
Farhan tersenyum menatap wajah Ustadz Hasan dan Bunda Asma.
"Alhamdulillah, asma lebih baik dari sebelumnya. Keadaan jantungnya mulai stabil, tingkat kesadarannya juga mungkin mulai meningkat. Saya menyarankan agar bapak dan ibu melakukan terapi cerita kepada asma untuk meningkatkan kesadaran asma. sering-seringlah berbicara dan menceritakan suatu hal yang bahagia. Tentu bapak dan ibu lebih mengetahui hal-hal yang membahagiakan bagi asma." Jelas Farhan.
"alhamdulillah.. " Ucap Ustadz Hasan.
"hanya itu, dok yang harus kami lakukan ?" Tanya Bunda Zulfah.
"untuk sementara ini tambahan dari shalat dan do'a , hanya terapi cerita." Jawab Farhan dengan senyuman.
"alhamdulillah.." Ucap Bunda Zulfah dengan air mata yg menggenang.
"ayah, asma akan sadar." Ucap Bunda Zulfah memeluk Ustadz Hasan.
"iya, kita akan berusaha." Sahutnya.
"terima kasih. Kalau begitu kami pamit kembali keruangan." Ucap Ustadz Hasan.
"terima kasih, dokter farhan." Ucap Bunda Zulfah.
"sama-sama, pak, bu. Saya juga berharap untuk kesembuhan asma." Ucapnya.
Malam berlalu, cahaya mentari menyapa kembali dikeindahan pagi. Semua kembali bersiap beraktifitas seperti kemarin lagi. Seperti halnya gadis cantik satu ini, yang masih asik berhias diri di depan cermin. Merapihkan seragam kerja dan kerudung yang dikenakannya, layaknya pegawai bank pada umumnya. Hiasan wajah tak lupa dikenakan, blus on tersapu di pipi memberi warna cerah kemerahan.
"bu, pak." Sapa Salwa dimeja makan.
"sudah siap ?" Tanya Pak Habibi.
"sudah, pak." Jawab Salwa sambil menyantap Nasi putih telur mata sapi buatan sang ibu.
"mau bawa bekal roti lagi ?" Tanya Bu Rana.
"iya, bu. Seperti biasa saja." Jawab Salwa.
"yasudah ibu siapkan dulu ya." Ucap Bu Rana.
Liya dan Bu Nurlela sedang menyapu halaman rumah, ditemani Asyam yang sedang duduk sarapan di teras rumah.
"Liya, bu'e.." Sapa Salwa.
"eh mba salwa. Mau berangkat ?" Tanya Liya.
"iya." Jawab Salwa.
"bang asyam ngga kerja ?" Tanya Salwa.
"kerja, nanti agak siangan." Jawab Asyam.
"bu, asyam masuk dulu ya." Ucap Asyam sambil membawa secangkir teh dan sepiring gorengan yang tersisa.
__ADS_1
Salwa telah siap menggunakan helm dan duduk di belakang pak habibi.
"liya, bu'e saya berangkat dulu ya.." Ucap Salwa.
"iya, hati-hati."
"mari, bu." Ucap Pak Habibi.
Tidak ada yang tau pasti seperti apa jalan takdir bekerja pada tiap-tiap insan di bumi ini. Seperti saat ini, Kirei yang mengunjungi rumah Asma. Tak terlihat keramaian padahal acara pernikahannya akan berlangsung beberapa hari lagi. Pesan yang dikirimnya pun tak kunjung dapat balasan dari Asma. Rencananya bersilaturrahmi dan membawa buah tangan sekaligus kado pernikahan sepertinya tak tersampaikan.
Sudah tiga kali bel di dekat gerbang dibunyikan, namun tak juga mendapat jawaban. Tak ada satu pun orang rumah yang keluar untuk membukakan. Malah takdir lain yang datang bekerja diluar rencananya. Lelaki yang membuatnya jatuh cinta datang dan menyapa.
"Kirei..." Sapanya.
"eh, ka asyam." Balasnya canggung.
"assalamu'alaikum."
"wa'alaikumussalam." Balas Kirei.
"mau ketemu asma ?" Tanya Asyam sambil melepas helm dan turum dari motor.
"iya. Tapi dari tadi ngga ada jawaban dari dalam." Jawab Kirei, malu.
"ka asyam mau berangkat kerja ?" Tanya Kirei.
"iya." Jawab Asyam.
Hadiah pernikahan yang dipeluk Kirei sejak tadi terlepas begitu saja karena terkejut mendengar kabar tentang Asma. Langkahnya mundur hingga menyandarkan tubuhnya ke gerbang rumah Asma. Tangan Asyam yang tergerak untuk menangkap, terhenti mengingat batasan dengan seorang perempuan.
"astahgfirullah.. innalillahi wa innailaihi rooji'uun." Ucapnya dengan mata yang berlinang.
"kamu ngga apa-apa ?" Tanya Asyam.
Kirei hanya memanggutkan kepalanya.
"kalau kamu mau jenguk saya bisa antar. Atau kamu mau sendiri atau mengajak liya. Kemarin saya dan teman-teman remaja baru menjenguk asma di rumah sakit." Jelas Asyam.
"asma masi belum sadar ?" Tanya Kirei.
"belum. Tapi sempat membuka mata sebentar lalu kembali lagi." Jawab Asyam.
"yasudah, nanti aku hubungi kaka atau liya kalau ingin menjenguk. Kalau begitu saya pamit pulang." Ucap Kirei sambil mengambil hadiahnya yang terjatuh dan meninggalkan Asyam.
"assalamu'alaikum." Kirei.
"wa'alaikumussalam." Asyam.
Asyam kembali mengenakan helm dan mengendarai motornya menuju kantor.
__ADS_1
Seperti yang disarankan Dokter Farhan, Bunda Zulfah menemani Asma sambil menggenggam tangannya. Ditatapnya wajah cantik berkulit putih itu dengan senyuman. Kali ini hati harus dikuatkan demi memberi energi yang bahagia kepada sang putri. Bukan hanya cerita bahagia yang terlontar dari bibir, namun juga keselarasan perasaan yang di rasa oleh hati.
"assalamu'alaikum, putri cantik bunda yang sholihah. Hari ini seperti biasa bunda menyapa kamu, tapi ada yang berbeda untuk hari ini. Ada rasa yang bertambah di hati bunda untuk menyambut kesadaran kamu, sayang. Kalau sebelumnya bunda masih hanyut dalam kesedihan karena melihat kondisi kamu, mungkin itu kesalahan bunda. Mulai sekarang bunda akan selalu menyapa kamu dengan bahagia, karena bunda ingin kamu pun ikut bahagia." Ucap Bunda Zulfah.
Tok... tok... tok...
"permisi, ibu. Dokter farhan mau kontrol." Ucap seorang suster yang biasa mendampingi dokter Farhan.
"pagi, bu.." Sapa dokter Farhan.
"pagi, dokter." Balas Bunda Zulfah.
"wah sepertinya ibu terlihat lebih semangat dan bahagia dari sebelumnya." Ungkap dokter Farhan.
"saya hanya ingin menyalurkan energi yang baik kepada asma, seperti saran dokter demi kesembuhan asma. Semoga saja bisa lebih cepat asma segera sadar." Jelas Bunda Zulfah.
"saya cek kondisi asma dulu ya, bu." Izinnya.
"silahkan, dokter." Ucap Bunda Zulfah.
Dokter Farhan mengangkat stetoskop yang melingkar di lehernya dan memasukkan Earpieces pada lubang telinga. Tak lupa ia gunakan sarung tangan sebelumnya. Semenjak menangani dan menjadi dokter pengganti untuk merawat Asma, Farhan selalu menyediakan sarung tangan medis di saku jas-nya untuk menangani pasien wanita. Sebelumnya dia cuek terhadap hal seperti ini, karena memang tugasnya sebagai seorang dokter, tapi hatinya terketuk, saat Bunda Zulfah melarangnya menyentuh putrinya. Hal kecil yang dulu Ia abaikan, kini diusahakan untuk lebih menjaga.
Dan lagi, untuk yang ketiga kalinya Asma merespon sentuhan dokter Farhan. Tangannya menggenggam erat sambil menunjukakn kecemasan pada wajahnya.
"dokter.." Ucap Bunda Zulfah, panik.
Farhan memanggutkan kepala memberi isyarat kepada Bunda Zulfah untuk berinteraksi dengan sang putri.
"asma.. asma dengar bunda ? jangan takut sayang, bunda ada disini bersama kamu." Ucap Bunda Zulfah, perlahan.
Responnya berhenti. Asma merenggangkan genggamannya. Farhan melepas tangan Asma perlahan.
"dilanjutkan ya, bu untuk terapi ceritanya. Saya hanya bisa bantu doa untuk kesadaran asma, selebihnya saya serahkan pada keluarga. Ibu tetap semangat, seperti yang ibu katakan tadi untuk menyalurkan energi yang baik pada asma." Jelas dokter Farhan.
"terima kasih, dokter." Ucap Bunda Zulfah.
"sama-sama. Saya permisi ya, bu mau cek pasien lain." Ucap Farhan.
"iya, dokter." Balas Bunda Zulfah.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung....