
"bang asyam.. "
Tanpa sadar Salwa telah ada dihadapanya.
"ya.. "
"maaf, liya ada ?" Tanya Salwa yang tak ingin basa basi dengan Asyam.
"liya.. liya tadi sedang keluar dengan nuha." Jawabnya.
"nanti tolong sampaikan kalau saya mencarinya ya, bang. " Ucap Salwa.
"oh, iya. Nanti saya sampaikan. " Balas Asyam dengan debaran didadanya.
"kalo gitu saya pamit, assalamu'alaikum. "
"wa'alaikumussalam."
Asyam mengusap dada sambil menghela nafas dan kembali kedalam kamar. Digantinya kaos dengan kemeja koko berwarna putih dan kembali keluar rumah untuk menuju masjid.
Dalam perjalanan, hati yang tak henti beristighfar memohon ampun dan bershalawat kepada Rasul. Bayang-bayang Salwa yang dulu bersikap baik kepadanya muncul dalam ingatan. Dan betapa dinginnya dia membalas kebaikan Salwa hanya karena hatinya yang masih berpaut kepada Asma.
Niat datang ke masjid untuk menenangkan hati. Namun kenyataan berkata lain. Ada gadis yang dikenalnya sedang duduk dan siap menyambut kedatangannya. Dengan senyum yang ramah, gadis itu menyambut Asyam sambil berdiri.
"assalamu'alaikum, bang." Ucapanya.
"wa'alaikumussalam." Jawab Asyam.
Sejenak mereka hanya terdiam dan saling menatap. Ainun menunjukkan kecanggungannya berhadapan dengan Asyam.
"ada perlu ?" Tanya Asyam.
"mhh.. "
Ainun memikirkan jawaban apa yang harus diberikan, kata-kata yang berputar didalam fikirannya mencari tempat yang tepat. Dihadapannya Ainun membeku. Dirinya yang bisa bersikap seadanya kepada siapapun yang dihadapinya, kini terdiam kaku.
"saya kesini karena ada perlu dengan abang. " Jawabnya.
Begitulah yang harus diucap, kejujuran yang harus diungkap.
"ya, silahkan." Ucap Asyam yang masih dengan serius menanggapi pertemuannya dengan Ainun saat ini.
"mh.. kenapa.. kenapa abang tidak datang mengajar kerumah ? kenapa pesan saya selalu tidak ditanggapi ?" Tanya Ainun yang masih dengan keraguannya.
"ah.. astaghfirullah. " Ucap Asyam sambil mengusap wajah.
"maaf, ainun. Saya sedang sibuk." Balasnya singkat.
"pesan saya ? Apa sesibuk itu sampai tidak memegang handphone ?" Tanya Ainun.
Pertanyaan yang terdengar seperti pertengkaran sepasang kekasih.
"maaf ainun untuk hal itu, itu hak saya. Mau membalasnya atau tidak."
"tapi juga menjadi hak saya untuk mengetahuinya. Kenapa abang tidak datang kerumah saya." Ucap Ainun.
__ADS_1
"Dan itu adalah tanggung jawab abang. Abang tidak bertanggung jawab karena tidak datang dan memberi kabar. " Tegas Ainun.
"mas asyam.. " Sapa seorang perempuan dengan ragu.
"liya.. " Balas Asyam yang terkejut saat mendapati sosok gadis yang kini mengganggu fikirannya.
Liya memperhatikan Ainun dengan tatapan yang penuh tanya.
"Kalian ada perlu ?" Tanya Asyam kepada Liya.
"iya. Mau bahas tugasnya mba salwa yang kemarin mas kasih." Jelas Liya.
"yasudah sana langsung ke ruangan saja." Ucap Asyam.
Liya masih memberikan tatapan terakhirnya kepada Ainun sebelum meninggalkannya dengan sang kaka. Liya melanjutkan langkahnya menuju ruang sekretariat sambil sesekali memperhatikan sang kaka yang melanjutkan obrolannya.
"mba kenal dengan perempuan tadi ?" Tanya Liya saat Salwa membuka lokernya.
"temannya asma." Jawab Salwa.
"sudah ya, jangan tanya lagi. Kita fokus sama urusan kita, okey ?" Ucap Salwa dengan senyuman sambil menaruh berkas di atas meja.
"assalamu'alaikum." Ucap seorang lelaki yang datang.
"wa'alaikumussalam."
"lho lagi pada ngapain ?" Tanyanya sambil melangkah masuk dan mengambil sesuatu yang dibutuhkanya didalam loker.
"nyelesain laporan keuangan." Jawab Salwa.
"tanyalah sendiri kepada yang bersangkutan." Jawab Salwa yang seperti biasa bercanda dengan Syahrul.
"liya.. "
"iya.. "
"ngga apa-apa. Manggil ajah. " Ledek Syahrul yang langsung dibalas tatapan tajam oleh Salwa.
"keluar ngga !" Tegas Salwa sambil menunjuk kearah pintu.
"hihi.. iya, iya.. nih udahan. " Balas Syahrul dengan tawa kecilnya.
"ganggu ajah." Lanjut Salwa.
Syahrul keluar dengan tawa kecil yang masih terlukis di bibirnya. Saat menuruni tangga, ia melihat Ainun yang sedang duduk sendiri. Syahrul tak ingin memperdulikannya karena sudah tak ada lagi urusan antara dirinya dengan Ainun.
Kisah cinta yang dulu pernah dijalinnya telah selesai. Tak ada sisa rasa yang ingin dirajutnya lagi pada usia yang terbilang sudah siap untuk menikah. Saat ini dihatinya ada satu nama yang ingin ia perjuangkan untuk bersanding dipelaminan.
Saat kaki ingin lanjut melangkah, dari bawah terlihat Nadia yang ingin menaiki tangga. Ainun pun berdiri saat menemukan Nadia dihadapannya, namun tatapannya bukan mengarah padanya. Melainkan kepada seseorang yang berada lebih jauh dari dirinya. Ainun menolehkan pandangannya dan menemukan Syahrul dibelakangnya.
"syahrul." Ucap Ainun.
Nadia yang saat itu berfikir bahwa Ainun sedang ada keperluan dengan Syahrul. Dan mendapati wajah Syahrul yang terkejut saat bertatapan dengannya, seolah pertemuannya dengan sang mantan diketahui oleh perempuan yang disukainya.
Nadia langsung melangkahkan kakinya manaiki tangga, melewati Ainun dan juga Syahrul.
__ADS_1
"nad.. " Ucap Syahrul yang hendak menghentikannya.
"saya ada perlu, saya keatas dulu. Permisi. " Ucap Nadia.
"Syahrul." Ucap Ainun yang menaiki tangga untuk mendekat kepada Syahrul.
Syahrul tak membalas sapaannya untuk yang kedua kalinya. Dia hanya menaruh pandangannya lurus kedepan.
"kamu .. apa kabar ?" Tanya Ainun.
"alhamdulillah, seperti yang kamu liat saat ini." Jawabnya.
"sudah lama rasanya kita ngga pernah ngobrol berdua." Ucap Ainun.
"maaf, ainun. Kalau tidak ada hal penting yang ingin dibicarakan saya mohon pamit." Ucap Syahrul.
"dia perempuan yang kamu suka ?" Tanya Ainun.
"saya permisi. Assalamu'alaikum." Ucap Syahrul meninggalkan.
"wa'alaikumussalam." Jawabnya seperti berbisik sambil menatap kepergiannya.
Sosok Syahrul yang penyayang, yang pernah ia rasakan dulu sangat bertolak belakang dengan yang sekarang. Sosok yang selalu peduli dan baik kepadanya, bahkan menjadi penenang saat dirinya dalam kesedihan. Menjadi penyemangat dalam kegelisahannya. Sosok yang sampai saat ini belum lagi ia temukan sebagai pengganti, kecuali Asyam yang menyenangkan saat mengajarinya mengaji.
"andai kamu tau, rul. Aku selalu menunggu kamu, aku selalu ingin kita menjadi seperti kita yang dulu. Aku butuh kamu. Aku rindu kamu yang selalu bisa membuat aku tenang."
"bukan lagi kisah tentang aku dan kamu. Saat ini bidadari yang sangat ingin aku perjuangkan, bahkan ingin ku jaga hatinya meskipun belum tiba waktu untukku menjaganya." Syahrul.
"kalau aku berhak, rasanya ingin aku cemburu. Tapi cinta masih kujaga didalam hati. Untuk apa aku membuat lelah hati dengan rasa sakit yang tak jelas lukanya. Allah Yang Maha Tau atas segalanya, aku serahkan urusan hati dan cintaku kepadaMu, ya Allah. Engkau tau yang terbaik untukku." Nadia.
"Nad.. ko melamun ?" Tanya Salwa yang melihat Nadia hanya memegangi kertas-kertas laporan.
"eh.. Ya Allah. Aku lagi mikir. " Ucap Nadia dengan Tawa kecil.
"mikirin syahrul ?" Tanya Salwa yang biasa meledeknya.
"mulai ya.. " Ucap Nadia.
"yaaa.. kali ajah. Abisnya tadi syahrul nanyain kamu. Pasti kamu juga ketemu sama dia kan diluar ?" Ucap Salwa.
"ngga mungkin banget kalo ngga ketemu, karena baru banget syahrul keluar, terus ngga lama kamu masuk. " Lanjutnya.
"ya kan ? pasti kalian ngobrol dulu ya..? " Tanya Salwa yang masih meledeknya.
"salwaa... " Ucap Nadia.
Liya hanya menahan tawanya melihat keasikan candaan dua sahabat ini.
.
.
.
...~Bersambung~...
__ADS_1