KETIKA RINDU BERBALUT DOA

KETIKA RINDU BERBALUT DOA
Episode 8 - Tentang Dia


__ADS_3

Malamnya ba’da tarawih para remaja berkumpul membuat halaqoh putra dan putri untuk mengadakan tadarus untuk menghatamkan Al-Qur’an selama Ramadhan. Secara bergantian halaman demi halaman dibacakan.


Ba’da tadarus, Asyam , Ihsan, Salwa, Nadia dan Asma berkumpul diteras masjid untuk sidikit berbincang , mengevaluasi sebagian acara Ramadhan yang telah terlaksana. Entah mengapa ada rasa yang berbeda yang dirasakan oleh Salwa, gadis yang terkenal dengan kecantikannya. Hatinya begitu bahagia, baginya hari ini adalah waktu terpanjang menghabiskan waktu bersama dengan orang yang dicintainya. Matanya puas memandang, sesekali melirik dan menatap dalam tundukan wajahnya. Jantungnya semakin berdegub kencang, hatinya begitu bahagia tak terkira, begitulah yang dirasakannya.


“asma , asyam ? setelah ini ada acara apa lagi ?” Tanya Ihsan kepada Asma dan Asyam selaku penyusun acara kegiatan Ramadhan.


“mmh .. insya allah lima hari lagi kita ada acara sahur bersama di Pesantren Al Karimah. Pukul Sepuluh  malam kita harus sudah sampai dipesantren. Untuk makanan sahur, nanti kita akan cari tempat catering yang murah namun tetap menyediakan makanan yang layak, mungkin nadia dan salwa bisa membantu mencari tempatnya.” Jelas Asma.


“insya allah, aku punya banyak recommend untuk catering.” Selak Salwa.


“nah Acara selanjutnya pukul dua kita bangun dan persiapan sholat malam. Pukul setengah 4, kita sahur bersama. Lalu sholat subuh setelah itu tadarus Qur’an dan kultum dari masing-masing mentor. Nanti untuk mentornya mungkin segera aku infokan, aku bicarakan dulu dengan bang asyam. Selesai acara kita akan bagikan cinderamata dan kita pulang pukul delapan pagi.” Jelas Asma.


“waah seru sekali mendengar agendanya. Jadi ngga sabar ingin melaksanakannya.” Ucap Silvi.


“iyah nih. Kalian berdua pintar sekali membuat susunan acara.” Ucap Nadia.


“lebih tepatnya, asma yang sepenuhnya memiliki ide-ide dari acara ramadhan ini.” ucap Asyam.


“haa , bang asyam ini suka merendah begitu.” Ucap Salwa.


“lhoo , bukannya saya merendah. Tapi memang ini ide-idenya asma, saya hanya menerima laporan perencanaannya. Dan saya rasa apa yang telah dibuatnya itu sangat bagus dan tidak ada yang perlu dikoreksi.” Jelas Asyam.


“yasudah , kalau begitu. Kita pulang kerumah untuk istirahat.” Ucap Ihsan.


“asma , aku menginap dirumah mu ya.” Ucap Raina.


“Alhamdulillah , boleh. Aku senang sekali bisa bermalam bersama sahabat masa kecilku. Sekaligus melepas rindu.” Sahut Asma.


“haduuu . . jadi terharu.” Ucap Silvi.


“ka silvi mau menginap juga ?” tanya Asma.


“ngga deh, ma. Lain kali saja. Kasian boneka-boneka ku di kost an tidak ada yang nemenin.” Canda SIlvi.


“hahaha ..”


    Malam semakin larut, semua telah terlelap dalam tidurnya. Malam ini, Raina menginap dirumah Asma, tangannya menggenggam tangan Asma sahabat masa kecilnya. Rasanya rindu lama telah terobati, semenjak Raina menempati rumah barunya bersama ayah dan ibunya, jarak seperti memisahkan. Namun tidak dengan hati yang selalu terikat oleh tali persahabatan dan persaudaraan.


Ihsan dan Asyam terbaring menatap langit –langit rumah petak yang ditempatinya. Mereka kembali lagi membahas tentang seorang gadis yang kini menjadi ratu dalam hati seorang pemuda, Asyam.


“apa bisa kita melanjutkan pembicaraan kita tadi pagi, san ?” Tanya Asyam, yang berbaring disebelah Ihsan.


“dia .. adalah gadis yang baik , lembut , periang, benar-benar penuh dengan ketulusan dan kedamaian. Diusianya yang sama dengan adikku dia masih memproses hafalannya di LTQ (Lembaga Tahfidzul Qur’an) yang kini hafalannya pada juz 20.” Jelas Ihsan.


“apa dia telah menghafal 20 juz ?” Tanya Asyam.


“lebih dari itu. Juz 28 sampai 30 telah dihafalnya.” Jawab Ihsan.


“7 juz lagi yang belum dihafalnya ?” Tanyanya lagi.

__ADS_1


“ya , perencanaannya 7 juz itu harus selesai dihafalnya tahun depan tepat di usia 23th.” Jelas Ihsan.


“masya allah .. aku merasa malu, aku hanya memiliki hafalan 5 juz, jauh dari apa yang telah dihafalnya.” Ucap Asyam.


“jangan terlalu difikirkan. Baiknya dijadikan motivasi untuk semangat menambah hafalanmu, syam.” Sahut Ihsan.


“mmh .. ihsan, seringkali aku mengirim pesan di grup whatsapp untuk mengingatkan sholat malam. Tapi, sampai saat ini belum juga aku mendapatkan balasan dari dia di grup itu. Apa dia tidak bangun disepertiga malam ? dan juga pesan pribadi ku hanya di baca ketika pagi.” Jelas Asyam.


“jangan berburuk sangka. Orang yang tidak membalas pesan mu ketika kamu mengingatkan sholat malam bukan berarti dia tidak bangun dan tidak sholat. Bisa jadi, dia merahasiakan setiap ibadah dan kebaikannya. Setahuku, asma bukan seorang yang terobsesi sekali dengan handphonenya. Dan setahuku, dia tidak pernah meninggalkan sholat malamnya kecuali dia sedang haid.” Balas Ihsan.


“astaghfirullah .. maafkan aku yang tanpa sengaja berburuk sangka pada hambaMu, yaa Allah.” Ucap Asyam.


“sudahlah , baiknya kita tidur. Sebelum bangun untuk tahajud dan sahur.” Ucap Ihsan.


Jarum jam menunjukkan pukul 3 dini hari. Asma dan Raina membantu Bunda Zulfah meyiapkan makan sahur. Raina membantu bunda menata gelas dan piring di meja makan. Sedangkan Asma membersihkan peralatan masak yang bekas terpakai.


“rai, kamu ngga menelfon abangmu untuk sahur bersama kita disini ?” Tanya Asma.


“tidaklah, ma. Kalau bang ihsan sahur bersama kita , kasihan bang asyam sahur sendirian.” Jelas Raina.


“kalau begitu ajak saja keduanya untuk sahur bersama.” Ucap Ayah Hasan yang sedang berjalan mendekat.


“tuuh , sudah dikasih izin sama ayah. Cepat dihubungi abangmu dan ajak temannya untuk sahur bersama.” Lanjut Bunda Zulfah.


“terimakasih, Abi.” Ucap Raina dengan senyum gembira.


Raina pun berjalan menuju kamar Asma untuk mengambil hand- phone yang berada di tasnya. Dia menghubungi Ihsan untuk diajak sahur bersama, tak lupa juga Ia memberitahu untuk mengajak teman sekamarnya untuk bertamu kerumah Asma untuk sahur bersama.


Raina               : assalamu’alaikum , bang ..


Ihsan               : wa’alaikumussalam, ada apa menelfon, adikkuuu .. ?


Raina               : abang nih, masih saja begitu. Aku ini sudah besar bang.


Ihsan               : yasudah. Rainaku yang sudah besar, ada apa menelfon abangmu ini ?


Raina               : abang dan bang asyam diajak sahur bersama oleh ustadz hasan dirumahnya. Cepat kemari ya, bang. Kami menunggu.


Ihsan               : baiklah, abang segera kesana.


Ihsan pun menyampaikan pesan adiknya untuk undangan sahur bersama dirumah Ustadz Hasan.


“malam ini kita diundang untuk sahur bersama dengan ustadz hasan dan keluarga. Sabaiknya kita cepat rapi-rapi karena mereka telah menunggu.” Jelas Ihsan.


Ihsan mulai mempersiapkan diri dengan berpakaian rapi, celana hitam panjang dan baju koko panjang berwarna putih. Sedangkan Asyam masih duduk terdiam dikasur, memperhatikan Ihsan  yang sedang bercermin.


“kenapa tidak menyiapkan diri ?” Tanya Ihsan.


“rasanya aku ragu. Dagdigdug , ingin bertemu dengan asma sekaligus kedua orang tuanya.” Jelas Asyam.

__ADS_1


“hayolah, jangan hiraukan perasaanmu itu. Nantinya malah kamu tidak ada keberanian untuk menemui keluarganya. Anggap saja ini sebagai pelatihan dan langkah awal untuk mengenal keluarganya. Supaya kalau nanti kamu benar-benar ingin mengkhitbahnya, tidak ada ketakutan ataupun kegelisahan dalam dirimu, syam.” Jelas Ihsan.


“bismillah .. baikalah kita kesana.” Ucap Asyam.


Sementara itu, Salwa melamun dimeja makan sambil memainkan nasinya. Fikirannya masih melayang menuju kenangan semalam. Saat dia duduk berlawanan dengan lelaki yang dicintainya.


“salwa .. kamu ini nasi ko dimainin begitu.” Ucap Bu Rana.


“eh .. mmh .. ngga ko , bu.” Sahutnya.


“dimakan nasinya, sebentar lagi imsak. Kita juga harus siap-siap untuk sholat dimasjid.” Jelas Pak Habibi, ayah Salwa.


“pak, kalau seandainya salwa menyukai seorang lelaki yang sholeh, baik tutur katanya, santun perilakunya , apa bapak bersedia melamarnya untuk salwa ?” tanya Salwa.


“memangnya siapa lelaki yang kamu sukai, nak ?” Tanya Bu Rana.


“seseorang yang baru saja bergabung di remaja masjid pada ramadhan ini.” jawab Salwa.


“Bapak harus tau dulu bagaimana pemuda itu. Nanti Bapa akan tanya sama ustadz ihsan tentang pemuda itu.” Ucap Pak Habibi.


“jangan, pak. Dia itu sahabatnya bang ihsan. Kalau bapa tanya sama dia, malulah salwa ini, pak.” Ucap Salwa.


“lhoo malah lebih bagus kalau dia sahabatnya ustadz ihsan, jadi pasti ustadz ihsan sangat mengenal baik lelaki itu.” Sahut Pak Habibi.


“sudah.. sudah .. lain waktu kita bahas lagi. Sekarang dilanjut makannya.” Ucap Bu Rana.


Kini Ihsan dan Asyam telah bergabung dimeja makan bersama Ustadz Hasan, Ustadzah Zulfah, Asma dan Raina. Asyam tertunduk malu dan tak sekalipun berani menatap Ustadz Hasan yang berada di sisi kirinya. Dan juga tak


berani menatap Ustadzah Zulfah yang berada dihadapannya.


“Alhamdulillah, semua sudah kumpul. Kalau gitu, kita makan sahur dan jangan lupa berdoa.” Ucap Ustadzah Zulfah.


Ditengah-tengah makan sahur, Ustadzah Zulfah membuka percakapan untuk mengenal sahabat Ihsan yang dikenalnya dengan panggilan , Asyam.


“nak asyam ini, asli mana ?” Tanya Ustadzah Zulfah.


“Saya asli klaten, jawa tengah, ustadzah.” Jawabnya dengan tetap menundukkan pandangannya.


“oh, orang jawa. Pantas saja halus tutur katanya. keluargamu disini, nak ?” Tanyanya lagi.


“ibu dan adik-adik saya masih di kampung halaman. Baru ada rencana setelah lebaran kami akan tinggal di Jakarta.” Jelasnya.


“waah, Alhamdulillah. Berarti dai muda kita bertambah. Semoga saja perjalanan dakwah kita semakin meluas dan semakin berkualitas.” Ucap Bunda Zulfah.


“aamiin.” Ucap Asyam.


Makan sahur di keluarga Ustadz Hasan Khuaseni telah selesai. Sambil menunggu adzan subuh, Ustadz Hasan mengarahkan istri dan anak-anaknya untuk berwudhu dan melakukan tilawah Qur’an diruang sholat.


“Alhamdulillah, sudah tiba waktu subuh. Kita hentikan sejenak tilawah qur’an kita. Kita bersiap untuk ke masjid.” Ucap Ustadz Hasan.

__ADS_1


Ustadz Hasan, Asyam dan juga Ihsan bergegas menuju masjid. Sedangkan, Ustadzah Zulfah, Asma dan Raina melaksanakan subuh berjama’ah diruang sholat.


Bersambung .....


__ADS_2