KETIKA RINDU BERBALUT DOA

KETIKA RINDU BERBALUT DOA
Episode 52 - Beri Aku Waktu


__ADS_3

Papa Hanif, Ustadz Hasan berbincang diruang tamu. Asma menyiapkan minuman untuk kedua ayahnya sambil melepas rindu kepada sang ibu.


"bagaimana keadaanmu disana, sayang ?" Tanya Bunda Zulfah.


"alhamdulillah seperti yang bunda lihat, asma baik-baik saja. Asma masih bisa bertemu bunda dalam keadaan sehat." Jawab Asma.


"bagaimana dengan farhan ?" Tanya Bunda Zulfah.


"alhamdulillah mas farhan juga baik, sehat. Mama, Papa, semua dalam keadaan baik, bunda." Jelas Asma.


"alhamdulillah."


"bunda sendiri bagaimana ? bunda dan ayah sehat-sehat kan ?" Tanya Asma.


"alhamdulillah, bunda sama ayah juga dalam keadaan sehat." Jawab Bunda Zulfah.


"kenapa mama dan farhan ngga ikut ?" Tanya Bunda Zulfah.


"tadi lagi ada temannya mas farhan, jadi mereka ngga ikut. Papa tiba-tiba ada keperluan sama ayah jadi minta asma menemani." Jelas Asma.


Asma dan Bunda ikut menyimak pembicaraan Ustadz Hasan dan Papa Hanif.


"jadi bagaimana menurut kamu asma ?" Tanya Papa.


"pa, asma sangat setuju dengan rencana papa. Ini sangat bermanfaat untuk para santri dari mulai fasilitas dan juga pembelajarannya. Tapi asma harus tetap mendiskusikannya dulu sama teman-teman yang lain." Jelas Asma.


"baik, papa akan tunggu."


"hari ini asma akan bicarakan dengan bang ihsan selaku pimpinan TPA. Kalau dia setuju, asma akan beri gambaran sedikit kepada yang lain. Setelah itu kita adakan pertemuan resmi dengan ayah dan papa." Jelas Asma.


"oke, papa setuju. Kabari papa dan ayah ya." Ucap Papa Hanif.


Ustadz Hasan merangkul sang putri dengan wajah yang bahagia. Merasa bangga kepada putri semata wayangnya yang dapat menjadi diri yang bermanfaat bagi ummat. Bunda Zulfah pun ikut merangkul dan mencium Asma.


Papa Hanif yang melihatnya pun merasa bangga terhadap Asma yang kini menjadi menantunya. Merasa bangga sang anak memilih dan mendapatkan istri yang tak hanya cantik namun juga cerdas dan berperilaku baik.


Asma mengantar Papa Hanif kehalaman masjid untuk kembali melajukan mobilnya.


"papa mau pulang sekarang?" Tanya Asma.


"ya, keperluan papa kan sudah terpenuhi tinggal menunggu persetujuan kamu dan yang lain." Sahut Papa Hanif.

__ADS_1


"pa, asma berterima kasih banget sama papa. Papa sangat ingin memajukan dan mengembangkan taman pengajian ini. Adik-adik disini juga akan senang pastinya." Ucap Asma.


"Allah yang menuntun hati papa. Papa hanya perantara. Semua pasti karena kerja ikhlas dan doa dari kalian. Kalian orang-orang baik yang ingin mencerdaskan ummat, suatu saat Allah akan mempermudah setiap usaha kalian. Mungkin ini salah satunya." Jelas Papa Hanif.


Asma memeluk papa mertuanya untuk pertama kalinya, dengan rasa haru dan bahagia. Dari kejauhan Ihsan memandangi gadis yang dulu akan menjadi bagian dari hidupnya. Tiba-tiba saja Papa Hanif menunjuk kearahnya, seakan memberitahu pada Asma akan kehadirannya. Ihsan menghampiri keduanya.


"om." Ucap Ihsan sambil menyalami.


"bagaimana kabar mu, san ?" Tanya Papa Hanif.


"alhamdulillah jauh lebih baik." Jawabnya.


"ada yang ingin asma sampaikan. Baiknya kalian bicarakan sekarang." Ucap Papa Hanif.


"Papa pulang ya, sayang. Nanti malam farhan yang akan jemput." Pamit Papa Hanif.


Asma dan Ihsan menuju keruang sekretariat dan duduk dimeja kerja masing-masing. Asma membuka buku catatannya yang sejak tadi digunakan mencatat saat Papa Hanif menjelaskan bersama dengan sang ayah.


"jadi benar kamu sudah menikah dengan farhan?" Tanyanya sambil membuka buku tulis dan memegang pulpen.


Asma terdiam memandang kearahnya. Ihsan mulai mengangkat pandangannya saat tak terlontar jawaban dari mulut asma.


"kapan ? kenapa kamu tidak memberitahuku ?" Tanyanya lagi.


"untukku saat ini, kamu adalah yang terpenting, asma." Ucapnya yang membuat Asma terdiam dan memejamkan mata.


Asma mengatur nafasnya dan kekesalan dalam hatinya. Tak ingin terbakar oleh amarah dan juga tak ingin hanyut dalam kesedihannya. Baginya kenangan telah terkubur dalam, luka telah terbalut perban dan cinta telah tergantikan.


Bukan saatnya untuk Asma dan Ihsan lagi. Cinta yang dulu hendak diberikannya, dilepas dengan tega tanpa memikirkan hati dan perasaannya. Semua telah hancur saat terjatuh dan hanyut bersama air mata kesedihan.


Apa yang telah dikuburnya tak ingin digalinya, bahkan mengingatnya pun dapat menimbulkan sakit, seperti kembali pada waktu itu. Sakit yang utuh yang masih teringat dan terasa dengan jelas.


"sudah bukan masanya abang mengutamakan asma. Bukankah tidak pantas jika abang mengutamakan asma yang sudah berstatus sebagai istri orang lain ?" Balas Asma.


"asma akan bicara lagi dengan abang saat abang sudah bisa mengendalikan hati dan perasaan abang." Tegas Asma menutup buku dan meninggalkan.


"assalamu'alaikum."


"wa'alaikumussalam."


Ihsan mengepal tangannya menahan kekesalan dalam hatinya.

__ADS_1


"ya allah, apa aku telah salah dalam mengambil keputusan. Aku hanya ingin bersamanya seperti dulu, tapi mengapa sulit sekali mengendalikan perasaan dalam hatiku setiap kali melihatnya." Batinnya.


"Asma." Sapa Asyam saat menemui Asma berjalan masuk ke aula.


"bang asyam." Balasnya.


"ada yang ingin saya tanyakan, boleh minta waktu luangmu ?" Tanya Asyam.


"perihal apa ?" Asma balik bertanya.


"tentang pengajar di tpa." Jawab Asyam.


"boleh. Kita duduk didalam saja ya." Ucap Asma.


Asma dan Asyam duduk berhadapan di dalam aula.


"jadi saya mau meminta izin. Saat ini ainun, temanmu sedang belajar mengaji dengan saya. Dia meminta bergabung dengan kita untuk mengajar para santri. Menurut asma sebagai teman dan pemilik pengajian ini, bagaimana ?" Tanya Asyam.


"jika asma kembalikan pertanyaan itu kepada abang sebagai pengajarnya, bagaimana ?" Asma balik bertanya.


"menurutku untuk bacaan dan penguasaan materi awal, sudah lumayan. Jika dia ditempatkan untuk santri-santri kelas 1 sampai 3." Jelas Asyam.


"abang tau, meskipun anak kecil terbilang mudah dalam hal teori. Justru malah diusia awal adalah usia yang paling penting dalam penerima pembelajaran karena akan terbawa hingga dia besar." Jelas Asma.


"asma tidak bisa memberikannya kesembarang orang. Kelas awal itu akan dipegang oleh orang yang telah berpengalaman dan menguasai pengajaran anak." Lanjutnya.


"lagi pula, akan ada perubahan sistem mengajar kita nanti. Jadi untuk saat ini, asma belum bisa menerima orang baru untuk bergabung. Maaf ya bang asyam, tunggu sampai nanti semua rapih, kita akan tau apa yang kita butuhkan lagi." Jelas Asma.


"baik, nanti akan saya sampaikan kepada ainun." Balas Asyam.


Keluar dari Aula, Asma berpapasan dengan Nadia. Asma memintanya untuk memberitahu kepada pengajar lain untuk berkumpul malam ini guna membahas program yang akan diberikan oleh Papa Hanif dan sang ayah.


Usaha untuk mendiskusikan dengan Ihsan sebagai pimpinan tidak berjalan lancar. Demi tidak menunda terlalu lama, Asma mengambil keputusan untuk menyampaikan secara langsung kepada semua. Agar ada waktu untuk dipertimbangkan dan menerima segala usulan dari yang lainnya.


"kau memang wanita idaman, asma. Sungguh beruntung lelaki yang memilikimu. Aku pun merasa beruntung dapat menjadi temanmu." Ucap Asyam dalam hati sambil menatap kepergian Asma.


.


.


.

__ADS_1


.


...- Bersambung -...


__ADS_2