KETIKA RINDU BERBALUT DOA

KETIKA RINDU BERBALUT DOA
Episode 12 - Tamu Tak Diundang


__ADS_3

...1 BULAN KEMUDIAN...


Secara mendadak, tanpa mengabari. Keluarga Ustadz Abdullah Rehan Safaraz berkunjung kerumah Ustadz Hasan Khusaeni untuk sekedar bersilaturrahim dan membicarakan sesuatu hal yang penting yang tengah difikirkan oleh Ustadz Rehan sebelumnya. Raina menampakkan wajah yang cerah ceria, mengeluarkan kegembiraannya untuk bertemu dengan sahabat masa kecilnya, Asma Fitriyah Hasanah.


Sesampainya didepan gerbang rumah Ustadz Hasan, klakson mobil pun berbunyi. Seorang gadis cantik berhijab dengan gamis yang sederhana, melangkahkan kaki untuk membuka gerbang dan mempersilahkan seorang yang berada didalm mobil untuk memajukan mobilnya memasuki halaman kecil rumah Ustadz Hasan.


“assalamu’alaikum , putri cantik.” Ucap Ustazah Asyha kepada Asma sambil menutup pintu mobil.


“masya allah , ummi .. “ ucapnya terkejut dan langsung memeluk Ustzah Asyha.


“wa’alaikumussalam warohmatullah.” Jawab Asma dalam pelukan.


“aku mau dipeluk juga dong.” Ucap Raina sambil merenggangkan kedua tangannya saat turun dari pintu mobil belakang.


“uummhh .. sahabatku.” Ucap Asma.


“ustadzah asyha .. mari mari masuk ..” ucap Bunda Zulfah yang menyusul Asma keluar rumah.


Ustadz Hasan sedang berjalan menuruni tangga sambil membenarkan selendang kotak-kotak hitam yang  tersangkut dibahunya. Terpancar senyum kebahagiaan diantara keduanya. Mereka saling berpelukan dan mengucap salam. Setelahnya mereka berkumpul di ruang tamu. Asma sibuk membuat minum didapur di temani oleh Raina.


“tumben main ga bilang-bilang ..” ucap Asma.


“umi sama abi yang tiba-tiba mengajak ke Jakarta untuk berkunjung kerumah ayahmu. Aku dan bang ihsan pun tidak ada persiapan apa-apa.” Ucap Raina sambil memainkan toples kue yang berada didepannya.


“hmm .. yasudah ayo kita kedepan.” Ucap Asma yang telah selesai menata gelas minuman diatas nampan.


Dengan anggun, Asma berjalan membawa senampan minuman yang didampingi oleh Raina yang berjalan di sampingnya sambil memegangi lengan kanannya. Dengan pesona wajah yang cantik, perilaku yang anggun dan senyum yang penuh dengan keramahan.


Ada hati yang bergetar dan semakin yakin untuk menyatukan keluarga ini. Ustadz Rehan mulai membuka pembicaraan tentang maksud dan tujuannya berkunjung  yang tak hanya sekedar bersilaturrahim seperti yang difikirkan oleh Ihsan dan Raina.


“sudah besar ya putrinya abi yang dulu masih imut-imut.” Canda Ustadz Rehan.


“sudahlah, abi. Asma kan sudah tumbuh menjadi gadis yang cantik.” Balasnya dengan tawa sambil menutupi setengah wajahnya dengan nampan.


“humoris.” Ucap Ustadz Rehan.


“begitulah, ustadz. Semakin dewasa, asma tumbuh menjadi gadis yang periang, penuh dengan keceriaan. Saya pun kadang merasa sepi kalau dia sedang sibuk dengan kegiatannya.” Jelas Ustadzah Zulfah.


“sama seperti raina. Cocok mereka bersahabat.” Sahut Ustadzah Asyha dengan tawa kecilnya.


“nak ihsan juga sudah tumbuh besar. Dulu dia yang selalu menjaga raina dan asma kalau sedang bermain.” Ucap Ustadzah Zulfah.


“bunda .. udah ih malu tau.” Ucap Asma yang tertunduk malu dengan pipi yang memerah.


Ihsan hanya tersenyum melihat tingkahnya dengan wajah yang memerah karena malu.

__ADS_1


“kalau boleh tau, apa ada keperluan yang sangat penting , ustadz ? sehingga harus datang dengan mendadak seperti ini. Biasanya kan kita rebut-ribut dulu di grup.” Tanya Ustadz Hasan dengan tawa kecilnya.


“tidak juga, ustadz. Biar surprice saja.” Canda Ustadz Rehan.


“bisa bercanda juga rupanya ya..” Sambung Ustadzah Zulfah.


“hobi barunya sekarang, suka jail malahan dirumah.” Sahut Ustadzah Asyha yang mengundang tawa.


“sudahlah abi, ayo disampaikan niat baiknya.” Lanjut Ustadzah Asyha.


“ga seru ah ummi, kan biar relax dulu, supaya ngga tegang.” Sahut Ustadz Rehan.


“jadi memang benar ada hal penting ya ?” Tanya Ustadz Hasan.


“yaa.. sebenarnya maksud dan tujuan kami berkunjung kemari selain untuk bersilaturrahim juga untuk mempererat tali  persahabatan kita. Melihat dari sisi perjalanan dakwah yang di emban oleh Ihsan di  lingkungan ini….”  Ucap Ustadz Rehan yang mulai menatap Asma yang kini duduk disamping Ibundanya bersama dengan Raina.


“saya sebagai seorang ibu, jujur sangatlah menghawatirkan keadaan anaknya yang tinggal sendiri dan berjauhan dari kami. Kami juga telah memikirkan untuk perkembangan dakwah yang mungkin akan lebih baik dan jauh lebih dapat memberikan yang terbaik apabila putra kami disatukan oleh putri ustazah zulfah.” Jelas Ustazah Asyha.


“ya, jadi … kami bermaksud untuk melamar adinda asma untuk putra kami, Muhammad ihsan safaraz.” Ucap Ustadz Rehan yang membuat Asma dan Ihsan terkejut dan terdiam kaku dan membisu.


Dua bola mata yang kecil memang tak mampu menyampaikan sepatah kata pun yang terangkai didalam hati. Bahkan tetes airmata juga dianggap sebuah tetesan kebahagiaan oleh mereka yang menginginkan keadaan ini.


Ihsan yang sedari tadi menunduk hanya berani mengintip Asma dengan tatapan matanya yang tersembunyi. Bahkan dari lubuk hatinya, Asma ingin sekali menolak. Menerima atau menolakpun rasanya tak mampu. Hati yang kini telah menyimpan satu nama, mulai terganggu. Penantian hari indah itu, bahkan telah tiba meski dengan orang yang berbeda.


“baik umi, insya allah akan asma fikirkan sebaik mungkin.” Sahut Asma yang mulai tertunduk.


“segala keputusannya kami menyerahkan kepada putri kami. Dan saya berharap , diterima atau tidaknya lamaran ini, semoga tetap menjadikan hubungan persaudaraan kita tetap berjalan dengan baik.” Ucap Ustadz Hasan.


“insya allah, semua akan baik-baik saja setelah hari ini dan hari-hari berikutnya.” Sahut Ustadz Rehan.


“aamiin ..”


“jadi tegang suasananya.” Mulai Ustadz Rehan.


“wah iya.. sudah sudah kita santai lagi, ayo ayo silahkan di minum.” Ucap Ustadz Hasan.


Raina yang juga tidak mengetahui maksud kedatangan orang tuanya, hanya dapat menenangkan Asma dengan rangkulan dan senyuman. Entah perasaan apa yang harus dirasanya saat ini. Terkejut, mungkin. Sama halnya dengan apa yang dirasakan oleh Asma. Tapi pasti Asma merasakannya lebih dari itu.


Keluarga Ustadz Rehan pun kembali kerumahnya. Sesampainya, wajah Ihsan sangat kesal, gelisah dan cemas. Ihsan langsung melangkahkan kakinya menuju kamar yang berada di dekat dapur. Rumahnya memang tak bertingkat seperti rumah Asma, namun cukup luas dengan halaman depan dan belakang. Kedua orang tuanya menjadi cemas dengan sikap putranya. Saat tiba diruang tamu, Ustadz Rehan dan Ustadzah Asyha duduk sambil mengistirahatkan tubuh.


“raina..” Panggil Ustadzah Asyha yang melihat putrinya hendak memasuki kamar yang berasa di sebelah kanan ruang tamu.


“iya , umi.” Sahutnya sambil menoleh dan mulai mendekat.


“tolong kamu panggil kakamu. Bilang, kalau ummi dan abi mau bicara dengan dia.” Jelas Ustadzah Asyha memerintah.

__ADS_1


“baik , ummi.” Sahut Raina.


Raina masuk kedalam kamarnya untuk menaruh tas dan kembali keluar kamar untuk menghampiri kakanya yang berada dikamar. Sesampainya didepan pintu kamar Ihsan, Raina langsung mengetuk pintu kamar yang tergantung nama “Ihsan Safaraz” di pintu kamar.


“ada apa ?” Tanya Ihsan yang muncul dari balik pintu.


“ditunggu sama ummi dan abi diruang tamu. Ada yang mau dibicarakan.” Jelas Raina.


“iya, nanti abang kesana.” Ucap Ihsan.


Rainapun tersenyum sambil mengelus bahu sang kaka. “setidaknya aku tahu kalau kaka tidak sekuat biasanya.” Batin Raina.


“apa kita tidak salah, bi. Mengambil keputusan ini ?” Ucap Ustadzah Asyha, yang masih menunggu  Ihsan diruang tamu bersama suaminya.


“insya allah, tidak, ummi. Kita bertindak seperti ini juga untuk kebaikan ihsan. Mereka telah dekat sejak lama.” Jelas Ustadz Rehan.


“tapi seharusnya kita membicarakan dulu dengan ihsan.” Ucap Ustadzah Asyha.


“assalamu’alaikum ..” ucap Ihsan yang datang dan langsung duduk diseberang sang ayah.


“wa’alaikumussalam warohmatullah..”


Ihsan hanya duduk terdiam dan mengarahkan pandangannya kebawah dengan kepala yang masih tegak.


“apa kamu, baik-baik saja, nak ?” tanya Ustadzah Asyha.


“insya allah, ummi.” Jawabnya.


“ihsan, percayalah. Keputusan yang kami ambil telah kami pertimbangkan untuk kebaikan kamu juga perjalanan dakwah kamu. Gadis yang kami pilih juga bukan sembarang gadis. Tentu kamu lebih faham dan lebih mengenal dia daripada kami.” Jelas Ustadz Rehan.


“kualitas diri asma itu tidak jauh seperti diri adikmu, san. Dia taat dan sama seperti adikmu juga, seorang penghafal Qur’an.” Ucap Ustadzah Asyha.


Emosi dalam diri Ihsan kembali membara. Dadanya seperti tertekan dan ingin marah. Namun dengan satu kali tarikan nafas, Ia meredam dan berusaha untuk tidak meninggikan suara kepada kedua orang tuanya.


“ihsan tau, gadis yang ummi dan abi pilihkan insya allah tidak salah dan memang benar kualitas baik dalam dirinya. Namun alangkah lebih baiknya segala pendapat ummi dan abi dibicarakan bersama dengan orang yang bersangkutan, barulah mengambil keputusan.” Ungkap Ihsan.


“maaf kan ummi dan abi yang melakukan ini terhadap kamu.” Ucap Ustadzah Asyha.


“setidaknya kami telah memilih, menela’ah dan memikirkan tentang gadis yang akan kami lamar untuk putra kami.” Ucap Ustadz Rehan.


“ihsan merasa malu, bi. Saat abi mengungkapkan seperti itu di keluarga asma. Padahal ihsan sendiri tidak tau kalau akan ada pembahasan seperti itu dalam pertemuan tadi.” Ucap Ihsan.


“tapi, sudahlah. Sudah terjadi. Kalau gitu, ihsan pamit mau keluar sebentar.” Ucap Ihsan yang langsung berdiri dan melangkah meninggalkan kedua orang tuanya.


Bersambung .....

__ADS_1


__ADS_2