
"asma .. kamu sudah sehat ? alhamdulillah ya allah." Ucapnya sambil masuk dan menenggelamkan kepalanya diatas meja.
"kapan kamu pulang ?" Tanya laki-laki itu sambil menampakkan wajahnya.
"baru tadi siang." Jawabnya.
"kamu sehat, rul ?" Tanya Asma.
"alhamdulillah." Jawabnya.
"aku bener-bener kaget saat tau kamu sudah keluar dari rumah sakit." Ucap Syahrul.
"asma, sudah sehat ?" Tanya Zidan yang tiba-tiba datang ikut bergabung.
"alhamdulillah, zidan. Kamu apa kabar ?" Asma balik bertanya.
"seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja." Jawabnya ceria.
"mumpung ada asma, kamu diskusikan masalah pembagian rapot dan lain-lainnya." Ucap Nadia pada Syahrul.
"iya." Sahutnya.
"asma, aku tinggal ke toilet sebentar ya." Ucap Nadia, meninggalkan.
"ma, kamu mau aku traktir bubur ayam ngga ? itung-itung menyambut kedatangan kamu." Ucap Zidan.
"boleh, dan. Satu." Ucap Syahrul.
"aku ngga nawarin kamu. Khusus kamu, bayar sendiri." Ucap Zidan.
"asma aku belikan ya ?" Ucap Zidan menawarkan lagi.
"iya, terserah kamu saja." Sahut Asma.
"aku tinggal ya, aku pesankan dulu." Ucap Zidan.
Selepas Zidan meninggalkan ruangan, Asma memberitahukan kepada Syahrul tentang pernikahannya.
"rul, aku sudah menikah." Ucapnya.
"kamu bercanda ya.. bang ihsan saja belum kelihatan." Sahut Syahrul sambil membuka map kertas diatas meja.
"aku serius, rul." Ucap Asma.
"kapan ? kamu kan baru saja keluar dari rumah sakit." Ucap Syahrul.
"ayah dan bunda menikahkan aku dengan dokter yang merawatku saat aku koma." Jelasnya.
"serius kamu ?" Ucap Syahrul.
"hmm..." Sahut Asma sambil menganggukkan kepala.
"taraaa... sudah jadi buburnya." Ucap Zidan yang tiba-tiba datang membawa nampan berisikan empat mangkuk bubur.
"waaahh.. enak nih." Sahut Nadia dibelakang Zidan.
"ayo .. ayo .. makan." Ucap Zidan sambil menaruh bubur d atas meja.
Ainun dengan hati yang gembira, menyiapkan peralatan menginapnya didalam ransel. Dan membawa bingkisan untuk menjenguk Asma. Ainun langsung menuju masjid untuk menemui Asma dan menunggunya hinggal selesai mengajar.
"ka asma, sehat-sehat ya. Biar bisa ngajar terus, biar kita bisa ketemu sama ka asma terus." Ucap salah satu santri kecil bersama teman-temannya.
"iya sayang, makasih ya." Balas Asma.
"kalian hati-hati dijalan ya, langsung pulang." Pesan Asma.
__ADS_1
"iya ka asma." Sahut Mereka yang langsung bersalaman dengan Asma dan meninggalkan.
"ma.." Ucap Syahrul.
"ya.."
"kamu janjian sama ainun ?" Tanya Syahrul.
"oh,iya. Dia mau menginap dirumahku." Jawab Asma.
"orangnya sudah sampai didepan." Ucap Syahrul.
"yasudah. Aku duluan ya." Ucap Asma.
"asma..."
"ya..."
"aku lupa menyampaikan." Ucap Syahrul.
"tentang apa ?" Tanya Asma.
"surat itu milikku. Ainun yang mengirimnya." Jelas Syahrul.
"oh.. (tersenyum). Sudah lewat waktunya, jadi .. biarlah." Ucap Asma.
"maaf..."
"kamu ngga salah, rul. Itu semua karena takdir sedang bekerja dan inilah jalan ceritanya." Ucap Asma dan meninggalkan.
Tak disangka kedatangan lelaki tampan dihalaman Masjid membuat keramaian para santri yang baru saja keluar aula untuk pulang. Berdiri sambil bersandar dimobil dengan kedua tangan yang masuk kedalam saku, menambah performanya dalam kacamata wanita. Banyak yang berbisik dan bertanya-tanya. Siapa dia ?
"ainun.. sudah sampai ? maaf ya lama." Ucap Asma sambil menggunakan sandal.
"ngga apa-apa." Balasnya.
Sebelum dia lebih dulu melangkah, Asma menghampirinya. Farhan, yang kini berstatus sebagai suami Asma melepas kacamata hitamnya dan menyapa Asma dengan senyuman.
"Ada apa datang kesini ?" Tanya Asma.
"saya mau jemput kamu pulang." Jawabnya.
"saya bisa pulang sendiri tanpa harus kamu jemput." Tegasnya.
"kamu tau kan kemana kamu harus pulang ?" Tanyanya.
Asma terdiam.
"kita bicara dimobil, ngga enak banyak yang liat. Temen-temen kamu juga sepertinya sudah mau keluar." Bisik Farhan yang langsung membukakan pintu.
"kenapa ? bisa langsung ke intinya ? saya ada janji sama temen." Ucap Asma.
"mama minta kamu pulang. mama sama papa mau ketemu kamu." Jelas Farhan.
"saya tau kamu belum menerima saya, tapi tolong hargai kedua orang tua saya. Ini kesalahan saya, saya jatuh cinta diwaktu yang salah." Ucap Farhan yang membuat Asma menatapnya.
"mas menginap saja dirumah saya, besok saya ikut mas pulang. Saya sudah ada janji dengan teman saya yang mau menginap." Jelas Asma yang hendak membuka pintu.
"mobil saya diparkir dimana ?" Tanyanya.
"ya diparkiran lah, mas." Jawabnya.
"parkir disini juga ngga apa-apa, nanti saya yang izin." Lanjutnya.
Farhan Tersenyum melihat tingkah istrinya.
__ADS_1
Memiliki suami yang tampan seperti Farhan mungkin memang keinginan banyak wanita dan mungkin sangat membahagiakan dapat memilikinya.
"sepertinya kamu harus bersyukur, ma karena bisa memiliki dia secara cuma-cuma." Ucap Ainun didalam kamar yang duduk di atas ranjang Asma.
"cuma-cuma gimana ?" Tanya Asma sambil tersenyum manaruh Tas di meja rias.
"yaa.. coba kamu bayangin, kamu melek-melek langsung dapet cowo ganteng coba. Ngga perlu ngejar-ngejar, kaya aku ngejar syahrul dulu." Ucapnya sambil tertawa.
"Ngga berubah-berubah kamu ya, menghayal mulu." Ucap Asma.
"eh, kamu mau aku buatkan susu ?" Tanya Asma.
"boleh." Sahutnya.
"aku ganti baju tidur ya, dikamar mandi." Izinnya.
"iya. Aku kebawah ya, buatin susu untuk kamu." Ucap Asma.
Langkah kakinya anggun menuruni tangga. Terlihat Bunda masih sibuk di dapur membuat dua gelas susu hangat. Sambil mengaduk, Bunda Zulfah tersenyum saat mendapati putrinya yang semakin mendekat.
"pas sekali..." Ucap Bunda Zulfah.
"kenapa, bunda ?" Tanya Asma.
"antarkan untuk suami mu ya." Ucap Bunda Zulfah.
"bundaaa... Jangan menyebutnya seperti itu, rasanya aneh dikuping asma." Protesnya.
"justru itu, biar terbiasa." Sahut Bunda Zulfah.
"ayo cepat antarkan." Perintahnya sambil memberikan segelas susu hangat yang tertutup diatas piring mungil.
Asma berjalan menuruti perintah Bunda.
tok... tok...
Asma mengetuk kamar tamu yang ditempati Farhan untuk bermalam dirumahnya.
"siapa ?" Tanyanya.
"asma."
"masuk saja, ngga dikunci." Teriak Farhan.
Tidak didapatinya sosok lelaki itu didalam kamar. Bagus, gumamnya dalam hati. Dia tak harus berhadapan dengan lelaki yang sampai saat ini belum bisa diterima dalam kehidupannya. Lelaki yang masuk tanpa salam dan berusaha ingin memiliki hatinya. Perlahan Asma hendak meninggalkan ruangan itu tanpa diketahui Farhan.
"asma..." Ucap Farhan sambil sambil menggosok rambutnya dengan handuk kecil.
"kamu ngapain ?" Tanyanya.
"nganter susu disuruh bunda." Jawabnya tanpa menoleh kearah Farhan.
"kamu ngga mau ngucapin selamat tidur buat saya, atau kata-kata lain gituh." Ucap Farhan yang mendekat dan kini tepat berada dibelakang Asma.
"segelas susu sudah cukup kan untuk penghantar tidur dan itu lebih nyata dari sekedar kata-kata." Ucap Asma dan langsung pergi meninggalkan.
Begitulah kata-kata penghantar tidur yang Asma berikan kepada Farhan hingga membuatnya tersenyum sepanjang malam. Lebih dari apa yang difikirkan saat pertama kali bertemu Asma yang terbaring dirumah sakit. Memang dirinya begitu istimewa, sungguh beruntung lelaki yang memilikinya.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung.....