KETIKA RINDU BERBALUT DOA

KETIKA RINDU BERBALUT DOA
Episode 70 - Mencari


__ADS_3

Diwaktu luangnya, Asyam membuka sosial medianya sambil bersandar dikursi kerjanya. Melihat foto-foto yang beredar yang tanpa sengaja muncul foto adiknya bersama dengan wanita-wanita yang juga dikenalnya.


"lagi pada jalan-jalan ya."


Foto Liya bersama dengan Asma, Nadia dan juga Salwa, yang bertuliskan SisterLillah. Saat diketuknya satu kali muncul nama-nama akun yang ditandai. KanisaSalwa11. Rasa ingin tahunya tak hanya sebatas mengetahui nama akun. Jemarinya aktif mengklik untuk mem-follow-nya. Akun yang terkunci semakin membuatnya penasaran untuk melihat foto-foto yang diunggah.


Salwa mengecek pemberitahuan yang masuk. Tertera nama syamabdullah92. Salwa mengabaikan dan memasukkan handphone kedalam tasnya.


"aku sudah tag ya ke akun masing-masing." Ucap Liya.


"Asma." Ucap seorang lelaki yang datang dan langsung menghampirinya.


"kamu ngga apa-apa ? masih mual ? kepala kamu sakit ?" Tanya Farhan yang menjemput Asma.


"ngga apa-apa, mas. Udah enakan malahan." Jawab Asma.


"ya sudah, aku antar kamu pulang ya. Kamu istirahat dirumah." Ucap Farhan, Asma hanya membalas dengan senyuman.


"aku pulang duluan ya, maaf ngga ikut sampai akhir. Kapan-kapan kita janjian lagi ya." Ucap Asma.


"iya .. iya .. nanti kita janjian lagi. Udah sana istirahat, pulang. Inget, istirahat. Jangan capek-capek." Pesan Nadia.


"iya." Balas Asma dengan senyuman.


Dalam perjalanan Asma berubah fikiran dan tak ingin pulang kerumah.


"aku ikut kamu ke rumah sakit ya ?" Pinta Asma.


"kamu istirahat dirumah, sayang. Ngapain ikut aku kerja ?" Ucap Farhan.


Asma terdiam menahan kesal dihatinya. Sepanjang perjalanan Asma terdiam melihat keluar jendela. Sesampainya dihalaman rumah Asma langsung membuka pintu mobil tanpa menunggu Farhan.


"aku kekamar sendiri, kamu langsung balik ajah ke rumah sakit." Ucap Asma meninggalkan.


"asma.."


"asma.."


Asma tak menghiraukan panggilan suaminya. Rasa kesal yang muncul membuatnya tak terkendali. Asma langsung membaringkan tubuhnya dikasur dan memejamkan mata. Air mata yang tak lama keluar setelah ia memejamkan mata. Entah apa yang membuat dirinya sangat ingin ikut bersama dengan Farhan saat ini.


Farhan yang sesampainya di ruang kerja, melepas jas dan menggantinya dengan snelli (doctor's white coat/jas putih dokter). Lalu mengistirahatkan tubuhnya dikursi kerja sambil memikirkan sikap istrinya yang memaksa ingin ikut dengannya.


tut.. tut.. tut..


"ko ngga diangkat sih ?" Ucap Farhan sambil memandangi layar handphone bertuliskan istriku.


Farhan berusaha memfokuskan fikirannya untuk kembali bekerja hingga jam pulang.

__ADS_1


Matahari terbenam, langit menggelap menandakan hari mulai malam. Farhan membereskan meja kerjanya dan bergegas untuk pulang menemui Asma. Mendapati jalanan yang ramai dengan kendaraan dan terjebak pada kemacetan, membuat Farhan semakin gelisah dan tak sabar. Asma belum juga memberi kabar membuatnya khawatir. Sesampainya dirumah, dua wanita menyambutnya dengan piring ditangan, tanda sedang menyiapkan makan malam. Bukan rasa bahagia, namun malah menambah kekesalan didalam hatinya.


"farhan kamu baru pulang ? aku sama mama lagi siapin makanan untuk makan malam." Jelas Xena sambil menaruh piring dimeja.


"ma, asma mana ?" Tanya Farhan.


"mama belum ketemu dia dari tadi." Jawabnya.


"memang asma sudah pulang ?" Tanya Mama.


"farhan ke kamar dulu, ma." Ucapnya, meninggalkan.


Farhan berlari menaiki tangga untuk menuju kamar dan berjumpa dengan Asma. Saat dibuka pintu, ia menemukan Asma yang masih terbaring dikasur.


"asma... " Panggilnya sambil memegang tubuhnya.


Tangannya menyebar hingga ke wajah Asma dan panas yang dirasa saat Farhan memegangnya.


"asma.. sayang.. bangun, sayang." Ucap Farhan sambil mengusap pipinya.


Dengan pelan Asma membuka mata.


"kita ke dokter ya.. badan kamu panas banget." Ucap Farhan.


Asma hanya menggelengkan kepala sambil menggenggam tangan Farhan. Farhan memutuskan untuk menyiapkan makan malam untuk Asma dan mengompres keningnya agar demamnya turun.


"tadi siang habis jalan-jalan ?" Tanya Asyam.


"iya, mas. Tapi tadi cuma makan bakso ajah si, karena mba asma sakit jadi yang lain memutuskan untuk ngga lanjut jalan." Jelas Liya.


"Asma sakit ? sakit apa ?" Tanya Asyam.


"ngga tau, mas. Mungkin masuk angin kali ya, soalnya tadi sempat mual." Jawab Liya.


"hoo.. mungkin dia kecapekan." Balas Asyam.


"mmh.. mas mau cerita nih." Ucap Asyam.


"cerita apa mas ? Liya siap mendengarkan ko keluh kesah mas asyam." Ucap Liya.


"memang adik mas paling terbaik deh." Ucap Asyam sambil mengelus kepala Liya.


"jadi, tadi ... mas lihat foto yang kamu upload."


"liya cantik kan mas ?" Candanya.


"iya iya.. adik mas yang paling cantik." Balas Asyam sambil mencubit pipi Liya.

__ADS_1


"ayo, lanjut.. " Pinta Liya.


"terus.. mas tertarik dengan salah satu gadis. Mas ingin lihat-lihat koleksi foto dia, tapi akun nya dikunci. Dan.. sampai sekarang follow mas belum direspon." Jelasnya.


"pasti mba salwa kan ?" Tanya Liya.


Asyam menganggukkan kepala dan lanjut menyeruput susu jahe yang hangat.


"mas itu sebenarnya serius ndak sih dengan mba salwa ?" Tanya Liya.


"liya malu lho mas kalau lagi kumpul sama mba salwa. Liya merasa ndak enak ketemu dia dengan sikap mas yang seperti menyakiti dia. " Lanjut Liya.


"perasaan iku ora salah, mas. Yen biso milih, dia juga ora bakal suka sama mas kalau tau bakal ditolak. Tapi hatine memilih dan menetapkan rasa suka itu kepada, mas. Seharusnya mas bisa menjaga sikap, mas meskipun mas ndak suka sm dia." Jelas Liya.


"sekarang giliran mba salwa menjauh, mas seolah mau mengejar." Lanjut Liya.


Asyam terdiam mendengar ungkapan dari sang adik. Sambil meneguk cangkir susu nya yang mulai dingin dan menatap kearah depan. Mungkin ini adalah terlambat menyadari cinta dihati, merasa ada yang hilang saat dirinya tak mengganggu lagi.


"abang akan fikirkan lagi." Ucapnya, lesu.


"fikirkan baik-baik, sebelum bertindak. Jangan bersikap seenaknya, menjauh atau mendekat." Tegas Liya yang langsung berdiri dan meninggalkan Asyam.


Rasa kesal Liya telah memuncak saat tau sang kaka ada keinginan untuk mendekati perempuan yang telah ditolaknya. Rasa malu, dan tidak enak hati disimpannya, saat sedang betemu dan berkumpul dengan Salwa. Apalagi saat ini Liya telah aktif mengajar dan tak ada alasan untuk tak bertemu dengan Salwa. Tidak mungkin dirinya harus terus menghindar.


Perempuan secantik Salwa, sayang untuk diabaikan. Bukan hanya cantik, namun juga memiliki akhlak yang baik. Gadis pekerja keras dan bertanggung jawab. Penyanyang dan santun selama bersikap terhadap keluarganya. Bu Nurlela pun ingin menjadikannya menantu, jika sang anak membuka hati untuk menerima.


-via telepon-


Salwa : asma ? gimana keadaan kamu ?


Asma : Alhamdulillah, sudah mendingan. Ada apa, sal ?


Salwa : mmh.. kalau besok kamu sudah enakan, kita ketemuan yuk ?


Asma : besok aku kabari lagi ya.


Asma (Farhan) : salwa, maaf tapi sepertinya asma butuh istirahat. Saya tidak mengizinkan dia untuk beraktifitas diluar dulu. Kalau kamu ada perlu, kamu boleh mengunjunginya kesini.


Salwa : maaf ya dokter farhan, saya jadi mengganggu. Semoga Asma lekas sembuh. Assalamu'alaikum.


.


.


.


.

__ADS_1


...~Bersambung~...


__ADS_2