
Setelah penolakan Asyam kepada Salwa, mereka belum bertemu kembali. Salwa yang lebih banyak menghabiskan waktu didalam kamar dan keluar untuk bermain dengan teman yang lain. Tak seperti dulu yang selalu muncul dikediaman Asyam dan bermain dengan si kecil, Nuha. Saat hati bekerja untuk mendapatkan yang diinginkan, saat itu pula kerjanya akan berhenti karena penolakan.
Salwa berusaha menyibukkan diri hingga dia mampu untuk berhadapan dengan Asyam ditempat mengajar. Pukul 3 sore, Salwa menuju sekretariat untuk sekedar merapihkan barang-barang dan ruangan.
...Ditempat ini, pertama kali aku melihatmu dan rasa mulai tumbuh tanpa kusadari.....
...tempat dimana aku bisa melihatmu dengan puas .....
...melihat setiap gerak, senyum dan tawamu, saat itu .....
...tempat yang membuatku jatuh cinta padamu .....
...kalau aku boleh memilih, aku ingin menjadi seperti mereka yang melihatmu dengan biasa tanpa ada rasa.....
...bersikap sebebasnya tanpa ada beban yang menekan.....
...kalau aku bisa seperti mereka, jarak takkan tercipta diantara kita.....
...-salwa kanisa ajiba-...
Salwa melanjutkan laporannya didepan komputer, setelah mengelap meja dan merapihkan buku. Tiba-tiba seorang perempuan masuk memberi salam. Dengan wajah yang bahagia, ia datang menyambut Salwa.
"masya allah.. akhirnya kelihatan juga." Ucap Nadia yang bersalaman dan memeluk Salwa.
"apa kabar ?" Tanya Nadia.
"alhamdulillah, baik." Jawabnya, kembali duduk dan menatap layar.
"aku dengar, bang ihsan sudah kembali ya ?" Tanya Salwa.
"iya. Alhamdulillah, aku bersyukur kita bisa kumpul seperti biasa. Tapi disisi lain, aku juga sedih melihat asma dan bang ihsan." Jelas Nadia sambil menyiapkan keperluan mengajar.
"bang ihsan belum tau kalau asma sudah menikah ?" Tanya Salwa.
"sepertinya. Aku ingin memberitahu juga tidak berhak, kecuali kalau dia bertannya. Itu pun aku juga pasti ngga sanggup menjawabnya." Jelas Nadia.
"aku tuh berusaha menghindari bang ihsan, supaya dia ngga banyak tanya sama aku. Aku bingung, sal." Ucap Nadia sambil duduk disofa.
"assalamu'alaikum." Ucap seorang perempuan yang datang.
"wa'alaikumussalam."
"ya allah, kaget aku." Ucap Nadia.
"kenapa ? kalian lagi ngapain emang sampe kaget gitu sama kedatangan aku." Ucap Asma yang duduk dan menaruh oleh-oleh dimeja.
"tu nadia takut ketemu bang ihsan, takut ditanya-tanya katanya." Jawab Salwa.
"jangan jujur-jujur banget kenapa sih." Ucap Nadia yang membuat Asma dan Salwa tersenyum.
__ADS_1
"aku bawa kue buat kalian, ayo dicobain." Ucap Asma sambil membuka tiga box brownis dengan rasa yang berbeda.
"Assalamu'alaikum" Ucap tiga orang pemuda yang menyusul setelah Asma.
"wa'alaikumussalam."
"wah, makan-makan nih." Ucap Zidan.
"ayo sini cobain, zidan, bang asyam, syahrul." Ucap Asma.
"mantab nih, isi stamina dulu sebelum ngajar." Ucap Syahrul.
Salwa menatap Asyam yang tak sedikitmu melihat kearahnya. Rasa dihatinya mulai tak terkendali. Rasa semakin ingin memiliki dan sesak karena tak dapat memiliki.
"salwa, sini ikutan." Ucap Nadia.
Salwa tersenyum dan mendekat.
"masya allah, lagi ada pesta nih." Ucap Ihsan yang datang bersamaan dengan Liya.
Asma menoleh dan tanpa sengaja menatapnya dengan lama. Sebelum ia sadar dan menyerahkan kursinya kepada Liya.
"duduk, liya. Bang ihsan, silahkan." Ucap Asma menawarkan.
Asma berjalan menuju loker untuk menaruh tas dan menyiapkan peralatan mengajarnya. Ihsan melangkah menuju meja yang berdekatan dengan loker para pengajar.
"alhamdulillah, seperti yang abang lihat." Jawabnya.
Teman-teman yang sedang berkumpul mulai memperhatikan dan saling menyenggol.
"kamu ngga berubah ya, tetap sama seperti dulu." Ucap Ihsan dengan senyuman.
Asma tetap fokus membereskan keperluannya.
"nanti berikan saya laporan dan tugas yang sudah kamu kerjakan ya. Terima kasih, sudah membantu tugas abang." Jelasnya.
"sudah menjadi tugas asma sebagai wakil saat ketua sedang tidak ada, bukan ? untuk apa berterima kasih ?" Ucapnya sambil menutup pintu loker.
"aku duluan ya kebawah." Ucap Asma kepada pengajar yang lain.
Asma berusaha mengatur hatinya, mengolah perasaannya agar tak meluap seperti saat pertama. Asma hanya ingin merasakan ketenangan saat mengajar seperti dulu. Bermain dengan ceria bersama adik-adik yang ingin belajar bersamanya.
Asma memulai halaqohnya lebih dulu, mengumpulkan santri remaja yang menjadi kelompoknya. Jam mengajar dimulai, hari ini Asma menjadwalkan tahsin untuk santrinya. Membenarkan bacaan Al Qur'an dan menambah sedikit hafalan dikelompoknya.
Tak lama, pengajar yang lain memasuki aula bersamaan dan memulai lingkarannya masing-masing. Nadia bersama dengan Liya, Salwa, Syahrul, Zidan, Ihsan dan Asyam yang berusaha memberikan pelajaran terbaik kepada para santri.
Hingga adzan maghrib berkumandang, Asma memilih untuk menunggu diruang sekretariat sambil menyiapkan laporan yang diminta Ihsan. Liya yang juga sedang berhalangan, menghampiri Asma untuk menemani.
"mba, boleh liya masuk ?" Tanya Liya.
__ADS_1
"iya, silahkan." Jawabnya mempersilahkan.
"mba asma lagi apa ?" Tanya Liya.
"lagi mau nyiapin laporan untuk bang ihsan." Jawabnya dengan senyuman yang menyejukkan seperti biasa.
"boleh liya bantu, mba. Kalau ada yang bisa dibantu." Ucapnya.
"ngga usah, mba sudah siapkan semua ko, tinggal dirapihkan saja." Balasnya.
"mba.."
"ya.."
"liya pengen banget punya kaka seperti mba asma." Ungkap Liya.
Asma mengarahkan pandangannya kepada Liya dan menggeser kursi yang didudukinya agar jelas menghadap Liya. Layar komputer yang masih, menyala ditinggalkannya.
"mba kan sudah menjadi kaka kamu, disini kita semua bersaudara. Kamu boleh menganggap saya sebagai kakamu." Jelas Asma.
"bukan itu yang liya maksud, mba. Mba pasti juga tau mas asyam pernah menyukai, mba. Mungkin juga masih sampai saat ini. Saat pertama kali liya bertemu dengan mba, liya yang sebagai perempuan saja sangat mengagumi, mba. Apalagi laki-laki. Kehadiran mba diantara orang-orang itu selalu membawa ketenangan. Senyuman, cara bicara, sikap, hampir semua mba asma miliki." Jelas Liya.
"kalau saja saat itu mas asyam tau, pasti mas asyam yang akan mengisi kekosongan itu." Lanjutnya.
"liya, saya sama seperti kamu. Saya hanya manusia yang tak luput dari kesalahan. Dan untuk masalah jodoh, Allah Yang Maha Tahu atas segala sesuatu. Dia yang lebih tahu yang terbaik untuk kita. Jangan menyesali takdir-Nya." Jelas Asma.
"saya dan bang asyam pun tetap nyaman berteman seperti biasa. Kamu ingin dekat dengan mba sebagai kaka pun, silahkan." Ucap Asma.
"iya, mba. Maafkan liya, liya hanya terbawa perasaan." Ucap Liya.
"mba selesaikan tugas dulu, nanti kita bicara lagi." Ucap Asma.
Ihsan bersama teman yang lainnya datang selepas shalat berjama'ah. Asma telah siap dengan berkas-berkas yang dipeluknya.
"asma taruh di meja ya, bang untuk laporannya." Ucap Asma sambil meletakkan berkas dimeja Ihsan.
Asma langsung pergi meninggalkan.
"apa dia begitu hanya kepadaku ?" Tanya Ihsan.
"bang ihsan, coba untuk mengerti mungkin lebih baik. Asma juga butuh menyiapkan hati untuk berhadapan dengan bang ihsan setelah banyak hal yang terjadi." Jelas Nadia.
.
.
.
.... . . Bersambung . . ....
__ADS_1