
"kamu yakin mau pulang ?" Tanya Mama Fara.
"iya, lain kali aku main lagi kesini, tante. Kayanya farhan juga lagi sibuk." Jelas Xena.
"maaf ya, kamu repot-repot dateng jadi cuma bantuin tante." Ucap Mama Fara.
"ngga apa-apa tante, salam ya buat farhan." Ucap Xena yang langsung melangkah menuju mobilnya.
"hati-hati ya..." Teriak Mama Fara.
Farhan melihat mobil Xena menuju gerbang untuk keluar.
"sedekat itu ya kamu dengan dia ?" Tanya Asma.
"dia satu-satunya sahabat perempuanku. Memang dia sering datang kerumah dan lebih banyak menghabiskan waktu dengan mama. Aku ngga sedekat itu." Jelasnya.
"kapan-kapan aku kenalkan dengan sahabatku, namanya nathan." Ucap Farhan.
"apa yang ingin kamu minta ?" Tanya Farhan.
"mmh... nanti saja." Jawab Asma.
"jangan sungkan, katakan.. Aku ini suamimu, aku berhak tau apa keinginan istriku agar aku dapat mengabulkannya. Jika aku mampu." Jelasnya dengan senyuman.
Lagi-lagi sikap Farhan membuat jantung berdetak lebih cepat.
"nanti akan aku sampaikan." Balas Asma dengan senyuman.
"boleh kamu tunjukkan seisi kamar kamu ?" Tanya Asma.
"dengan sangat." Jawab Farhan dengan senyuman dan mempersilahkan Asma masuk.
Farhan memperlihatkan isi kamar kepada Asma dan menjelaskan letak-letak barang penyimpanannya. Kemeja, jas, dasi, jam tangan, ikat pinggang dan semua miliknya yang akan biasa digunakan sehari-hari. Dengan senang Farhan menunjukkan dan berhasil membuat Asma tersenyum.
"kamu ngga perlu ngapa-ngapain disini, asma. Cukup jadi istri yang baik untukku dan menyayangi kedua orang tuaku." Ucapnya sambil menutup laci jam tangan dan berhadapan dengan Asma.
"hari ini kamu kerja ?" Tanya Asma.
"saya libur hari ini, karena kamu ingin kesini." Jawabnya.
"tapi saya... mmhh.. yasudah nanti saya izin untuk ngga mengajar hari ini." Ucap Asma.
"jangan..." Larang Farhan.
"saya ikut temani kamu mengajar. Boleh ?" Tanya Farhan.
Asma terdiam sejenak dan menganggukan kepala menyetujui permintaan Farhan.
__ADS_1
Makan siang bersama untuk penyambutan kedatangan Asma dilaksanakan meski tanpa kehadiran Papa Hanif yang sedang bekerja. Mama Fara dengan wajah senangnya makan dengan lahap sambil tersenyum memandangi Asma. Anak perempuan yang diinginkannya telah tiba.
Mama Fara sangat ingin memiliki anak perempuan yang dapat menemaninya, yang bisa diajaknya berbincang, memasak bersama, berbelanja dan jalan-jalan bersama. Saat pertama kali Farhan mengajak Nathan dan Xena berkunjung kerumah, untuk pertemuan yang kesekian kali barulah Mama Fara dapat menerima kehadiran Xena.
Berbeda dengan Asma yang dirindukan saat Asma belum berkunjung kerumahnya. Karena pertemuan pertama Mama Fara dengan Asma adalah saat Farhan mengucap janji suci pernikahan ketika Asma dalam keadaan koma. Entah mengapa ada rasa nyaman dari keteduhan wajahnya. Meski belum sempat bertukar kata, sosok Asma dirindukan kehadirannya dirumah megah milik Papa Hanif.
Setelah makan siang, Mama Fara, Farhan dan Asma duduk bersama di saung di pinggir kolam renang. Mama mengupas jeruk dan dibagi menjadi dua bagian untuk Asma.
"kamu tau asma, farhan itu anak yang manja." Ledek Mama Fara.
"maah.. mulai." Sahut Farhan yang bersandar sambil memejamkan mata.
"makan jeruk ajah, dia ngga mau kalau ngga di kupasin, dibersihin." Jelas Mama Fara sambil memberikan setengah bagian kepada Asma.
"kamu suapin untuk dia ya." Pinta Mama Fara yang membuat Asma terkejut.
"kenapa ?" Tanya Mama Fara.
Farhan membuka matanya sedikit dan tersenyum.
"ngga apa-apa, ma." Sahut Asma sambil membersihkan jeruk.
Farhan terbangun dan mendekat kepada Asma sambil menunjukkan mulutnya yang terbuka dan mengisyaratan dengan tangan untuk memasukkannya. Mama Fara hanya tersenyum dengan kelakuannya. Asma hanya bisa tersenyum malu dan mengikuti alur cerita siang itu.
"enak, mah." Ucap Farhan sambil mengunyah jeruk dari tangan Asma.
"asma, mama harap kamu bisa menerima farhan menjadi bagian dari hidup kamu begitupun dengan mama. Jangan merasa canggung atau menganggap mama seperti orang lain, mama juga orang tua kamu dan mama akan sayang sama kamu seperti mama menyayangi farhan." Jelas Mama Fara dengan senyuman.
"makasih ya, ma. Asma merasa bersyukur karena Allah selalu pertemukan asma dengan orang-orang yang menyayangi asma." Balas Asma.
"asma akan belajar untuk menerima kehadiran mas farhan dalam kehidupan asma." Lanjutnya.
Tiba waktu sore, Asma bersiap-siap lebih awal untuk mengajar. Dirapihkannya kain panjang yang menutupi kepalanya. Khimar merah yang menambah semangat dalam dirinya, cerah yang memancarkan kecantikannya. Farhan baru saja keluar dari kamar mandi dengan baju koko lengan panjang dan juga peci dikepalanya.
"asma.. gimana penampilanku ?" Tanyanya dengan senang.
Asma menoleh dan memperhatikan, lalu tersenyum hingga tertawa kecil.
"kenapa ? pecinya miring yaa ? atau bajunya ngga cocok buat aku ?" Tanya Farhan.
"ternyata kamu seaktif itu ya, mas." Batin Asma sambil tersenyum dan melangkah menuju lemari.
Farhan melangkah mendekat dan menggantikan Asma didepan cermin.
"lengkapi dengan ini ya.." Ucap Asma sambil memberikan celana panjang kepada Farhan.
Farhan langsung memperhatikan dihadapan cermin. Wajahnya terlihat malu dan langsung berlari ke kamar mandi. Asma hanya tersenyum sambil duduk diatas kasur dan menunggu sang suami siap dengan pakaiannya.
__ADS_1
Asma melakukan perjalanan diawal waktu karena harus menempuh jarak yang cukup jauh. Farhan mengemudi dengan perasaan yang senang, untuk pertama kalinya dapat menemani sang istri mengajar. Melihat kegiatannya di Taman Pengajian yang didirikannya bersama dengan para remaja.
Sesampainya dihalaman masjid, aula masih tampak kosong. Asma memutuskan mengajak Farhan untuk menunggu disekretariat bersama dengannya. Asma banyak bercerita tentang ruang kecil yang menjadi saksi setiap kegelisahan dihati para remaja. Rasa takut saat mengadakan acara, rasa bimbang dalam mengambil keputusan, bahkan tentang galaunya percintaan pun ruangan ini menjadi saksi sedih, sakit, kesal dan amarah.
"Kamu minum dulu." Ucap Asma memberikan segelas air mineral dilengkapi dengan sedotan.
"kamu mau makan ? kayanya bubur ayam enak." Ucap Farhan.
"bilang saja kamu pengen kan." Ledek Asma yang membuat Farhan tersenyum.
Asma pun memesankan dua mangkuk bubur ayam dan minta diantarkan ke ruangan. Mereka menikmati makan bersama untuk pertama kalianya, hanya berdua.
"assalamu'alaikum." Ucap seorang perempuan yang datang.
"wa'alaikumussalam."
"aduuhh.. maaf yaa, mengganggu." Ucap Nadia.
"ngga ko, nad. Kamu udah makan ? mau sekalian pesen ngga, mumpung masi sepi." Ucap Asma.
"ngga asma, makasih. Bubur ayam pemberian zidan kemarin masih terasa. Hahaha..." Ledek Nadia.
"mas, kenalin ini temanku namanya nadia." Ucap Asma.
"salam kenal mas dokter." Ucap Nadia yang membuat Farhan tersedak dan tersenyum.
"panggil saja farhan." Ucap Farhan.
"mas farhan atau dokter farhan nih ?" Ledeknya.
"terserah, asal jangan mas sayang. Nanti istri saya marah." Balas Farhan.
Nadia tertawa dan Asma tersenyum melirik Farhan dengan tajam. Nadia ikut merasa bahagia melihat sosok lelaki yang sepertinya akan tulus menyayangi Asma. Sebagai seorang sahabat, Nadia juga berharap Asma akan dapat segera menerima dan membuka hati untuk dokter Farhan.
"assalamu'alaikum..."
"masya allah... dokter tampan disini..." Ucap seorang gadis yang datang setelah Nadia.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...