya kamu tinggalkan saja. Aku mau sholat." Ucap Syahrul yang membelakangi mereka.
"assalamu'alaikum." Ucap Nadia kepada Ainun.
Dengan rasa kesal dihatinya, Nadia masuk keruangan dan duduk bersandar disofa. Segelas air mineral sepertinya dapat meredakan amarahnya. Ia tekan tombol untuk mengeluarkan air dari guci berwarna biru muda. Syahrul langsung mendatangi Nadia diruangan seusai sholat Ashar.
tok.. tok.. tok..
"masuk.. " Perintahnya.
"baru kamu yang datang ?" Tanya Syahrul, mengurungkan niatnya untuk masuk kedalam.
"ya.."
"masuk saja, buka pintunya jangan ditutup." Jelas Nadia.
"ya.. " Balas Syahrul dan membuka pintunya lebar-lebar.
Syahrul meletakkan tasnya di sofa, berjauhan dari tempat Nadia duduk.
"baru pulang ?" Tanya Nadia.
"iya." Jawabnya sambil duduk.
"mau minum ?" Tanya Nadia.
"boleh." Jawab Syahrul.
Nadia bangun dan mengambilkan segelas air untuk Syahrul.
"ngga pulang dulu kerumah ?" Tanya Nadia.
"nih.." Ucap Nadia meletakkan gelas dihadapan Syahrul.
Nadia menuju meja Asma dan duduk dihadapan komputer untuk mengerjakan sesuatu.
"maaf untuk kejadian tadi." Ucap Syahrul yang tak berani menatap kearah Nadia.
"ngga apa-apa." Jawabnya.
"dia ada perlu apa sama asma ?" Tanya Nadia.
"aku juga kurang tau. Tapi coba nanti kamu sampaikan ke asma kalau dia mencarinya. Mungkin asma bisa cerita ke kamu." Jawab Syahrul.
"aku belum dengar kabarnya lagi, sejak dia pingsan." Ucapnya.
"nanti sekalian kamu tanya saja." Ucap Syahrul yang bangkit mendekat kepada Nadia.
"tolong print-in absensi para santri." Ucapnya sambil memberikan flashdisk.
Baru kali ini Nadia dapat menatap Syahrul sedekat ini. Matanya tak berkedip menatapnya.
"assalamu'alaikum.. " Tariak Salwa yang memecah keheningan diantara keduanya.
Salwa menarik nafas sebelum mengeluarkan mantranya.
"ciee lagi ngapain tuh ? aku ganggu yaa.. aku ganggu yaa.. yaah pasti udah ngga seru lagi deh." Ucap Salwa.
"file yang mana yang mau diprint ?" Tanya Nadia yang langsung mengambil flashdisk dan mencoloknya ke komputer.
"di folder yang itu." Ucap Syahrul.
__ADS_1
"langsung pura-pura fokus deh." Ledek Salwa sambil menyimpan tas dilokernya.
"eh, nad. Aku ketemu temannya asma yang waktu itu loh. Dia ngapain ya sering kesini ?" Tanya Salwa.
"masih ada ?" Tanya Syahrul.
Salwa menganggukkan kepalanya. Syahrul menatap Nadia, menantikan jawaban.
"biarin saja. Kamu ngga usah temuin dia." Ucap Nadia.
"ciee cemburu cieee.. " Ledek Salwa.
"kamu sudah jenguk asma ?" Tanya Nadia.
"belum."
"ada kabar dari asma ?" Tanya Nadia.
"belum juga."
"wah sudah ramai nih." Ucap Zidan yang tiba-tiba masuk.
"iya nih, sepertinya kamu telat." Ledek Salwa.
"keduluan kalian nih." Balas Zidan.
"kamu ketinggalan adegan menggemaskan deh." Lanjut Salwa.
"wah.. apa tuh ? kasih tau dong." Pinta Zidan.
"zidan ?" Panggil Nadia.
"yaah.. " Ucap Salwa.
"asma ngabarin kamu ?" Tanya Nadia.
"oh, iya. Tadi dokter farhan telfon, asma izin satu minggu sampai kondisinya membaik." Jelas Zidan.
"satu minggu ?" Tanya Ihsan yang baru datang dan mendengar ucapan Zidan.
"iya. Katanya.. "
"ih, buru jangan bikin orang penasaran." Ucap Salwa.
"apa seserius itu penyakitnya ?" Tanya Ihsan.
"bukan penyakit. Tapi... kita akan punya keponakan dari asma." Ucap Zidan, bahagia.
"asma hamil ?" Tanya Nadia.
"hah ? asma hamil ?" Tanya Asyam yang datang bersama Liya.
"mba asma hamil ?" Tanya Liya.
"iya, alhamdulillah. Hari ini asma dan dokter farhan melakukan pemeriksaan dan kondisi asma baik-baik saja. Ternyata pingsan kemarin itu, mungkin karena dia kecapekan. Makanya dokter farhan minta izin untuk lihat kondisi asma kedepannya." Jelas Zidan.
"kalau ada yang diperlukan atau mengenai tugas, asma masih bisa mengerjakannya dirumah. Kita bisa kirim pesan atau melalui email." Lanjut Zidan.
"alhamdulillah." Ucap Nadia.
Kabar bahagia yang tak hanya dirasa untuk Asma namun juga keluarga dan orang-orang disekelilingnya. Gadis cantik yang selalu menjadi perbincangan kini tetap menjadi permata ditengah masyarakat yang menyayanginya, meski saat ini telah menjadi milik orang lain.
.
.
__ADS_1
.
......~Bersambung~......